Selain dinilai melanggar hak cipta, video AI Gibran juga tidak mencerminkan Indonesia.
02 Apr 2025 18:17 WIB · Politik & Hukum
Di tengah perayaan Lebaran, video ucapan selamat hari raya Idul Fitri 1446 Hijriah yang disampaikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Kementerian Komunikasi dan Digital melalui media sosial mencuri perhatian publik. Kedua video tersebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence/AI. Oleh warganet, video itu dinilai telah melanggar hak cipta dan merugikan seniman lokal.
Video selamat Idul Fitri diunggah akun @gibran_rakabuming di Instagram dan X (dulu Twitter) pada Senin (31/3/2024). Video itu menampilkan Gibran dengan istrinya, Selvi Ananda, tengah menaiki unta di gurun dengan latar belakang Monumen Nasional (Monas). Dalam video itu, Gibran dan Selvi mengenakan pakaian serba coklat lengkap dengan syal dan sepatu bot seperti warga yang tinggal di padang gurun.
Sontak video ini pun memicu beragam reaksi dari warganet. Di Instagram, video itu telah disukai lebih dari 26.000 kali, dibagikan 2.845 kali, dan mendapatkan 3.132 komentar. Video yang sama juga viral di X setelah dilihat 4,8 juta kali, disukai 2.700 kali, diunggah ulang 9.300 kali, dan mendapatkan ribuan komentar.
Sebagian warganet menilai video AI itu melanggar hak cipta karena dibuat menyerupai adegan film fiksi ilmiah epos Amerika Serikat, Dune, yang disutradarai oleh Denis Villeneuve. Dune mengisahkan seorang pemuda dari keluarga bangsawan, Paul Atreides, yang harus melakukan perjalanan ke planet paling berbahaya untuk memastikan masa depan rakyatnya. Melalui video mirip adegan Dune, Gibran tampil seperti Atreides yang sedang menempuh perjalanan ke Planet Arakkis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/02/c656b4c2-5e95-40ee-90f3-e06859d6fce0_jpeg.jpg)
Seorang pengguna media sosial kemudian mengadukan Gibran ke rumah produksi Warner Bros, yang memproduksi Dune. ”Hi @Warnerbros, Wakil Presiden Indonesia telah melakukan pelanggaran hak cipta degan memodifikasi salah satu adegan Dune menggunakan AI tanpa izin dan mengunggahnya di akun degan 6 juta pengikut. Silakan tuntut dia,” tulis warganet tersebut.
Selain dinilai melanggar hak cipta, video Gibran juga tidak mencerminkan Indonesia karena menampilkan suasana Mdi tengah padang pasir. ”Jakarta dijadikan gurun. Cara pandang dangkal keislaman dan keindonesiaan. Pakai AI pula. Sekelas pejabat negara, gitu lho,” tulis seorang pengguna X.
Video ucapan selamat Idul Fitri dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kementerian Komdigi) juga mencuri perhatian publik. Video itu menampilkan keluarga yang berkumpul di meja makan dengan hidangan ketupat dan lauk-pauk.
”Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI Angga Raka Prabowo mengucapkan Selamat Idul Fitri 1446 H untuk SobatKom semua. Semoga kita kembali ke fitrah, hati yang bersih, serta semagat baru untuk terus berbuat baik,” tertulis dalam caption.
Sama seperti video Gibran, ucapan Kementerian Komdigi itu juga mencuri perhatian publik karena dibuat menggunakan AI. Oleh warganet, penggunaan AI untuk video ucapan dinilai telah merugikan kreativitas dan kehidupan seniman lokal.
”Saya haya terima jika AI digunakan untuk kemudahan pelayanan masyarakat, bukan untuk aspek digital apalagi karya seni,” tulis pengguna Instagram, @brilagf.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/07/51f2ae84-e730-43d1-b1e3-bb72645655c5_jpg.jpg)
Belakangan ini, kecerdasan buatan kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunanya pun beragam, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat publik. Tren gambar bergaya studio animasi Ghibli asal Jepang yang dibuat dengan meggunakan aplikasi AI, misalnya, marak dibagikan warganet. Kehadiran gambar yang dibuat degan AI itu memunculkan perdebatan mengenai hak cipta dan masa depan seni.
Sutradara dan pendiri Ghibli Hayao Miyazaki, pada 2016 lalu, menyebut bahwa penggunaan AI untuk membuat animasi adalah ”penghinaan” bukan hanya untuk karya seni, melainkan juga untuk kehidupan itu sendiri.
Pernyataan Miyazaki dapat dipahami mengingat selama ini Ghibli dikenal sebagai studio seni yang mampu merekam pengalaman kehidupan dan emosi manusia melalui animasi.
Adapun pemanfaatan AI dalam politik bukanlah hal baru. Pada Pemilu 2024, Prabowo Subianto-Gibran menggunakan AI generatif untuk menciptakan konten kampanye yang menarik. Salah satu yang paling mencolok adalah penggunaan gambar-gambar Prabowo dan Gibran versi anak-anak yang beredar luas di media sosial. Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran juga meluncurkan aplikasi foto berbasis kecerdasan buatan (AI), Fotober2.ai, untuk menggaet suara generasi muda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/06/41800e84-9c95-46da-b53a-6aeaa1b81a8a_jpg.jpg)
Terkait penilaian sebagian warganet tentang penggunaan AI dalam video ucapan selamat Idul Fitri yang dinilai berpotensi melanggar hak cipta, belum ada tanggapan dari Wapres Gibran. Kompas berusaha menghubungi staf khusus Wapres Gibran, Tina Talisa, untuk meminta tanggapan dari Gibran, tetapi higga Rabu (2/4/2025), pukul 18.00, Tina tidak menjawab pesan yang dikirimkan Kompas.
Meskipun demikian, dalam berbagai kesempatan, Gibran menyampaikan pandangannya terkait penggunaan AI untuk kehidupan sehari-hari. Dalam seminar di SMAN 66 Jakarta, Rabu (12/3/2025), Gibran menyatakan akan koordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar Menengah agar AI menjadi mata pelajaran di sekolah (Kompas.com, 12/3/2025).
AI tidak akan menggantikan manusia. Manusia yang gunakan AI mengalahkan manusia yang tidak gunakan AI.
Saat Buka Puasa Bersama Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, di Jakarta, Senin (17/3/2025), Gibran juga membicaraka AI. Ia mengatakan bahwa kemajuan teknologi tidak bisa dihindari. Ia meminta AI tidak dilihat sebagai ancaman. ”AI tidak akan menggantikan manusia. Manusia yang gunakan AI mengalahkan manusia yang tidak gunakan AI,” ungkapnya.
Penggunaan kecerdasan buatan memang menghadirkan kemudahan dan efisiensi. Namun, di sisi lain, teknologi AI juga membuka celah bagi disinformasi. Tanpa adanya transparansi mengenai penggunaan AI, publik bisa terjebak dalam persepsi semu dan kehilangan kepercayaan terhadap informasi yang beredar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/02/fe622c55833a0af601cea602fdc94caa-cropped_image.jpg)
Dosen Ilmu Sosial di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dari Universitas Airlangga, Suko Widodo, mengatakan, pesan yang disampaikan Gibran dalam videonya kurang mengesankan konteks keindonesiaan. ”Kurang orisinil. Sebagai sosok pemimpin resmi negara, idealnya pesan dan ide visualisasinya merepresentasikan keindonesiaan,” katanya, Rabu (2/4/2025).
Sementara itu, pengajar filsafat di Universitas Sanata Dharma Haryatmoko mengatakan, penggunaan AI oleh pejabat publik bukan hanya isu hukum dan hak cipta. ”Penggunaan AI dalam komunikasi publik oleh pejabat negara memerlukan pertimbangan matang terkait etika, keaslian pesan, dan kepatuhan terhadap hukum hak cipta,” katanya.
Menurut Haryatmoko, Gibran perlu mengakui respons publik dan menekankan kepekaan sosial. Selain itu, reaksi masyarakat menunjukkan bahwa dalam komunikasi, terutama dalam momen sakral seperti Idul Fitri, keaslian dan kedekatan emosional masih menjadi faktor utama.
”Ini bisa menjadi refleksi bagi masyarakat bahwa meskipun teknologi bisa membantu, ada hal-hal yang tetap lebih baik disampaikan secara langsung dan personal,” katanya.
Ia juga menyebutkan, penggunaan AI dalam komunikasi politik memang inovatif, tapi bahwa untuk momen seperti Idul Fitri, banyak masyarakat lebih menginginkan ucapan yang lebih personal. Ini menjadi pelajaran bahwa tidak semua hal bisa atau seharusnya diotomatisasi. Ada nilai-nilai budaya dan sosial yang tetap harus dijaga.
Senada, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Kunto Adi Wibowo mengatakan, ada masalah hak cipta dalam penggunaan AI untuk ucapan Idul Fitri seperti yang dilakukan oleh Gibran dan Kementerian Komdigi. Selain itu, penggunaan AI tidak berpihak pada industri ekonomi kreatif.
”Seharusnya, Gibran sebagai Wakil Presiden berupaya mendorong ekonomi kreatif. Penggunaan AI telah melanggar hak cipta dan merugikan seniman lokal yang bergerak di industri kreatif,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/12/d73d73c9-a7df-4532-903f-3bebc89bf5c5_jpg.jpg)
Berdasarkan penelitian Kunto Adi Wibowo dan Detta Rahmawan terhadap 1.200 responden di Jawa Barat, pada 27 Desember-5 Januari 2024, mayoritas penduduk masih belum paham mengenai teknologi AI.
Penelitian itu merinci, sebanyak 32,2 persen responden menganggap AI sebagi sejenis telepon genggam yang baru. Ada juga yang menganggap AI sebagai program komputer yang megambil keputusan berdasarkan hasil pembelajaran dari data yang sangat besar (26,3 persen), robot yang bertindak sendiri tanpa bantuan manusia (25,3 persen), dan komputer yang berinteraksi dengan manusia (16,2 persen).
Menurut saya, edukasi harus digenjot dulu sebelum pemerintah nge-gas pakai AI. Penggunaan AI berlebih menghadirkan situasi problematis: sebenarya yang mau kita bela ini siapa, apakah seniman di dalam negeri, pelaku industri kreatif, atau justru kita mau mempertebal kantong mereka yang punya infrastruktur AI.
Kunto Adi Wibowo mengatakan, penggunaan AI berlebihan di tengah masyarakat yang belum memahami AI dapat menimbulkan persepsi bahwa apa yang ditampilkan itulah yang sesungguhnya dan masyarakat akan meganggap bahwa video animasi dibuat oleh seniman sugguhan.
”Menurut saya, edukasi harus digenjot dulu sebelum pemerintah nge-gas pakai AI. Penggunaan AI berlebih menghadirkan situasi problematis: sebenarya yang mau kita bela ini siapa, apakah seniman di dalam negeri, pelaku industri kreatif, atau justru kita mau mempertebal kantong mereka yang punya infrastruktur AI?” katanya.
Penggunaan AI bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi AI telah membuka peluang baru dalam cara dan pendekatan komunikasi kepada masyarakat. Namun di sisi lain, juga menghadirkan tantangan hak cipta dan ekonomi kreatif. Selain itu, penggunaan AI berlebihan dapat mengaburkan batas antara realitas dan rekayasa, yang pada akhirnya dapat menggerus kepercayaan publik terhadap pejabat negara.
Penulis:
Denty Piawai NastitieEditor:
C. Wahyu Haryo P