Video Deepfake Presiden Prabowo di Tengah Ancaman Penipuan dan Disinformasi

Kemampuan AI yang kian canggih dalam membuat video deepfake membawa ancaman serius. Hal ini sudah terlihat dari video deepfake Presiden Prabowo.

24 Jan 2025 20:05 WIB · Politik & Hukum

Oleh Kurnia Yunita Rahayu

Jagat maya dipenuhi video Prabowo Subianto tengah berpidato soal program pembebasan utang. Di platform media daring Tiktok, misalnya, hanya dengan mengetikkan nama kata kunci ”prabowo”, muncul sejumlah video yang menampilkan Presiden ke-8 RI itu tengah menawarkan bantuan dana yang akan dikirim secara langsung untuk masyarakat. Tawaran itu tidak hanya disampaikan melalui satu video, tetapi ada banyak video yang menampilkan sosok Prabowo dalam berbagai versi.

Akun @prabowo.subianto1523, salah satunya, mengunggah video berdurasi 15 detik yang menampilkan Prabowo mengenakan jas abu-abu, kemeja putih, serta dasi bernuansa biru. Dalam video itu, Prabowo berada di dalam sebuah ruangan berisi sofa dan televisi lalu menyampaikan mengenai program pembebasan utang untuk masyarakat. Namun, mereka yang berminat harus beradu cepat karena bantuan itu terbatas.

”Jadi, bagi yang mau saya bantu, segera hubungi saya di bio. Dan perhatian, untuk kalian yang sudah dapat, tolong gunakan bantuan ini dengan baik dan bijak, ya,” ujar sosok Prabowo dalam video yang diunggah pertengahan Januari 2025 itu.

Video Deepfake Presiden Prabowo Subianto

Ada lagi tawaran bantuan dari Prabowo dalam video yang diunggah akun @prabowosubianto7141. Di video itu, Presiden tampil mengenakan safari krem dan peci hitam, sedang duduk di dalam ruangan yang berisi meja coklat dan bendera Merah Putih. Dengan suara dan nada bicara khasnya, Prabowo pun menyampaikan tawaran bantuan untuk khalayak.

”Siapa saja dari kalian yang mau melunasi utang piutang dan belum memiliki biaya untuk melunasinya, segera hubungi saya. Pasti saya bantu. Program ini resmi ya, bukan hoaks dan program ini sudah berjalan,” ujarnya.

Jika dilihat sekilas, tidak ada yang mencurigakan dari video-video itu. Tidak ada perbedaan fisik Prabowo yang ditampilkan di video dengan tampilan aslinya. Seluruh pakaian yang dikenakan Prabowo di video-video itu pun sudah pernah ia kenakan dalam berbagai momen yang disaksikan masyarakat. Ditambah lagi, tidak ada perbedaan pada suara dan logatnya saat berbicara.

Video Deepfake Presiden Prabowo Subianto

Namun, sejumlah video itu bukanlah video asli, melainkan fabrikasi dengan menggunakan teknologi deepfake atau manipulasi gambar dan video menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Kemampuan AI memungkinkan seseorang memproduksi video dengan tampilan wajah dan suara tokoh publik yang diinginkan sesuai dengan skenario yang ia rencanakan. Dengan begitu, akan muncul tampilan seorang tokoh publik sedang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan.

Hal itu pula yang dilakukan oleh Alamandela (29), warga Lampung, yang ditangkap oleh penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, 16 Januari 2025. Sejak empat tahun lalu, Alamandela dan rekannya yang kini masih menjadi buron Bareskrim Polri memproduksi video deepfake yang mencatut wajah dan suara Prabowo untuk disebarkan di media sosial (medsos). Tak hanya itu, beberapa tokoh lain seperti Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Keuangan Sri Mulyani juga jadi obyek pencatutan.

Melalui video-video itu, Alamandela dan rekannya menipu warganet. Video dimaksud menampilkan Presiden Prabowo tengah menawarkan bantuan uang tunai kepada masyarakat dengan cara mengikuti petunjuk yang ada di video. Salah satunya, memberikan nomor ponsel yang perlu dihubungi.

Data kasus kejahatan siber periode 2017-2019 yang dihimpun Direktorat Siber Bareskrim Polri

Mereka yang masuk ke dalam petunjuk itu akan diarahkan untuk mengisi formulir pendaftaran penerima bantuan. Kemudian, mereka diminta mengirimkan uang sebesar Rp 250.000-Rp 1 juta untuk biaya administrasi. Setelah uang dikirim, pembuat video menghilang, tidak bisa dihubungi kembali.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigadir Jenderal (Pol) Himawan Bayu Adji dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/1/2025), mengatakan, dari penipuan itu, Alamandela dan rekannya bisa mendapatkan dana sebesar Rp 30 juta dalam empat bulan. Sejauh ini, ada 11 warga yang telah menjadi korban penipuan dengan video deepfake buatan mereka.

Para korban tersebar di berbagai daerah. Ada yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah. Jumlah kerugian mereka pun berbeda-beda. Ada yang Rp 250.000, Rp 500.000, Rp 750.000, dan paling tinggi Rp 1 juta.

Tumpukan uang barang bukti yang hendak ditunjukkan dalam Ekspos Pengungangkapan Tindak Pidana Judi Online di Gedung Badan Reserse dn Kriminal Mabes Polri, Jakarta, Senin (20/1/2024). Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri mengekspos pengungkapan 3 situs judi online besar. Ketiga situs judi online ini beroperasi di lingkup nasional dan internasional. Polisi juga menangkap 11 tersangka dalam pengungkapan kasus ini dan menyita barang bukti dengan nilai total Rp 61 miliar. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 20-1-2025

Penipuan di berbagai bidang

Sekalipun polisi bisa mengidentifikasi video deepfake yang digunakan untuk penipuan, tak mudah bagi masyarakat untuk mengenali jenis video pemalsuan itu saat mendapatkannya beredar di medsos.

Sebab, kata Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber (Cissrec) Pratama Persadha, teknologi deepfake ini memanfaatkan deep learning, cabang AI yang melibatkan neural network untuk meniru pola manusia, seperti ekspresi wajah, gerakan, dan suara. Dengan begitu, deepfake memungkinkan produksi video yang tampak senyata aslinya.

”Kemampuannya yang semakin canggih membuat video deepfake menjadi ancaman serius, terutama dalam penyebaran informasi palsu dan penipuan,” kata Pratama.

Dengan tambahan rekayasa sosial, penipu bisa melakukan kejahatan di berbagai bidang menggunakan video deepfake. Misalnya, mencatut wajah dan suara jajaran petinggi perusahaan atau anggota keluarga seseorang untuk meminta transfer dana atau manipulasi transaksi bisnis. Pemerasan dengan membuat video seseorang yang tengah dalam situasi memalukan, lalu meminta bayaran atau kepatuhan terhadap permintaan tertentu juga bisa dilakukan. Penyebaran video deepfake yang memuat peringatan bencana atau konflik palsu juga bisa memicu kepanikan masyarakat.

Chairman Communication and Information System Security Research Center (Cissrec) Pratama Persadha.

”Dalam dunia politik, video deepfake dapat menjadi alat disinformasi yang sangat berbahaya. Tokoh politik dapat terlihat membuat pernyataan atau melakukan tindakan yang mencemarkan reputasi atau menciptakan instabilitas sosial,” ujar Pratama.

Quote

Dalam dunia politik, video deepfake dapat menjadi alat disinformasi yang sangat berbahaya. Tokoh politik dapat terlihat membuat pernyataan atau melakukan tindakan yang mencemarkan reputasi atau menciptakan instabilitas sosial.

Identifikasi mandiri

Kendati sulit untuk membuktikannya secara manual, bukan berarti warganet tidak bisa mengenali video deepfake.

Warganet dapat memperhatikan kualitas video, karena video deepfake sering memiliki kualitas yang rendah, ada ketidakcocokan ekspresi wajah dan gerak bibir dengan audio, dan bayangan yang tidak konsisten. Kecocokan gerak bibir dengan audio menjadi krusial untuk diperiksa karena umumnya deepfake sering bermasalah dalam menyelaraskan itu, mengingat teknologi deepfake biasanya tidak memanipulasi audio secara langsung.

”Kita juga bisa melakukan analisis dengan melacak sumber video dan memastikan bahwa video itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya,” ujarnya.

<p>cover turvis peretasan lipsus investigasi</p>

Di luar itu, Pratama menegaskan, pemerintah dan platform digital juga berperan krusial untuk melawan penyalahgunaan deepfake. Implementasi teknologi deteksi AI pada platform medsos dapat membantu menyaring konten mencurigakan. Di sisi lain, regulasi yang jelas mengenai penggunaan teknologi dan sanksi tegas bagi pembuat dan penyebar video deepfake untuk penipuan atau disinformasi juga bisa jadi langkah preventif yang signifikan.

Lantas, masihkah Anda akan menghubungi Prabowo yang menawarkan bantuan uang tunai atau pembebasan utang di medsos?


Kerabat Kerja

Penulis:

Kurnia Yunita Rahayu
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro