Penanganan terhadap kapal MV Hondius mengingatkan kejadian saat wabah Covid-19 di kapal Diamond Princess tahun 2020.
07 Mei 2026 12:40 WIB · Internasional
AP/Hoshiko
Petugas kesehatan yang berbaju hazmat, lengkap dengan pelindung wajah dan sepatu hingga sarung tangan, mengevakuasi tiga pasien dari kapal pesiar MV Hondius yang sedang dilanda wabah virus hanta, Rabu (6/5/2026). Menggunakan perahu berukuran kecil, belasan petugas berangkat dari Pelabuhan Praira, di Tanjung Verde, pesisir barat Afika, menuju lepas pantai di semenanjung pulau itu, tempat kapal MV Hondius dengan sekitar 150 penumpang bersandar.
Dua pasien virus hanta dan satu orang yang diduga terinfeksi dievakuasi dan dipindahkan dari kapal menuju bandara di Tanjung Verde. Mereka segera diterbangkan dengan protokol kesehatan tingkat tinggi. Dua di antaranya tiba di Bandara Amsterdam pada Rabu malam dan dibawa ke rumah sakit yang berbeda, sedangkan satu pasien mendarat di Kepulauan Canary, Spanyol.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/07/0e4091cf-b5d8-49fd-ba4d-bdfa1c625be7_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/07/89091c1f-6d70-4bfa-aa90-426abded2ad0_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/07/2adc30ee-ef21-475e-aadf-f30acad686f8_jpg.jpg)
Sebelumnya, pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman telah meninggal akibat wabah virus hanta di kapal MV Hondius. Delapan orang, termasuk seorang warga negara Swiss, diduga telah tertular virus tersebut, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Wabah mematikan virus hanta langka terjadi selama beberapa minggu di kapal yang berlayar dari Argentina menuju Antarktika dan kemudian melintasi Samudra Atlantik. Kapal ini juga berhenti di pulau-pulau terpencil di sepanjang perjalanan saat penumpang dan awak kapal mulai jatuh sakit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/833a7ab8-06a8-42bf-b218-62a6e6cd1ec3.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/07/afe38f43-3a88-460f-beac-b93286811d52_jpg.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/3843a9af-4312-4ab4-ab02-0993a7eb498d.jpg)
Petugas kesehatan dengan perlengkapan pelindung tiba untuk mengevakuasi pasien dari kapal pesiar MV Hondius di pelabuhan di Praia, Tanjung Verde, Rabu (6/5/2026). (AP/MISPER APAWU)
Petugas medis mengawal seorang pasien (dua dari kiri), dievakuasi dari kapal pesiar MV Hondius dengan dugaan infeksi hantavirus, ke ambulans setiba di bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, Rabu (6/5/2026). AP/Peter Dejong
Seseorang dengan baju hazmat putih turun dari pesawat medis Bombardier Challenger 605 yang diduga membawa beberapa penumpang terinfeksi hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius di Bandara Schiphol di Amsterdam, Rabu (6/5/2026). AFP/JEFFREY GROEN
Lebih dari 140 penumpang dan awak kapal masih berada di atas kapal MV Hondius. Saat ini kapal tersebut meninggalkan negara kepulauan Afrika Barat, Tanjung Verde, menuju Kepulauan Canary di Spanyol.
Kapal MV Hondius berangkat dari Argentina selatan pada 1 April. Lima hari kemudian, 6 April, seorang pria Belanda berusia 70 tahun jatuh sakit dengan gejala demam, sakit kepala, dan diare. Ia meninggal di atas kapal pada 11 April setelah mengalami kesulitan bernapas.
Saat kejadian, kapal tersebut berada di antara wilayah kepulauan Inggris, Georgia Selatan, dan St Helena, di tengah Samudra Atlantik Selatan, menurut data dari situs pelacakan kapal MarineTraffic. Penyebab kematian saat itu belum dapat ditentukan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/b05cd957-a6d6-4e15-95b3-ca00e046980a.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/45981e36-cd8f-4fab-b0b4-5dc8b7b987f3.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/1eab43fe-de94-4612-8e98-59cfacfc481e.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/6cd589e0-67cd-4aa5-a660-47e15a6a28b4.jpg)
Kapal itu berlayar selama hampir dua pekan, berhenti di dekat pulau Tristan da Cunha sebelum mencapai St Helena, tempat jenazah pria Belanda itu dipindahkan pada 24 April. Istrinya yang berusia 69 tahun turut turun dari kapal untuk mendampingi.
Wanita itu, yang sudah menunjukkan gejala terjangkit virus, kondisinya memburuk selama penerbangan ke Afrika Selatan pada 25 April dan pingsan di bandara. Dia meninggal di rumah sakit pada 26 April, kata WHO.
Penumpang lain, seorang pria Inggris, jatuh sakit di kapal setelah meninggalkan St Helena dan berlayar ke Pulau Ascension yang kecil, sekitar 1.300 kilometer di utara. Ia mengalami demam tinggi, sesak napas, dan gejala pneumonia. Ia lantas dievakuasi dari Pulau Ascension ke Afrika Selatan pada 27 April. Ia dirawat di ruang perawatan intensif di Afrika Selatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/80d199b5-00b4-49bd-9451-7ec16c6a4063.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/fdba7fb6-bf19-4ccc-ac2d-8fc8405aff06.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/0bd334e6-c010-44ea-81bc-06f888e9f080.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/56bc7b18-ec6c-4e96-8c73-5024d7d1fbdd.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/e2d85054-ad71-4698-a629-c297e0c1dc36.jpg)
Korban jiwa ketiga, seorang wanita Jerman. Ia meninggal di kapal pada Sabtu, 2 Mei 2026, setelah kapal berlayar menuju tujuan baru di Tanjung Verde. Ia meninggal empat hari setelah jatuh sakit dan juga menunjukkan gejala pneumonia, gejala yang biasa disebabkan oleh virus hanta. Jenazahnya masih berada di kapal.
Hipotesis utama Pemerintah Argentina adalah bahwa pasangan Belanda yang meninggal tersebut tertular virus saat melakukan pengamatan burung di kota Ushuaia sebelum naik pesawat. Dua penumpang ini sebelumnya telah melakukan perjalanan melalui Chile, Uruguay, dan Argentina sebelum menaiki MV Hondius pada 1 April 2026.
Kementerian Kesehatan Argentina menyatakan, pihaknya mengirimkan para ahli ke Ushuaia untuk menangkap dan menguji hewan pengerat terhadap virus tersebut di daerah yang terkait dengan rute pasangan Belanda itu. Melihat visual penanganan wabah ini, ingatan seakan kembali pada masa Covid.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/e8f4ccfa-a474-423b-b5e7-9997a5835406.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/6d925433-177a-475f-8733-7ef7dd3ca512.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/7966de31-4a02-467f-ba2b-f3b7fada67b4.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/05/07/156e01d7-27c8-4e4e-a5e3-9ce724bbdbf1.jpg)
Saat itu, sebuah kapal pesiar mewah berkapasitas ribuan penumpang terpaksa dikarantina di atas kapal yang berlabuh di Pelabuhan Yokohama, Jepang. Ratusan awak dan penumpang dikarantina selama dua pekan sebelum akhirnya dievakuasi dan kembali ke negara masing-masing. Di kapal itu, sebanyak 78 warga negara Indonesia bekerja sebagai awak kapal. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji