Mirra Andreeva menjadi bagian dari juara Grand Slam pada usia remaja. Dalam usia 19 tahun, dia menjuarai turnamen Perancis Terbuka.
07 Jun 2026 10:51 WIB · Olahraga
AP Photo/Thibault Camus
Mirra Andreeva bukan remaja biasa ketika menjadi juara Grand Slam Perancis Terbuka 2026. Tidak pernah ada momen membosankan dalam kehidupan petenis tunggal putri Rusia berusia 19 tahun itu yang membuat semua orang di sekitarnya selalu waspada. Dia pun mengakui bahwa terkadang dia adalah ”orang yang sulit dihadapi”.
Andreeva, yang baru empat tahun menjalani persaingan tenis profesional, pernah berteriak dan marah kepada tim pelatih di tribune saat bertanding. Dia menumpahkan kekesalan karena bermain buruk dan kalah.
Saat bermain di perempat final Perancis Terbuka 2025 dan akhirnya kalah dari Lois Boisson, Andreeva berkali-kali memantulkan bola dengan keras ke lapangan di luar perebutan poin. Sebagai bentuk ekspresi kekesalan karena berulang kali membuat unforced error, dia meminta tim pelatih, yang dipimpin Conchita Martinez, meninggalkan tribune. Namun, Andreeva kemudian meminta maaf kepada Martinez.
Sekitar sebulan sebelum meraih trofi Suzanne Lenglen, lambang juara tunggal putri Perancis Terbuka, dia kelihangan kontrol ketika bertanding pada babak keempat WTA 1000 Madrid. Dalam persaingan ketat melawan Anna Bondar, Andreeva menggerutu kepada timnya, ”Saya akan kalah, saya akan kalah,” meski akhirnya menang 6-7 (5), 6-3, 7-6 (5).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/e45da4874c20d24adf35db9a54f81b3b-wires_photo.jpg)
Dalam usia remaja, Andreeva begitu keras dan punya tuntutan besar pada dirinya sendiri. Ini belum ditambah dengan ekspektasi eksternal yang mendesaknya meraih hasil besar dan menjadi petenis nomor satu di masa depan. Ekspektasi ini muncul terutama setelah mencapai semifinal Perancis Terbuka 2024 dalam usia 16 tahun. Atas tuntutan itu, Andreeva balik mendesak agar mereka bersabar, agar dia bisa menikmati perjalanannya.
Itu bukan berarti etos kerjanya dipertanyakan, tetapi lebih merupakan pengingat bahwa dua tahun setelah lolos ke semifinal Grand Slam pertamanya di Paris, dua tahun lalu, ia membutuhkan waktu.
Dua tahun berproses setelah momen itu, Andreeva mengangkat trofi juara Grand Slam. Dalam persaingan tunggal putri yang terbuka, dia menjadi petenis terbaik setelah mengalahkan Maja Chwalinska 6-3, 6-2 dalam final di Lapangan Philippe Chatrier, Roland Garros, Paris, Sabtu (6/6/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/6c92e4a728479684fbc12a90fb704b7a-andreeva_maja.jpeg)
Laga tersebut menjadi persaingan dua petenis yang untuk pertama kalinya tampil di final Grand Slam. Chwalinska bahkan tampil sejak babak kualifikasi sehingga dia menjalani sepuluh pertandingan selama tiga pekan.
Andreeva menjadi juara termuda di Paris sejak Monica Seles pada 1992. ”Saya telah menonton Roland Garros di TV sejak masih sangat, sangat muda,” kata Andreeva saat penyerahan trofi. ”Ini juga merupakan impian besar saya untuk memenangi turnamen ini, dan sejujurnya saya tidak percaya bahwa saya memegang trofi ini sekarang.”
Seperti Seles tiga dekade lalu, Andreeva telah lama disebut-sebut akan menjadi petenis besar, sejak dia berusia 15 tahun. Dia mencapai babak keempat WTA 1000 Madrid 2023 dengan status petenis wildcard. Andreeva mengalahkan finalis Grand Slam Amerika Serikat Terbuka 2021, Leylah Fernandez, pada babak pertama sebelum dikalahkan Aryna Sabalenka di babak keempat.
Beberapa bulan kemudian, dia mencapai putaran ketiga di Roland Garros dan babak keempat Wimbledon. Di Wimbledon, salah satu petenis yang dikalahkannya adalah juara Grand Slam, Barbora Krejcikova. Andreeva pun disebut-sebut sebagai petenis masa depan.
”Jujur saja, saya sudah melakukan banyak visualisasi sebelumnya tentang momen ini. Saya punya mimpi, saya punya banyak pemikiran tentang bagaimana hal ini akan terjadi, apakah akan benar-benar terjadi, kapan, dan di mana. Rupanya, perasaan dalam kehidupan nyata lebih baik dibandingkan dalam mimpi. Sekarang, aku bisa menyebut diriku sebagai juara Grand Slam,” tutur Andreeva.
Setelah tersingkir pada perempat final 2025, Andreeva berhasil memanfaatkan kesempatan terbuka di lapangan tanah liat Roland Garros pada tahun ini. Peluang itu semakin besar ketika juara bertahan Cori Gauff tersingkir pada babak ketiga, diikuti kekalahan empat kali juara Perancis Terbuka, Iga Swiatek, dari Marta Kostyuk pada babak keempat. Setelah itu, kekalahan petenis nomor satu dunia, Sabalenka, pada perempat final membuat tak ada juara Grand Slam yang tampil di semifinal.
Andreeva tak pernah kehilangan lebih dari lima gim dalam setiap pertandingan pada empat babak terakhir, termasuk saat menyingkirkan Kostyuk di semifinal. Kostyuk adalah petenis yang mengalahkannya di final WTA Madrid.
Total, Andreeva hanya kehilangan 17 gim pada pekan kedua di Roland Garros. Hanya Iga Swiatek (2020 dan 2024) dan Steffi Graf (1998) yang menjadi juara dengan statistik lebih baik dari Andreeva.
Di final, Andreeva tampil dominan setelah memenangi set pertama. Sembilan gim beruntun yang direbut sejak akhir set pertama membuatnya unggul 5-0 pada set berikutnya. Chwalinska merebut dua gim berikutnya, tetapi itu pada akhirnya sekadar menunda kekalahan dari Andreeva.
”Saat dia memenangi dua gim beruntun setelah saya unggul 5-0, saya merasa seharusnya tidak kehilangan gim ketika servis. Namun, saya mengingatkan diri sendiri agar tidak larut dalam kesalahan,” kata Andreeva yang akan naik dari peringkat kedelapan menjadi kelima setelah menjuarai Perancis Terbuka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/4f1c4de35dca7a68d323b8fb65c11ab0-andreeva_shot1.jpg)
Gelar pertama dari panggung Grand Slam membuatnya memiliki enam gelar WTA Tour dalam usia muda. Dia punya gelar juara dari semua level, yaitu WTA 250, 500, 1000, dan Grand Slam. Catatan fenomenal di ajang WTA 1000 ditorehkan ketika Andreeva menjuarai dua turnamen beruntun pada 2025, yaitu di Dubai, Uni Emirat Arab, dan Indian Wells, AS.
Di Dubai, dia menaklukkan para unggulan, seperti Swiatek dan Elena Rybakina. Di Indian Wells, performanya lebih impresif hingga bisa mengalahkan Rybakina, Elina Svitolina, Swiatek, dan Sabalenka secara beruntun, dari babak keempat hingga final.
”Saya berbicara dengan psikolog sebelum semifinal dan final karena saya pikir itu akan membantu saya berada dalam kondisi pikiran yang benar pada pertandingan penting. Dia memberi saya banyak nasihat dan teknik untuk menjalani semua tekanan. Itu sebabnya saya pikir dia pantas mendapatkan banyak pujian atas hal ini,” kata petenis yang mengidolakan Andy Murray ini.
Perkembangannya sebagai atlet muda yang bersaing dengan petenis-petenis top dunia dijalani bersama Martinez, mantan petenis Spanyol yang melatihnya sejak April 2024. Tak hanya menjadi pendamping untuk memberi masukan teknis, juara Wimbledon 1994, finalis Australia Terbuka 1998 dan Perancis Terbuka 2000 itu menjadi teman bagi Andreeva yang mengakui bahwa dirinya masih sering bersikap seperti anak-anak.
Saat tampil di Australia Terbuka 2025, Andreeva bercerita bahwa dirinya masih menjadi sosok yang mudah marah. Selain itu, dia pun adalah orang yang senang berbagi banyak cerita kepada orang lain, termasuk kepada Martinez.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/09c7cd5c1781a252027a3418af2eefb8-andreeva_conchita.jpeg)
”Saya tidak tahu apakah dia ingin mendengar setiap cerita saya atau tidak, tetapi saya sangat nyaman bercerita berbagai hal kepadanya. Kami juga sering bercanda, tetapi tetap menjalin hubungan profesional sebagai atlet dan pelatih,” tutur Andreeva dalam laman resmi WTA.
Cairnya hubungan di antara mereka salah satunya diperlihatkan ketika Martinez menjalani konferensi pers di Roland Garros. Andreeva berada di antara jurnalis, lalu bertanya, ”Hai, saya Mirra Andreeva. Saya ingin bertanya, apa hal terbaik dalam menjadi pelatih Andreeva?”
”Kami sering bermain uno dan saya selalu menang,” jawab Martinez.
”Itu saja?” tanya Andreeva.
”Ya, itu saja,” kata Martinez.
Tanya-jawab atlet dan pelatih dengan rentang usia 35 tahun itu pun mengundang tawa para jurnalis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/9386e19293ec931bc89f533213c8c949-andreeva_shot2.jpg)
Berkat bantuan Martinez, yang juga pernah melatih Garbine Muguruza dan Karolina Pliskova, Andreeva meraih gelar pertama dari WTA 1000, lalu Grand Slam. ”Sangat, sangat istimewa bisa berbagi trofi Grand Slam pertama dengan Conchita dan melihat betapa bahagianya dia. Kami telah melakukan banyak kerja sama di lapangan, di luar lapangan. Kami juga melalui begitu banyak momen baik dan beberapa momen buruk. Dia juga mengatakan bahwa dia sangat bangga kepadaku. Mendengar kata-kata itu darinya sungguh sangat istimewa bagi saya.”
Dalam perayaan kemenangannya, bahkan, ada momen ketika Andreeva menggendong anjing Martinez yang berusia 11 tahun, Luna, begitu dia selesai memeluk timnya. Dalam sesi foto setelah menerima trofi di lapangan, dia pun menggendong Luna.
Selain Martinez, ada dua sosok yang secara tak langsung berperan mengantarkan Andreeva menjadi petenis terbaik di WTA Dubai, yaitu para atlet terbaik di cabang masing-masing: LeBron James (bola basket) dan tentu saja petenis yang diidolakan banyak petenis, Roger Federer.
Pada momen sulit saat bertanding, Andreeva kerap mengingat perkataan James, empat kali juara NBA bersama tiga klub, tentang bagaimana sang juara bisa menemukan jalan untuk menang meski tanpa penampilan terbaik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/07/aa24aa0d97e3f761d8f4e387300a038a-wires_photo_1_.jpg)
”Dia mengatakan, saat semuanya terjadi sesuai keinginan, kita pasti percaya diri. Akan tetapi, yang membuat seseorang lebih hebat adalah ketika kita tetap berusaha memberikan yang terbaik pada saat kondisi tak ideal. Saya pun mengingatkan diri sendiri untuk tak berpikir negatif yang bisa membuat performa saya bertambah rusak. Saya bisa memilih jalan lain, yaitu berjuang untuk setiap poin. Itu yang saya lakukan hari ini,” tuturnya.
Setelah menjuarai Grand Slam, Andreeva mengatakan bahwa tak akan ada yang berubah dari dirinya meski sorotan kepadanya akan lebih besar. ”Saya pikir semuanya akan tetap sama. Mungkin akan berubah dalam dua atau tiga hari ke depan, tapi selain itu, saya pikir saya akan tetap sama. Saya tidak akan banyak berubah,” katanya. (AP/AFP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji