Jakarta Livin' Mandiri ingatkan Jakarta Pertamina Enduro (JPE), persaingan dinamis tak bisa dihadapi cuma bertumpu pada Megawati Hangestri atau pemain asing saja.
15 Feb 2026 07:02 WIB · Olahraga
JPE
Kekalahan dari Jakarta Livin’ Mandiri menjadi pengingat Jakarta Pertamina Enduro agar tidak lengah dalam persaingan yang dinamis di Proliga 2026. Hasil negatif itu juga jadi penegasan bahwa dalam permainan tim tidak cukup hanya mengandalkan beberapa orang untuk meraih kemenangan, termasuk cuma bertumpu pada Megawati Hangestri Pertiwi atau pemain asing.
Jakarta Pertamina Enduro (JPE) takluk dari Jakarta Livin’ Mandiri pada pertemuan kedua mereka di Proliga 2026. Dalam pertarungan lanjutan putaran kedua di GOR Utama, Bojonegoro, Jawa Timur, Jumat (13/2/2026) itu, JPE harus mengakui keunggulan Livin’ Mandiri, 1-3 (12-25, 20-25, 25-12, 20-25).
”Mungkin karena sudah di peringkat pertama, anak-anak jadi bermain over confidence,” kata Pelatih JPE, Bulent Karsioglu, tentang penyebab kekalahan timnya.
Sebenarnya wajar bagi JPE datang ke pertandingan tersebut dengan percaya diri. Selain punya modal kemenangan 3-1 (25-15, 10-25, 25-21, 25-23) pada pertemuan pertama, JPE juga sedang berada dalam performa positif setelah dalam enam laga terakhir sukses menuai kemenangan beruntun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/15/bfc8adbc35435f950c5cf7ff5e3dfca0-WhatsApp_Image_2026_02_13_at_18.55.36.jpeg)
Tak hanya itu, JPE pun tengah berada di atas angin karena sudah memastikan lolos ke final four pada pekan lalu setelah menyapu bersih dua laga kandang. Hasil itu juga membuat mereka merebut puncak klasemen dari Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia dengan total 21 poin dari tujuh kemenangan dari sembilan laga.
Mereka pun diperkuat pemain yang menghuni enam besar daftar pencetak poin terbanyak, Megawati Hangestri Pertiwi dan dua pemain asing, yakni Iana Shcherban dan Wilma Salasa. Khusus Megawati, dia menjadi satu-satunya pemain lokal dalam daftar 10 pemain dengan poin terbanyak.
Hingga putaran kedua pekan kelima atau sebelum laga kontra Livin’ Mandiri, Megawati telah mengoleksi 153 poin. Torehan itu membuat pemain asal Jember, Jawa Timur, ini menjadi pemain paling produktif di tim, mengalahkan Iana Shcherban (151) dan Wilma Salasa (150).
Peran Megawati, yang kembali ke klub pertamanya di Proliga setelah tiga tahun, cukup krusial di tim. Sebagai mesin poin, Megawati mampu menyumbangkan angka dari situasi menyerang ataupun bertahan. Hal itu tecermin pada pertemuan sebelumnya dengan Livin’ Mandiri ketika Megawati menciptakan poin tak hanya dari serangan dengan spike yang sulit diantisipasi lawan, tetapi juga dari blok dan servis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/15/6ce6979857963d6484ff501c0c10e74e-WhatsApp_Image_2026_02_13_at_18.55.45.jpeg)
Namun, saat kalah dari Livin’ Mandiri, Megawati ”hanya” menyumbang 6 poin. Peran mesin poin diambil alih Wilma Salas yang menyumbang 22 angka, disusul Iana Shcherban 18 poin. Salas merupakan pencetak poin terbanyak di JPE ataupun di pertandingan.
Problemnya, hanya tiga pemain ini yang mampu mencetak lebih dari lima poin. Pemain lainnya, seperti middle blocker Rissa Meiga Rianti atau Shindy Sasgia Dwi Yuniar, cuma menyumbang masing-masing empat dan dua poin dari blok dan servis.
Situasinya berbeda dengan Livin’ Mandiri yang bermain lebih kolektif dengan tidak hanya bertumpu pada beberapa orang. Memang, opposite hitter asing Ana Bjelica lebih dominan dengan menyumbang hingga 21 poin. Akan tetapi, poin-poin lainnya tersebar lewat aksi outside hitter Salsabila Dara Putri (15) dan Weronika Wiktoria (11), serta middle blocker Yolla Yuliana (9) dan Ola Yesphin Puhili (7).
Kekalahan JPE pun jadi pengingat bahwa persaingan di Proliga bisa berlangsung sangat dinamis. Mereka tidak bisa bertumpu hanya pada Megawati atau dua pemain asingnya untuk mewujudkan ambisi meraih gelar juara di musim ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/15/f7b25d00607333799345ce1149023606-WhatsApp_Image_2026_02_13_at_18.55.43.jpeg)
Di sisi lain, asisten pelatih Livin’ Mandiri, Wilda Siti Nurfadilah, mengatakan, kemenangan mampu diraih karena mereka juga bermain tanpa beban. ”Kami dari jajaran pelatih menginstruksikan agar anak-anak bermain tanpa beban, dan hasilnya bisa kita lihat sendiri,” ujarnya.
Livin’ Mandiri datang sebagai penghuni keempat klasemen dengan koleksi 13 poin dari empat kemenangan. Posisi mereka terpaut tiga tingkat dari JPE. Mentalitas tanpa beban itu jadi pilihan yang ternyata tepat untuk diambil agar tidak tertekan melawan tim yang di atas kertas lebih unggul.
Tekanan itu, kata Wilda, sebenarnya sempat muncul setelah unggul 2-0. Pada set ketiga, JPE tampil leih agresif, sedangkan Livin’ Mandiri kerap membuat kesalahan sendiri. JPE yang bermain lebih konsisten pun berhasil memperpanjang napas dengan memenangi set ketiga.
Meski pada akhirnya Yolla Yuliana dan kawan-kawan bisa kembali mengambil keunggulan pada set keempat, Wilda menilai tekanan ketika sudah unggul harus jadi evaluasi untuk laga selanjutnya. Perbaikan itu penting demi menjaga optimisme melangkah ke final four.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto