Wajah Muram Empat Jalur Perdagangan Maritim Dunia

Konflik geopolitik tengah menghantui Selat Hormuz, Laut Hitam, Laut Merah, dan Terusan Panama.

18 Jun 2025 08:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Hendriyo Widi

Wajah Selat Hormuz, Laut Hitam, Laut Merah, dan Terusan Panama tengah muram. Empat jalur perdagangan maritim dunia itu kian rentan terhadap konflik geopolitik. Rantai pasok berbagai komoditas dunia terancam.

Baru-baru ini, kabar kurang sedap mendera Selat Hormuz. Pada 14 Juni 2025 atau sehari setelah Israel menyerang Teheran, Iran mengancam melumpuhkan jalur perdagangan maritim di selat selebar 54 kilometer tersebut.

Iran percaya diri mampu melumpuhkan sistem navigasi pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Selat Hormuz menggunakan pesawat nirawak. Iran bahkan bisa menyerang pelabuhan, tanker dan komersial, serta jaringan infrastruktur minyak dan gas di kawasan selat itu menggunakan rudal.

Selat Hormuz merupakan pintu gerbang Teluk Persia. Selat itu merupakan jalur utama ”raja-raja” minyak dan gas (migas) dunia, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Qatar, Irak, dan Kuwait, dalam perdagangan migas.

Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan, pada 2023 minyak mentah yang diangkut melewati selat itu rata-rata 20 juta barel per hari. Volume tersebut hampir 30 persen dari total perdagangan minyak dunia. Sekitar 70 persen minyak mentah itu ditujukan ke negara-negara di Asia, seperti China, India, dan Jepang, yang merupakan pembeli terbesarnya.

Kendati infrastruktur pipa alternatif tersedia, penyalurannya melalui jalur darat sangat terbatas. Dari 20 juta barel minyak mentah per hari, hanya sekitar 4,2 juta barel atau seperempatnya yang dapat dialihkan melalui pipa jalur darat milik Arab Saudi dan UEA.

Quote

Pada 2023, minyak mentah yang diangkut melewati Selat Hormuz rata-rata 20 juta barel per hari atau hampir 30 persen dari total perdagangan minyak global.

Peta lokasi Selat Hormuz

Pengiriman gas alam cair (LNG) bahkan lebih rentan terhadap gangguan. Semua pengiriman LNG, terutama dari Qatar dan UEA, harus melewati Selat Hormuz. Pada 2023, sekitar 90 miliar meter kubik LNG diangkut melewati selat itu. Besaran volume tersebut setara dengan 20 persen dari perdagangan LNG global.

Sekitar 80 persen dari total LNG asal Teluk Persia dikirim ke Asia, sedangkan 20 persennya ke Eropa. Tanpa rute alternatif, pelumpuhan jalur maritim Selat Hormuz bakal memperketat pasokan LNG dunia.

”Jika konflik Israel-Iran berkepanjangan dan berdampak ke Selat Hormuz, pengiriman minyak mentah dan LNG akan terganggu. Tidak hanya itu, sebagian besar kapasitas produksi cadangan minyak mentah dan LNG yang terkonsentrasi di Teluk Persia tidak dapat diakses,” sebut IEA.

Sejumlah analis memperkirakan harga minyak dunia bisa menembus 80 dollar AS per barel. Dalam skenario ekstrem, yakni lumpuhnya jalur perdagangan Selat Hormuz, harga minyak mentah dunia bisa melambung menjadi 100-130 dollar AS per barel (EuroNews, 16/6/2025).

Jika skenario buruk itu terjadi, IEA akan mengeluarkan minyak mentah cadangan. Saat ini, IEA memiliki 1,2 miliar barel minyak mentah cadangan darurat publik.

Api menyala di fasilitas minyak dan energi Shahran yang terletak tidak jauh dari ibu kota Iran, Teheran, Minggu (15/6/2025) dini hari.

Saat pertama kali Israel menyerang Iran pada 13 Juni 2025, pergerakan harian harga minyak mentah dunia sempat meningkat 13 persen. Saat itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dan Brent masing-masing mencapai 77,62 dollar AS per barel dan 78,5 dollar AS per barel.

Per 17 Juni 2025, harga minyak mentah WTI sebesar 72,1 dollar AS per barel, naik 17,11 persen secara bulanan. Adapun harga minyak mentah Brent mencapai 74 dollar AS per barel, naik 12,88 persen secara bulanan.

Pusat Keamanan Laut Hitam

Laut Hitam juga mengalami nasib serupa. Sejak Rusia pertama kali menginvasi Ukraina pada 22 Februari 2022 hingga saat ini, kondisi jalur perdagangan pupuk, migas, dan serealia (gandum, jagung, dan kedelai) itu tak pernah tenang.

Laut Hitam merupakan jalur perdagangan strategis Rusia dan Ukraina. Melalui Laut Hitam, kedua negara itu mampu memasok hampir 24 persen gandum, 19 pesen jelai, dan 60 persen minyak biji bunga matahari dunia. Namun, lantaran perang, pasokan bahan pangan untuk dunia itu tersendat.

Sebenarnya, Rusia dan Ukraina sudah beberapa kali bernegosiasi. Kendati begitu, kedua negara tersebut belum pernah mencapai kesepakatan gencatan senjata. Setidaknya sudah ada upaya membuka jalur perdagangan barang-barang penting, termasuk serealia dan pupuk, melalui Prakarsa Perdagangan Biji-bijian Laut Hitam.

Infografik Jalur Perdagangan Strategis yang Berpotensi Terdampak Perang Iran-Israel

Baru-baru ini, ketegangan di Laut Hitam meningkat. Pada 28 Mei 2025, Komisi Uni Eropa (UE) mengumumkan rencana pembangunan Pusat Keamanan Maritim di Laut Hitam untuk membantu mengawasi proses kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.

Pusat keamanan tersebut juga guna melindungi infrastruktur penting dan menyingkirkan ranjau laut. Selain itu, UE ingin mengurangi risiko lingkungan dan memastikan kebebasan navigasi untuk perdagangan di Laut Hitam.

Bahkan, melalui Pusat Keamanan Maritim di Laut Hitam, UE berencana meningkatkan pengawasan terhadap armada tanker bayangan Rusia. Untuk mengurangi pembatasan harga minyak mentah negara-negara G7 sebesar 60 dollar AS per barel, Rusia mengerahkan armada tanker bayangan dalam jumlah besar untuk mengekspor minyaknya.

Proposal Pusat Keamanan Maritim Laut Hitam itu telah dilayangkan ke sejumlah negara di kawasan Laut Hitam. Beberapa negara yang siap bergabung adalah Romania, Bulgaria, Turki, Ukraina, Moldova, dan Georgia.

Pada 28 Mei 2025, Perwakilan Tinggi Komisi UE Kaja Kallas mengatakan, Laut Hitam merupakan kawasan strategis bagi UE karena menjadi jalur penghubung Asia Tengah dan Eropa. Kawasan ini juga penting bagi sektor perdagangan dan energi.

”Namun, potensi kawasan ini rusak akibat perang Rusia-Ukraina. Pelanggaran wilayah udara dan serangan terhadap pelabuhan dan jalur pelayaran berulang kali terjadi,” ujarnya di Brussels, Belgia (EuroNews, 28/5/2025).

Quote

Proposal Pusat Keamanan Maritim Laut Hitam itu telah dilayangkan UE ke sejumlah negara di kawasan Laut Hitam. Beberapa negara yang siap bergabung adalah Romania, Bulgaria, Turki, Ukraina, Moldova, dan Georgia.

Terusan Panama

Panama dan Laut Merah

Konflik geopolitik juga tengah membayangi dua jalur perdagangan maritim dunia yang lain, yakni Terusan Panama dan Laut Merah. Terusan Panama dihantui perseteruan antara Amerika Serikat (AS) dan China, sedangkan Laut Merah masih rentan terhadap serangan kelompok bersenjata Houthi di Yaman.

Terusan Panama merupakan jalan pintas penghubung Samudra Atlantik dan Pasifik. Terusan yang memotong tanah genting Panama sepanjang 82 kilometer ini membuat kapal laut tidak perlu memutar lewat Selat Magellan atau Tanjung Horn yang berada di ujung selatan Amerika Selatan.

Jalur perdagangan maritim melalui Terusan Panama yang mulai dibangun pada 4 Mei 1904 dan dioperasikan pada 15 Agustus 1914 itu lebih populer dibanding Terusan Suez. Pengiriman kargo laut dari Shenzhen, China, ke Miami, Florida, Amerika Serikat, yang menggunakan Terusan Suez membutuhkan waktu 41 hari. Sementara dengan Terusan Panama hanya memakan waktu 35 hari.

Per tahun, Terusan Panama melayani sekitar 12.000 kapal komersial, kargo, tanker, kontainer, dan curah kering. Pada medio 2023 hingga Mei 2024, sumber air utama Terusan Panama, yakni Danau Gatun, menyusut drastis akibat dampak El Nino.

Kapal-kapal yang ingin melewati terusan tersebut harus mengantre berhari-hari. Beberapa di antaranya bahkan memilih jalur memutar melalui ujung Amerika Selatan. Tanker pengangkut gas alam cair (LNG) tujuan Houston, Texas, AS, memilih melewati Selat Magellan atau Tanjung Horn sehingga menambah jarak tempuh sekitar 9.500 mil atau 25 hari lebih lama (Kompas, 17/11/2025).

orang melihat dua kapal kargo memasuki Miraflores Locks di Terusan Panama di Kota Panama pada 22 Januari 2025. Panama telah mengadu kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa atas ancaman "mengkhawatirkan" Presiden AS Donald Trump untuk merebut Terusan Panama, bahkan saat negara itu meluncurkan audit terhadap operator dua pelabuhan yang terkait dengan Hong Kong di jalur perairan antar-samudra tersebut.

Terusan Panama yang rentan dengan perubahan iklim itu juga rawan terhadap konflik geopolitik. Sejak terpilih kembali menjadi Presiden AS pada November 2024, Donald Trump berambisi mengambil kembali Terusan Panama.

AS sebenarnya telah menyerahkan kepemilikan, pengelolaan, dan pengoperasian terusan tersebut kepada Panama pada 31 Desember 1999. Kemudian, sejak 2017, Panama menjalin hubungan diplomatik dengan China.

Sejak saat itu, Beijing banyak berinvestasi di Panama, termasuk di dalam pemeliharaan dan ekspansi Terusan Panama. Hingga kini, China telah mengendalikan pelabuhan-pelabuhan di kedua ujung Terusan Panama, antara lain di Panama City, Ancon, Colon, dan Cristobal. China melakukannya lewat perusahaan Hong Kong, Hutchison Ports PPC.

Trump khawatir, pengaruh China di Terusan Panama semakin kuat. Ia juga khawatir China memasang kamera pengawas cerdas di sepanjang Terusan Panama. Kamera itu bisa menjadi alat memata-matai dan mengumpulkan data pergerakan kapal dagang, serta kapal tempur dan logistik AS.

Oleh karena itu, Trump berambisi mengambil alih kembali Terusan Panama. Namun, AS terganjal Perjanjian Kenetralan Terusan Panama sehingga tidak bisa sembarangan meminta kembali terusan tersebut.

oto yang dirilis oleh pasukan angkatan laut Operasi Aspides Uni Eropa ini menunjukkan kapal tanker minyak Sounion terbakar di Laut Merah setelah serangkaian serangan oleh pemberontak Houthi Yaman, pada Sabtu, 14 September 2024.

Sementara itu, Laut Merah yang merupakan jalur pintu selatan Terusan Suez itu kerap terganggu aksi kelompok Houthi. Kelompok perlawanan di Yaman tersebut kerap menyerang kapal-kapal yang melewati jalur penghubung Laut Mediterania ke Samudra Hindia melalui Semenanjung Arab itu.

Berkali-kali Houthi menebar ancaman dan menyerang kapal-kapal berbendera AS. Hal ini menyebabkan AS geram dan berupaya memukul balik ancaman dan serangan Houthi.

Serangan tersebut terkait erat dengan konflik Israel-Gaza, perebutan pengaruh Iran-Israel, Iran-dunia Arab, serta Iran-Barat dengan Houthi sebagai proksinya. Houthi secara luas dianggap sebagai bagian dari ”Poros Perlawanan” pimpinan Iran.

Padahal, Laut Merah merupakan jalur perdagangan penting penghubung Asia, Eropa, dan Afrika. Jalur masuk menuju Terusan Suez itu melayani sekitar 12 persen perdagangan maritim dunia. Jalur tersebut membuat pengiriman barang lebih cepat dan efisien dibandingkan jika harus memutar melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan.

Badan Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) mengingatkan, transportasi laut merupakan tulang punggung perdagangan dunia. Selama ini, transportasi laut menopang sekitar 80 persen perdagangan barang antarnegara. Konflik geopolitik yang berkepanjangan bakal mendisrupsi perdagangan maritim dunia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar