Warga Lokal Paris Menolak ”Overtourism”

Perkembangan pariwisata dan kehidupan warga lokal di Perancis.

02 Sep 2025 08:31 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Pada 15 tahun lalu, Olivier Baroin pindah ke apartemen di Montmartre. Saat itu ia merasa tinggal di desa, di jantung kota Paris, Perancis. Namun, sekarang ia kehilangan itu semua.

Toko-toko untuk penduduk setempat menghilang, begitu pula suasana yang ramah. Sebagai gantinya, muncul kerumunan orang yang berswafoto, toko-toko yang menjual pernak-pernik wisata, dan kafe-kafe yang tempat duduknya meluber ke jalan-jalan sempit berbatu. Ini semua akibat lonjakan wisatawan yang berlebihan.

Baroin sudah muak. Ia menjual apartemennya setelah jalan-jalan di sekitarnya ditetapkan khusus pejalan kaki, sementara jumlah pengunjung terus bertambah. Ia akhirnya menyerah dan memilih pergi. Kondisinya yang menyandang disabilitas sangat kesulitan ketika jalan-jalan sangat ramai. Ia kesulitan membawa mobil atau memanggil taksi karena situasi itu.

Wisatawan mengambil foto Menara Eiffel dari Parc de Belleville di Paris, Sabtu (16/8/2025).

Tingginya kunjungan wisatawan mungkin menguntungkan bagi pendapatan negara, tetapi ini juga menyebabkan gangguan bagi warga lokal dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Venesia, Barcelona, Amsterdam, dan kota-kota lain di Eropa tengah berjuang untuk menyerap lonjakan jumlah wisatawan.

Beberapa warga di salah satu kawasan wisata terpopuler di Paris kini melawan. Sebuah spanduk hitam yang dibentangkan di antara dua balkon di Montmartre bertuliskan, dalam bahasa Inggris: ”Di balik kartu pos: warga setempat diperlakukan buruk oleh wali kota”. Spanduk lain, dalam bahasa Perancis, bertuliskan: ”Warga Montmartre melawan”.

Wisatawan mengambil foto matahari terbenam dan Menara Eiffel dari Parc de Belleville di Paris, Sabtu (16/8/2025).
Sinar cahaya dari Menara Eiffel di atas Arc de Triumph, Minggu (31/8/2025), di Paris.
Wisatawan melihat Menara Eiffel dari teras Arc de Triumph, Sabtu (30/8/2025), di Paris.
Sebuah spanduk berisi kritikan akan kurangnya perhatian pemerintah akan warga lokal dipasang di jendela di distrik Montmartre di Paris, Perancis, Senin (8/82025).

Di puncak bukit tempat Basilika Sacre-Coeur memahkotai cakrawala kota, warga meratapi apa yang mereka sebut ”Disneyfikasi” dari kawasan Paris yang dulunya bohemian. Basilika tersebut mengklaim kini menarik hingga 11 juta orang per tahun. Ini bahkan lebih banyak daripada Menara Eiffel. Namun, kehidupan sehari-hari di lingkungan tersebut telah penuh sesak oleh tuk-tuk (semacam bajaj di Jakarta), rombongan tur, antrean foto, dan penyewaan kamar jangka pendek.

”Sekarang tidak ada lagi toko makanan, semuanya harus diantar,” kata Baroin, 56 tahun, anggota kelompok protes warga yang disebut Vivre a Montmartre atau Tinggal di Montmartre. Pada Juni lalu, staf dan pekerja di Museum Louvre melakukan aksi mogok akibat kepadatan pengunjung yang melonjak tinggi. Hal ini menyebabkan  kekurangan staf dan kondisi yang memburuk. Museum Louvre mencatat 8,7 juta pengunjung pada tahun 2024, lebih dari dua kali lipat kapasitas infrastrukturnya.

Para turis berjalan-jalan di Place du Tertre di distrik Montmartre di Paris, Perancis, Senin (4/8/2025).

Paris, kota dengan penduduk sekitar 2 juta jiwa, menyambut 48,7 juta wisatawan pada tahun 2024. Jumlah ini  meningkat 2 persen dari tahun sebelumnya. Sacre-Coeur menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi di Perancis pada tahun 2024. Kini Sacrre-Coeur dan lingkungan Montmartre telah berubah menjadi apa yang oleh sebagian penduduk setempat disebut sebagai taman hiburan terbuka.

Toko-toko lokal, seperti tukang daging, toko roti, dan toko kelontong, menghilang, digantikan oleh kios es krim, penjual teh susu, dan kios suvenir. Pengunjung menikmati jalanan yang padat setiap hari, dan akan penuh sesak saat tiba hari libur. 

Para turis berjalan-jalan di distrik Montmartre di Paris, Perancis, Senin (4/8/2025).

Titik kritis Eropa

Di Barcelona, ribuan orang turun ke jalan tahun ini. Beberapa di antaranya membawa pistol air menuntut pembatasan kapal pesiar dan penyewaan kamar turis jangka pendek. Venesia kini mengenakan biaya masuk untuk pengunjung harian dan membatasi jumlah pengunjung. Sementara itu, di Athena, pihak berwenang memberlakukan pembatasan harian bagi pengunjung Akropolis. Ini dilakukan untuk melindungi monumen kuno tersebut dari lonjakan wisatawan.

Para perencana kota memperingatkan bahwa kawasan bersejarah berisiko menjadi ”kota zombi,” indah tetapi tak bernyawa. Penghuninya terusir oleh wisatawan. Paris berupaya meringankan masalah tersebut dengan menindak tegas persewaan kamar jangka pendek dan penyewaan properti tanpa izin.

Pemandangan Menara Eiffel, Rabu, (20/8/2025) di Paris.

Namun, perkembangan pariwisata dipastikan semakin meningkat. Pada tahun 2050, populasi dunia diproyeksikan mencapai hampir 10 miliar, menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan semakin berkembangnya kelas menengah global, maraknya penerbangan berbiaya rendah, dan platform digital yang memandu wisatawan ke landmark populer yang sama, diperkirakan akan ada lebih banyak wisatawan di kota-kota ikonik seperti Paris.

Pertanyaannya sekarang, apakah masih ada ruang tersisa bagi mereka yang menganggap Paris sebagai rumah? (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto