Kebijakan bekerja dari mana saja memicu pemudik untuk pulang ke kampung halaman lebih awal.
21 Mar 2025 20:52 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Sebagian masyarakat mulai mudik lebih awal ke kampung halaman sejak Jumat (21/3/2025). Kelonggaran bagi aparatur sipil negara, pegawai badan usaha milik negara, dan imbauan untuk pegawai swasta untuk bekerja dari mana saja atau work from anywhere membuat gelombang mudik terjadi lebih awal.
Pergerakan pemudik dari Jakarta ke berbagai daerah salah satunya terpantau pada pemudik yang menggunakan kereta api. Pantauan di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, pemudik mulai meninggalkan Jakarta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/18/2961334c-4cb4-4d6b-931b-0be2ecabec21_jpeg.jpeg)
Salah satu penumpang kereta, Rahmat (31), mengatakan, kepulangannya lebih awal disebabkan telah mendapatkan izin untuk bekerja dari mana saja atau work from anywhere (WFA) dari pimpinannya. Pegawai pada salah satu instansi pemerintahan di Jakarta itu langsung berburu tiket kereta menuju Sragen, Jawa Tengah, sejak kebijakan WFA diumumkan pada 5 Maret lalu.
”Kalau tidak dapat tiket kereta, saya juga sempat berpikir akan pulang naik mobil pribadi saja malam ini (Jumat). Yang penting, jangan sampai kena puncak arus mudik,” ujar Rahmat.
Rahmat menuturkan, sejak kebijakan WFA ditetapkan, kantornya langsung mendata pegawai yang akan mengajukan izin. Pimpinan di kantornya lantas membagi pegawai yang diperbolehkan untuk WFA dan tetap harus di kantor agar pelayanan publik tidak terganggu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/ac50eeb7e103f8852a1c7b73b6eed2f4-FAK_4781.jpg)
Ia pun menjadi salah satu pegawai yang beruntung mendapatkan izin WFA sehingga dapat pulang mudik lebih awal dibandingkan rekan-rekannya. Namun, kelonggaran WFA itu tetap diikuti dengan tanggung jawab pekerjaan agar tidak terbengkalai.
”Kami yang bekerja di rumah juga harus tetap mengabari atasan, kerja di mana dan mengerjakan apa. Jadi, semua termonitor. Jadi, walau WFA, saya juga bawa laptop ke kampung halaman he-he-he,” tutur Rahmat.
Pemudik lainnya, Aris Purnawan (44), mengatakan, keluarganya yakin untuk mudik lebih awal ke Ciamis, Jawa Barat, pada Jumat. Kebijakan pemerintah yang memberikan libur panjang bagi anak sekolah membuatnya siap untuk langsung berburu tiket. Karyawan swasta di Tangerang, Banten, itu akhirnya akhirnya mendapatkan empat tiket Kereta Api Serayu dari Pasar Senen seharga Rp 63.000 per tiket.
”Tahun kemarin saya mudik awal juga karena 'war' tiket dapatnya di tanggal-tanggal awal. Tahun ini untungnya dibolehin kerja dari rumah, jadi bisa mudik lebih santai dari awal,” kata Aris.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/2b17a8a1e1fda8b6d666537545238505-FAK_4852.jpg)
Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta Ixfan Hendriwintoko mengatakan, lonjakan penumpang mulai terjadi sejak Jumat. Okupansi di Stasiun Pasar Senen mencapai 102 persen yang menunjukkan animo pemudik menggunakan kereta sangat tinggi. Tingkat okupansi yang sama terjadi hingga 25 Maret mendatang.
Sementara itu, Corporate Communication and Community Development Group Head Jasa Marga Lisye Octaviana memprediksi pergerakan pemudik dengan mobil pribadi dimulai Sabtu (22/3/2025) pagi. Total volume kendaraan yang melintasi gerbang tol Cikampek Utama, Kalihurip Utama, Ciawi, dan Cikupa diperkirakan mencapai 2,18 juta kendaraan selama periode arus mudik Lebaran.
”Puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 28 Maret 2025 dengan pergerakan masyarakat keluar Jakarta sebanyak 232.000 kendaraan, naik 50 persen dari lalu lintas normal,” katanya.
Kami memprediksi Jumat malam mungkin akan terjadi peningkatan dari masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memprediksi, sebagian besar pemudik yang mulai pulang kampung lebih awal merupakan aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai badan usaha milik negara (BUMN) yang mendapatkan izin bekerja dari mana saja atau work from anywhere (WFA). Kebijakan yang berlaku pada Senin-Kamis (24-27/3/2025) bertujuan agar pemudik tidak menumpuk pada beberapa hari menjelang Lebaran.
Para ASN dan pegawai BUMN diharapkan mengoptimalkan kebijakan yang diberikan pemerintah tersebut. Dengan demikian, tidak terjadi penumpukan saat puncak arus mudik yang diprediksi terjadi pada Jumat-Minggu (28-30/3/2025).
”Kami memprediksi Jumat malam mungkin akan terjadi peningkatan dari masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik,” kata Dudy.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/21/4ef6e055-0b16-4a04-870e-7c0e209371af_jpg.jpg)
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono seusai ”Pelepasan Tim Mudik Gesit 2025 Kompas Gramedia” di Menara Kompas, Jakarta, mengingatkan, pemudik ataupun pengelola angkutan umum harus mempersiapkan kendaraan dengan baik.
”Jangan sampai ada kondisi kendaraan yang tidak laik kemudian akhirnya terjadi hambatan di jalan. Bahkan, mudah-mudahan tidak terjadi, tetapi (kondisi kendaraan yang tidak laik) bisa menyebabkan kecelakaan di jalan raya. Ini bisa mengakibatkan korban jiwa, kerugian bagi diri sendiri ataupun orang lain,” ujarnya.
Agus juga berharap agar masyarakat bisa menjaga diri. Jika dalam perjalanan sudah terasa sangat letih dan mengantuk, lebih baik berhenti di tempat peristirahatan.
”Ingat keselamatan nomor satu, jangan sampai kita terburu-buru. Yang penting selamat sampai tujuan keluarga menanti dengan sukacita,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/21/84ae7c00-13a0-4c8a-84ca-5070a3caa9f0_jpg.jpg)
Direktur Prasarana Transportasi Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Toni Tauladan, yang juga hadir di kegiatan yang sama, sependapat dengan Agus. Mengenai prosedur keselamatan saat mudik, setidaknya ada tiga hal yang patut diperhatikan, kelaikan dari armada, kesiapan dari pengemudi, dan kecukupan dokumen-dokumen yang dimiliki.
Untuk menjaga kelaikan armada seperti bus umum, Toni menyampaikan bahwa pemeriksaan kendaraan sebenarnya sudah menjadi standar operasional dan prosedur di setiap simpul-simpul transportasi atau terminal. Di luar menjelang hari raya, proses pemeriksaan (ramp check) itu sudah terus dilakukan di terminal-terminal.
”Nah, saat ini, kami push bukan hanya untuk melakukan ramp check di simpul-simpul, melainkan juga jemput bola di pul-pul, agen-agen, dan operator-operator angkutan. Diharapkan nanti H-3 semua sudah ter-ramp check semua. Saat ini kami sudah jalan di atas 80 persen dari seluruh angkutan umum yang ada,” ujar Toni.
Kemudian, untuk menjaga kesiapan para awak bus, Kemenhub juga telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kemenkes telah menginstruksikan ke seluruh dinas kesehatan di kabupaten/kota untuk bisa melakukan pemeriksaan kesehatan gratis kepada para awak bus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/21/355d00fb-affc-4b52-be47-bf67bf1413d5_jpg.jpg)
”Sehingga nantinya ketika ramp check, itu load antrean terhadap pemeriksaan awak bus tidak terlalu panjang, cukup dengan menunjukkan hasil tes kesehatan di dinas-dinas tersebut,” tuturnya.
Kepala Korps Lalu Lintas Polri Inspektur Jenderal Agus Suryo Nugroho mengungkapkan, rekayasa lalu lintas akan diterapkan secara situasional. Menurut rencana, kepolisian akan menerapkan contra flow satu lajur di Tol Jakarta-Cikampek. Sementara rekayasa lalu lintas satu arah atau one way berlaku dari gerbang Tol Cikampek Utama hingga gerbang Tol Kalikangkung, Semarang. (RAP/FAK/TIO/BOW).
Penulis:
Stephanus Aranditio, Nikolaus Harbowo, Raynard Kristian Bonanio Pardede, Fakhri FadlurrohmanEditor:
Iqbal BasyariPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase