Meski mulai surut, sebagian warga pesisir utara Jakarta masih perlu mewaspadai ancaman rob hingga beberapa hari ke depan serta di masa depan.
13 Jan 2025 08:00 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Rob yang melanda kawasan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, berangsur surut. Meski demikian, warga masih perlu waspada karena ancaman rob masih berpeluang terjadi hingga 17 Januari 2025.
Warga Kelurahan Pluit, Rahman, mengatakan, rob yang terjadi sejak Sabtu (11/1/2025) malam membuat banyak warga menunda kegiatan mereka. Namun, dengan berkurangnya ketinggian air mulai Minggu (12/1/2025) sore, ia berharap genangan segera surut sepenuhnya.
”Saat ini masih ada sisa-sisa banjir dengan ketinggian 10 sentimeter (cm)-15 cm. Sudah lumayan surut banyak dari sebelumnya 60 cm,” tuturnya, Minggu (12/1/2025).
Meski mulai surut, Rahman belum memutuskan untuk membersihkan rumah yang teredam banjir. Ia masih khawatir rob akan kembali datang. Apalagi ancaman rob masih mengintai.
”Bulan ini sudah tiga kali (tergenang). Sejujurnya saya sangat bosan dengan banjir rob. Kalau hari ini surut, bisa jadi besoknya kembali terdampak lagi,” ujarnya.
Guna mengantisipasi banjir, Rahman meletakkan barang-barang lebih tinggi. Selain itu, tempat tidurnya berada di lantai dua. Lantai satu hanya ia jadikan sebagai ruang keluarga.
Menurut Rahman, warga pesisir Jakarta sudah sangat terbiasa dengan rob. Beberapa warga bahkan mengajak anaknya bermain di tengah banjir. Warga biasanya menjadikan styrofoam sebagai perahu untuk menampung anak mereka.
”Meski sudah terbiasa, kami ingin rob bisa segera teratasi. Semoga di pemerintahan baru Jakarta besok, rob bisa semakin berkurang,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/12/9948a205-5316-4ad1-b976-1a979fa86289_jpg.jpg)
Hingga Minggu (12/1/2025) pukul 18.00 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat genangan rob masih terjadi di satu RT di Kelurahan Pluit dengan ketinggian 15 cm. Sementara rob di dua RT Kelurahan Pluit lainnya sudah surut.
Sebelumnya, tiga wilayah Pluit sempat digenangi rob dengan ketinggian 30-60 cm pada Minggu pagi hingga siang. Genangan tersebut membuat permukiman warga terendam.
Pada Minggu pagi, rob juga sempat mengenangi Jalan RE Martadinata, tepatnya di depan Jakarta International Stadium (JIS), Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dengan tinggi 10-30 cm. Namun, pada Minggu sore, genangan sudah kian surut.
BPBD Jakarta telah mengerahkan personel untuk memonitor genangan di setiap wilayah dan mengoordinasikan unsur dinas sumber daya air (SDA), dinas bina marga, serta dinas penanggulangan kebakaran dan penyelamatan untuk menyedot genangan serta memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik bersama para lurah dan camat setempat.
”Genangan ditargetkan surut dalam waktu cepat. Kami kerahkan personel dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait,” ujar Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD Jakarta Mohamad Yohan.
Berdasarkan pantauan BPBD Jakarta yang bersumber dari informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pada 9-17 Januari 2025 di wilayah pesisir utara Jakarta memang berpotensi terjadi Rob. Puncak pasang maksimum pada pukul 06.00-12.00 WIB terjadi di 11 wilayah, yakni Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, dan Kepulauan Seribu.
Fenomena ini dipicu oleh pasang maksimum air laut, yang bertepatan dengan fase bulan baru, meningkatkan risiko genangan di wilayah pesisir utara Jakarta.
Banjir rob tidak hanya terjadi di Jakarta bagian utara, tetapi juga berpotensi terjadi di beberapa wilayah pesisir lainnya, seperti Semarang, Pekalongan, dan pesisir Jawa bagian utara.
Durasi rob dapat berbeda-beda tiap wilayah, tergantung dari beberapa kondisi yang terjadi, seperti siklus pasang surut, topografi wilayah, dan kondisi cuaca. Secara umum, rob akan berlangsung 2-6 jam saat air pasang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/12/05f9e0a3-fb85-4fc2-8f60-40736abbd982_jpg.jpg)
Anggota DPRD Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, menyebut, rob yang kerap merendam wilayah Jakarta Utara merupakan pekerjaan rumah (PR) yang besar bagi gubernur dan wakil gubernur Jakarta terpilih, yakn iPramono Anung dan Rano Karno.
”Banjir rob adalah pekerjaan rumah yang besar untuk gubernur dan wakil gubernur Jakarta terpilih, Pramono Anung dan Rano Karno. Pemprov Jakarta harus menunjukkan komitmen jangka panjang dalam melindungi warganya dari dampak banjir rob,” kata Kenneth.
Terlebih, alokasi anggaran yang telah disetujui untuk penanganan banjir dinilai cukup besar. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Jakarta Tahun Anggaran 2025, khusus untuk penanganan banjir sebesar Rp 5,6 triliun. Dana tersebut mencakup revitalisasi waduk, saluran drainase, serta operasional alat berat untuk pengerukan lumpur.
Menurut Kenneth, rob biasanya terjadi karena peningkatan permukaan air laut selama musim hujan atau pasang tinggi, diperparah oleh faktor alam seperti gelombang tinggi, angin laut, dan perubahan iklim. Selain itu, kondisi geografis Jakarta yang lebih rendah dari permukaan laut serta penurunan tanah akibat ekstraksi air tanah turut memperburuk situasi.
Ia menyebut, proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) dalam skema National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) sebagai salah satu solusi jangka panjang. Selain itu, perbaikan tanggul-tanggul yang rusak juga harus segera dilakukan.
”Tanggul di sepanjang garis pantai Jakarta sering kali jebol dan menyebabkan banjir. Pemerintah perlu memastikan perbaikan tanggul yang rusak dan membangun waduk tambahan di pesisir untuk menampung limpasan air laut,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/27/225249e9511512bb9a8672e217d8a628-WhatsApp_Image_2024_11_27_at_17.30.01.jpeg)
Sementara itu, Pramono-Rano berkomitmen memfokuskan APBD Jakarta 2025 untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta jika terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Terlebih, permasalahan banjir di Jakarta saat ini ada tiga.
Pertama, banjir rob di kawasan utara Jakarta. Kedua, banjir lokal. Ketiga, banjir kiriman dari wilayah sekitar, terutama Bogor. Oleh karena itu, ada solusi berbeda yang harus dilakukan untuk mengatasi banjir di Jakarta.
Menurut Pramono, salah satu hal yang akan dilakukan untuk meredam rob adalah dengan cara menanam mangrove atau bakau.
”Dalam jangka panjang, kami akan usulkan kepada pemerintah pusat tidak lagi giant sea wall, tetapi giant mangrove wall. Sebab, ekosistem akan menjadi lebih baik, dan biayanya juga tidak semahal membangun giant sea wall," tutur Pramono di Jakarta Pusat, Selasa (12/11/2024).
Banjir di Jakarta yang disebabkan oleh banjir kiriman dinilai Pramono sudah mengalami penurunan. Dampak baik nyata ini terjadi oleh pembangunan dua waduk di Ciawi dan Sukamahi.
Selanjutnya, Pramono menjelaskan, penyebab banjir lokal yang sering terjadi di Jakarta adalah banyaknya sampah yang menumpuk dan aliran air yang tidak dirawat dengan baik.
”Penyurutan air akibat banjir lokal tidak membutuhkan waktu yang lama, biasanya hanya satu hari. Namun, hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Beberapa titik sudah dilakukan perbaikan dengan membuat turap dan memasang pompa,” katanya.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Mukhamad Kurniawan