Wimbledon Bukan Turnamen Mudah, Termasuk bagi Unggulan

Carlos Alcaraz harus bermain lima set hanya untuk melewati babak pertama Wimbledon. Petenis unggulan lain banyak yang tersingkir.

01 Jul 2025 10:55 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

LONDON, SENIN — Bagaikan mendapat mobil baru yang terlihat indah, tetapi harus belajar memahami cara mengendarainya, begitulah bermain dalam babak pertama Wimbledon. Sebagus apa pun rekam jejak petenis, Wimbledon adalah turnamen yang menyajikan tantangan konkret dan tak kasatmata.

Juara tunggal putra dalam dua tahun terakhir, Carlos Alcaraz, menjadi salah satu yang mengalami kesulitan itu saat menjalani babak pertama di Lapangan Utama All England Club, London, Inggris, Senin (30/6/2025). Berhadapan dengan petenis 38 tahun yang menjalani Wimbledon terakhirnya, Fabio Fognini, Alcaraz harus mengalahkannya dalam pertandingan selama empat jam 37 menit. Alcaraz menang dengan skor 7-5, 6-7(5) 7-5, 2-6, 6-1.

Alcaraz sebenarnya tak asing dengan Lapangan Utama All England Club. Sejak debut di Wimbledon pada 2019, Alcaraz sudah 12 kali bermain di Lapangan Utama sebelum bertemu Fognini.

Fognini, yang bermain di Wimbledon untuk ke-15 kali sejak 2007, baru memiliki pengalaman dua kali tampil di Lapangan Utama, yaitu ketika kalah dari Roger Federer pada babak kedua 2012 dan saat disingkirkan Andy Murray, lima tahun kemudian.

Namun, seperti yang dirasakan setiap atlet, menjalani babak pertama kejuaraan adalah tantangan yang tak kalah besar dengan menjalani final. Mereka harus beradaptasi kembali dengan lapangan, bola, dan atmosfer stadion. Ini belum termasuk faktor teknis, misalnya ketika petenis tak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik atau lawan yang bermain tangguh.

Petenis Spanyol Carlos Alcaraz merayakan kemenangan atas petenis Italia Fabio Fognini pada babak pertama Wimbledon di Lapangan Utama All England Club, London, Inggris, Senin (30/6/2025). Alcaraz menang dengan skor 7-5, 6-7(5) 7-5, 2-6, 6-1.

”Bermain babak pertama di Lapangan Utama tak pernah mudah, termasuk pada turnamen lain. Apalagi, ini Wimbledon, turnamen yang sangat spesial. Saya bisa merasakan perbedaan atmosfer antara Wimbledon dan ajang lain. Pada pertandingan tadi, saya berusaha mengatasi rasa gugup sebaik mungkin,” tutur Alcaraz.

Wimbledon memang bernilai berbeda di mata petenis. Meski berlevel sama seperti Australia Terbuka, Perancis Terbuka, dan Amerika Serikat Terbuka, Wimbledon dinilai lebih prestisius karena menjadi turnamen tenis tertua di dunia. Apalagi, kejuaraan yang berlangsung sejak 1877 ini memiliki berbagai tradisi yang dipelihara hingga saat ini, seperti perlengkapan serba putih yang harus dipakai atlet. Penyebutan gentleman dan ladies digunakan untuk atlet putra dan putri, alih-alih menggunakan kata men dan women.

Rasa gugup dan nuansa ”magis” yang dirasakan di Lapangan Utama All England Club inilah yang membuat Alcaraz tak tampil maksimal meski memiliki persiapan yang baik. Setelah meraih gelar Grand Slam lain, Perancis Terbuka, dia menjuarai turnamen lapangan rumput yang menjadi ajang pemanasan untuk Wimbledon, ATP 500 London. Akan tetapi, tahap persiapan dan latihan yang baik tak selalu berbuah baik saat pertandingan.

Dalam sisi teknis, Alcaraz berjuang untuk mengatasi servisnya yang buruk. Dia melakukan sembilan double fault, empat di antaranya pada set pertama.

Di seberang lapangan, Fognini bisa memberikan perlawanan tangguh. Alcaraz bahkan tak menduga akan menjalani laga lima set pada babak pertama.

Walaupun tak pernah bisa melewati babak ketiga Wimbledon, Fognini menggunakan pengalamannya untuk menghadapi Alcaraz. Dia berusaha mendapat poin cepat dari serve and volley. Cara ini cukup efektif untuk meraih poin di lapangan rumput yang memantulkan bola sangat cepat. Sesaat setelah melancarkan servis sekencang mungkin dan tak bisa dikembalikan Alcaraz dengan baik, Fognini mendekat ke net untuk membuat winner.

Petenis Italia Fabio Fognini mengembalikan bola ke petenis Spanyol Carlos Alcaraz pada babak pertama Wimbledon di Lapangan Utama All England Club, London, Inggris, Senin (30/6/2025). Alcaraz menang dengan skor 7-5, 6-7(5) 7-5, 2-6, 6-1.

Kemampuan petenis Italia itu bermain selama lebih dari empat jam mendapat apresiasi dari penonton dan juga dari Alcaraz. Petenis Spanyol ini meminta penonton memberi tepuk tangan kepada Fognini seusai menjalani laga terakhirnya di Wimbledon. Fognini menangis di sisi lapangan dan di ruang ganti pemain.

Melalui kemenangan ke-13 dari 14 pertandingan dalam lima set di arena Grand Slam, Alcaraz melaju ke babak kedua untuk berhadapan dengan petenis tuan rumah yang lolos dari babak kualifikasi, Oliver Target. Petenis berusia 21 tahun ini aktif dalam turnamen tingkat universitas dan bermain atas nama University of San Diego. Dalam daftar peringkat dunia, dia menempati posisi ke-733.

”Permainan saya harus berkembang pada babak selanjutnya,” kata Alcaraz, mengevaluasi performanya dari babak pertama untuk melawan Target yang akan didukung penonton tuan rumah.

Ketika Alcaraz, yang menjadi unggulan kedua, bisa menyelamatkan diri dari beratnya babak pertama, banyak unggulan yang menjadi ”korban”. Pada persaingan tunggal putra, mereka yang hanya tampil dalam satu babak antara lain Holger Rune (unggulan ke-8), Daniil Medvedev (9), Francisco Cerundolo (16), dan Stefanos Tsitsipas (27).

Adapun ”korban” babak pertama tunggal putri pada hari pembuka adalah Paula Badosa (9) dan Jelena Ostapenko (20). Finalis Wimbledon 2022 dan 2023, Ons Jabeur, juga tersingkir. Dia tak dapat menyelesaikan pertandingan saat melawan Viktoria Tomova dan mundur saat tertinggal 6-7 (5), 0-2 karena kesulitan bernapas.

Petenis Tunisia Ons Jabeur mengembalikan bola ke petenis Bulgaria Viktoriya Tomova pada babak pertama Wimbledon di Lapangan Utama All England Club, London, Inggris, Senin (30/6/2025).

”Saya tak menduga kondisi saya tidak baik karena berlatih dengan baik pada beberapa hari terakhir. Rasa percaya diri dan upaya saya mendorong diri untuk tetap bertanding tak membantu. Ini menyedihkan,” kata Jabeur.

Juara bertahan tunggal putri Barbora Krejcikova akan memulai penampilan pada Selasa dengan melawan petenis Filipina Alexandra Eala. Kondisi Krejcikova tak begitu fit karena cedera paha kanan pada pekan lalu. Selain itu, dia baru menjalani musim kompetisi 2025 pada Mei.

Di sisi lain, Eala akan bertanding setelah menjalani final pertama di level WTA Tour, yaitu saat tampil di WTA 250 Eastbourne, akhir pekan lalu. Akan tetapi, petenis berusia 20 tahun itu gagal memanfaatkan match point saat melawan Maya Joint.

Petenis lain yang akan tampil Selasa adalah juara tunggal putri Perancis Terbuka, Cori Gauff; tunggal putra nomor satu dunia, Jannik Sinner; dan tujuh kali juara Wimbledon, Novak Djokovic.

Cuaca panas

Berbeda dengan biasanya, ketika Wimbledon dikenal sebagai Grand Slam yang sering terganggu hujan, hari pembuka turnamen 2025 berlangsung dalam cuaca panas.

Suhu udara yang berkisar 33-34 derajat celsius membuat petenis, penonton, dan petugas lapangan kesulitan mengatasinya. Penonton pada pertandingan Alcaraz melawan Fognini dan ball girl pada pertandingan lain mendapat perawatan karena pusing.

Para penonton laga Carlos Alcaraz melawan Fabio Fognini pada babak pertama Wimbledon menggunakan kipas untuk mengatasi suhu udara yang panas di Lapangan Utama All England Club, London, Inggris, Senin (30/6/2025). Suhu udara mendapai 33-34 derajat Celcius.

Petenis sebenarnya terbiasa dengan cuaca panas saat Grand Slam. Australia Terbuka, yang diselenggarakan di Melbourne Park setiap Januari, dikenal dengan cuaca panas yang ekstrem dengan suhu bisa mencapai 40-an derajat celsius. Amerika Serikat Terbuka di New York, juga, pernah mencapai suhu tersebut meski tak sepanas di Melbourne.

Namun, panas di Wimbledon adalah kondisi yang sangat jarang dialami, apalagi London lebih dikenal sebagai kota hujan. Suhu 33-34 derajat celsius pada hari pembuka diperkirakan berlanjut ke hari kedua. Angka tersebut mendekati rekor suhu terpanas, 35,7 derajat celsius, pada Wimbledon 2015, tepatnya pada 1 Juli.

”Sangat berat bertanding dalam cuaca seperti ini. Ini pertama kalinya saya bermain di lapangan rumput dengan cuaca sangat panas hingga kaki terasa sulit digerakkan. Saya berkeringat sangat banyak hingga raket pun terasa licin. Saya rasa penonton pun mengalami kesulitan yang sama,” kata tunggal putri Jerman, Eva Lys.

Lys berusaha bertahan dengan pola pikir bahwa lawannya mengalami kesulitan serupa. Dia pun menang atas Yuan Yue dengan skor 6-4, 5-7, 6-2. (AFP/AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji