Orang-orang mencari cara agar bisa mewujudkan resolusi Tahun Baru. Tren di media sosial membuat orang berusaha mewujudkan resolusi sebelum Tahun Baru.
02 Jan 2025 15:00 WIB · Internasional
Tahun Baru biasanya menjadi momen untuk menetapkan tujuan baru. Namun, penelitian telah menunjukkan, kebanyakan orang cenderung tidak menepati resolusi tersebut lebih dari bulan pertama.
Untuk mengubah cara berpikir tentang resolusi Tahun Baru, tren kesehatan jiwa raga (wellness) muncul di dunia maya. Tren ini bernama tantangan ”Winter Arc”.
Winter Arc melibatkan upaya pemanfaatan bulan awal musim dingin, biasanya pada Oktober, untuk fokus pada diri dan memacu diri untuk mewujudkan tujuan mereka. Upaya tersebut bermaksud agar orang bisa mencapai resolusi paling lambat saat tanggal 1 Januari tiba.
Tantangan penetapan tujuan ini dicetuskan secara daring oleh para pemengaruh kebugaran dan kesehatan jiwa raga. Ada sekitar 440.000 unggahan dengan tagar #winterarc di Instagram. Tagar ini juga ramai di Tiktok.
Tujuan Winter Arc adalah untuk mendorong partisipan lebih disiplin dengan tujuan mereka. Hal ini lantaran waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut lebih singkat, bukan satu tahun penuh atau tanpa batas waktu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/24/c00fc8eb42dd89efc8661dda9abeacce-AP24358410048163.jpg)
Laura Galebe, seorang pemengaruh, mengunggah video di akun media sosial untuk membahas pengalamannya tentang Winter Arc. Ia menggunakan waktu tersebut untuk berkomitmen ”berjalan kaki setiap hari, menulis jurnal, dan menjalankan rutinitas perawatan kulit serta kesehatan jiwa raga”.
”Saya merasa itu sangat transformatif baik secara mental maupun fisik. Gerakan yang konsisten membantu saya tetap bersemangat dan strukturnya membuat musim ini terasa jauh lebih ringan,” kata Galebe yang tinggal di Amerika Serikat dan Brasil.
Meskipun tantangan Winter Arc berlangsung sejak Oktober lalu, tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Menurut Alex Rothstein, psikolog olahraga di New York Institute of Technology, cara terbaik memulainya adalah dengan meluangkan waktu setiap hari untuk mencapai tujuan.
Lebih mudah mempertahankan motivasi jika tahu bahwa Anda dapat berhenti di suatu titik dibandingkan merasa harus terus bekerja keras tanpa batas waktu.
”Jika Anda memastikan untuk secara aktif merencanakan dan menjadwalkan setiap komitmen, Anda akan lebih mudah mematuhi program tersebut,” kata Rothstein.
Rothstein merekomendasikan agar partisipan menetapkan tujuan realistis. ”Kenali bahwa jika keadaan yang tidak terduga membuat Anda melewatkan satu hari atau tujuan tertentu dalam sehari, itu tidak berarti Anda gagal dalam keseluruhan proses. Anda harus bersedia untuk melanjutkan dari titik awal Anda pada hari berikutnya,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/27/69437e05-5c21-42a3-bb10-4bf0c992cc3a.jpg)
Elliot Berkman, profesor psikologi di University of Oregon, mengatakan, progres mencapai tujuan, ketimbang pencapaian tujuan, bermanfaat secara psikologis. Progres mencapai tujuan dapat memberi emosi positif, rasa mempunyai tujuan, dan rasa otonomi diri.
Winter Arc, yang termasuk kategori aksi penetapan tujuan dalam waktu pendek, dapat membantu partisipan merasakan hal-hal tersebut. ”Menetapkan batasan waktu pada tujuan dapat meningkatkan peluang tercapainya tujuan. Lebih mudah mempertahankan motivasi jika tahu bahwa Anda dapat berhenti di suatu titik dibandingkan merasa harus terus bekerja keras tanpa batas waktu, yang dapat menurunkan motivasi,” katanya.
Beberapa warganet membandingkan tantangan kebugaran jangka pendek dengan diet ketat. Ada gagasan bahwa begitu tantangan berhenti, seseorang kembali melakukan kebiasaan tidak sehat. Namun, ahli mengatakan hal itu belum tentu benar.
”Jika tantangan tersebut digunakan untuk membantu membangun kebiasaan baru yang lebih sehat demi kesehatan dan kebugaran jangka panjang, tantangan tersebut sangat berguna untuk membantu memandu dan memotivasi untuk menciptakan perubahan tersebut,” kata Rothstein.
Rothstein merekomendasikan untuk membuat rencana lagi menjelang akhir tantangan yang sedang dilakukan. Dengan demikian, orang dapat lanjut mencapai tujuan secara realistis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/01/10/72abdfbb-4276-4678-8edb-6eb816295c8b_jpg.jpg)
Menjaga kebugaran tubuh kerap menjadi salah satu resolusi di Tahun Baru. Namun, ada beberapa hal yang perlu masuk dalam pertimbangan agar tujuan bisa tercapai tanpa melukai diri.
Gammon Earhart, dosen terapi fisik di Washington University, menjelaskan, orang bisa berkonsultasi dengan terapis fisik untuk mengetahui olahraga atau aktivitas yang cocok dengan mereka. ”Bahkan jika tidak mengalami masalah apa pun, Anda memeriksa semuanya. Jika ada masalah muncul, Anda mencegahnya di jalur tersebut,” ucapnya.
Pemeriksaan kesehatan dengan terapis fisik mencakup riwayat kesehatan dan kondisi kesehatan terkini, seperti aktivitas fisik, tidur, serta nutrisi. Pemeriksaan ini akan diikuti dengan pemeriksaan cara bergerak, misalnya kesejajaran postur tubuh dan pola gerakan saat orang berjalan, berlari, duduk, serta berdiri. Terapis juga akan mengecek kekuatan dan fleksibilitas tubuh.
Earhart lebih lanjut mengatakan, manusia memiliki bentuk tubuh berbeda, seperti bentuk pinggul yang berbeda. Karena itu, orang perlu mengevaluasi tubuh sejak sejak dini.
”Jika kita menyaring anak-anak saat mereka memilih olahraga dan mengatakan bahwa olahraga ini mungkin bukan jenis stres yang tepat untuk bentuk tubuh mereka, itu dapat mengurangi banyak rasa sakit dan masalah di kemudian hari,” katanya.
Selain itu, Earhart menyoroti isu soal berat badan. Seseorang tidak harus mengalami obesitas berat sehingga berat badannya memengaruhi pergerakannya. ”Namun, semakin berat beban yang ditanggung seseorang, semakin tinggi pula beban pada persendiannya,” ujarnya. (AP)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Kris Mada