Xabi Alonso manargetkan dua pertandingan LaLiga sebelum jeda internasional untuk menyempurnakan permainan Real Madrid.
21 Agt 2025 13:15 WIB · Olahraga
Kemenangan 1-0 atas Osasuna mengawali era kepelatihan Xabi Alonso di LaLiga bersama Real Madrid. Tendangan penalti penyerang Kylian Mbappe pada menit ke-51 sudah cukup bagi ”Los Blancos” untuk memulai musim kompetisi 2025-2026 dengan hasil positif.
Kemenangan atas Osasuna di Santiago Bernabeu, Rabu (20/8/2025) dini hari WIB, menjadi keharusan karena rival abadi Barcelona menang atas Mallorca, 3-0. Banyak yang berbeda dari Real Madrid kali ini.
Selain karena kedatangan sejumlah pemain baru, juga akibat absennya sejumlah pemain bintang, seperti Antonio Rüdiger yang terkena larangan bermain, serta Jude Bellingham, Endrick, dan Eduardo Camavinga yang cedera.
Melihat performa Madrid pada laga pertama, masih banyak pekerjaan rumah bagi Alonso jika mereka ingin mengakhiri dominasi Barcelona. Mereka masih belum begitu padu. Memang, salah satu kesulitan bagi klub bergelimang bintang adalah bagaimana menyeimbangkan individualitas pemain dengan keutuhan tim.
Alonso menyadari hal itu. Secara taktik, penampilan Real Madrid di Piala Dunia Antarklub beberapa waktu lalu menyingkap bagaimana mereka akan bermain. Pola permainan itu kian kelihatan ketika Los Blancos menjalani laga uji coba pramusim, salah satunya ketika mengalahkan Tirol, 4-0, di Austria.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/d0a6bfa51f40868dd5d751f85b7dd740-wires_photo_2025_08_21T120527.657.jpg)
Alonso mendasari filosofi permainan dengan penguasaan bola. Real Madrid akan mengutamakan permainan posisional, mengikuti tren permainan modern saat ini, yakni individu pemain harus mengorbankan egonya untuk kepentingan kolektif tim. Menyeimbangkan statistik individu dengan performa tim.
Filosofi Alonso itu semakin kentara ketika menghadapi Osasuna. Mereka sudah melakukan 54 operan pada tiga menit pertama pertandingan, berbanding enam dari sang lawan. Hingga mendekati akhir babak pertama, Real Madrid mencatatkan penguasaan bola hingga 74 persen.
Meski demikian, peluang tuan rumah masih minim. Bisa dimaklumi mengingat Alonso masih baru di Madrid.
Baru pada babak kedua, peluang emas mencetak gol datang ketika pemain Osasuna, Juan Cruz, serampangan melanggar Mbappe di kotak penalti pada menit ke-50. Mbappe yang menjadi algojo pun tak menyia-nyiakan hadiah penalti untuk membawa timnya unggul.
Pola umpan rumit tuan rumah berlanjut hingga akhir pertandingan, sangat kontras dengan permainan bola panjang yang dominan dari Osasuna. Garis tinggi pertahanan dirancang bukan hanya untuk merebut bola kembali, tetapi juga untuk melindungi Vinicius Jr dan Mbappe dari tugas bertahan secara konstan. Meskipun demikian, dengan filosofi Alonso, mau tidak mau Vinicius harus mau mengorbankan egonya untuk lebih rajin membantu pertahanan.
Musim 2024-2025, performa Vinicius sangat menurun dibanding musim sebelumnya, ketika ia menjadi salah satu kandidat kuat memenangi Ballon d’Or. Musim ini, bersama Mbappe dan Bellingham, ia akan diminta untuk lebih banyak membantu pertahanan dibanding ketika era kepelatihan Carlo Ancelotti.
Kekompakan antara Vinicius dan Mbappe tidak selalu terjalin dengan baik. Skuad musim lalu digambarkan sebagai skuad tersulit yang pernah ditangani Ancelotti. Kini Alonso harus memastikan ego-ego yang saling bersaing dapat bersatu, alih-alih terpecah belah.
Selepas laga lawan Osasuna, Alonso mengakui, masih ada sejumlah hal yang harus ia benahi. ”Ada hal bagus dan ada pula yang harus kami perbaiki. Setelah dua minggu pramusim, perjalanan kami masih panjang. Saya kira kami lebih terorganisasi, tetapi kami kurang tenang di sepertiga akhir,” kata Alonso dikutip laman resmi Real Madrid.
Menurut dia, para pemainnya juga masih kesulitan menghadapi pertahanan low block (garis pertahanan rendah). ”Kami kesulitan menciptakan peluang bersih. Saya yakin, dengan hal baik dan buruk yang kami perbaiki, kami bisa menemukan ritme,” kata mantan Pelatih Bayer Leverkusen ini.
Kreativitas juga menjadi kata kunci bagi Alonso. Kehilangan jenderal lapangan tengah sekaliber Toni Kroos dan Luka Modric dalam dua musim berturut-turut akan membuat tim mana pun, tak terkecuali Real Madrid, kesulitan untuk mencari penggantinya. Kedatangan Trent Alexander-Arnold tak akan menggantikan keduanya meskipun pemain ini dikenal sebagai salah satu kreator serangan terbaik saat masih memperkuat Liverpool.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/4a60a9aa69aaa4add6a6e954e3df9ab6-wires_photo_2025_08_21T120803.271.jpg)
Musim lalu, Bellingham terpaksa bermain dalam kondisi menahan sakit, dengan terlalu banyak kebebasan taktikal. Hasilnya adalah inkonsistensi. Alonso ingin mempersempit perannya, mempertahankannya lebih dekat dengan kotak penalti lawan untuk mendukung striker di depannya. Peran yang dijalankannya pada musim debutnya di Madrid, dengan hasil fenomenal: trofi Liga Champions dan LaLiga.
Bellingham akan didukung Arda Guler di lini tengah. Bersama Aurelien Tchouameni, Ernesto Valverde, dan Eduardo Camavinga, mereka diharapkan bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan duet legendaris Kroos-Modric.
Terkait peran Guler, Alonso mengatakan bahwa sang pemain mulai memahami perannya di lini tengah. ”Arda Guler terus berkembang. Bukan hanya dari segi kualitas, yang sudah terbukti, tetapi juga dari segi pemahamannya terhadap posisi: cara ia memberikan stabilitas, cara ia mengontrol (permainan),” ujar Alonso.
Alonso berharap pada dua pertandingan ke depan sebelum jeda internasional, para pemainnya akan semakin memahami filosofi permainan yang ingin diterapkannya. Real Madrid akan bertandang ke kandang Oviedo akhir pekan ini, Senin (25/8/2025), sebelum menjamu Mallorca, sepekan kemudian.
”Kami punya dua laga sebelum jeda dan kami dalam fase penyempurnaan. Kemenangan memberi Anda ketenangan pikiran untuk terus melaju, tentu saja,” kata Alonso. (BBC/AP/AFP)
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Billy KhaerudinPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto