Zelenskyy ke Inggris, Starmer Beri Pinjaman untuk Produksi Senjata

Setelah kisruh di Gedung Putih, Inggris beri pinjaman 2,8 miliar dollar AS untuk Ukraina. Dana diambilkan dari keuntungan aset Rusia yang dibekukan Inggris.

02 Mar 2025 09:25 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

LONDON, SABTU — Inggris mengucurkan dana pinjaman sebesar 2,8 miliar dollar AS untuk membantu kemampuan pertahanan Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy akan memanfaatkan dana itu untuk memproduksi persenjataan di Ukraina.

Kemungkinan dana tersebut akan cair, pekan depan. Pinjaman ini diambilkan dari keuntungan aset negara Rusia yang dibekukan Inggris.

Itu merupakan kontribusi Inggris untuk paket dukungan senilai 50 miliar dollar AS yang dijanjikan kelompok G7. Dukungan Inggris untuk Ukraina itu diberikan setelah terjadi kekisruhan di Gedung Putih antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Wapres JD Vance, dengan Zelenskyy.

Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves dan Menteri Keuangan Ukraina Sergii Marchenko menandatangani perjanjian untuk memberikan pinjaman itu, Sabtu (1/3/2025).

Britain's Chancellor of the Exchequer Rachel Reeves hosts a virtual meeting with Ukrainian Finance Minister Sergii Marchenko alongside Britain's Prime Minister Keir Starmer (L) and Ukraine's President Volodymyr Zelensky (R) to sign the Extraordinary Revenue Acceleration Loans in the state room of 11 Downing street in central London on March 1, 2025. (Photo by Toby Melville / POOL / AFP)

Pendanaan tahap pertama dari pinjaman tersebut diharapkan akan dicairkan ke Ukraina, pekan depan. ”Saya berterima kasih kepada rakyat dan Pemerintah Inggris atas bantuan luar biasa mereka sejak awal perang ini,” tulis Zelenskyy di media sosial X.

Sehari setelah kekisruhan di Gedung Putih, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memeluk Zelenskyy di luar kantor PM di 10 Downing St, London, Sabtu. Kepada Zelenskyy, Starmer mengatakan, Zelenskyy mendapatkan dukungan penuh dari Inggris.

Kedua pemimpin bertemu menjelang pertemuan puncak para pemimpin Eropa di Inggris. Mereka akan bertemu untuk membahas bagaimana negara-negara Eropa dapat mendukung Ukraina—dan diri mereka sendiri—jika AS menarik dukungan. Isu ini dianggap kian mendesak menyusul ”kisruh Gedung Putih” antara Zelenskyy dan Trump serta Vance.

Setelah bertemu dengan Zelenskyy, Starmer berbicara dengan Trump dan Presiden Perancis Emmanuel Macron, Sabtu malam. Menurut rencana, Zelenksyy akan bertemu dengan Raja Inggris Charles III, Minggu, sebelum pertemuan puncak para pemimpin negara Eropa di Lancaster House, dekat Istana Buckingham.

Britain's Prime Minister Keir Starmer shakes hands with Ukraine's President Volodymyr Zelensky during a bilateral meeting in central London on March 1, 2025 ahead of a European leader's summit the following day. (Photo by Peter Nicholls / POOL / AFP)

Starmer berupaya menghidupkan kembali harapan akan perdamaian di Ukraina. Namun, kini yang terpenting adalah apakah Eropa dapat mengambil alih kepemimpinan—jika AS benar-benar mundur dan tidak mau mendukung Ukraina lagi—dalam menyediakan senjata dan dukungan keuangan bagi Ukraina. Terkait dengan hal itu, Jerman menyerukan pencairan dana 3,1 miliar dollar AS untuk Ukraina.

Starmer berharap, Eropa akan menawarkan solusi yang lebih konkret untuk mendukung Ukraina dan mencoba menghidupkan kembali kemungkinan kesepakatan damai dengan Rusia. Salah satu caranya adalah meyakinkan Trump bahwa Eropa dapat meningkatkan pertahanan diri.

Sejumlah pemimpin negara Eropa telah mendorong Zelenskyy untuk kembali berunding dengan Trump. Presiden Polandia Andrzej Duda, misalnya, mendesak Zelenksyy untuk menemukan cara memulihkan hubungan dengan AS.

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte juga mengatakan, AS, Ukraina, dan Eropa perlu bersatu untuk mengamankan perdamaian abadi di Ukraina. ”Saya sudah bicara dua kali di telepon dengan Presiden (Volodymyr) Zelenskyy. Saya katakan kepadanya, kita perlu bersatu padu, Amerika Serikat, Ukraina, dan Eropa untuk membawa Ukraina menuju perdamaian abadi,” kata Rutte kepada BBC.

Starmer mengatakan, tiga tahun setelah invasi Rusia ke Ukraina, Eropa berada di titik balik. Untuk itu, Eropa harus memberikan dukungan tak tergoyahkan untuk Ukraina dengan menggandakan penyediaan kapasitas, pelatihan, dan bantuan.

Starmer mengusulkan agar Inggris menjadi jembatan antara Eropa dan AS. Ia akan berbicara secara bilateral dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.

Setelah itu, mereka akan bergabung dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron, Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Rutte, dan para pemimpin dari Jerman, Denmark, Belanda, Norwegia, Polandia, Spanyol, Kanada, Finlandia, Swedia, Ceko, dan Romania. Menteri Luar Negeri Turki juga akan hadir. PM Kanada Justin Trudeau juga terbang ke London untuk menghadiri pertemuan tersebut.

Meloni menyerukan agar ada pertemuan puncak darurat yang melibatkan AS, negara-negara Eropa, dan sekutu untuk membahas cara menghadapi tantangan besar yang mereka hadapi, seperti Ukraina.

infografik AFP Mendekati 5 Juta Pengungsi Ukraina di Eropa

Para pemimpin Eropa diperkirakan akan kembali mendesak agar perundingan damai melibatkan Ukraina, memperkuat posisi Ukraina, dan menyepakati jaminan keamanan yang diperlukan guna memastikan perdamaian yang langgeng serta mencegah serangan Rusia di masa mendatang.

Itu berarti membujuk AS untuk menawarkan jalan pintas, mungkin dalam bentuk perlindungan udara, intelijen dan pengawasan, serta ancaman yang lebih besar yang belum ditentukan jika Putin kembali berusaha mengambil lebih banyak wilayah.

Banyak yang harus segera dilakukan oleh Eropa. Saat ini Starmer tampaknya ingin berfokus menurunkan suhu setelah kekisruhan Trump-Zelenskyy di Gedung Putih. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .