Pemakaman 16 jenazah korban KKB di Dekai, Yahukimo, merupakan pertimbangan medis demi mencegah risiko penyebaran penyakit dari mayat yang telah membusuk.
16 Apr 2025 17:12 WIB · Nusantara
JAYAPURA, KOMPAS — Sebanyak 16 jenazah korban serangan kelompok kriminal bersenjata atau KKB di Papua Pegunungan telah teridentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga. Dengan pertimbangan medis, para korban dimakamkan di Dekai, ibu kota Yahukimo.
Rabu (16/4/2025), tim medis di RSUD Dekai bersama tim dokter forensik dari Rumah Sakit Bhayangkara menyampaikan ada satu jenazah yang kembali teridentifikasi. Jenazah tersebut merupakan korban yang ditemukan pada Selasa (15/4/2025).
”Jenazah ditemukan di lokasi muara Kum, dan hari ini berhasil dievakuasi serta diidentifikasi sebagai Ferdina Buma, lahir di Nabire (Papua Tengah) pada 30 April 1995, jenis kelamin laki-laki. Saat ini sudah diserahkan kepada pihak keluarga,” kata Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Jayapura Ajun Komisaris Besar Rommy Sebastian, Rabu sore.
Berdasarkan catatan polisi, 16 jenazah tersebut ditemukan di sejumlah titik di Yahukimo. Rinciannya, 3 jenazah ditemukan di Camp 22, 1 jenazah di Camp 33, 2 jenazah di Muara Kum, 5 jenazah di Kampung Binki, 3 jenazah di Tanjung Pamali, 1 jenazah daerah Air Mumok, serta 1 jenazah di daerah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/16/93e410ef-75fc-474e-87cc-2204cab88683_png.jpg)
Sementara itu, jika melihat asal para korban tercatat dari sejumlah daerah, mayoritas dari luar Papua. Para korban adalah Wawan Tangahu beralamat di Sulawesi Utara, Suardi Laode alias Kaswadi (Sulawesi Utara), Stenli Humena (Sulawesi Utara), Stefanus Gisbertus (Maluku), Riki Rahmat (Sulawesi Tenggara), dan Sahar (Sulawesi Tenggara).
Selain itu, ada Ariston Kamma (Sulawesi Selatan), Saharudin (Sulawesi Selatan), Haidil Isdar (Sulawesi Selatan), Zamroni (Jawa Tengah), Rusli (Papua Selatan), dan Ferdina Buma (Papua Tengah).
Adapun empat korban lainnya beralamat di Dekai, Yahukimo, yakni Yuda Lesmana, Muhammad Arif, Safaruddin, serta Abdur Raffi Batu Bara.
Tim dokter forensik juga menyampaikan, setelah diserahkan kepada perwakilan keluarga, jenazah yang ditemukan di Yahukimo lalu dimakamkan di Dekai. Ini merupakan pertimbangan medis demi mencegah risiko penyebaran penyakit.
”Kondisi jenazah saat ini sudah mengalami proses dekomposisi atau pembusukan sehingga tidak memungkinkan untuk diberangkatkan atau diterbangkan ke luar dari Dekai. Karena dalam kondisi seperti ini, jenazah bisa menjadi infeksius dan berpotensi menyebarkan infeksi,” ujar Direktur RSUD Dekai Glenn M Nurtanyo.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/14/1a0ddf5c-452f-49b0-8d05-f152a727e119_jpeg.jpg)
Sementara itu, Kepala Humas Satuan Tugas Damai Cartenz Komisaris Besar Yusuf Sutejo menyampaikan, akan terus melanjutkan evakuasi, identifikasi korban, serta pengejaran terhadap para pelaku yang mengancam keselamatan warga sipil.
Aparat juga masih terus memastikan jumlah pendulang yang menjadi korban penyerangan KKB ini. Apalagi, dalam tragedi penyerangan yang terjadi pada 6-8 April 2025, KKB melalui Komando Nasional (Komnas) Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNBM-OPM) mengklaim membunuh 17 pendulang emas di berbagai titik.
Sementara itu, juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menyatakan, pihaknya membunuh sedikitnya 17 orang yang diklaim sebagai agen militer Indonesia. Laporan tersebut diterima Sebby dari TPNPB-OPM kelompok Elkius Kobak yang bermarkas di wilayah Yahukimo.
Namun, Sebby menyebut, jumlah 17 pendulang tersebut tidak termasuk satu jenazah yang ditemukan di wilayah Pegunungan Bintang. ”Kami sudah umumkan 17 orang (tewas). Di Pegunungan Bintang itu, kami belum terima laporan. Tapi, polisi bilang ada satu orang (korban tewas),” ucap Sebby.
Kondisi jenazah saat ini sudah mengalami proses dekomposisi atau pembusukan sehingga tidak memungkinkan untuk diberangkatkan atau diterbangkan ke luar dari Dekai.
Penulis:
Nasrun KatingkaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul