Penyebab ”kecelakaan” pesawat Sekjen PBB 1953-1961 itu masih diselidiki. Dugaan kesengajaan terus menguat.
22 Sep 2025 16:00 WIB · Internasional
Kematian Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Dag Hammarskjold pada 1961 begitu tragis dan mendadak. Setiap kali diperingati pada bulan September yang juga bertepatan dengan pekan Sidang Majelis Umum PBB, kematiannya masih membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres muncul mendadak di aula Sekretariat Jenderal PBB New York, Amerika Serikat, Minggu (21/9/2025). Tidak ada pengumuman dari petugas bahwa dari dalam lift Guterres akan keluar.
Para wartawan yang kebetulan masih berada di aula sontak berusaha mengejar Guterres meski dihalangi oleh petugas keamanan. Guterres ternyata menemani Raja Swedia Carl XIV Gustaf bersama Permaisuri Silvia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/22/7090dd73-7235-4ce0-8a6e-8db70d6046e8_jpg.jpg)
Mereka sejenak mengamati salah satu karya seni yang dipamerkan di aula. Kebetulan, patung dari bahan kuningan berbentuk batang-batang yang disusun vertikal itu buatan seniman Swedia.
Setelah itu, mereka melakukan ritual tahunan, yaitu meletakkan dua karangan bunga, satu dari Guterres dan satu dari Carl XIV Gustaf. Di sebelah karangan bunga, empat petugas keamanan PBB yang disebut Honour Guard serta terdiri dari satu perempuan dan tiga laki-laki berdiri tegap.
”Sudah 64 tahun berlalu dan kematian Hammarskjold masih terus diselidiki. Keadilan harus ditegakkan,” kata Guterres, memulai pidatonya di mimbar.
Dag Hammarskjold adalah diplomat Swedia yang dipercaya mengemban amanat sebagai Sekjen PBB pada 1953. Ketika itu, ia relatif kurang dikenal di kancah diplomasi global. Usianya saat dilantik 47 tahun dan hingga kini merupakan sekjen termuda.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/22/814828f9-e540-4909-b7df-62915fc51c8c_jpg.jpg)
Namun, ia segera membuktikan kecakapannya. Di masa kepemimpinan Hammarskjold, PBB berhasil mencari solusi untuk krisis Suez 1956 akibat Mesir menasionalisasi Terusan Suez dan kemudian diserang oleh Inggris, Perancis, dan Israel.
Hammarskjold membentuk Pasukan Darurat PBB untuk mengatasi masalah di Suez. Ini cikal bakal pasukan perdamaian yang kita kenal sekarang. Di bawah Hammarskjold pula PBB bisa mengatasi krisis di Lebanon pada 1958 dan membuat pasukan AS angkat kaki dari negara tersebut.
Ia dijuluki sebagai sekjen terbaik PBB. Bahkan, atas alasan itu ia dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian secara anumerta.
Hammarskjold meyakini, PBB tidak boleh memaksakan solusi, tetapi mengajak semua pihak terlibat duduk bersama dan berbicara. Dari sana, PBB bertindak sebagai mediator.
Dalam kepemimpinannya, PBB mencatat 60 negara anggota baru. Melansir arsip PBB, upacara pengibaran bendera anggota baru di antara bendera anggota-anggota lama adalah hal yang sangat disukai Hammarskjold.
”Lihatlah ragam dan warna-warni bendera berbagai bangsa berkibar bersama. Kita bisa berdamai dan bersahabat dengan keragaman ini. Hal ini lebih konstruktif dibandingkan bermusuhan,” tutur Hammarskjold.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/22/c1e2ceb4f8c321c26551820f8732b62c-US_POLITICS_TRUMP_KIRK_SHOOTING_132775720.jpg)
Sikap yang membuka ruang bicara seluas-luasnya membuat PBB menjadi lembaga yang tepercaya. ”Sikap netral ini menjadi teladan para sekjen penerusnya,” kata Guterres.
Hammarskjold tewas pada 1961 dalam kecelakaan pesawat bersama 15 pegawai PBB di dalamnya. Ketika itu, ia terbang menuju Katanga di Kongo. Pesawat sewaan itu jatuh di wilayah Rhodesia Utara yang kini menjadi negara Zambia.
Saat itu, sekjen berumur 56 tahun tersebut sedang menuju Katanga untuk memediasi gencatan senjata. Kongo mengalami konflik karena wilayah Katanga ingin memisahkan diri.
”Bukti-bukti terbaru dari penyelidikan terus bermunculan. Perkara ini harus diselesaikan hingga tuntas,” kata Guterres.
Awalnya, kecelakaan itu dikatakan akibat kesalahan pilot. Kemudian, serangkaian penyelidikan digelar atas mandat Majelis Umum PBB. Penyelidikan itu menemukan kejanggalan yang menguatkan dugaan bahwa pesawat yang dinaiki Hammarskjold ditembak hingga jatuh.
Laporan terakhir oleh ketua tim penyelidik Mohamed Chande Othman diserahkan kepada Guterres dan kemudian MU PBB pada 2024. Ada tanda-tanda keterlibatan beberapa negara anggota PBB bersama kelompok paramiliter dan oligarki tambang di kematian Hammarskjold.
”Kita bertanggung jawab mengungkap kebenaran dan memberikan ketenangan kepada keluarga yang ditinggalkan para korban kecelakaan pesawat itu,” kata Guterres.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/22/8096acd9-f707-4ec6-881e-25c5cf8d2f28_jpg.jpg)
Guterres meminta Othman memutakhirkan laporan per tahun 2026. Hammarskjold dan dunia berhak tahu karena dari pengetahuan keputusan yang jernih bisa dibuat.
”Hammarskjold meyakini diplomasi tanpa kekerasan adalah jalan yang menyakitkan, tetapi ketika terwujud sangat berharga,” kata Guterres.
Ia menuturkan keteguhan pada prinsip ini adalah gerakan yang aktif. Harus diingat bahwa prinsip ini yang membuat PBB bertahan. Akan tetapi, tantangan dunia semakin berat sehingga harus ada gerakan bersama kembali ke prinsip diplomasi tersebut. Akan tetapi, dialog, kerja sama, dan berbagi masa depan adalah kunci.
Dalam pidatonya, Raja Swedia Carl XIV Gustaf menceritakan, Hammarskjold bukan berasal dari keluarga sembarangan. Ayahnya, Hjalmar Hammarskjold, adalah Perdana Menteri Swedia periode 1914-1917. Keluarga Hammarskjold berdarah biru.
Namun, Dag Hammarskjold sejak muda memiliki prinsip keadilan yang kuat. Ia meyakini, setiap orang berhak atas kesempatan dan kesejahteraan. Perbedaan latar belakang bukan penghalang, melainkan peluang untuk berdialog.
”Hammarskjold pernah bilang, orang tidak bisa memilih lahir di mana, tetapi harus dengan sadar memilih semua tindakannya semasa hidup karena itu yang menentukan diri manusia,” kata Carl XIV Gustaf.
Ia mengatakan, pandangan Hammarskjold tetap menjadi teladan yang relevan bagi perkembangan geopolitik. Termasuk bekal PBB yang kini berumur 80 tahun untuk maju menjadi wadah diplomasi global.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Retma Wati