Tragedi 9/11 dalam Kesaksian Jurnalis

25 tahun peristiwa serangan teroris di World Trade Centre dalam kenangan beberapa jurnalis.

11 Sep 2026 15:38 WIB · Internasional

AFP/Paul J. RICHARDS

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Selasa pagi 9 September 2001, pukul 08.46 waktu New York, kelompok Al Qaeda berhasil membajak empat pesawat. Pesawat  pertama, American Airlines Flight 11, melakukan serangan bunuh diri dengan menabrakkan pesawat ke menara utara World Trade Centre (WTC). Pesawat meledak dan reruntuhan gedung serta bangkai pesawat berjatuhan ke jalanan yang ramai.

Saat evakuasi sedang  berlangsung, 18 menit kemudian, pesawat kedua, United Airlines Flight 175 kembali menabrakkan diri ke Menara Selatan. Bola api raksasa terlihat, bersamaan dengan asap yang mulai membakar kedua menara setinggi 110 lantai itu. 

Jerit ketakutan dan kepanikan terjadi di jalanan. Sebagian berupaya melakukan pertolongan, sebagian yang lain berusaha menyelamatkan diri. Tak berapa lama, bangunan megah itu runtuh, rata dengan tanah. 

<p>Sebuah pesawat komersial yang dibajak mendekati World Trade Center sesaat sebelum menabrak gedung pencakar langit yang terkenal pada 11 September 2001 di New York. (AFP/SETH MCALLISTER)</p><p>Menara kembar World Trade Center mengepulkan asap setelah pesawat yang dibajak menabrak mereka pada 11 September 2001. </p><p>(AFP/HENNY RAY ABRAMS)</p><p>Asap mengepul dari salah satu menara World Trade Center dan api serta puing-puing meledak dari menara kedua di New York, 11 September 2001. (AP/CHAO SOI CHEONG) </p>

Sebuah pesawat komersial yang dibajak mendekati World Trade Center sesaat sebelum menabrak gedung pencakar langit yang terkenal pada 11 September 2001 di New York. (AFP/SETH MCALLISTER)

Menara kembar World Trade Center mengepulkan asap setelah pesawat yang dibajak menabrak mereka pada 11 September 2001.

(AFP/HENNY RAY ABRAMS)

Asap mengepul dari salah satu menara World Trade Center dan api serta puing-puing meledak dari menara kedua di New York, 11 September 2001. (AP/CHAO SOI CHEONG)

Dalam waktu yang hampir bersamaan, pesawat ketiga, American Airlines Flight 77 menabrakkan diri ke bagian barat Pentagon yang menjadi markas besar militer AS di luar ibu kota negara. Dan pesawat keempat, United Airlines Flight 93, jatuh di sebuah lapangan di Pennsylvania. 

Sebanyak 2.996 orang tewas pada serangan 11 September ini,  termasuk 19 teroris yang membajak empat pesawat. Di WTC, 2.763 orang tewas setelah dua pesawat menabrak menara kembar. Jumlah ini meliputi 343 pemadam kebakaran dan paramedis, 23 polisi, dan 37 petugas yang sedang berusaha mengevakuasi para karyawan di lantai yang lebih tinggi.

Sementara di Pentagon, 189 orang meninggal, termasuk 64 yang berada di American Airlines Flight 77. Pada pesawat yang jatuh di Pennsylvania, 44 orang tewas. 

Personel investigasi memeriksa lokasi kecelakaan United Airlines Penerbangan 93 untuk mencari puing-puing dan bukti, termasuk perekam penerbangan pesawat, 12 September 2001 di Shanksville, Pennsylvania. AFP/DAVID MAXWELL
Foto arsip 11 September 2001 ini menunjukkan seorang pria berdiri di reruntuhan, setelah runtuhnya Menara Pusat Perdagangan Dunia pertama di Kota New York. AFP/DOUG KANTER

Serangan ini menjadi yang paling brutal dan paling mematikan di dunia. Dalam hitungan kurang dari 2 jam, korban tewas akibat serangan serempak ini mancapai 3.000 jiwa. Penduduk yang awalnya mengira kejadian itu adalah sebuah kecelakaan, akhirnya sadar bahwa Amerika sedang diserang teroris.

Seperempat abad kemudian, peristiwa ini masih diperingati dan menjadi perhatian Amerika Serikat maupun dunia. Seperti yang mereka lakukan setiap tahun di Ground Zero mulai pukul 08.40 pagi, waktu sesaat sebelum pesawat American Airlines Penerbangan 11 yang dibajak menabrak Menara Utara, para kerabat akan membacakan daftar panjang nama orang-orang terkasih mereka. Dan malam hari, dua pancaran cahaya akan memancar ke langit dari Lower Manhattan, sebagai simbol menara-menara tersebut.

<p>Kepala Staf Andy Card berbisik ke telinga Presiden George W Bush untuk memberinya kabar tentang kecelakaan pesawat di World Trade Center, saat kunjungan di Sarasota, Florida, pada hari Selasa, 11 September 2001. (AP/DOUG MILLS) </p><p>Pesawat Air Force One di landasan pacu di bawah keamanan militer yang ketat tepat setelah Presiden Bush tiba untuk berpidato dari Pangkalan Angkatan Udara Barksdale, Selasa, 11 September 2001. (AP/DOUG MILLS) </p><p>Presiden AS George W Bush berbicara di telepon dengan Wali Kota New York Rudy Guiliani dan Gubernur George Pataki di atas Air Force One pada 11 September 2001. (AFP/DOUG MILLS/POOL)</p>

Kepala Staf Andy Card berbisik ke telinga Presiden George W Bush untuk memberinya kabar tentang kecelakaan pesawat di World Trade Center, saat kunjungan di Sarasota, Florida, pada hari Selasa, 11 September 2001. (AP/DOUG MILLS)

Pesawat Air Force One di landasan pacu di bawah keamanan militer yang ketat tepat setelah Presiden Bush tiba untuk berpidato dari Pangkalan Angkatan Udara Barksdale, Selasa, 11 September 2001. (AP/DOUG MILLS)

Presiden AS George W Bush berbicara di telepon dengan Wali Kota New York Rudy Guiliani dan Gubernur George Pataki di atas Air Force One pada 11 September 2001. (AFP/DOUG MILLS/POOL)

Kesaksian Steve Holland

Koresponden Reuters, Steve Holland, hari itu kebagian meliput agenda Presiden George W Bush. Tragedi itu terjadi saat Bush mengunjungi Sekolah Dasar Emma E Booker di Sarasota, Florida. Saat presiden bertemu dengan staf dan siswa, Holland berada di pusat pers terdekat yang disiapkan untuk para reporter. 

Saat itulah mereka menonton siaran televisi langsung yang menunjukkan asap mengepul dari salah satu menara kembar World Trade Center di New York. Menara itu telah ditabrak pesawat dalam apa yang awalnya mereka anggap sebagai kecelakaan. Kemudian, pesawat kedua menabrak.

Presiden AS George W. Bush dan Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld mengunjungi area kerusakan di Pentagon pada 12 September 2001 setelah sebuah maskapai penerbangan yang dibajak jatuh ke gedung sehari sebelumnya. AFP/Paul J. RICHARDS
Presiden AS George W. Bush berbicara melalui megafon di lokasi World Trade Center yang hancur. AFP/Paul J. RICHARDS

Bush berada di sekolah itu, sedang membacakan cerita untuk anak-anak. Kamera menangkap ekspresi terkejut di wajahnya ketika seorang ajudan Gedung Putih memasuki kelas dan berbisik kepadanya tentang pesawat kedua, sambil berkata, ”Amerika sedang diserang”.

Segera setelah serangan pembajakan pesawat, terjadi perebutan untuk melindungi presiden. Saat Bush dilarikan ke Air Force One untuk meninggalkan Florida, skala krisis tersebut mulai terlihat jelas.

Kepanikan melanda Washington. Kepulan asap dari Pentagon memicu kekhawatiran akan bom mobil. Gedung Putih dievakuasi dan Dinas Rahasia menyuruh staf wanita untuk melepas sepatu hak tinggi mereka dan berlari.

Sebuah pesawat komersial yang dibajak menabrak World Trade Center pada 11 September 2001 di New York. AFP/SETH MCALLISTER
Sebuah ambulans, ditutupi dengan puing-puing, terbakar setelah runtuhnya Menara World Trade Center pertama pada 11 September 2001 di New York. AFP/DOUG KANTER
Asap masih mengepul dari Pentagon pada 11 September 2001 di Washington, setelah sebuah pesawat yang dibajak menabrak fasilitas, pusat saraf militer Amerika Serikat. AFP/STEPHEN JAFFE

Bush segera terbang menggunakan Air Force One, pertama ke Pangkalan Angkatan Udara Barksdale di Louisiana dan kemudian ke Pangkalan Angkatan Udara Offutt di Nebraska. Di Nebraska, ia memasuki bunker bawah tanah untuk mengadakan telekonferensi dengan para pembantu keamanan nasional dan Wakil Presiden Dick Cheney. Karena sangat ingin kembali ke Washington, Bush tiba kembali di Gedung Putih sore itu. Malam harinya, ia menyampaikan pidato di Ruang Oval.

Sementara itu, bersama sebagian besar awak pers Gedung Putih, Holland masih terjebak di Florida, tidak dapat terbang ke mana pun karena semua perjalanan udara telah dihentikan. Ia dan rombongan awak media akhirnya menaiki bus sewaan kembali ke ibu kota. Setelah perjalanan 14 jam, pemandangan pertama kami di Washington adalah lubang yang berasap di Pentagon.

<p>Sebuah gelang tangan ”Never Forget” ditinggalkan di Peringatan 9/11, Kamis (10/9/2026). (AP/ADAM GRAY)</p><p>Cahaya muncul di belakang bendera Amerika Serikat yang menempel di Peringatan 9/11, Kamis (10/9/2026) di New York. (AP/ADAM GRAY)</p><p>Seorang anak laki-laki menghitung wajah petugas pemadam kebakaran yang gugur di Tembok Peringatan Brooklyn 9/11 pada malam peringatan 25 tahun serangan Pusat Perdagangan Dunia 11 September, Kamis (10/9/2026). (AP/ANGELINA KATSANIS)</p>

Sebuah gelang tangan ”Never Forget” ditinggalkan di Peringatan 9/11, Kamis (10/9/2026). (AP/ADAM GRAY)

Cahaya muncul di belakang bendera Amerika Serikat yang menempel di Peringatan 9/11, Kamis (10/9/2026) di New York. (AP/ADAM GRAY)

Seorang anak laki-laki menghitung wajah petugas pemadam kebakaran yang gugur di Tembok Peringatan Brooklyn 9/11 pada malam peringatan 25 tahun serangan Pusat Perdagangan Dunia 11 September, Kamis (10/9/2026). (AP/ANGELINA KATSANIS)

Pada tanggal 14 September, Holand kembali melakukan peliputan Bush ke Ground Zero. Menara-menara itu masih terbakar, baunya masih tercium hingga bermil-mil jauhnya. Bush berjalan-jalan di sekitar lokasi yang hancur itu.

Lapisan abu tebal tersebar di mana-mana, di trotoar, jalanan, dan di pundak para petugas pemadam kebakaran yang kelelahan. Berdiri di atas reruntuhan truk pemadam kebakaran, Bush memberi tahu tim penyelamat bahwa Amerika Serikat sekarang sedang berperang melawan teroris.

”Aku bisa mendengar kalian! Aku bisa mendengar kalian! Seluruh dunia mendengar kalian! Dan orang-orang yang meruntuhkan gedung-gedung ini akan segera mendengar kita semua!” katanya melalui pengeras suara.

Sepatu yang ia kenakan hari itu dipenuhi abu dan jelaga. Saat sampai di rumah, Holland memasukkannya ke dalam kantong plastik dan menyimpannya di lemari, hingga saat ini.

One World Trade Center di Kota New York, pada Kamis (10/9/2026). AFP/Ryan MURPHY
Bendera Amerika, bunga, dan gambar Maria Ramirez ditinggalkan di Peringatan 9/11, Kamis (10/9/2026).

AP/Adam Gray

Kesaksian Karen Matthews

Seperti hari-hari biasanya, Karen Matthews sedang mempersiapkan putrinya yang berusia 3 tahun untuk pergi ke prasekolah di apartemennya di Manhattan pada 11 September 2001, ketika ia mendengar suara ledakan keras, yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Sambil menggendong anaknya, dia keluar. Di sekitarnya, orang-orang menatap ke arah lubang di menara utara World Trade Center, asap mengepul dari gedung yang hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya.

Matthews, seorang reporter Associated Press, mulai mengajukan pertanyaan kepada orang-orang. Hal itu ia lakukan sambil mengeluarkan buku catatannya dan mencatat apa yang telah disaksikan orang-orang, semuanya sambil masih menggendong putrinya.

<p>Menara selatan World Trade Center runtuh menyebabkan debu dan asap ke jalan-jalan pada 11 September 2001, di New York. (AFP/AARON MILESTONE)</p><p>Petugas pemadam kebakaran melewati puing-puing setelah runtuhnya salah satu Menara World Trade Center pada 11 September 2001 di New York. (AFP/STAN HONDA)</p><p>Sebuah ambulans, ditutupi dengan puing-puing, terbakar setelah runtuhnya Menara World Trade Center pertama pada 11 September 2001 di New York. (AFP/DOUG KANTER)</p>

Menara selatan World Trade Center runtuh menyebabkan debu dan asap ke jalan-jalan pada 11 September 2001, di New York. (AFP/AARON MILESTONE)

Petugas pemadam kebakaran melewati puing-puing setelah runtuhnya salah satu Menara World Trade Center pada 11 September 2001 di New York. (AFP/STAN HONDA)

Sebuah ambulans, ditutupi dengan puing-puing, terbakar setelah runtuhnya Menara World Trade Center pertama pada 11 September 2001 di New York. (AFP/DOUG KANTER)

Dalam perjalanan keluar, Matthews melewati seorang perempuan di lobi gedungnya dengan air mata mengalir di wajahnya. Beberapa orang menduga sebuah pesawat kecil secara tidak sengaja menabrak menara tersebut. Kemudian dia melihat bola api besar meledak dari menara selatan saat jet kedua yang dibajak menabraknya.

”Aku ingin pergi ke sekolah, aku ingin pergi ke sekolah,” putrinya mulai menangis.

Matthews tetap berjalan menuju prasekolah, sampai dia melihat para guru menarik anak-anak dan berlari ke utara, banyak di antara mereka menangis. Kemudian dia mendengar dua suara gemuruh yang sangat keras ketika satu menara runtuh, lalu menara lainnya. 

Sebuah jalan di daerah Manhattan bagian bawah New York dipenuhi dengan puing-puing runtuhnya menara kembar World Trade Center setelah serangan teroris, 11 September 2001. 

AP/Berkas Richard Drew
Edward Fine menutup mulutnya saat dia berjalan melalui puing-puing setelah runtuhnya salah satu Menara World Trade Center pada 11 September 2001 di New York. AFP/STAN HONDA

Kesaksian Richard Drew

Jalan-jalan di Lower Manhattan dipenuhi asap dan puing-puing ketika Richard Drew turun dari kereta bawah tanah di Chambers Street dan melihat menara kembar yang terbakar.

Tugasnya hari itu awalnya adalah meliput hari pembukaan Fashion Week, sebuah acara yang penuh dengan kemewahan, model, dan peragaan busana.

Dia mulai mengambil gambar. Abu dan jelaga berwarna abu-abu menutupi pakaian, wajah, dan kameranya. Seorang petugas medis darurat menunjuk ke atas dan berkata, ”Lihat itu.” Orang-orang berjatuhan dari menara yang terbakar.

<p>Salah satu dari 20 seniman menggambar potret seorang penumpang atau anggota kru Penerbangan 93 di Peringatan Nasional Penerbangan 93 di Shanksville, Pennsylvania, pada Kamis (10/9/2026). (AFP/MATTHEW HATCHER)</p><p>Seorang pilot American Airlines memegang mawar putih saat mengambil bagian dalam acara peringatan di Peringatan 9/11, Kamis (10/9/2026). (AP/ADAM GRAY)</p><p>Seorang petugas menghadiri acara ”Steel Across America” menjelang peringatan 25 tahun serangan 11 September di Ellipse dekat Gedung Putih pada Selasa (8/9/2026). (AFP/ANDREW HARNIK/GETTY IMAGES)</p>

Salah satu dari 20 seniman menggambar potret seorang penumpang atau anggota kru Penerbangan 93 di Peringatan Nasional Penerbangan 93 di Shanksville, Pennsylvania, pada Kamis (10/9/2026). (AFP/MATTHEW HATCHER)

Seorang pilot American Airlines memegang mawar putih saat mengambil bagian dalam acara peringatan di Peringatan 9/11, Kamis (10/9/2026). (AP/ADAM GRAY)

Seorang petugas menghadiri acara ”Steel Across America” menjelang peringatan 25 tahun serangan 11 September di Ellipse dekat Gedung Putih pada Selasa (8/9/2026). (AFP/ANDREW HARNIK/GETTY IMAGES)

Drew memotret mereka. Salah satu gambar kemudian dikenal sebagai The Falling Man (Pria yang Jatuh). Gambar itu menunjukkan seorang pria sendirian jatuh terjungkal, tubuhnya hampir sejajar dengan garis vertikal menara-menara tersebut. Foto itu muncul di beberapa surat kabar keesokan harinya, tetapi ditolak oleh publikasi lain yang khawatir pembaca akan menganggapnya terlalu mengganggu. Sampai kinim Drew masih memikirkan foto itu, dan pria tak dikenal di dalamnya, setidaknya sekali seminggu.

”Ketika saya berada dalam situasi seperti 11 September, saya masuk ke mode fotografer profesional dan berkonsentrasi pada apa pun yang terjadi di depan saya,” kata Drew, yang juga memotret pembunuhan Robert F Kennedy pada tahun 1968. Dia mengatakan bahwa istrinya menyebut kameranya sebagai tembok, sebuah filter antara fotografer dan realitas yang mereka abadikan.

Dua wanita saling berpelukan saat mereka menyaksikan World Trade Center terbakar setelah serangan teroris di gedung pencakar langit kembar di New York, 11 September 2001. AP/Ernesto Mora
Foto arsip 11 September 2001 ini menunjukkan seorang petugas polisi dan yang lainnya berjalan di atas Park Row dari St. Kapel Paulus beberapa blok dari lokasi World Trade Center, di jalan-jalan yang tertutup puing-puing di Kota New York tak lama setelah dua menara runtuh. AFP/STAN HONDA
Puing-puing World Trade Center pada 11 September 2001 di New York. AFP/ALEXANDRE FUCHS

Kesaksian Amy Sancetta

Tanggal 11 September seharusnya menjadi hari libur Amy Sancetta. Saat itu fotografer AP yang berbasis di Ohio tersebut telah melakukan perjalanan ke New York untuk meliput turnamen tenis US Open. Namun, turnamen telah berakhir dan dia memiliki waktu luang seharian. 

Kemudian editornya menelepon, memberi tahu bahwa sebuah pesawat kecil menabrak salah satu menara, dan dia harus meliputnya. Saat mengumpulkan perlengkapannya, Sancetta menyadari bahwa dia tidak tahu di mana letak menara kembar itu. Dia naik taksi dan meminta sopir untuk mengantarkannya sedekat mungkin.

Pejalan kaki melarikan diri dari area Pusat Perdagangan Dunia New York di Manhattan bagian bawah pada hari Selasa, 11 September 2001. AP/Amy Sancetta
Pejalan kaki melarikan diri dari area World Trade Center saat menara selatan pusat runtuh setelah serangan teroris di tengara New York, 11 September 2001. AP/Amy Sancetta

Sekitar satu setengah blok dari situ, Sancetta sedang memotret menara selatan ketika menara itu mulai runtuh. Ketika awan puing-puing mendekat, Sancetta berlari ke tempat parkir. Di tangga, dia menemukan seorang perempuan menangis yang berhasil menyelamatkan diri dari menara kembar dan ingin menelepon putranya. Sancetta memeluknya dan meraih ponsel lipatnya. Tangannya gemetar. Tidak ada sinyal. Sancetta mencatat nomor telepon putranya dan berjanji akan meneleponnya.

Ketika ia muncul di jalan, semuanya berwarna putih. Jeritan dan derap langkah kaki telah berganti menjadi tangisan dan isak tangis. Kertas-kertas kantor yang berserakan melayang di langit seperti burung. ”Saya berharap saya yang mengambil gambar itu,” kata Sancetta. Tapi saat itu ia tidak melakukannya.

Orang-orang menonton dan mengambil gambar saat pertunjukan cahaya drone yang menggambarkan menara kembar di Manhattan pada Rabu (9/9/2026). AFP/Jeremy Weine/GETTY IMAGES

Dua puluh lima tahun kemudian, Sancetta memperlihatkan koran dari tanggal 12 September yang menampilkan menara-menara yang terbakar yang telah difotonya.

”Mimpi Buruk,” demikian bunyi judul beritanya. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase