Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa yang terjadi di Pelabuhan Shahid Rajaei?
- Apa dugaan penyebab ledakan?
- Mengapa Pelabuhan Shahid Rajaei penting?
- Adakah kaitan ledakan dengan program nuklir Iran dan serangan Israel?
- Bagaimana Iran menyikapi terjadinya ledakan?
Apa yang terjadi di Pelabuhan Shahid Rajaei?
Pada Sabtu (26/4/2025) siang, terjadi kebakaran diikuti ledakan di salah satu terminal Pelabuhan Shahid Rajaei di Bandar Abbas, Iran. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan niaga terbesar di negara itu.
Hingga saat ini, menurut Direktur Manajemen Krisis Provinsi Hormozgan Mehrdad Hassanzadeh, jumlah korban tewas akibat ledakan di Pelabuhan Shahid Rajaei mencapai 70 orang. Sedikitnya 1.000 orang terluka akibat ledakan. Kepala Bulan Sabit Merah Iran Pir Hosein Koliyand mengatakan, sekitar 190 orang masih dirawat di rumah sakit karena luka serius.
Dari citra satelit terlihat tingkat kehancuran masif. Foto-foto dari Planet Labs menunjukkan bangunan hancur, baik di pelabuhan, perkantoran, maupun gudang penyimpanan.
Lubang bekas ledakan menganga dan mengepulkan asap pekat. Pemerintah menutup sekolah dan tempat kegiatan warga di dekat pelabuhan.
Apa dugaan penyebab ledakan?
Di hari terjadinya ledakan, Pejabat Bea dan Cukai Pelabuhan Shahid Rajaei mengatakan kepada televisi Iran, ledakan kemungkinan dipicu oleh kebakaran dari bahan kimia berbahaya yang disimpan di salah satu gudang.
Ledakan diduga dipicu oleh propelan —bahan baku kimia pendorong roket atau peluru— yang akan digunakan dalam proyek rudal balistik Iran. Militer Iran membantahnya.
Dalam perkembangan, Pemerintah Iran menyimpulkan penyebab ledakan di Pelabuhan Shahid Rajaei adalah kesalahan prosedur. Kesimpulan ini membantah dugaan penyebab ledakan terkait dengan penanganan bahan amonium perklorat yang tidak tepat.
Dikutip dari kantor berita Iran, IRNA, Komite Penyelidikan Penyebab Kebakaran, Senin (28/4/2025) malam waktu setempat atau Selasa waktu Indonesia, ledakan terjadi karena kegagalan para pihak mematuhi prinsip-prinsip keselamatan dan standar pertahanan pasif.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni membuka kemungkinan adanya kelalaian dalam operasional pelabuhan sehingga menyebabkan ledakan besar. Momeni, Senin, menyatakan para pelaku telah didentifikasi dan dipanggil.
Mengapa Pelabuhan Shahid Rajaei penting?
Pelabuhan Shahid Rajaei terletak di pesisir utara Selat Hormuz, tempat Teluk Persia bertemu dengan Teluk Oman. Sebagai salah satu jalur perdagangan minyak dan gas alam utama dunia, pelabuhan ini adalah aset terbesar dan paling strategis Iran.
Pelabuhan itu menangani 85 persen lalu lintas peti kemas Iran. Lokasi pelabuhan itu juga dilalui oleh 20 persen perdagangan minyak internasional.
Dibangun pada 2005, Pelabuhan Shahid Rajaei berdiri di atas lahan seluas 4.800 hektar. Kapasitas pelabuhan ini menangani 100 juta ton kargo per tahun.
Insiden ledakan dapat berdampak negatif pada ekonomi Iran, terutama pada rute perdagangan regional. Apalagi, ekonomi Iran tengah terbebani sanksi ekonomi dari Amerika Serikat, termasuk yang mengekang ekspor minyak.
Adakah kaitan ledakan dengan program nuklir Iran dan serangan Israel?
Ledakan terjadi ketika berlangsung putaran ketiga perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat. Perundingan digelar di Muscat, Oman. Dialog pertama kali digelar pada 2018.
Iran bersikeras mereka mengembangkan teknologi nuklir untuk membantu kehidupan masyarakat sipil. Di antaranya untuk terapi kanker dan penyinaran bibit unggul di bidang pertanian. Sementara AS bersama Israel menuntut Iran sama sekali mengabaikan pengembangan nuklir.
Iran menolak melucuti total program nuklirnya. Sebab, Iran tidak mau bernasib seperti Libya atau Ukraina. Beberapa tahun lalu, Libya dan Ukraina dijanjikan berbagai hal agar mau melucuti program nuklirnya. Ternyata, janji itu tidak dipenuhi.
Pada saat bersamaan, ketegangan antara Iran dan Israel tengah meningkat. Muncul dugaan adanya keterlibatan Israel, musuh bebuyutan Iran, dalan insiden itu. Israel selalu menyerang lokasi pembuatan rudal Iran, sehingga akhirnya tidak ada tempat aman untuk memproses bahan baku rudal balistik Iran dan akhirnya dibiarkan berada di gudang pelabuhan.
Pada 2020, Israel melancarkan serangan siber yang mengganggu operasi Pelabuhan Shahid Rajaei. Namun, Kejaksaan Agung Iran membantah keterlibatan Israel dengan mengecam ”aktivitas daring” yang menyebarkan rumor sehingga merusak keamanan psikologis masyarakat.
Bagaimana Iran menyikapi terjadinya ledakan?
Sejauh ini para pembantu Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperlakukan insiden itu sebagai kecelakaan. Militer Iran membantah menerima pengiriman bahan kimia yang memicu terjadinya ledakan.
Saeed Jafari, CEO perusahaan jasa kelautan yang bekerja di pelabuhan, mengungkapkan informasi tentang kargo yang meledak sebagai informasi palsu. ”Insiden itu terjadi setelah pernyataan palsu tentang barang berbahaya dan mengirimkannya tanpa dokumen dan label,” kata Jafari.
The New York Times, mengutip sumber yang memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Iran mengatakan, bahan yang menyebabkan ledakan keras bersumber dari natrium perklorat, bahan utama untuk bahan bakar padat rudal. Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei Nik, kepada televisi pemerintah membantah hal itu. Ia mengatakan tidak ada kargo impor atau ekspor untuk bahan bakar militer atau keperluan militer di daerah tersebut.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Apa yang terjadi di Pelabuhan Shahid Rajaei?
- Apa dugaan penyebab ledakan?
- Mengapa Pelabuhan Shahid Rajaei penting?
- Adakah kaitan ledakan dengan program nuklir Iran dan serangan Israel?
- Bagaimana Iran menyikapi terjadinya ledakan?
Apa yang terjadi di Pelabuhan Shahid Rajaei?
Pada Sabtu (26/4/2025) siang, terjadi kebakaran diikuti ledakan di salah satu terminal Pelabuhan Shahid Rajaei di Bandar Abbas, Iran. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan niaga terbesar di negara itu.
Hingga saat ini, menurut Direktur Manajemen Krisis Provinsi Hormozgan Mehrdad Hassanzadeh, jumlah korban tewas akibat ledakan di Pelabuhan Shahid Rajaei mencapai 70 orang. Sedikitnya 1.000 orang terluka akibat ledakan. Kepala Bulan Sabit Merah Iran Pir Hosein Koliyand mengatakan, sekitar 190 orang masih dirawat di rumah sakit karena luka serius.
Dari citra satelit terlihat tingkat kehancuran masif. Foto-foto dari Planet Labs menunjukkan bangunan hancur, baik di pelabuhan, perkantoran, maupun gudang penyimpanan.
Lubang bekas ledakan menganga dan mengepulkan asap pekat. Pemerintah menutup sekolah dan tempat kegiatan warga di dekat pelabuhan.
Apa dugaan penyebab ledakan?
Di hari terjadinya ledakan, Pejabat Bea dan Cukai Pelabuhan Shahid Rajaei mengatakan kepada televisi Iran, ledakan kemungkinan dipicu oleh kebakaran dari bahan kimia berbahaya yang disimpan di salah satu gudang.
Ledakan diduga dipicu oleh propelan —bahan baku kimia pendorong roket atau peluru— yang akan digunakan dalam proyek rudal balistik Iran. Militer Iran membantahnya.
Dalam perkembangan, Pemerintah Iran menyimpulkan penyebab ledakan di Pelabuhan Shahid Rajaei adalah kesalahan prosedur. Kesimpulan ini membantah dugaan penyebab ledakan terkait dengan penanganan bahan amonium perklorat yang tidak tepat.
Dikutip dari kantor berita Iran, IRNA, Komite Penyelidikan Penyebab Kebakaran, Senin (28/4/2025) malam waktu setempat atau Selasa waktu Indonesia, ledakan terjadi karena kegagalan para pihak mematuhi prinsip-prinsip keselamatan dan standar pertahanan pasif.
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni membuka kemungkinan adanya kelalaian dalam operasional pelabuhan sehingga menyebabkan ledakan besar. Momeni, Senin, menyatakan para pelaku telah didentifikasi dan dipanggil.
Mengapa Pelabuhan Shahid Rajaei penting?
Pelabuhan Shahid Rajaei terletak di pesisir utara Selat Hormuz, tempat Teluk Persia bertemu dengan Teluk Oman. Sebagai salah satu jalur perdagangan minyak dan gas alam utama dunia, pelabuhan ini adalah aset terbesar dan paling strategis Iran.
Pelabuhan itu menangani 85 persen lalu lintas peti kemas Iran. Lokasi pelabuhan itu juga dilalui oleh 20 persen perdagangan minyak internasional.
Dibangun pada 2005, Pelabuhan Shahid Rajaei berdiri di atas lahan seluas 4.800 hektar. Kapasitas pelabuhan ini menangani 100 juta ton kargo per tahun.
Insiden ledakan dapat berdampak negatif pada ekonomi Iran, terutama pada rute perdagangan regional. Apalagi, ekonomi Iran tengah terbebani sanksi ekonomi dari Amerika Serikat, termasuk yang mengekang ekspor minyak.
Adakah kaitan ledakan dengan program nuklir Iran dan serangan Israel?
Ledakan terjadi ketika berlangsung putaran ketiga perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat. Perundingan digelar di Muscat, Oman. Dialog pertama kali digelar pada 2018.
Iran bersikeras mereka mengembangkan teknologi nuklir untuk membantu kehidupan masyarakat sipil. Di antaranya untuk terapi kanker dan penyinaran bibit unggul di bidang pertanian. Sementara AS bersama Israel menuntut Iran sama sekali mengabaikan pengembangan nuklir.
Iran menolak melucuti total program nuklirnya. Sebab, Iran tidak mau bernasib seperti Libya atau Ukraina. Beberapa tahun lalu, Libya dan Ukraina dijanjikan berbagai hal agar mau melucuti program nuklirnya. Ternyata, janji itu tidak dipenuhi.
Pada saat bersamaan, ketegangan antara Iran dan Israel tengah meningkat. Muncul dugaan adanya keterlibatan Israel, musuh bebuyutan Iran, dalan insiden itu. Israel selalu menyerang lokasi pembuatan rudal Iran, sehingga akhirnya tidak ada tempat aman untuk memproses bahan baku rudal balistik Iran dan akhirnya dibiarkan berada di gudang pelabuhan.
Pada 2020, Israel melancarkan serangan siber yang mengganggu operasi Pelabuhan Shahid Rajaei. Namun, Kejaksaan Agung Iran membantah keterlibatan Israel dengan mengecam ”aktivitas daring” yang menyebarkan rumor sehingga merusak keamanan psikologis masyarakat.
Bagaimana Iran menyikapi terjadinya ledakan?
Sejauh ini para pembantu Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperlakukan insiden itu sebagai kecelakaan. Militer Iran membantah menerima pengiriman bahan kimia yang memicu terjadinya ledakan.
Saeed Jafari, CEO perusahaan jasa kelautan yang bekerja di pelabuhan, mengungkapkan informasi tentang kargo yang meledak sebagai informasi palsu. ”Insiden itu terjadi setelah pernyataan palsu tentang barang berbahaya dan mengirimkannya tanpa dokumen dan label,” kata Jafari.
The New York Times, mengutip sumber yang memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Iran mengatakan, bahan yang menyebabkan ledakan keras bersumber dari natrium perklorat, bahan utama untuk bahan bakar padat rudal. Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Reza Talaei Nik, kepada televisi pemerintah membantah hal itu. Ia mengatakan tidak ada kargo impor atau ekspor untuk bahan bakar militer atau keperluan militer di daerah tersebut.