Liverpool dan Arsenal masih beradaptasi dengan kehadiran para pemain baru. Saat Arsenal bermasalah di lini serang, Liverpool berjibaku dengan problem di pertahanan.
18 Agt 2025 19:17 WIB · Olahraga
Berapa kali Viktor Gyokeres merapikan rambut klimisnya? Pertanyaan mengejek untuk penyerang debutan Arsenal itu menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sebab, tidak banyak hal menonjol yang bisa dilihat darinya selama satu jam bermain. Gyokeres diperkirakan lebih banyak menyentuh rambut daripada bola.
Debut buruk Gyokeres memancing tanda tanya. Pemain tersubur se-Eropa dalam dua musim terakhir itu tidak terlihat seperti dirinya sendiri. Jangankan mencetak gol, dia bahkan gagal mencatat satu pun tembakan. Perasaan grogi dan terlalu bersemangat mungkin berperan. Dia tidak hanya debut di Arsenal, tetapi juga di Liga Inggris.
Menariknya, tidak hanya Gyokeres yang tampil buruk dalam laga pekan pembuka versus Manchester United di Stadion Old Trafford pada Minggu (17/8/2025) WIB. Semua pemain di lini serang Arsenal, dari gelandang serang Martin Odegaard sampai pemain sayap Bukayo Saka, bermain jauh di bawah standar.
Jika satu pemain kurang optimal, itu mungkin hanya karena sedang bukan ”harinya”. Namun, jika semua pemain tampil buruk, hampir pasti ada masalah yang lebih serius. Dua kemungkinan muncul, sistem permainan mereka bermasalah atau tim lawan tampil dominan. Kebetulan, dua hal itu sama-sama memengaruhi ”Si Meriam”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/18/cb4e19e0f7e825a5c18f792e5cbfc847-wires_photo_2025_08_18T183816.121.jpg)
Selain memang kesulitan menghadapi agresivitas skuad MU, tim asuhan pelatih Mikel Arteta itu tidak bermain seperti biasa. Arsenal terlalu tergesa-gesa saat menguasai bola, tidak mampu mengontrol permainan. Mereka selalu ingin menyerang balik secepat mungkin, tetapi sering kali berujung pengambilan keputusan yang salah.
Penurunan drastis Odegaard dan rekan-rekan tecermin dalam statistik. Mereka kalah mutlak dalam jumlah tembakan 9-22 hingga penguasaan bola yang hanya 39 persen. Bandingkan dengan pertemuan di Old Trafford, Maret lalu, Arsenal unggul dalam percobaan tembakan 17-10 dan mendominasi 68 persen penguasaan bola.
Hanya saja, statistik tidak bisa memperlihatkan seutuhnya rencana Arteta. Tim tamu terlihat kurang berdaya karena konteks berbeda. Mereka tidak bermain dengan pendekatan seperti biasa yang lambat dan cenderung bertele-tele. ”Si Meriam” kali ini lebih lugas dengan mengandalkan transisi serangan balik secepat mungkin.
Masalahnya terletak di eksekusi. Para penyerang Arsenal tidak terbiasa dengan pendekatan tersebut. Mereka dilatih untuk bermain dengan sabar selama bertahun-tahun oleh sang manajer. Semua terasa semakin sulit karena eksperimen itu dilakukan pada laga pembuka, di Old Trafford yang sering menjadi ”kuburan” Arsenal.
”Ada sekitar tujuh sampai delapan situasi saat permainan terbuka dan kami menyerang langsung ke arah kiper mereka. Lalu, kami kehilangan bola dan itu menjadi seperti pertandingan bola basket. Sulit jika kami melakukan kesalahan seperti itu saat melawan tim yang sangat baik dalam eksekusi serangan (balik),” ujar Arteta.
Kami gagal memberikan bola yang bisa mengeksploitasi kemampuannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/18/33d4ca1800b6c05d8ac312a11726702c-Saka.png)
Pengambilan keputusan pemain Arsenal terbilang buruk dalam situasi transisi. Contohnya, Odegaard, di paruh kedua. Lewat satu umpan terobosan, sang kapten sebenarnya bisa membuat Gyokeres tinggal berhadapan dengan kiper lawan. Namun, dia justru mengumpan kepada Saka yang berada di posisi offside.
Lantas, untuk apa Arteta bereksperimen? Bukan tanpa alasan. Sang manajer ingin memaksimalkan potensi Gyokeres yang terkenal andal dalam transisi. Para pemain lain diminta beradaptasi dengan sistem baru. ”Kami gagal memberikan bola yang bisa mengeksploitasi kemampuannya,” kata Arteta tentang performa Gyokeres.
Arsenal sangat beruntung. Mereka masih bisa membawa pulang kemenangan 1-0 dari Old Trafford walaupun tampil jauh dari ekspektasi. Terima kasih kepada bola mati yang kembali memecah kebuntuan ”Si Meriam”. Meskipun begitu, mereka harus segera menemukan ”klik” dengan ide baru Arteta jika ingin bersaing juara musim ini.
Tim juara bertahan Liverpool juga memulai perjalanan musim baru dengan kurang mulus. Mereka nyaris kehilangan poin penuh di kandang setelah unggul 2-0 lebih dulu atas Bournemouth. Mohamed Salah dan rekan-rekan kecolongan dua gol beruntun di paruh kedua akibat kurang disiplin dalam bertahan.
Keputusan pelatih Arne Slot dipertanyakan. Dia mengganti dua bek sayap baru, Jeremie Frimpong dan Milos Kerkez, di menit ke-60. Setelah pergantian itu, Liverpool langsung kemasukan sepasang gol Antoine Semenyo dalam rentang 15 menit. Gol pertama bahkan dimulai di sisi kanan Liverpool yang harusnya dikawal Frimpong.
Slot menjelaskan, keputusan itu terpaksa diambil. Frimpong merasa kurang nyaman di area otot paha karena banyak melakukan sprint selama sejam bermain. Sementara itu, Kerkez sudah mendapatkan kartu kuning dan masih harus menjaga Semenyo. Adapun Semenyo mampu membuat Kerkez kesulitan dengan kecepatannya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/16/c808c9c1-1380-4e1f-9b7a-a8a8cdd851cd_jpeg.jpg)
Dari keputusan Slot itu terlihat, Frimpong masih mencoba beradaptasi dengan intensitas tinggi Liga Inggris. Dia cukup kesulitan karena mendapatkan peran besar di sisi ofensif ataupun defensif dalam sistem empat bek. Di Bayer Leverkusen, Frimpong lebih ditugaskan membantu serangan tim sebagai gelandang sayap dalam formasi 3-5-2.
Kerkez sudah berpengalaman di Inggris bersama Bournemouth. Namun, tugasnya juga jauh lebih berat bersama Liverpool. ”Si Merah” lebih agresif dalam menyerang dan sering menggunakan garis pertahanan super tinggi. Dia pun lebih sering menghadapi situasi transisi ataupun satu lawan satu dengan sayap lawan.
Virgil van Dijk, kapten Liverpool, menyaksikan sendiri kesulitan adaptasi para pemain baru, termasuk Florian Wirtz dan Hugo Ekitike. ”Mereka semua kelelahan saat ditarik keluar. Itu sebenarnya normal. Liga Inggris memang paling kompetitif, Anda harus terbiasa dengan tuntutan yang sangat tinggi. Mereka akan baik-baik saja,” katanya.
Liverpool menggunakan empat pemain debutan sekaligus dalam kemenangan 4-2 atas Bournemouth. Tiga pemain, selain Kerkez, berasal dari Liga Jerman. Uniknya, semua pemain tersebut terkenal dengan sosok yang lebih andal dalam situasi ofensif. Wajar jika Slot semakin percaya diri untuk mengekspresikan permainan terbuka.
Masalahnya, percaya diri itu bisa menjadi bumerang. Seperti saat kemasukan gol kedua dari Bournemouth. Liverpool sudah unggul 2-1 dengan waktu normal tersisa 15 menit. Saat seharusnya bermain lebih aman, mereka justru mengambil risiko. Mereka menyerang dengan delapan pemain berada di kotak penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/18/4e0c65336788f80a9734c36ad4d79f34-Liverpool.png)
Liverpool tidak bersiaga mengantisipasi serangan balik. Ketika kehilangan bola, Bournemouth menghukum dengan transisi kilat. ”Berapa pemain di posisi menyerang, mungkin delapan. Ketika unggul 2-1? Itu tidak boleh terjadi. Itu sangat mengejutkan di level seperti ini,” kata mantan bek Liverpool, Jamie Carragher, kepada Sky Sports.
Carragher menambahkan, Slot perlu menemukan kompisisi skuad yang lebih seimbang. ”Tim ini diisi dua bek sayap bertipe ofensif dan gelandang serang yang lebih tertarik saat menguasai bola dibandingkan bertahan. Jika Liverpool berlanjut seperti ini, saya tidak berpikir mereka akan juara lagi musim ini,” lanjutnya.
Slot tidak terlalu khawatir dengan masalah pertahanan Liverpool di awal musim, termasuk saat kalah di Community Shield dari Crystal Palace. Bagi pelatih asal Belanda itu, semua akan membaik seiring adaptasi dari para pemain baru dan kehadiran kembali gelandang bertahan Ryan Gravenberch.
Walaupun mulai terlihat kelemahan dan kelebihan, sangat sulit membaca masa depan tim hanya dari pekan pembuka. Semua tim baru mulai memanaskan mesin dan masih jauh dari potensi terbaik, termasuk tim raksasa Manchester City yang menang telak 4-0 di kandang Wolverhampton Wanderers. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari