Akankah Tarif Trump Menghidupkan Kembali Industri Manufaktur di Amerika Serikat?

Kembalinya lapangan kerja di sektor manufaktur telah dibingkai sebagai simbol kebangkitan ekonomi AS dan digaungkan mulai dari janji kampanye hingga laporan riset.

16 Jul 2025 11:00 WIB · Internasional

Oleh Antonius Purwanto

Gagasan ”zaman keemasan” manufaktur telah menarik perhatian dalam diskusi politik dan ekonomi di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Kembalinya lapangan kerja di sektor manufaktur telah dibingkai sebagai simbol kebangkitan ekonomi AS dan digaungkan mulai dari janji kampanye hingga laporan lembaga riset.

Presiden Donald Trump pun menjanjikan akan memperkuat sektor manufaktur AS dan mengembalikan lapangan kerja ke AS. Untuk mencapai hal ini, salah satu kebijakan yang ditempuhnya adalah mengenakan tarif resiprokal pada puluhan negara di dunia pada April lalu. Di samping itu, Trump juga mengambil kebijakan dengan mengurangi regulasi, mengusulkan pemotongan pajak, hingga menghapus beberapa standar efisiensi energi.

Terkait tarif resiprokal, pada 7 Juli lalu, Trump telah mengirimkan surat resmi kepada 14 negara, di antaranya Malaysia, Kamboja, Bangladesh, hingga Indonesia, mengenai rencana pemberlakuan tarif impor. Bea masuk impor ke AS itu akan berlaku pada 1 Agustus 2025.

Untuk Indonesia, setelah negosiasi kembali dilakukan dengan AS, Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Selasa (15/7/2025) bahwa pemerintahnya telah mencapai kesepakatan perdagangan dengan Indonesia.

Lewat unggahannya di platform media sosial Truth Social miliknya, Trump menulis ”Kesepakatan hebat, untuk semua orang, baru saja dibuat dengan Indonesia. Saya berunding langsung dengan Presiden mereka yang sangat dihormati. DETAILNYA AKAN DILANJUTKAN!!!”

Lebih lanjut, Kantor Berita Reuters mengutip Trump pada Selasa (15/7/2025) waktu Washington DC atau Rabu (16/7/2025) waktu Jakarta menyebutkan, ”Indonesia akan membayar tarif 19 persen, dan kami tidak akan membayar apa-apa.”

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertepuk tangan saat tiba untuk berpidato dalam acara Salute to America Celebration di Iowa State Fairgrounds, Des Moines, Iowa, Kamis (3/7/2025). Tampak lambang bendera AS di belakangnya.

Trump mengatakan, Indonesia ”memberi AS akses”. Sebaliknya, produk Indonesia yang diekspor ke AS akan dikenai tarif sebesar 19 persen, satu persen lebih rendah dari produk asal Vietnam. Trump memberi penekanan saat mengumumkan tarif baru itu bahwa Indonesia adalah produsen penting komoditas tembaga dan sejumlah mineral lainnya.

Berbeda dengan pengumuman ”Hari Pembebasan” yang memicu reaksi keras di pasar saham dan obligasi pada April lalu, respons terhadap tarif Trump terbaru terhadap 14 negara mitra dagang tersebut secara mengejutkan relatif lebih tenang. Kebijakan Trump itu tampaknya tidak memberikan dampak signifikan terhadap pasar modal, termasuk Indonesia.

Terlepas dari reaksi pasar, Trump berpendapat bahwa kebijakan tarifnya yang luas pada akhirnya akan menghidupkan kembali industri manufaktur AS. Selain tidak hanya akan mengembalikan pekerjaan industri, kebijakan tersebut juga melindungi AS dari guncangan pasokan yang berbahaya seperti yang pernah terjadi selama pandemi Covid-19.

Bagaimana perkembangan manufaktur saat ini di AS dan perkembangannya dalam beberapa bulan terakhir jelang penerapan tarif Trump? Bisakah Trump mengembalikan lagi kejayaan manufaktur di Amerika Serikat?

Bagaimana perkembangan manufaktur Amerika Serikat saat ini?

Presiden Donald Trump telah mengumumkan investasi sebesar 14 miliar dollar AS pada 30 Mei lalu dalam upaya untuk merevitalisasi industri AS. Hal itu dilakukan untuk menengahi kemitraan antara US Steel dan Nippon Steel yang diperkirakan akan menciptakan 70.000 pekerjaan.

Pemerintahan Trump juga menyoroti investasi yang diumumkan oleh sejumlah industri, seperti produsen mobil, perusahaan teknologi, dan perusahaan coklat, sebagai bukti kembalinya manufaktur ke tanah AS.

Infografik-Porsi Nilai Tambah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat pada 2024 *** Local Caption *** Infografik-Porsi Nilai Tambah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat pada 2024

Menurut US Bureau of Economic Analysis (BEA), industri manufaktur AS menyumbang 2,9 triliun dollar AS bagi perekonomian pada kuartal I-2025. Angka tersebut meningkat 0,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Angka ini menempatkan manufaktur hanya di belakang keuangan, jasa profesional dan bisnis, serta pemerintahan sebagai sektor penyumbang terbesar bagi perekonomian AS. Sektor keuangan, asuransi, real estat, persewaan, dan sewa guna usaha masih memberikan sumbangan terbesar bagi PDB hingga 21 persen pada tahun lalu. Selanjutnya, diikuti nilai tambah jasa profesional dan bisnis sebesar 13 persen dan pemerintahan sebesar 11 persen.

Sektor manufaktur menyumbang lebih dari 25 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 1970-an, tetapi turun menjadi 13 persen pada tahun 2005. Sejak saat itu, porsinya terus turun, menjadi sekitar 9,7 persen pada tahun 2024.

Namun, di sisi lain, terdapat tanda-tanda pelemahan terhadap sektor manufaktur secara umum. Salah satunya tampak dari indikator utama kondisi sektor ini, Purchasing Managers Index (PMI), yang menunjukkan tren negatif. PMI adalah indeks yang mengukur aktivitas ekonomi di sektor manufaktur, di mana angka di atas 50 menandakan ekspansi (kenaikan) dan di bawah 50 menunjukkan kontraksi (penurunan).

Pada awal tahun 2025, PMI AS berada dalam wilayah ekspansi 50,9 persen pada Januari dan 50,3 persen pada Februari. Mulai Maret 2025, PMI AS mulai turun di bawah poin 50. Kondisi ini bertahan setidaknya hingga Juni 2025, di mana besaran PMI-nya secara berturut-turut tak lebih dari angka 50. Pada Juni 2025, PMI AS tercatat sebesar 49 persen. Kondisi ini menandai kontraksi selama empat bulan berturut-turut, setelah sempat berada di zona ekspansi pada awal tahun 2025.

Infografik-Pertumbuhan Produksi Manufaktur Amerika Serikat *** Local Caption *** Infografik-Pertumbuhan Produksi Manufaktur Amerika Serikat

Ada sembilan industri manufaktur dilaporkan tumbuh pada Juni 2025, sedangkan enam industri dilaporkan mengalami kontraksi. Menurut kantor berita Reuters, para ekonom mengatakan kurangnya kejelasan tentang apa yang terjadi setelah 9 Juli telah membuat bisnis tidak dapat membuat rencana jangka panjang.

Menurut laporan Al Jazeera, ketidakpastian mengenai kebijakan tarif ini disebut telah membuat banyak perusahaan menahan diri untuk membuat rencana jangka panjang. Hal ini menunjukkan gambaran yang kontras. Di satu sisi industri manufaktur AS adalah sebuah kekuatan besar secara global. Namun, di sisi lain, data terbaru menunjukkan adanya tren perlambatan dan tantangan internal. Kebijakan tarif baru ini datang di saat yang sangat krusial bagi sektor tersebut.

Berapa banyak orang yang dipekerjakan di sektor manufaktur Amerika Serikat?

Manufaktur AS saat ini hanya menyumbang sekitar 7,9 persen dari total lapangan kerja di AS. Penelitian menemukan jika seluruh defisit perdagangan manufaktur AS dihapuskan, pangsa lapangan kerja manufaktur dalam perekonomian AS hanya akan meningkat sekitar 1,7 poin persentase menjadi hanya 9,7 persen seperti dikutip dari CNN.

Pekerjaan di bidang manufaktur telah menyusut selama beberapa dekade di AS karena ekonomi beralih dari pabrik ke jasa termasuk teknologi dan keuangan. Sekitar 95 persen pertumbuhan pekerjaan AS sejak tahun 1950-an terjadi di sektor jasa.

Infografik-Pekerja Manufaktur di Amerika Serikat *** Local Caption *** Infografik-Pekerja Manufaktur di Amerika Serikat

Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), lapangan kerja di sektor manufaktur mencapai puncaknya di AS pada tahun 1979 dengan serapan pekerja sebanyak 19,5 juta orang. Angka tersebut anjlok menjadi 11,4 juta pada April 2020 selama pandemi dan pulih ke level sebelum Covid pada tahun 2022. Namun, sejak saat itu, lapangan kerja di sektor manufaktur telah menurun.

Pada Juni 2025, terdapat peningkatan jumlah pekerja manufaktur hingga menjadi kisaran 12,75 juta orang. Jumlah ini telah meningkat dibandingkan lima tahun lalu, yakni pada Juni 2020, di mana terdapat sekitar 11,95 juta orang yang bekerja di sektor bersangkutan. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran di pasar tenaga kerja selama beberapa dekade terakhir.

Bagaimana manufaktur Amerika Serikat dibandingkan negara-negara lain di dunia?

Industri manufaktur menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi di AS. Industri ini menyumbang hampir 10 persen terhadap PDB nasional. Sementara di tingkat global, Amerika Serikat berkontribusi sebesar 2,4 triliun dollar AS atau 16,8 persen dari nilai tambah manufaktur dunia.

Kendati mengalami penurunan dalam pangsa manufaktur global, AS tetap menjadi pemain utama dan menambah nilai produksi lebih banyak daripada gabungan negara urutan ketiga, keempat, kelima, dan keenam terbesar dunia. Hal itu dilakukan dengan jumlah pekerja yang jauh lebih sedikit daripada pesaingnya.

Produsen terbesar manufaktur global masih dipegang oleh China. Sebagai negara dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, China menempati posisi puncak sebagai produsen manufaktur global. Negara ini menyumbang 4,9 triliun dollar AS atau 28,7 persen dari total output manufaktur dunia.

(FILES) The photo taken on January 10, 2024 shows electric cars for export waiting to be loaded on the "BYD Explorer NO.1", a domestically manufactured vessel intended to export Chinese automobiles, at Yantai port, in eastern China's Shandong province. The European Union said this week it would slap additional tariffs of up to 38 percent on Chinese electric car imports from next month after an anti-subsidy probe. (Photo by AFP) / China OUT

Dengan ongkos industri yang rendah, tenaga kerja yang melimpah, serta kualitas produksi yang kuat, China unggul sekitar 10 persen dibandingkan AS. Kombinasi ekonomi, kewirausahaan, dan lokasi strategis menjadikan China sebagai lokasi ideal untuk bisnis industri.

Peringkat ketiga manufaktur dunia diduduki oleh Jepang. Kontribusi negara ini sebesar 1 triliun dollar AS atau 7,5 persen terhadap output manufaktur global. Industri ekspor utamanya mencakup elektronik konsumen, otomotif, komputer, logam (besi, baja, tembaga), dan semikonduktor.

Kemudian disusul Jerman di urutan keempat dan India masuk lima besar manufaktur terbesar dunia. Sebagai tulang punggung manufaktur Eropa, Jerman menyumbang 751 miliar dollar AS atau 5,3 persen dari total nilai tambah manufaktur global. Industri barang konsumsi dan bisnis yang kuat membuat Jerman bertahan sebagai salah satu produsen manufaktur teratas dunia.

Sementara itu, India dengan populasi lebih dari 1,3 miliar jiwa, negara ini memiliki potensi besar di sektor manufaktur. Kontribusinya mencapai 450 miliar dollar AS atau 3,1 persen terhadap output manufaktur global. Tenaga kerja yang melimpah dan sumber daya alam menjadi keunggulan utama India di sektor ini.

Seperti apa perkembangan manufaktur AS jelang penerapan tarif Trump?

Kendati butuh waktu untuk mengukur dampaknya, hasil awal menunjukkan bahwa tarif resiprokal Trump tidak hanya gagal mendorong lonjakan perekrutan tenaga kerja, tetapi justru cenderung mempersulit para pelaku bisnis. Para ekonom dan peneliti perdagangan mengatakan sifat perang dagang yang tidak menentu memperburuk tekanan jangka panjang pada manufaktur AS.

Meskipun Trump menaikkan tarif ke tingkat yang belum pernah terjadi dalam hampir satu abad terakhir, menurut data federal sektor manufaktur kehilangan sekitar 15.000 lapangan kerja secara gabungan pada Mei dan Juni lalu. Secara keseluruhan, lapangan kerja di sektor manufaktur tidak banyak berubah sejak Trump menjabat pada Januari 2025.

Seamstresses from the Garment Worker Center sew lingerie in the back room of Cantiq, a boutique in Los Angeles, California, on April 18, 2025. Trump acknowledges that his tariffs will cause Americans some pain initially, but believes that in the long run they will help bring industrial production back to the United States.
But for the Cantiq brand, which makes lingerie in Los Angeles from fabrics often sourced from Asia, the additional tariffs mean higher production costs and potential layoffs. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)

Data terakhir dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan tingkat ketenagakerjaan di sektor manufaktur AS menurun sebesar 7.000 pada Juni 2025. Penurunan ini menyusul hilangnya 8.000 lapangan kerja pada Mei dan 1.000 lapangan kerja pada April kemarin.

Selain itu, survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja terbaru menemukan bahwa posisi yang belum terisi di sektor manufaktur AS meningkat menjadi 416.000 posisi pada Mei. Jumlah ini bertambah dari Maret sebelumnya yang berkisar 381.000 posisi.

Alih-alih menambah perekrutan pekerja, perang dagang yang dilancarkan Presiden Trump justru bisa menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian di kalangan pelaku bisnis. Sebab, para pemimpin perusahaan membutuhkan kejelasan tentang di mana tarif akan berlaku dalam jangka panjang. Namun, di bawah Trump, bahkan tidak jelas di mana tarif akan berlaku pada akhirnya.

Para ekonom dan pakar industri memperingatkan bahwa perubahan besar yang dilakukan Trump terhadap ekonomi dan negara mungkin akan berdampak sebaliknya. Kondisi ini berpotensi menempatkan AS pada posisi yang kurang kompetitif di panggung global.

Salah satunya dilontarkan oleh Robert Atkinson, Presiden Yayasan Teknologi Informasi dan Inovasi, seperti dikutip dari The New York Times (9/7/2025). Menurutnya, tarif dapat meningkatkan daya saing nasional, tetapi juga mengandung risiko.

Tarif dapat memagari pasar AS, sedangkan negara-negara lain berdagang bebas satu sama lain. Tarif juga dapat menaikkan harga barang yang perlu diimpor perusahaan-perusahaan AS untuk memproduksi produk mereka.

Selain itu, tarif juga memaksa mereka untuk menanggung biaya yang lebih tinggi, yang mungkin tidak dihadapi oleh pesaing asing mereka. Hal ini dapat merugikan industri inti, seperti otomotif, kedirgantaraan, dan instrumen ilmiah, katanya.

Infografik-Tarif Baru Trump terhadap 14 Negara (7 Juli 2025) *** Local Caption *** Infografik-Tarif Baru Trump terhadap 14 Negara (7 Juli 2025)

Sementara itu, Erin McLaughlin, ekonom senior di Conference Board, sebuah kelompok riset bisnis nirlaba, seperti dikutip dari USA Today (30/6/2025), menyatakan, meskipun tarif yang ditargetkan dapat membantu industri tertentu tetap kompetitif atau membantu keamanan nasional, tarif menyeluruh untuk meratakan defisit perdagangan di setiap negara bukanlah resep untuk pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Di luar ketidakpastian kebijakan perdagangan, lapangan kerja di sektor manufaktur telah dibatasi oleh maraknya robot dan otomatisasi serta tersedianya tenaga kerja yang jauh lebih murah di luar negeri. Banyak pabrik kesulitan mencari pekerja yang memiliki keterampilan dan keinginan untuk bekerja di lokasi manufaktur yang sering kali berlokasi jauh dari pusat populasi besar.

Jajak pendapat CNN pada April lalu menemukan bahwa 73 persen orang AS justru lebih menyukai pekerjaan di kantor daripada pekerjaan dengan gaji yang sama di bidang manufaktur.

Membangun kembali basis manufaktur di AS tampaknya tidak akan mudah dan menjadi tantangan tersendiri. Sebab, AS saat ini kekurangan banyak elemen penting dari kerangka kerja manufaktur yang kuat, termasuk tenaga kerja terampil, dukungan pemerintah, dan teknologi. (Litbang Kompas)


Kerabat Kerja

Penulis:

Antonius Purwanto
 | 

Editor:

Budiawan Sidik A
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto