Anak-anak Gaza Jadi Korban Musim Dingin dan Mara Bahaya di Pengungsian

Anak-anak Gaza tewas akibat cuaca buruk dan tertimpa puing. Kondisi kemah pengungsian mereka sudah sangat tidak layak.

02 Jan 2026 14:00 WIB · Internasional

AP/Abdel Kareem Hana

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

JALUR GAZA, JUMAT — Ata Mai (7), seorang anak laki-laki di Jalur Gaza, Palestina, tewas akibat tenggelam di banjir lumpur yang melanda perkemahannya. Kondisi tempat tinggal warga Gaza yang kini berada di antara puing-puing bangunan sangat tidak layak dan malah mengundang banyak bahaya.

Dalam video yang disiarkan oleh Al Jazeera, Jumat (2/1/2026), regu penyelamat berusaha mengevakuasi jasad Mai dari dalam genangan lumpur yang pekat. Hanya kakinya yang mencuat dari genangan itu.

TOPSHOT - A displaced Palestinian girl looks on as she stands amid tents and makeshift shelters in the Bureij refugee camp in the central Gaza Strip as the region experiences cold winter conditions on December 29, 2025. Beginning in October, a fragile ceasefire has so far halted two years of war between Israel and Hamas in the Gaza Strip despite both sides trading accusations of truce violations. (Photo by Eyad Baba / AFP)

Mai tinggal di area perkemahan pengungsi yang terdiri dari 40 tenda. Musim dingin mendatangkan hujan lebat. Karena perkemahan itu berada di sekitar puing-puing bangunan yang hancur akibat pemboman Israel, hujan juga mengakibatkan banyak lumpur.

Pada 29 Desember 2025, CNN melaporkan, tiga orang tewas akibat puing-puing ini, termasuk seorang anak berumur 7 tahun. Dinginnya udara dan curah hujan membuat warga mencari perlindungan di antara puing-puing. Ketiga korban tewas ditimpa puing karena mereka mengungsi di titik yang rawan secara struktural.

Puing-puing itu semakin berbahaya di musim dingin. Menurut para insinyur sipil, udara dingin, terutama jika disertai hujan, angin, dan lumpur, membuat puing sangat rawan runtuh. Padahal, banyak warga yang tinggal di antara puing karena memang sulit mencari lokasi yang layak untuk membangun tenda.

Warga Gaza mengatakan, berlindung di puing adalah pilihan bertahan hidup selama musim dingin. Jika tetap tinggal di area perkemahan terbuka, tendanya bakal terbang ditiup angin kencang. Ketika hujan, lantai tenda juga pasti basah, bahkan tergenang air dingin.

Biro Media Pemerintah Gaza (GMO) yang dikelola oleh Hamas mengatakan, sepanjang musim dingin 2025 sudah 49 puing gedung yang runtuh akibat cuaca buruk. Korban tewas secara keseluruhan ada 20 orang. 

FILE - Sahar Taroush speaks with her brother after returning to her collapsed home in Jabaliya, Gaza City, Nov. 11, 2025, following the latest ceasefire. Her children are Ammar, far left, Hassan sitting with with his 2-year-old sister Ahlam, and Bisan, right. (AP Photo/Jehad Alshrafi, File)

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (Unicef) melaporkan, termasuk Mai, sudah enam anak yang tewas akibat cuaca buruk. Dua anak meninggal akibat lumpur dan tertimpa puing, empat anak meninggal akibat kedinginan.

”Setiap musim dingin, warga Gaza yang sudah kehilangan tempat tinggal kian menderita. Apalagi, sudah dua kali mereka mengalami musim dingin yang berisiko,” cuit Philippe Lazzarini, pemimpin UNRWA, badan PBB yang menangani pengungsi Palestina di X. UNRWA dilarang beroperasi di Gaza oleh Pemerintah Israel

Gencatan senjata

Berdasarkan kesepakatan hitam di atas putih, Israel dan Hamas semestinya berada pada fase 12 pekan gencatan senjata. Namun, Israel tercatat setidaknya 900 kali melanggar perjanjian. Mereka masih melakukan serangan di titik-titik tertentu di Gaza.

Pada saat yang sama, beberapa kelompok militan juga membalas serangan Israel. Kontak senjata paling sering terjadi di Garis Kuning, yaitu daerah perbatasan zona demilitarisasi dengan yang diduduki pasukan Israel.

Youssef Shandaghi (9) pada Jumat (2/1/2026) dilaporkan tewas tidak jauh dari Garis Kuning. Laporan mengenai penyebab kematiannya masih simpang siur. Dokter yang menangani jenazah Shandaghi mengatakan, anak itu tewas akibat tembakan. 

Paman Shandgahi mengatakan, keponakannya tewas ketika bermain di antara puing dan tidak sengaja menginjak bom Israel yang ternyata ada di sana. Militer Israel ketika diminta konfirmasi mengatakan, mereka tidak mengetahui peristiwa itu.

Militer Israel mengakui, mereka setiap hari melepas tembakan di Garis Kuning. Dalihnya, itu merupakan ialah tembakan peringatan kepada orang-orang yang mendekat. Mereka juga menembaki orang-orang yang dianggap ”mencurigakan” di sekitar Garis Kuning.

Merobohkan bangunan

Sejak September 2025, Israel merobohkan gedung-gedung bertingkat di Gaza. Alasannya supaya tidak dipakai Hamas sebagai markas ataupun tempat pengintaian. Menurut UNRWA, 83 persen gedung dan rumah di Gaza sudah hancur atau rusak berat.

Guru Besar Teknik Material Universitas Teknologi Auckland John Tookey dalam esainya di The Conversation menjelaskan, kondisi Gaza serupa dengan daerah yang dilanda bencana badai kategori 5. Upaya pembangunan Gaza harus dimulai dari pembenahan aset terkubur. Ini adalah saluran air, pipa gas, kabel listrik, dan saluran pembuangan.

Palestinians stand next to a tent set up on the rubble of buildings destroyed during Israeli air and ground operations in the Sheikh Radwan neighborhood, in Gaza City, Tuesday, Dec. 30, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

”Tanpa penyegeraan pembenahan saluran air dan pembuangan, wabah tifus dan disentri pasti akan merebak,” tuturnya.

Mencari dan menjinakkan aneka peledak yang tersebar di Gaza adalah tugas berikutnya. Selama masih ada peledak yang tercecer atau tertimbun puing, tidak ada yang aman di Gaza.

Setelah itu, mau tidak mau seluruh Gaza harus diratakan dengan tanah. Tookey menjelaskan, tidak ada puing di Gaza yang aman dan bisa dibangun kembali. Semua puing harus dihancurkan dan dibuang supaya infrastruktur baru bisa dibangun mulai dari nol.

Membangun infrastruktur ini akan memerlukan waktu bertahun-tahun. Kota Stalingrad (sekarang Volgograd) di Rusia butuh waktu 20 tahun untuk menyelesaikan pembangunan pasca-Perang Dunia II. Kota Warsawa di Polandia setelah Perang Dunia II baru selesai dibangun pada tahun 1980-an.

Harian Jerusalem Post edisi Kamis (1/1/2026) melaporkan, Amerika Serikat memimpin koalisi pembangunan Gaza. Lembaga ini bernama Pusat Koordinasi Sipil-Militer (CMCC). Mereka yang merencanakan pembangunan di Gaza dan penurunan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF).

CMCC akan mengatur setidaknya 28 negara yang terlibat dalam pembangunan Gaza. Turki dan Qatar tidak termasuk dalam 28 negara ini karena AS menganggap mereka dekat dengan Hamas. Mereka tetap bisa turut berkoordinasi, tetapi pada taraf tertentu.

Rencana awal CMCC ialah berkoordinasi dengan militer Israel untuk mengosongkan semua terowongan Hamas. Setelah itu, Uni Emirat Arab bisa mulai membangun hunian sementara untuk warga Gaza. Perkiraannya, pembangunan itu memakan waktu enam bulan jika kondisi ideal.

Daerah hunian ini akan diawasi oleh Shin Bet, lembaga keamanan Israel. Warga Gaza yang tinggal di sana, menurut mereka, harus dijamin lepas dari kekuasaan Hamas. Warga Gaza yang memiliki hubungan dengan Hamas tidak diizinkan masuk ke daerah hunian.

Palestinians walk along a street surrounded by buildings destroyed during Israeli air and ground operations in the Sheikh Radwan neighborhood, in Gaza City, Tuesday, Dec. 30, 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Meskipun CMCC dikoordinasi oleh AS, Israel memiliki hak veto. Sistem koordinasi ini terlihat dari gedung kantor CMCC yang terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar hanya untuk pejabat Israel, termasuk untuk pekerjaan yang bersifat rahasia. 

Lantai paling atas khusus untuk para pejabat AS. Di lantai tengah adalah kantor untuk perwira militer dari 28 negara dan lembaga swadaya masyarakat. Semua rapat koordinasi dilakukan di lantai ini.

CMCC sekarang mengendalikan jumlah truk bantuan yang masuk ke Gaza. Per 1 Januari 2026, Israel melarang 37 lembaga kemanusiaan masuk ke Gaza, termasuk Dokter Lintas Batas dan Oxfam. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan