Ganda putra menjadi nomor paling berprestasi dan favorit bagi bulu tangkis Indonesia. Namun, pamornya kian tenggelam.
07 Feb 2025 14:13 WIB · Olahraga
Saat era ”The Daddies” dan ”Minions” berakhir, sementara Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto mulai kesulitan bersaing di antara pemain muda, ganda putra Indonesia menanti kekuatan baru. Tanpa terobosan yang berarti dari PP PBSI, sektor yang menjadi primadona Indonesia dalam tiga dekade terakhir ini bisa semakin tertinggal dari negara lain.
Ketertinggalan ganda putra sebenarnya menjadi bagian dari merosotnya bulu tangkis Indonesia secara umum, terutama sejak 2023. Skuad ”Merah Putih”, yang biasanya hanya tertinggal dari China dan Jepang dalam jumlah juara turnamen BWF Tour per tahunnya, disalip lebih banyak negara.
Pada 2023, Indonesia dengan 13 gelar tertinggal dari China (47 gelar), Korea Selatan (25), dan Jepang (20). Pada tahun berikutnya, selain dari tiga negara tersebut, Denmark dan Thailand lebih unggul dari Fajar dan kawan-kawan.
Kemunduran berdasarkan statistik gelar juara juga terlihat pada sektor ganda putra dalam persaingan BWF World Tour yang terdiri dari turnamen Super 300, 500, 750, 1000, dan Final BWF. Dari ajang Super 300 hingga 1000, yang bersifat terbuka, ganda putra Indonesia tak lagi menjadi yang teratas dalam koleksi gelar juara.
Pada 2023, kekuatan ganda putra Indonesia setara dengan Malaysia, Korea Selatan, dan Denmark yang berada di bawah China. Adapun pada 2024, Malaysia mulai bisa mengimbangi Indonesia.
Padahal, pada dua tahun pertama ketika BWF menggunakan sistem turnamen BWF World Tour, 2018 dan 2019, ganda putra Indonesia begitu dominan dengan jumlah gelar juara empat kali lipat dari negara kuat lainnya. Pada akhir 2019, tiga pasangan, yaitu Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, dan Fajar/Rian, bahkan, menempati peringkat teratas, kedua, dan kelima dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/07/be4c3188-cdf1-434a-85fd-cd3c7da8f270_png.png)
Turunnya kekuatan ganda putra ini cukup mengenaskan mengingat sektor ini menjadi kekuatan utama ”Merah Putih”, setidaknya dalam tiga dekade terakhir. Setelah Christian Hadinata/Ade Chandra, Tjun Tjun/Johan Wahjudi, dan Rudy Heryanto/Hariamanto Kartono membuat ganda putra Indonesia sepuluh kali menjuarai All England pada rentang 1972-1984 (enam kali melalui all Indonesian finals), pamor nomor ini melejit pada era 1990-an.
Christian, yang berada di balik sukses ganda putra Indonesia pada masa 1990-an, pernah bercerita, banyak atlet muda ingin menjadi pemain ganda putra ketika melihat Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky menjadi juara All England, juara dunia, dan meraih emas Olimpiade Atlanta 1996. Kejayaan mereka diteruskan empat pemain yang bisa menjadi juara, siapa pun pasangannya di antara mereka. Keempat pemain itu adalah Candra Wijaya, Sigit Budiarto, Tony Gunawan, dan Halim Haryanto.
Hendra/Ahsan, bahkan, mencapai puncak performa dua kali berkat komitmen, disiplin, dan kerja keras. Setelah meraih enam gelar juara, termasuk juara dunia pada 2013 (hanya setahun setelah dipasangkan), lalu berpisah pada 2017, performa mereka naik lagi pada 2019. Pasangan berjulukan ”The Daddies” ini 11 kali mencapai final pada semua level turnamen BWF World Tour. Tiga gelar diraih dari ajang besar, yaitu dari All England, Kejuaraan Dunia, dan Final BWF. Mereka mencapai itu saat Hendra berusia 35 tahun dan Ahsan 32 tahun.
Hendra, bahkan, pernah menjadi ganda putra terbaik dunia ketika berduet bersama Markis Kido. Mereka menjadi juara dunia 2007 dan meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/07/a2e54211-bf87-4c98-b5d5-3156b3723cfa_png.png)
Selain memiliki komitmen dan bertanggung jawab atas pilihan hidup menjadi atlet, Hendra/Ahsan bisa bertahan pada persaingan elite ganda putra berkat kemampuan beradaptasi dengan kondisi mereka dan lawan. Saat usia membuat para ayah tiga anak itu tak mampu bersaing dengan anak-anak muda yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan, Hendra/Ahsan mengatasinya dengan ritme main yang lebih lambat, tetapi lebih akurat dalam mengarahkan pukulan.
Karakter permainan itu membawa mereka lolos ke Olimpiade Tokyo 2020, yang mundur setahun karena pandemi Covid-19, mendampingi Kevin/Marcus dan menyalip Fajar/Rian. Padahal, performa Fajar/Rian pada masa perebutan poin menuju Tokyo 2020 cukup konsisten, hingga bisa menempati peringkat keenam pada akhir kualifikasi Olimpiade. Namun, karena peraturan BWF membatasi maksimal dua wakil per nomor dari setiap negara, Kevin/Marcus dan Hendra/Ahsan yang akhirnya mewakili Indonesia karena memiliki peringkat lebih baik.
Saat mencapai puncak kejayaan kedua pada 2019, Hendra/Ahsan hanya kalah bersaing dari Kevin/Marcus. Mereka menciptakan final sesama Indonesia pada lima turnamen yang selalu dimenangi Kevin/Marcus.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/07/1960d5f0-06a2-4cd5-ad84-93d5c23ac97f_jpg.jpg)
Pasangan yang berduet sejak 2015 itu menggebrak persaingan dunia melalui permainan yang sangat cepat dan atraktif. Dominasi Kevin/Marcus diperlihatkan melalui 29 gelar juara turnamen BWF Super Series/Premier dan BWF World Tour pada 2016-2021. ”Minions” berada di puncak peringkat dunia selama 272 pekan atau sekitar lima tahun.
Performa Kevin/Marcus mulai turun sejak 2022 karena cedera kaki yang dialami Marcus hingga harus menjalani dua kali operasi. Mereka hanya menjalani tujuh turnamen pada 2022 dan enam turnamen pada tahun berikutnya. Turnamen Singapura Terbuka, pada Juni 2023, akhirnya menjadi turnamen terakhir mereka bersama sebelum benar-benar absen dari kompetisi sejak 2024.
Hendra/Ahsan semula mencoba kembali bersaing untuk menuju Olimpiade Paris 2024, tetapi peluang semakin tipis seusai musim kompetisi 2023. Ganda putra pun diwakili Fajar/Rian yang menjalani debut Olimpiade saat Fajar telah berusia 29 tahun dan Rian 28 tahun. Akan tetapi, mereka tak bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan tersingkir pada perempat final di Paris 2024 setelah kalah dari pemain muda China, Liang Wei Keng/Wang Chang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/26/00953c18-dd6a-4a26-b2b4-0745bcb6c7d8_jpg.jpg)
Sejak bulu tangkis menjadi bagian dari cabang Olimpiade, di Barcelona 1992, Indonesia menjadi negara terbaik di ganda putra dengan perolehan tiga emas, satu perak, dan dua perunggu, sementara empat nomor lain dikuasai China.
Namun, meski Indonesia konsisten melahirkan ganda putra yang bisa menjuarai berbagai ajang besar BWF, medali dari Olimpiade tak juga diraih sejak emas dari Beijing 2008. Padahal, emas dari ajang multicabang yang diikuti negara-negara sedunia ini menjadi kasta tertinggi dalam penilaian prestasi. Pada 2008, Kido/Hendra meneruskan prestasi Candra/Tony yang meraih emas di Sydney 2000 dan Ricky/Rexy di Atlanta 1996.
Empat Olimpiade berlalu setelah Beijing 2008, ganda putra Indonesia tertinggal dari negara lain karena pulang tanpa medali. Pemain China meraih emas di London 2012 dan Rio de Janeiro 2016, diikuti Lee Yang/Wang Chi Lin (Taiwan) yang mendapat emas Tokyo 2020 dan mempertahankannya di Paris 2024. Malaysia, juga, mendapat medali dalam tiga Olimpiade terakhir meski atletnya belum berdiri di podium tertinggi.
Setelah Paris 2024, seperti saat selesai Olimpiade lainnya, menjadi momen bagi setiap negara untuk bersiap kembali menuju empat tahun berikutnya. Periode awal setelah Olimpiade biasanya diwarnai pensiunnya atlet senior atau mereka yang pada akhirnya berhasil mewujudkan cita-cita sebagai Olimpian peraih emas.
Di antara mereka yang berpamitan dari lapangan kompetisi adalah Hendra/Ahsan yang menjalani turnamen terakhir di Indonesia Masters, Januari 2025. Setahun sebelumnya, Marcus berpamitan dari turnamen internasional pada Maret, diikuti Kevin, dua bulan kemudian.
Tanpa ”The Daddies” dan ”Minions”, Fajar/Rian menjadi ganda putra paling senior, baik dalam turnamen maupun dalam latihan sehari-hari di pelatnas, Cipayung, Jakarta. Setelah Paris 2024, mereka mengatakan masih punya komitmen bermain bersama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/06/11/5c7f6c07-8d9a-40d0-9485-752b4874f9b4_jpg.jpg)
Namun, jika ingin memiliki karier lebih panjang, seperti lolos ke Olimpiade Los Angeles 2028, butuh komitmen, disiplin, dan tanggung jawab yang lebih tinggi dari Fajar/Rian. Apalagi, Hendra/Ahsan yang bertahan di level atas dalam waktu lama dan pensiun pada usia 40 dan 37 tahun akan menjadi patokan.
Dengan usia yang akan menginjak 30 dan 29 tahun pada 2025, Fajar/Rian menjadi salah satu yang paling senior selain pasangan Denmark, Kim Astrup (32)/Anders Skaarup Rasmussen (35). Pesaing lain, terutama pada peringkat 20 besar dunia, pada umumnya berada pada rentang usia 24-28 tahun.
Becermin dari usia dan performa naik-turun Fajar/Rian dalam dua tahun terakhir, muncul suara untuk memisahkan pasangan yang berduet sejak 2014 itu. Pemisahan tersebut bukan dengan target menaikkan kembali kemampuan masing-masing, melainkan untuk membantu mengangkat pemain muda yang dipasangkan dengan mereka.
Cara seperti ini lumrah terjadi, seperti yang dilakukan ketika Greysia Polii dipasangkan dengan Apriyani Rahayu. Mereka, bahkan, bisa mencapai puncak prestasi ketika meraih emas ganda putri Tokyo 2020.
Tak setiap duet senior-yunior bisa menjadi seperti Greysia/Apriyani atau ganda campuran China, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping, yang 12 kali menjuarai turnamen BWF pada 2022-2024 dan menjadi pemain nomor satu dunia. Akan tetapi, cara ini bisa menjadi salah satu pilihan ketika duet dua pemain senior dinilai sulit untuk bertahan dan pada saat yang sama, pemain muda membutuhkan percepatan prestasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/06/12/e93962b1-4399-4585-aa3d-8d49d009881c_jpg.jpg)
Apalagi, awal masa kerja PP PBSI 2024-2028 bisa digunakan pelatih ganda untuk membongkar-pasang pemain demi mencari komposisi terbaik. Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PBSI Eng Hian menjelaskan, pelatih dibebaskan untuk menguji coba berbagai pasangan pada 2025. ”Memasuki 2026, diharapkan sudah ada pasangan permanen agar bisa mengejar poin dan peringkat untuk kualifikasi Olimpiade 2028,” kata Eng Hian.
Selain Fajar/Rian, ganda putra pelatnas utama memiliki Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin, dan Rahmat Hidayat/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan.
Leo/Bagas dan Fikri/Daniel merupakan hasil tukar pasangan sejak Agustus 2024 ketika performa formasi sebelumnya, Leo/Daniel dan Fikri/Bagas, stagnan meski pernah menjuarai BWF World Tour. Mereka memulai lagi dari nol untuk mengumpulkan poin guna menaikkan peringkat.
Dalam rentang lima bulan berpasangan, hasil terbaik Leo/Bagas adalah saat mencapai semifinal Jepang Terbuka Super 750 dan menjadi juara Korea Terbuka Super 500 pada 2024. Fikri/Daniel belum menjadi juara, tetapi mereka menembus semifinal China Terbuka Super 1000 pada 2024 dan menjadi finalis Thailand Masters Super 300, tahun ini.
Sementara, Rahmat/Yeremia, yang berduet sejak awal 2024, baru bisa menjuarai turnamen level international challenge dan Super 100. Adapun di bawah mereka adalah delapan pemain yang tergabung dalam pelatnas pratama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/31/c3f2e174120efaeadc69b08bd42913a0-LeoBagas4_QF_ThailandMasters2025_PBSI_20250131.jpg)
Persaingan saat ini sulit ditebak. Siapa pun bisa juara. Jadi, atlet harus lebih bekerja keras, disiplin, dan punya komitmen.
Dengan peta persaingan yang merata saat ini dan target utama meraih medali Olimpiade LA 2028, PBSI harus memaksimalkan materi di pelatnas. Seandainya rombak pasangan tak menjadi pilihan, upaya yang harus dilakukan adalah menjaga dan meningkatkan kemampuan pasangan yang ada, setidaknya, untuk tiga tahun ke depan.
Ini pun bukan hal yang mudah, salah satunya jika melihat perjalanan Leo, Daniel, Fikri, dan Bagas yang tak bisa lolos ke Paris 2024. Apalagi, ganda putra Indonesia bisa dikatakan kalah start meski hampir setiap negara menata ulang kekuatan untuk LA 2028.
China punya Liang Wei Keng/Wang Chang—seangkatan Leo dan Daniel—yang sudah bisa meraih perak Paris 2024. Dengan usia 24 tahun, Liang/Wang masih bisa dipertahankan untuk LA 2028.
China juga memiliki Chen Bo Yang/Liu Yi (24 dan 21 tahun) yang menjadi finalis Malaysia Terbuka pada awal 2025. Dalam persaingan BWF World Tour 2018-2024, China, bahkan, memiliki juara ganda putra dengan formasi terbanyak, yaitu 11 pasangan.
Ganda putra Korea Selatan juga bisa juara dengan formasi berbeda, apalagi dengan keberadaan pemain serba bisa, Seo Seung-jae. Dari empat turnamen yang telah berlangsung pada 2025, Korea Selatan meraih dua gelar dari Seo yang berpasangan dengan pemain berbeda, yaitu bersama Kim Won-ho di Malaysia Terbuka dan bersama Jin Yong di Thailand Masters.
Selain Korea Selatan, gelar juara ganda putra dari dua turnamen lain menjadi milik Malaysia, yaitu Goh Sze Fei/Nur Izuddin di India Terbuka dan Man Wei Chong/Tee Kai Wun di Indonesia Masters. Malaysia pun memiliki tambahan kekuatan di level atas selain peraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020 dan Paris 2024, Aaron Chia dan Soh Wooi Yik. Saat ini, Malaysia memiliki empat ganda putra di peringkat 20 besar dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/20/10f8f0ba-603c-4ce7-9a7f-eb916524dd95_jpg.jpg)
Potensi itulah yang membuat Herry Iman Pierngadi menerima tawaran Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia untuk melatih timnas ganda putra negara tersebut setelah tak dipilih PBSI untuk menjadi pelatih di Cipayung. Herry sebenarnya menerima tawaran lain, yaitu dari Thailand, tetapi, dia memilih Malaysia karena menjadi negara pertama yang mengajukan tawaran.
“Potensi pemain-pemain mudanya juga bagus. Itu yang membuat saya tertarik ke Malaysia,” kata Herry yang untuk pertama kalinya menjadi pelatih di luar negara sendiri.
Keberadaan Herry di Malaysia menambah ancaman bagi ganda putra Indonesia. Pemahamannya tentang bulu tangkis Indonesia bisa dimanfaatkan untuk mengangkat prestasi ganda putra Malaysia ke level lebih tinggi dan hal ini wajar dilakukan sebaga bentuk profesionalitas pelatih, dimana pun dia bekerja. Target pertama Herry adalah mengantarkan pemain Malaysia menjuarai All England, prestasi yang tak pernah diraih negara tersebut sejak Koo Kien Keat/Tan Boon Heong juara pada 2007.
Fajar, usai kalah pada final Indonesia Masters, menilai, cara main yang bisa dikembangkan Herry akan cocok untuk beberapa pasangan Malaysia. Ini harus meningkatkan kewaspadaan skuad ganda putra pelatnas Indonesia yang dipimpin Antonius Budi Ariantho, peraih perunggu ganda putra Olimpiade Atlanta 1996 bersama Denny Kantono.
Materi pemain Indonesia dan persaingan ganda putra saat ini membuat Hendra/Ahsan mengingatkan para penerus mereka. Dengan persaingan terbuka, yang membuat turnamen bisa dijuarai atlet berbeda, setiap atlet tak boleh lengah. “Persaingan saat ini sulit ditebak. Siapa pun bisa juara. Jadi, atlet harus lebih bekerja keras, disiplin, dan punya komitmen,” kata Ahsan.
Komitmen, disiplin, dan kerja keras, seperti yang disebutkan Ahsan, bisa menjadi kunci untuk bangkitnya kembali ganda putra Indonesia agar yang disampaikan Fajar tak menjadi harapan tanpa terwujud, yaitu bahwa ganda putra Indonesia harus lebih baik dari negara lain.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Wisnu Aji Dewabrata