Menjalin hubungan kerja sama dengan Amerika Serikat dan China sangat penting guna mendapatkan dukungan bagi kemajuan sebuah negara.
28 Des 2024 18:15 WIB · ekonomi
Dalam konteks kemajuan ekonomi dunia, peranan Amerika Serikat dan China sangatlah vital. Kedua negara ini lekat sebagai pusat kemajuan teknologi, industri, jasa-jasa perdagangan, dan jasa keuangan global. Menjalin hubungan kerja sama dengan kedua negara itu sangat penting guna mendapatkan dukungan bagi kemajuan sebuah negara. Lantas, ke mana sebaiknya Indonesia berlabuh menjalin hubungan eratnya di antara kedua negara adikuasa itu?
Dalam acara Economic Forum yang diadakan oleh Radio Suara Surabaya pada pertengahan Desember lalu terdapat salah satu topik terkait global trends and local strategy. Ada salah satu bahasan yang relatif menarik terkait kekuatan AS dan China yang disampaikan oleh narasumber Gita Wirjawan selaku host Endgame Podcast.
Gita menyatakan bahwa pusat kemajuan dunia saat ini terfokus pada kedua negara, yakni AS dan China. Investasi yang ditanamkan pada kedua negara tersebut, terutama di bidang pengembangan teknologi, sangatlah tinggi. Hanya saja, ada sedikit karakteristik yang berbeda dari kedua negara itu. AS kental dengan teknologi yang identik dengan negara maju, sedangkan China menghasilkan teknologi yang bercita rasa negara emerging market dan negara berkembang. Harga produk China dapat diterima lebih luas di berbagai negara.
Gita juga mencontohkan dengan biaya charging kendaraan listrik antara negara China dan AS. Biaya pengisian daya kendaraan listrik di stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di China jauh lebih murah dibandingkan dengan pengisian daya di AS. Hal ini mengindikasikan bahwa China memang berupaya membangun transisi energi, terutama di sektor transportasi secara serius. ”Jadi, Indonesia dapat mengoptimalkan kerja sama dengan China terutama dalam pengembangan teknologi (artificial intelligence) serta dalam bidang transisi energi,” tutur Gita Wirjawan.
Pernyataan yang disampaikan oleh Gita Wirjawan tersebut menarik untuk dikaji lebih lanjut terkait dengan posisi Indonesia yang saat ini tengah berupaya membangun kekuatan ekonominya agar tumbuh menjadi negara maju pada 2045. Apalagi, Indonesia juga memiliki kedekatan dengan kedua negara tersebut baik dalam hubungan diplomatik maupun kerja sama ekonomi.
Dengan haluan politik internasional yang bersifat nonblok, membuat Indonesia lebih leluasa dalam ”berkawan” dengan siapa pun dalam konteks hubungan diplomatik secara global. Indonesia bisa menjalin hubungan secara baik dengan blok Barat yang identik dengan negara-negara sekutu AS dan membangun kerja sama dengan negara-negara blok Timur yang identik dengan sekutu China dan Rusia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/24/dfe30634-5612-4778-8d0a-8f934efe940e_jpeg.jpg)
Saat ini, Indonesia telah diterima sebagai anggota aksesi Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang beranggotakan 38 negara yang mayoritas merupakan negara sekutu AS dan Eropa. Dengan menjadi anggota aksesi ini, Indonesia tengah berupaya menjadi negara anggota OECD dalam waktu tiga tahun ke depan.
Di saat bersamaan, Indonesia pada awal pemerintahan Prabowo Subianto sekarang juga disetujui untuk bergabung sebagai mitra dalam blok ekonomi BRICS. Blok ekonomi ini merupakan inisiasi negara Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan guna menyeimbangkan tatanan dunia yang cenderung dikendalikan oleh kekuatan Barat yang dipimpin oleh AS.
Posisi yang diambil Indonesia tergolong unik karena berupaya masuk dalam kekuatan organisasi Barat dan juga kekuatan Timur secara bersamaan. Hal ini tentu saja menuntut kepiawaian dalam berdiplomasi agar kepesertaan Indonesia itu memberikan keuntungan yang optimal bagi pembangunan ekonomi masa depan nasional.
Berdasarkan data dari Bank Dunia, jumlah produk dometik bruto (PDB) dunia pada tahun 2023 mencapai 106,17 triliun dollar AS. AS dan China merupakan negara yang memiliki perolehan PDB terbesar di dunia. PDB AS pada 2023 mencapai 27,72 triliun dollar AS dan China meraih 17,79 triliun dollar AS.
Tingginya PDB AS itu membuat pendapatan per kapita penduduk AS sangat tinggi, yakni mencapai lebih dari 82.000 dollar AS per tahun. Nominal pendapatan ini terpaut jauh dengan China yang masih berkisar 12.000 dollar AS per tahun. Perbedaan tingkat pendapatan ini membuat China saat ini masih bertengger di status negara emerging market, sedangkan AS tetap stabil sebagai salah satu negara maju di dunia.
Meskipun masih berstatus emerging market, China diproyeksikan akan menjadi negara besar di dunia yang akan bersaing kuat dengan AS. Ada sejumlah indikasi yang menunjukkan bahwa China mampu menghasilkan produk yang dibutuhkan oleh dunia, termasuk AS. Bahkan, AS pun memiliki sejumlah ketergantungan terhadap China sehingga neraca perdagangan AS dengan China menunjukkan notasi negatif atau defisit. Artinya, jumlah ekspor AS ke China lebih kecil dari ekspor China ke AS.
Berdasarkan data oec.world, jumlah perdagangan ekspor dan impor dunia pada 2022 mencapai kisaran nilai 23,7 triliun dollar AS. Negara eksportir terbesar di dunia diduduki China dengan nilai ekspor sebesar 3,73 triliun dollas AS. Negara importir terbesar secara global ditempati oleh AS dengan nilai belanja impor sebanyak 3,12 triliun dollar AS.
Khusus perdagangan antara China dan AS menunjukkan surplus perdagangan bagi China. Pada 2022, nilai ekspor China ke AS mencapai 551 miliar dollar AS, sedangkan ekspor AS ke China sebesar 551 miliar dollar AS. Artinya, terdapat surplus bagi perdagangan internasional China terhadap AS sekitar 4 miliar dollar AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/24/2cd42dbc-079e-4708-ae3a-d05dc825c143_jpg.jpg)
Produk yang diekspor dari China ke AS sangat beragam, tetapi yang terbesar umumnya terkait dengan produk teknologi seperti peranti elektronik dan komputer. Sebaliknya, ekspor dari AS ke China sebagian besar berupa produk pertanian seperti kedelai, jagung, dan sorgum. Selanjutnya, juga berupa sirkuit terpadu untuk elektronik, minyak mentah, dan kendaraan. Perbedaan tipikal produk perdagangan internasional itu menunjukkan bahwa AS memiliki ketergantungan yang relatif tinggi kepada China terutama pada komoditas teknologi berbasis elektronik.
Apabila dikaitkan dengan Indonesia, kedua negara tersebut juga memiliki hubungan yang erat dalam perdagangan internasional. Dengan China, nilai ekspor Indonesia pada tahun 2022 mencapai 67,7 milair dollar AS, sedangkan untuk impornya mencapai 71,3 miliar dollar AS. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia dengan China mencatatkan nilai yang defisit. Produk China yang dominan diekspor ke Indonesia hampir mirip dengan AS, yakni terkait dengan peranti elektronik dan teknologi. Adapun komoditas Indonesia yang dikirim ke China mayoritas berupa produk-produk logam seperti aluminium dan baja.
Selanjutnya, apabila dikalkulasi dengan negara AS, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus yang relatif besar. Pada tahun 2022, nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai 31,6 miliar dollar AS dan untuk impor dari AS sebesar 10,3 miliar dollar AS. Lebih dari 20 miliar dollar AS nilai surplus perdagangan Indonesia dengan AS. Produk utama Indonesia yang diekspor ke AS berupa produk minyak sawit, sedangkan komoditas impor utama dari AS ke Indonesia berupa LPG.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kebergantungan Indonesia kepada China cenderung lebih besar dari AS. Tergambar dari nilai impor Indonesia dari China yang mencapai lebih dari 70 miliar dollar AS atau terpaut jauh dengan nilai impor dari Amerika Serikat yang berkisar 10 miliar dollar AS. Meskipun Indonesia mencatatkan neraca yang defisit dengan China, peranan China pada kemajuan ekonomi nasional sangatlah besar. Terutama dalam hal suplai sejumlah bahan baku penolong yang sangat dibutuhkan untuk industrialisasi di Indonesia.
Terkait dengan isu global saat ini yang bercita-cita meraih net zero emission tahun 2050, tampaknya China lebih ambisius dibandingkan dengan AS. Konsumsi energi final yang berbasis dari energi terbarukan di China berkembang lebih pesat dari AS.
Berdasarkan data dari International Energy Agency (IEA), proporsi energi terbarukan di China untuk elektifikasi pada September 2024 ini sudah mencapai 34,4 persen, sedangkan di AS masih sekitar 21,1 persen. Apabila dibandingkan dengan beberapa tahun, ada perubahan signifikan dari sumber pembangkit listrik di China.
Pada 2015, produksi energi dari sumber pembangkit ramah lingkungan di China masih sebesar 20,7 persen. Untuk di AS, kala itu proporsi pembangkit terbarukan di sana sebesar 16,6 persen.
Perbandingan data tersebut menunjukkan bahwa China bergerak progresif untuk mereduksi emisi karbon dengan melakukan transisi energi pada sumber pembangkit listriknya. Dalam kurun sembilan tahun, China mampu melakukan peningkatan proporsi energi terbarukan untuk pembangkit listriknya hingga sekitar 14 persen. Artinya, setiap tahun terjadi peningkatan bauran energi terbarukan lebih dari 1 persen.
Berbeda dengan AS yang tampaknya cenderung relatif santai dengan upaya transisi energinya. Dalam kurun sembilan tahun hanya terjadi peningkatan bauran energi terbarukan untuk elektrifikasi sekitar setengah persen setahun. Perubahan ini tampaknya relatif minim untuk negara sebesar AS yang memiliki kemampuan finansial sangat besar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/06/7f593797-c923-414d-9733-03749f58eb50_jpg.jpg)
Hal lainnya lagi terkait transisi energi yang menunjukkan betapa China sangat ambisius untuk mewujudkannya adalah kendaraan listrik. Dalam segi manufaktur pembangunan industri kendaraan listrik, China relatif tertinggal dibandingkan dengan AS dan sekutunya di Eropa ataupun Korea Selatan.
Namun, kenyataanya saat ini China mendominasi produksi dan konsumsi kendaraan listrik secara global. Data IEA menunjukkan penjualan mobil listrik berbasis baterai di dunia pada 2023 mencapai 9,5 juta unit kendaraan. Khusus pasar China, penjualan mencapai 5,4 juta unit kendaraan listrik. Angka ini melonjak drastis dalam tiga tahun terakhir karena pada 2020 penjualannya masih kurang dari 1 juta unit setahun.
Konsumsi kendaraan listrik China itu jauh meninggalkan AS yang pada tahun 2023 masih sekitar 1,1 juta unit penjualannya. Permintaan kendaraan listrik China lebih tinggi daripada kawasan Eropa yang berkisar 2,2 juta unit setahun serta jauh meninggalkan Korea Selatan yang masih di kisaran 150.000 unit per tahun.
Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa China serius melakukan perubahan pola konsumsi energi masyarakat guna mengakselerasi net zero emission global 2050. China akan terus meningkatkan suplai energi listriknya yang berasal dari energi terbarukan sekaligus akan mendorong masyarakatnya untuk beralih pada kendaraan ramah lingkungan berbasis listrik.
Deskripsi data-data tersebut menunjukkan bahwa China memiliki upaya yang serius guna memajukan ekonominya sekaligus menjaga kelestarian alam dalam jangka panjang. Indonesia yang saat ini memiliki mimpi besar menuju negara maju 2045 harus terus berbenah dan banyak belajar dari banyak negara, salah satunya dari China. China patut menjadi mitra penting bagi kemajuan Indonesia. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Budiawan Sidik AEditor:
Yohan Wahyu