Antara Pertemuan Megawati-Dasco dan Pernyataan Jokowi Lebih Pilih PSI

Presiden ke-7 RI Joko Widodo menyatakan lebih memilih PSI setelah Sufmi Dasco berjumpa Megawati. Apakah keduanya saling terkait?

06 Jun 2025 21:01 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nino Citra Anugrahanto

SURAKARTA, KOMPAS — Presiden ke-7 RI Joko Widodo menegaskan diri lebih memilih Partai Solidaritas Indonesia atau PSI daripada partai-partai lain terkait isu pencalonannya selaku ketua umum. Ini dinilai menandakan semakin mendesaknya kebutuhan Jokowi akan kekuatan politik konkret. Lebih-lebih pernyataan itu mengemuka setelah terjadinya pertemuan antara Ketua Harian DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.

Jokowi mengungkapkan pernyataan lebih memilih PSI itu ketika ditanyai wartawan sesudah menunaikan shalat Idul Adha di kediamannya, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (6/6/2025). Mula-mula wartawan menanyai kabar yang berembus ihwal nama sosok yang masuk dalam bursa calon ketua umum PPP.

”Enggak lah. Yang di PPP saya kira banyak calon-calon ketua umum yang jauh lebih baik, yang punya kapasitas, kapabilitas, punya kompetensi. Banyak calon yang sudah beredar kan banyak. Banyak sekali. Saya di PSI (Partai Solidaritas Indonesia) saja lah,” kata Jokowi kepada wartawan.

Jawaban itu kembali memunculkan spekulasi akan keikutsertaannya dalam pemilu raya yang bakal diadakan PSI untuk memilih ketua umum. Sebelumnya, ia mengaku tak menutup kemungkinan untuk mencalonkan diri. Akan tetapi, ia urung mendaftarkan diri karena tengah mengalkulasi peluangnya memenangi ajang pemilihan ketua umum dari partai yang kini dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep.

Presiden Jokowi saat menjawab pertanyaan media seusai menghadiri puncak peringatan HUT ke-8 Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Djakarta Theater, Jakarta, Selasa (31/1/2023) malam.

Jokowi pun memberikan jawaban mengambang sewaktu ditanyai kepastiannya mencalonkan diri.

”Ya, enggak tahu, di PSI pun juga dicalonkan juga belum,” ucap Jokowi ketika ditanyai adakah partai-partai lain yang ditemukannya.

Pernyataan Jokowi soal pilihannya pada PSI itu muncul setelah Ketua DPP Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, yang juga kolega separtai Dasco, yang diutus Prabowo menemui Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Potret perjumpaan itu diunggah Dasco pada akun Instagramnya, yakni @sufmi_dasco, Kamis (5/6/2025).

”Diterima langsung oleh Presiden ke-5 Ibu Megawati Soekarnoputri di kediamannya beberapa hari lalu. Saya mendapatkan wejangan dan masukan demi kepentingan bangsa dan negara saat ini di bawah kepemimpinan Pak Prabowo,” tulis Dasco di akun Instagramnya.

Unggahan dari akun Instagram Mensesneg Prasetyo Hadi saat dirinya foto bersama dengan Ketum PDI-P Megawati Soekarnoputri serta putrinya, Puan Maharani, dan Ketua Harian DPP Gerindra Sufmi Dasco Ahmad di kediaman Megawati, di Jakarta.

Dalam foto yang diunggah Dasco, Megawati didampingi oleh putrinya, yang juga menjabat Ketua DPR Puan Maharani, serta politisi PDI-P Yasonna Laoly. Tampak pada salah satu foto, Megawati sedang membaca sebuah dokumen sembari disaksikan secara serius oleh Dasco dan Prasetyo Hadi.

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menyatakan, perjumpaan antara Dasco dan Megawati menunjukkan kembali kekuatan politik Presiden Prabowo Subianto selaku kepala pemerintahan. Terdapat pesan tersirat bahwa Prabowo dalam kepemimpinannya tidak diselimuti bayang-bayang Jokowi. Dalam perjumpaan itu, misalnya, bisa saja membuka kemungkinan Prabowo merangkul Megawati, yang kini dikenal sebagai sosok yang berseberangan dengan Jokowi.

”Bagi Prabowo, ini pilihan tepat. Karena ini akan menjaga kewibawaan seorang Prabowo. Di sisi lain, stabilitas politik tidak akan bergantung pada sosok mantan presiden, tetapi hanya pada diri Prabowo saja,” kata Yunarto.

Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (kiri) dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto (kanan) saat menyaksikan parade kapal perang TNI Angkatan Laut, usai menerima brevet kehormatan Hiu Kencana dan penganugerahan tanda kehormatan Samkaryanugraha di atas KRI dr Radjiman Wedyodiningrat, yang berlayar di Teluk Jakarta, Sabtu (28/9/2024). Penyenatan ini menjadikan Presiden Jokowi sebagai warga kehormatan Kapal Selam TNI Angkatan Laut. Brevet Hiu Kencana ini menjadi salah satu bentuk penghormatan dan penghargaan dari TNI AL kepada mereka yang dinilai memajukan pengembangan kapal selam. Brevet Hiu Kencana juga menjadi simbol pengakuan terhadap profesionalisme prajurit kapal selam dalam taktik dan teknik peperangan bawah permukaan laut. Kompas/Hendra A Setyawan

Kondisi yang jauh berbeda, sebut Yunarto, dialami oleh Jokowi. Ia menggambarkan Jokowi tengah berada dalam situasi yang terombang-ambing. Selaku mantan presiden dan ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kata dia, Jokowi tidak memiliki kekuatan politik yang konkret berwujud partai.

Di sisi lain, jelas Yunarto, Jokowi juga agaknya mulai sadar ihwal perubahan konstelasi politik. Partai-partai, sebut dia, mulai berbicara mengenai kepentingannya masing-masing seiring dengan kekuasaan yang semakin terpusat di tangan Prabowo. Alhasil, pilihan yang tersisa dan paling realistis bagi Jokowi tinggal PSI.

”Ini sebuah simbol dari kesadaran Jokowi bahwa dia tidak bisa hanya menjadi seseorang yang berpengaruh di politik tanpa memiliki kendaraan konkret di belakangnya. Itulah yang menyebabkan dia pada akhirnya memutuskan harus memimpin sebuah partai,” kata Yunarto.

Presiden Prabowo Subianto, Presiden kelima Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dan Wakil Presiden Gibran Rakabumingraka bersiap-siap upacara peringatan Hari Pancasila di Gedung Pancasila, Kompleks Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (2/6/2025).

Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes memiliki pandangan yang agak berbeda.

Ia menilai kedatangan Dasco menemui Megawati menjadi bagian dari kebutuhan Prabowo memperoleh dukungan politik formal dalam kepemimpinannya sebagai Presiden. Terlebih partai yang dipimpin Megawati memiliki kursi cukup besar di DPR.

Meski demikian, lanjut Arya, Jokowi juga tidak serta-merta langsung ditinggalkan Prabowo. Dalam persepsinya, Prabowo masih memerlukan Jokowi yang memiliki kekuatan di tingkatan akar rumput walaupun tidak benar-benar memegang kendali atas suatu partai politik.

”Jadi, yang dilakukan Pak Prabowo ini seperti berayun-ayun di tengah kekuatan PDI-P dan Bu Mega-nya; dan juga Pak Jokowi. Dari sisi politik formal, tentu PDI-P lebih kuat dibandingkan Jokowi, tetapi pengaruh akar rumput yang dimiliki Jokowi juga dibutuhkan Pak Prabowo,” kata Arya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra