Antisipasi Turbulensi Manchester City di Awal Musim

Banyak tanda tanya yang mengelilingi Pep Guardiola jelang musim baru, mulai dari pengganti De Bruyne, skema baru, sampai keterlibatan Lijnders di belakang layar.

16 Agt 2025 07:00 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

WOLVERHAMPTON, JUMAT — Manajer Manchester City Pep Guardiola sudah berpesan jelang musim baru bahwa timnya tidak akan disambut karpet merah seperti biasa. Banyak faktor yang berpotensi mengusik kenyamanan ”penerbangan” City, terutama di awal musim Liga Inggris.

City akan memulai musim 2025-2026 dengan bertandang ke markas Wolverhampton Wanderers, Stadion Molineux, Sabtu (16/8/2025) pukul 23.30 WIB. Tim asuhan Guardiola datang dengan bayang-bayang kegagalan musim lalu, seusai finis tanpa trofi mayor untuk pertama kali sejak 2016-2017.

”The Citizens” ingin segera bangkit. Mereka berbenah total selama jeda musim dengan mendatangkan banyak pemain baru, antara lain gelandang Tijjani Reijnders dan bek sayap Rayan Ait-Nouri. Di belakang layar, Pepjin Lijnders yang merupakan mantan asisten pelatih Liverpool juga direkrut.

Era baru City ditandai dengan kepergian dua pemain veteran yang menjadi wajah klub di era Guardiola, yaitu Kevin De Bruyne dan Kyle Walker. Sosok yang pernah mengantarkan City berjaya di Liga Champions Eropa, Jack Grealish, dipinjamkan ke Everton. Guardiola menata ulang skuadnya.

Perubahan, apalagi drastis, pasti membutuhkan waktu adaptasi. City tidak punya itu. ”Perasaan positif ada, tetapi ini bukan seperti musim yang (disambut) karpet merah. Akan selalu ada masalah dan kami harus bisa mengatasi. Target musim ini adalah menantang diri sendiri,” ujar Guardiola.

Tanda tanya terbesar muncul dari kepergian De Bruyne. Bagaimana City mengisi kekosongan pemain yang sudah menyumbang 108 gol dan 177 asis tersebut? De Bruyne merupakan otak utama dalam sistem serangan ala Guardiola. Penyerang Erling Haaland sangat bergantung pada suplai bola De Bruyne.

Striker Manchester City, Erling Haaland (kiri), memeluk rekan setimnya, Kevin De Bruyne, di sela melawan Bournemouth pada laga Liga Inggris di Stadion Etihad, Manchester, Inggris, Rabu (21/5/2025) dini hari WIB. Laga yang berakhir dengan kemenangan City, 3-1, itu menjadi momen perpisahan De Bruyne.

Lubang itu akan berupaya ditutup oleh dua pemain baru sekaligus, Reijnders dan gelandang serang Rayan Cherki. Di AC Milan, Reijnders menjadi motor serangan tim lewat pergerakan aktif ke kotak penalti. Pemain tim nasional Belanda itu menghasilkan 10 gol dan 5 asis di Liga Italia musim lalu.

Saat Reijnders memerankan gelandang ”nomor 8” layaknya Ilkay Guendogan, Cherki lebih bertipe sebagai pengatur serangan murni. Cherki mengandalkan kreativitas dan umpan-umpan akurat untuk menciptakan peluang. Terbukti, bersama Lyon musim lalu, dia menghasilkan 20 asis di seluruh kompetisi.

Namun, penyesuaian tidak akan semudah yang dibayangkan. Reijnders dan Cherki sama-sama datang dari liga lain. Mereka juga harus mengikuti standar tinggi milik Guardiola. Adapun dalam sesi latihan pramusim, Cherki sempat ditegur sang manajer karena lengah setiap kehilangan bola.

Reijnders tampak lebih menjanjikan sejauh ini. Kakak dari pemain timnas Indonesia, Eliano, itu langsung menyumbang dua gol dalam laga pramusim versus Palermo, Minggu lalu. Pemain yang hanya tampil selama 45 menit itu bahkan nyaris mencetak hattrick dalam kemenangan telak City 3-0.

Ide baru

Perekrutan Lijnders sebagai asisten Guardiola terasa sangat menarik. Lijnders bersama Klopp di Liverpool terkenal dengan gaya bermain superagresif yang disebut gegenpressing. Ketika tanpa penguasaan, mereka ingin bola segera direbut dan menyerang secepat mungkin dalam kekacauan.

Filosofi itu berbeda jauh dengan Guardiola yang mengandalkan penguasaan dan struktur posisi rapi. Sang manajer terlihat ingin menciptakan ide baru. Adapun sepanjang musim lalu, Guardiola sering memuji gaya bermain lugas Liverpool dan Newcastle United sebagai perwujudan sepak bola modern.

Pemain AC Milan Tijjani Reijnders (tengah) merayakan golnya ke gawang Inter Milan pada laga Liga Italia di Stadion San Siro, Milan, Senin (3/2/2025) dini hari WIB. Laga itu berakhir imbang 1-1.

Reijnders berkata, mereka sedang fokus berlatih mengatasi lawan yang senang ”parkir bus”. ”Kami sedang mencari cara untuk melawan tim dengan blok pertahanan sangat rendah. Kami juga dilatih bereaksi saat kehilangan bola. Bagaimana secepat mungkin merebut kembali bola,” ucapnya.

Detail pendekatan taktik juga berpotensi diubah. Guardiola memiliki Ait-Nouri yang bertipe full-back. Profil bek sayap yang lebih cenderung membantu serangan itu tidak dimiliki City. Posisi kiri di lini belakang biasa ditempati Josko Gvardiol yang berposisi asli bek tengah.

Faktor nonteknis turut mengganggu adaptasi City. Akibat Piala Dunia Antarklub 2025, City baru menjalani pemusatan latihan pramusim pada awal Agustus. Mereka juga hanya sekali menjalani laga pramusim. Adapun tim-tim pesaing, seperti Liverpool dan Arsenal, sudah bersiap sejak bulan lalu.

Gelandang andalan City, Rodri, masih belum bisa tampil setelah absen nyaris sepanjang musim lalu. Peraih Ballon d’Or 2024 itu masih dalam pemulihan kondisi akibat cedera di Piala Dunia Antarklub. Rodri kemungkinan baru bisa kembali seusai jeda internasional pada September nanti.

Terlepas dari keterbatasan itu, City masih cukup beruntung. Lawan pertama mereka, Wolves, bernasib lebih buruk. Wolves diragukan bisa tampil maksimal pada musim baru setelah kehilangan Ait-Nouri dan penyerang Matheus Cunha. Kedua pemain itu berperan krusial bagi mereka pada musim lalu. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul