Napoli sudah tidak memiliki harapan meraih trofi mayor di musim ini. Como kembali ke semifinal Coppa Italia sejak edisi 1985-1986.
11 Feb 2026 11:59 WIB · Olahraga
AP/LaPresse/Alessandro Garofalo
NAPOLI, RABU — Napoli tidak pernah membayangkan pada awal musim ini bahwa Stadion Diego Armando Maradona akan menjadi saksi titik nadir mereka di dua kompetisi, Coppa Italia dan Liga Champions. ”Si Keledai Kecil” tersingkir dari dua ajang itu ketika menjalani pertandingan di rumah sendiri dan di hadapan suporter fanatik.
Berselang dua pekan setelah tumbang 2-3 dari Chelsea yang menyebabkan gagal bertahan di zona 24 besar babak penyisihan Liga Champions, para pemain Napoli kembali harus tertunduk lesu sekaligus malu pada perempat final Coppa Italia, Rabu (11/2/2026) WIB.
Mereka takluk 6-7 dalam drama adu penalti kontra Como. Dukungan puluhan ribu suporter tidak mampu menaikkan performa Napoli yang hanya mengemas hasil remis 1-1 selama 90 menit waktu normal.
Hasil itu menyebabkan peluang Napoli merebut trofi mayor menguap sejak dini. Mereka memang mencatatkan raihan trofi Piala Super Italia di Riyadh, Arab Saudi, Desember lalu, tetapi bagi publik Italia turnamen itu hanya sejajar laga ekshibisi, seperti Trofeo Berlusconi yang langganan digelar AC Milan pada awal dekade 2000-an sebagai bagian pramusim mereka.
Di sisi lain, Conte juga sudah sangat sulit mempertahankan scudetto Liga Italia. Si Keledai Kecil kini berjarak sembilan poin dari Inter Milan yang menguasai puncak klasemen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/11/c432fc85-2931-454e-bacf-e09498967ad9_jpg.jpg)
Bagi Conte, kondisi Napoli ini menjadi coreng dalam karier kepelatihannya. Ia terancam tidak mempersembahkan trofi pada musim keduanya bersama Napoli. Hal itu tentu kontras dengan situasi ketika ia meraih tiga gelar Liga Italia beruntun bersama Juventus, lalu memenangi Liga Italia pada musim kedua mengasuh Inter Milan.
Terlepas dari hasil akhir yang menyakitkan, Conte merasakan perih lebih dalam pada kekalahan dari Como akibat kegagalan dua pemain andalannya, Romelu Lukaku dan Stanislav Lobotka, mengeksekusi penalti. Selain itu, kepemimpinan wasit Gianluca Manzanillo juga dinilainya tidak menunjukkan performa baik.
Conte memprotes keras wasit pada menit ke-49 karena tidak memberikan bek Como, Jacobo Ramon, kartu kuning kedua akibat melanggar penyerang Napoli, Rasmus Hojlund. Dalam tayangan ulang, Ramon dinilai pantas menerima kartu kuning karena menghalau tubuh Hojlund dan tidak menyentuh bola sama sekali dalam situasi yang menguntungkan tim tuan rumah.
”Ini tentu bukan musim yang baik untuk para wasit dan VAR. Saya berharap mereka bisa menemukan sesuatu untuk meningkatkan situasi. Sebab, faktanya, banyak pihak mengeluhkan penampilan mereka,” ujar Conte seusai laga kepada Mediaset.
”Seperti kami yang terus mengingatkan tim untuk berkembang, otoritas wasit juga harus meningkatkan kinerja para wasit dan ofisial VAR. Situasi ini tidak bagus untuk kami, begitu pun sepak bola,” tuturnya melanjutkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/11/02464e1f-fd7a-43dd-b8d6-5b3aaaca8bcd_jpg.jpg)
Seperti pada kegagalan menembus babak gugur Liga Champions, Conte kembali menyoroti badai cedera yang masih membayangi skuadnya. Meski sudah kembali memainkan Lukaku, Napoli masih kehilangan sang kapten Giovanni Di Lorenzo, serta tiga gelandang utama, yakni Kevin De Bruyne, Scott McTominay, dan Billy Gilmour.
Kondisi itu membuat Napoli kesulitan mengimbangi permainan Como. Berstatus tuan rumah dan lebih diunggulkan, Napoli justru lebih banyak ditekan dan mengejar bola. Si Keledai Kecil hanya mengoleksi 48 persen penguasaan bola dan dua kali tembakan tepat sasaran dari delapan percobaan.
Sebaliknya, Como dengan 52 persen penguasaan bola mampu melepaskan empat tembakan tepat sasaran. Seluruh tembakan mengarah ke gawang itu tercipta dari dalam kotak penalti Napoli.
Conte berujar, Como menjalani laga dengan situasi yang lebih menguntungkan. Selain bermain dengan susunan tim terbaik, tambahnya, Como juga memiliki waktu persiapan selama 10 hari. Sebagai catatan, Como tidak menjalani gim pekan ke-24 akhir pekan lalu menghadapi AC Milan di San Siro karena laga ditunda untuk pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Italia.
”Saya hanya bisa memuji para pemain karena mereka memaksimalkan diri melebihi potensi saat ini. Kami memiliki sumber daya yang sangat terbatas sehingga tidak bisa mendekati ambisi yang seharusnya kami raih musim ini,” tutur Conte.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/11/9ff6e186-f822-4157-ad5b-6746a98fc184_jpg.jpg)
Secara umum, ia tetap menyebut Napoli menjalani musim ini secara positif. Masalah serius yang menyebabkan banyak pemain cedera, tambahnya, juga akan menjadi kendala bagi tim mana pun yang mengalaminya.
”Cedera membuat kami harus memainkan pemain tertentu di setiap laga sehingga itu membuat mereka ikut bermasalah. Hasil ini mengecewakan, tetapi saya yakin pelatih mana pun akan kesulitan seperti saya,” kata Conte, pemilik lima gelar scudetto sebagai juru taktik.
Como mampu mengakhiri penantian menembus semifinal Coppa Italia dalam 40 tahun atau sejak 1986. Performa positif mereka di Napoli didukung tujuh eksekusi penalti yang berhasil menaklukkan kiper Napoli, Vanja Milinkovic-Savic.
Salah satu pencetak gol adalah Martin Baturina yang membawa ”I Lariani” unggul pada menit ke-39 untuk menutup babak pertama dengan keunggulan. Napoli menyamakan skor lewat sepakan kaki kiri Antonio Vergara pada menit ke-46.
Dalam drama adu penalti, hanya satu eksekutor Como yang gagal. Ia adalah Maximo Perrone yang sepakannya mampu dihalau Milinkovic-Savic.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/11/581d0101-61e9-4862-9926-57bfdadec717_jpg.jpg)
”Ini adalah perjalanan yang bersejarah, waktu yang positif untuk tim. Namun, kami memiliki laga-laga penting lainnya mulai Sabtu ini (kontra Fiorentina). Kami bertekad merayakan euforia ini pada akhir musim,” kata Pelatih Como Cesc Fabregas.
Selanjutnya, Nico Paz dan kawan-kawan akan menantang Inter Milan. Berbeda dengan babak sebelumnya, fase semifinal akan digelar dengan format kandang-tandang.
Babak semifinal menjadi capaian terbaik Como dalam empat dekade terakhir. Pada musim 1985-1986, mereka gagal melaju ke final setelah kalah agregat 1-3 dari Sampdoria.
Hal lain yang disyukuri Fabregas adalah komposisi pemain muda yang mendominasi timnya saat menghadapi Napoli. Rata-rata 11 pemain utama Como berusia 25 tahun, sedangkan Napoli dihuni pemain inti dengan rata-rata usia 28 tahun. Fabregas tidak menurunkan dua pemain seniornya, Alvaro Morata dan Alberto Moreno, yang berusia 33 tahun.
”Saya berterima kasih kepada para pemain atas apa yang mereka lakukan. Ini sangat penting untuk kepercayaan diri mereka sehingga mereka pantas menikmati momen ini. Kami harus tetap rendah hati dan bekerja keras,” ucapnya.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra