Apa saja yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Seperti apa pekerjaan rumah yang menanti Menpora baru?
- Mengapa Menpora baru harus punya kompetensi di bidang olahraga?
- Selain Raffi Ahmad, siapa saja sosok kandidat Menpora baru?
- Mengapa posisi Menpora kerap digoyang masalah dan isu tak sedap?
- Apakah pergantian Menpora memengaruhi persiapan Indonesia untuk SEA Games?
Publik hingga Kamis (11/9/2025) masih menanti nama Menteri Pemuda dan Olahraga yang baru untuk menggantikan Dito Ariotedjo. Sejak nama Dito masuk dalam daftar menteri yang di-reshuffle pada Senin (8/9/2025), pihak Istana Negara ataupun Sekretaris Kabinet belum juga mengumumkan nama pengganti Dito.
Hal itu memunculkan spekulasi bahwa Presiden Prabowo Subianto belum memiliki pilihan pasti untuk mengisi posisi menteri yang menaungi bidang keolahragaan dan kepemudaan itu. Setidaknya ada empat nama yang muncul ke publik untuk menggantikan Dito. Mereka datang dari berbagai latar belakang, tetapi mayoritas kental dengan unsur politik.
Semula muncul nama politisi Partai Golkar yang kini menjabat anggota DPR, Puteri Komaruddin. Belakangan, mencuat dua nama kandidat pengganti Dito, yakni pesohor Raffi Ahmad (Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni) serta mantan pebalap yang juga anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Moreno Soeprapto.
Lalu, sempat juga muncul nama Taufik Hidayat, mantan pebulu tangkis nasional yang kini menjabat Wakil Menpora. Taufik kini mengambil alih tugas harian Menpora, apalagi setelah Dito resmi berpamitan kepada publik pada Selasa (9/9/2025).
Dari 14 tokoh yang pernah menjabat Menpora RI, yaitu terhitung sejak Indonesia merdeka, mayoritas atau bahkan hampir semuanya memiliki latar belakang politik. Tercatat hanya Maladi, menjabat Menpora pada 1964-1966, yang memiliki latar belakang sebagai atlet. Mantan Ketua Umum PSSI pada pemerintahan Orde Lama itu pernah berkarier sebagai kiper tim nasional sepak bola.
Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta Djoko Pekik Irianto, pengganti Dito sudah seharusnya sosok yang punya kompetensi dan wawasan global, khususnya terkait isu keolahragaan nasional. Banyak masalah yang harus segera diurai. Penyelesaian itu butuh orang yang paham tentang kondisi olahraga dalam negeri.
Beberapa masalah itu, antara lain, eksekusi Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang mandek di tengah jalan. Program itu direncanakan pada era mantan Menpora Zainudin Amali, tetapi jalan di tempat hingga saat ini. Selain itu, pembagian peran Kemenpora, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI), juga perlu diperjelas.
”Pekerjaan rumah kita cukup banyak. DBON, misalnya, itu sebenarnya program yang cukup bagus dan sudah diatur dalam perpres. Masalah tidak bergerak. Butuh pemimpin, sosok Menpora, yang bisa menggerakkan itu. Kendala utamanya anggaran, tetapi UU kan sudah mengamanahkan bisa keterbatasan APBN dengan dana perwakilan,” kata Djoko, Selasa (9/9/2025).
Karena selama ini kental dengan nuansa politik dan dikuasai parpol tertentu, posisi Menpora jarang yang langgeng. Beberapa terseret masalah, bahkan terjerat korupsi. Padahal, olahraga dan kepemudaan adalah bidang yang strategis dan bisa menjadi pemersatu bangsa.
”Ini persoalan yang cenderung berulang. Bisa dibilang, Kemenpora itu kementerian yang kurang beruntung. Dalam 20 tahun terakhir, turbulensinya lebih kurang seperti itu,” kata Guru Besar Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya Ali Maksum menyoroti dinamika di Kemenpora.
Sejumlah tantangan dan pekerjaan rumah pun menanti Menpora baru. Dengan demikian, Presiden tidak bisa asal tunjuk jika memang punya perhatian khusus untuk memajukan olahraga nasional. Apalagi, hanya untuk mengerjakan tugas dalam waktu singkat.
”Harus ada komitmen dari Presiden. Harus ada komitmen bahwa orang yang dipilih memang yang punya rekam jejak dan kapasitas memadai supaya kondisi semacam ini tidak terulang. Sebab, dari masa ke masa, selalu ada saja yang terjadi, entah tersandung kasus hukum atau mengundurkan diri,” ujar Ali Maksum.
Seperti apa pekerjaan rumah yang menanti Menpora baru?
Prof Djoko Pekik, pengamat olahraga, mengatakan, salah satu tugas mendesak yang harus diselesaikan Menpora baru adalah mengharmonisasikan kembali hubungan antarpemangku kepentingan (stakeholder) terkait pembinaan olahraga prestasi, terutama dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olahraga Indonesia (KOI).
”Selama ini di Kemenpora terjadi miskomunikasi dan ketidakharmonisan dengan berbagai stakeholder. Visi-misi dan sinergi antara Kemenpora dengan KONI, KOI, dan induk-induk cabang olahraga harus segera diperbaiki,” ujar Djoko, pakar manajemen prestasi olahraga.
Djoko menilai, selama menjabat Menpora sejak Oktober 2024, yaitu di era pemerintahan Joko Widodo, masih ada kekurangan dari Dito yang perlu dibenahi Menpora baru. Ia menilai belum ada langkah signifikan yang dilakukan Dito dalam mendorong dinamisasi pembangunan olahraga nasional.
Selain itu, prestasi Indonesia di ajang Olimpiade Paris 2024 juga belum optimal, yaitu hanya meraih dua medali emas dari target empat hingga lima medali.
Senada dengan Djoko, pengamat olahraga Fritz Simanjuntak menekankan pentingnya mengembalikan fungsi kelembagaan antara KONI dan KOI. Menurut dia, KONI harus kembali berperan dalam mengoordinasi pelatihan dan pembinaan multievent, seperti SEA Games dan Olimpiade, sementara KOI fokus pada pengiriman atlet.
”KOI itu hanya memberikan KPI (key performance indicator) saja, mana yang bisa berangkat, mana yang tidak. Sementara persiapan atlet itu ada di cabang olahraga dan KONI. Menpora menaungi dan menyediakan anggarannya, sedangkan KOI mencari sponsor karena mereka yang membawa kontingen,” ucap Fritz.
Mengapa Menpora baru harus punya kompetensi di bidang olahraga?
Sosok Menpora baru pengganti Dito Ariotedjo idealnya memiliki wawasan dan kompetensi di bidang olahraga. Ia perlu memahami kondisi riil lapangan untuk memecahkan masalah-masalah yang berlarut di olahraga nasional.
”Saya percaya sekali bahwa pengalaman praktikal dalam organisasi olahraga sangat penting untuk memahami dinamika olahraga. Dengan begitu, Menpora yang terpilih dapat membuat keputusan yang tepat untuk kemajuan olahraga nasional,” tutur atlet tim nasional kickboxing Indonesia, Andi Mesyara Jerni Maswara.
Andi merupakan salah satu perwakilan atlet yang antusias dengan pergantian Menpora. Ia berharap posisi itu ditempati sosok yang profesional dan paham olahraga. Baginya, pergantian itu menumbuhkan harapan akan kinerja yang lebih baik dalam rangka memajukan olahraga nasional.
Selama ini, seolah ada tradisi bahwa jabatan Menpora diemban oleh seorang politisi. Sebelum Dito, jabatan Menpora dipegang Zainuddin Amali yang sempat menjadi Ketua Komisi II DPR dengan lingkup tugas di bidang dalam negeri, Sekretariat Negara, dan pemilu. Amali minim rekam jejak di bidang olahraga.
Begitu pula dengan Dito. Rekam jejak Dito di dunia olahraga berkisar pada pengalaman menjadi Ketua Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Provinsi Jakarta 2015-2019 dan Ketua Kontingen Indonesia pada perhelatan Olimpiade Remaja Musim Panas 2018.
Adapun Guru Besar Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UPI Dikdik Zafar Sidik menekankan, Menpora baru harus bisa melahirkan kebijakan-kebijakan strategis, tidak sekadar mengeluarkan kebijakan. Saat mengeluarkan kebijakan pun, kata Dikdik, harus benar-benar dikaji alasan dan urgensi di baliknya. Dengan demikian, kebijakan tersebut benar-benar berdampak pada kemajuan olahraga nasional.
”Lalu, (Menpora baru) memastikan tugas pemerintah berjalan untuk mengantarkan prestasi olahraga nasional ke tingkat internasional, bukan hanya mengawasi tingkat nasional,” tutur Dikdik
Selain Raffi Ahmad, Siapa saja sosok kandidat Menpora baru?
Meskipun sudah mengumumkan perombakan kabinet yang salah satunya mencopot Dito Ariotedjo dari posisi Menpora, Senin (8/9/2025), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan figur pengganti Dito belum termasuk yang dilantik. Alasannya, figur dimaksud tengah berada di luar kota sehingga tidak bisa mengikuti pelantikan kemarin.
Spekulasi pun beredar terkait pengganti Dito. Semula muncul nama politisi Partai Golkar yang kini menjabat anggota DPR, Puteri Komaruddin. Setelah pelantikan sejumlah menteri baru, kemarin, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengafirmasi telah mengusulkan nama Puteri sebagai Menpora. Dito berasal dari partai itu sehingga tidak keliru mereka mengusulkan penggantinya juga dari Golkar.
Namun, jika ditilik dari reshuffle kemarin, sudah dilantik kader Golkar, Muktharudin, sebagai Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia menggantikan Abdul Kadir Karding. Dengan demikian, terbuka kemungkinan pengganti Dito bukan dari Golkar.
Apalagi, informasi yang diperoleh Kompas, Puteri memilih untuk fokus di DPR. Ia menolak untuk menjabat sebagai menteri. Belakangan, mencuat dua nama kandidat pengganti Dito, yakni pesohor Raffi Ahmad yang kini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, serta mantan pebalap Moreno Soeprapto.
Raffi juga kerap terlihat mendampingi salah satu orang dekat Prabowo yang menjabat Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Gerindra dan Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.
Adapun Moreno Soeprapto kini menjabat anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra. Moreno disebut berpeluang kuat dipercaya oleh Presiden Prabowo untuk masuk dalam kabinet sebagai Menpora.
Sementara Dito Ariotedjo telah berpamitan setelah tak lagi menjabat Menpora. Ia mengaku mendapat kabar dirinya tak lagi menjabat Menpora sejak Senin pagi. ”Saya masih 35 tahun. Saya baru jadi menteri belum sampai tiga tahun. Jadi, pastinya banyak petualangan baru,” katanya.
Mengapa posisi Menpora kerap digoyang masalah dan isu tak sedap?
Posisi Menpora di Indonesia selama ini erat kaitannya dengan politik. Maka, tak jarang, posisi itu jarang langgeng dan kerap digoyang dengan berbagai alasan. Dito Ariotedjo, misalnya, adalah politisi Partai Golkar. Ia sebelumnya mengemban peran Menpora pada Kabinet Indonesia Maju 2019-2024.
Pada kabinet pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Dito hanya melaksanakan tugas selama 1,5 tahun untuk menggantikan seniornya sesama politisi Golkar, Zainudin Amali, yang mundur setelah terpilih sebagai Wakil Ketua Umum PSSI.
Setelah itu, Dito kembali dipilih untuk menjadi Menpora pada kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintahan itu baru berjalan 11 bulan, Dito dicopot dari jabatannya. Artinya, Dito tidak pernah mengemban tugas sebagai Menpora dalam satu periode pemerintahan secara penuh.
Jika dilitik lebih jauh, Kemenpora memang merupakan salah satu kementerian yang selalu dirundung persoalan dan penunjukan menterinya sarat akan politik. Setelah dihapuskan pada era Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001) dan Kabinet Gotong Royong (2001-2004), kementerian ini baru hadir kembali pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009).
Saat itu, politisi yang minim rekam jejak di bidang olahraga dan pemuda, Adhyaksa Dault, ditunjuk sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Pada Kabinet Indonesia Bersatu II, masa pemerintahan SBY-Boediono, kementerian ini mulai berganti nama menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga yang dijabat politisi Demokrat, Andi Alfian Mallarangeng.
Namun, Andi hanya menjabat pada 2009-2012. Dia mundur sebelum masa tugas berakhir menyusul penetapan dirinya sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus pembangunan sarana olahraga Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Penggantinya, Roy Suryo, politisi Partai Demokrat saat itu yang juga dikenal sebagai pakar telematika, pernah diminta mengembalikan barang milik negara.
Apakah pergantian Menpora mempengaruhi persiapan Indonesia untuk SEA Games?
Reshuffle atau pergantian kabinet, salah satunya di posisi Menpora, terjadi ketika cabang-cabang olahraga mempersiapkan diri menjelang ikut beberapa ajang internasional, termasuk SEA Games Thailand 2025. Meski demikian, pergantian Menpora dinilai tidak akan mengganggu persiapan tersebut.
Hal itu salah satunya diungkapkan Guru Besar Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UPI Dikdik Zafar Sidik. Menurut Dikdik, dampak pergantian Menpora tidak akan signifikan mengingat cabang olahraga sudah melakukan persiapan.
”Dampak pergantian ini, menurut saya, tidak akan signifikan untuk cabang olahraga. Tinggal konsistensi kebijakan lama oleh induk organisasi bisa diterjemahkan tidak. Kalau bisa diterjemahkan, bisa jalan, tidak akan masalah,” ucap Dikdik.
”Tinggal bagaimana daya dukung yang akan diberikan pemerintah dalam hal ini terkait dengan tata kelola keolahragaan, terkait khususnya menghadapi ajang-ajang internasional itu seperti apa,” tuturnya.
Beberapa cabang diketahui sudah melakukan seleksi dan mengajukan nama-nama atlet untuk dikaji ulang Kemenpora. Dua cabang di antaranya adalah cabang prioritas, yaitu angkat besi dan panahan.
Angkat besi, misalnya, sudah melakukan seleksi pada akhir Agustus lalu dan langsung menyerahkan rekomendasi atlet ke Kemenpora. Begitu pula panahan yang sudah menggelar seleknas sejak akhir tahun lalu dan menggelar persiapan meliputi tur internasional mulai tahun ini.
”Kami mengajukan delapan nama untuk disiplin recurve dan enam nama untuk compound,” ujar Wakil Ketua Umum II Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Panahan Indonesia (PB Perpani) Abdul Razak.
Apa saja yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Seperti apa pekerjaan rumah yang menanti Menpora baru?
- Mengapa Menpora baru harus punya kompetensi di bidang olahraga?
- Selain Raffi Ahmad, siapa saja sosok kandidat Menpora baru?
- Mengapa posisi Menpora kerap digoyang masalah dan isu tak sedap?
- Apakah pergantian Menpora memengaruhi persiapan Indonesia untuk SEA Games?
Publik hingga Kamis (11/9/2025) masih menanti nama Menteri Pemuda dan Olahraga yang baru untuk menggantikan Dito Ariotedjo. Sejak nama Dito masuk dalam daftar menteri yang di-reshuffle pada Senin (8/9/2025), pihak Istana Negara ataupun Sekretaris Kabinet belum juga mengumumkan nama pengganti Dito.
Hal itu memunculkan spekulasi bahwa Presiden Prabowo Subianto belum memiliki pilihan pasti untuk mengisi posisi menteri yang menaungi bidang keolahragaan dan kepemudaan itu. Setidaknya ada empat nama yang muncul ke publik untuk menggantikan Dito. Mereka datang dari berbagai latar belakang, tetapi mayoritas kental dengan unsur politik.
Semula muncul nama politisi Partai Golkar yang kini menjabat anggota DPR, Puteri Komaruddin. Belakangan, mencuat dua nama kandidat pengganti Dito, yakni pesohor Raffi Ahmad (Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni) serta mantan pebalap yang juga anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Moreno Soeprapto.
Lalu, sempat juga muncul nama Taufik Hidayat, mantan pebulu tangkis nasional yang kini menjabat Wakil Menpora. Taufik kini mengambil alih tugas harian Menpora, apalagi setelah Dito resmi berpamitan kepada publik pada Selasa (9/9/2025).
Dari 14 tokoh yang pernah menjabat Menpora RI, yaitu terhitung sejak Indonesia merdeka, mayoritas atau bahkan hampir semuanya memiliki latar belakang politik. Tercatat hanya Maladi, menjabat Menpora pada 1964-1966, yang memiliki latar belakang sebagai atlet. Mantan Ketua Umum PSSI pada pemerintahan Orde Lama itu pernah berkarier sebagai kiper tim nasional sepak bola.
Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta Djoko Pekik Irianto, pengganti Dito sudah seharusnya sosok yang punya kompetensi dan wawasan global, khususnya terkait isu keolahragaan nasional. Banyak masalah yang harus segera diurai. Penyelesaian itu butuh orang yang paham tentang kondisi olahraga dalam negeri.
Beberapa masalah itu, antara lain, eksekusi Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang mandek di tengah jalan. Program itu direncanakan pada era mantan Menpora Zainudin Amali, tetapi jalan di tempat hingga saat ini. Selain itu, pembagian peran Kemenpora, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI), juga perlu diperjelas.
”Pekerjaan rumah kita cukup banyak. DBON, misalnya, itu sebenarnya program yang cukup bagus dan sudah diatur dalam perpres. Masalah tidak bergerak. Butuh pemimpin, sosok Menpora, yang bisa menggerakkan itu. Kendala utamanya anggaran, tetapi UU kan sudah mengamanahkan bisa keterbatasan APBN dengan dana perwakilan,” kata Djoko, Selasa (9/9/2025).
Karena selama ini kental dengan nuansa politik dan dikuasai parpol tertentu, posisi Menpora jarang yang langgeng. Beberapa terseret masalah, bahkan terjerat korupsi. Padahal, olahraga dan kepemudaan adalah bidang yang strategis dan bisa menjadi pemersatu bangsa.
”Ini persoalan yang cenderung berulang. Bisa dibilang, Kemenpora itu kementerian yang kurang beruntung. Dalam 20 tahun terakhir, turbulensinya lebih kurang seperti itu,” kata Guru Besar Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya Ali Maksum menyoroti dinamika di Kemenpora.
Sejumlah tantangan dan pekerjaan rumah pun menanti Menpora baru. Dengan demikian, Presiden tidak bisa asal tunjuk jika memang punya perhatian khusus untuk memajukan olahraga nasional. Apalagi, hanya untuk mengerjakan tugas dalam waktu singkat.
”Harus ada komitmen dari Presiden. Harus ada komitmen bahwa orang yang dipilih memang yang punya rekam jejak dan kapasitas memadai supaya kondisi semacam ini tidak terulang. Sebab, dari masa ke masa, selalu ada saja yang terjadi, entah tersandung kasus hukum atau mengundurkan diri,” ujar Ali Maksum.
Seperti apa pekerjaan rumah yang menanti Menpora baru?
Prof Djoko Pekik, pengamat olahraga, mengatakan, salah satu tugas mendesak yang harus diselesaikan Menpora baru adalah mengharmonisasikan kembali hubungan antarpemangku kepentingan (stakeholder) terkait pembinaan olahraga prestasi, terutama dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olahraga Indonesia (KOI).
”Selama ini di Kemenpora terjadi miskomunikasi dan ketidakharmonisan dengan berbagai stakeholder. Visi-misi dan sinergi antara Kemenpora dengan KONI, KOI, dan induk-induk cabang olahraga harus segera diperbaiki,” ujar Djoko, pakar manajemen prestasi olahraga.
Djoko menilai, selama menjabat Menpora sejak Oktober 2024, yaitu di era pemerintahan Joko Widodo, masih ada kekurangan dari Dito yang perlu dibenahi Menpora baru. Ia menilai belum ada langkah signifikan yang dilakukan Dito dalam mendorong dinamisasi pembangunan olahraga nasional.
Selain itu, prestasi Indonesia di ajang Olimpiade Paris 2024 juga belum optimal, yaitu hanya meraih dua medali emas dari target empat hingga lima medali.
Senada dengan Djoko, pengamat olahraga Fritz Simanjuntak menekankan pentingnya mengembalikan fungsi kelembagaan antara KONI dan KOI. Menurut dia, KONI harus kembali berperan dalam mengoordinasi pelatihan dan pembinaan multievent, seperti SEA Games dan Olimpiade, sementara KOI fokus pada pengiriman atlet.
”KOI itu hanya memberikan KPI (key performance indicator) saja, mana yang bisa berangkat, mana yang tidak. Sementara persiapan atlet itu ada di cabang olahraga dan KONI. Menpora menaungi dan menyediakan anggarannya, sedangkan KOI mencari sponsor karena mereka yang membawa kontingen,” ucap Fritz.
Mengapa Menpora baru harus punya kompetensi di bidang olahraga?
Sosok Menpora baru pengganti Dito Ariotedjo idealnya memiliki wawasan dan kompetensi di bidang olahraga. Ia perlu memahami kondisi riil lapangan untuk memecahkan masalah-masalah yang berlarut di olahraga nasional.
”Saya percaya sekali bahwa pengalaman praktikal dalam organisasi olahraga sangat penting untuk memahami dinamika olahraga. Dengan begitu, Menpora yang terpilih dapat membuat keputusan yang tepat untuk kemajuan olahraga nasional,” tutur atlet tim nasional kickboxing Indonesia, Andi Mesyara Jerni Maswara.
Andi merupakan salah satu perwakilan atlet yang antusias dengan pergantian Menpora. Ia berharap posisi itu ditempati sosok yang profesional dan paham olahraga. Baginya, pergantian itu menumbuhkan harapan akan kinerja yang lebih baik dalam rangka memajukan olahraga nasional.
Selama ini, seolah ada tradisi bahwa jabatan Menpora diemban oleh seorang politisi. Sebelum Dito, jabatan Menpora dipegang Zainuddin Amali yang sempat menjadi Ketua Komisi II DPR dengan lingkup tugas di bidang dalam negeri, Sekretariat Negara, dan pemilu. Amali minim rekam jejak di bidang olahraga.
Begitu pula dengan Dito. Rekam jejak Dito di dunia olahraga berkisar pada pengalaman menjadi Ketua Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Provinsi Jakarta 2015-2019 dan Ketua Kontingen Indonesia pada perhelatan Olimpiade Remaja Musim Panas 2018.
Adapun Guru Besar Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UPI Dikdik Zafar Sidik menekankan, Menpora baru harus bisa melahirkan kebijakan-kebijakan strategis, tidak sekadar mengeluarkan kebijakan. Saat mengeluarkan kebijakan pun, kata Dikdik, harus benar-benar dikaji alasan dan urgensi di baliknya. Dengan demikian, kebijakan tersebut benar-benar berdampak pada kemajuan olahraga nasional.
”Lalu, (Menpora baru) memastikan tugas pemerintah berjalan untuk mengantarkan prestasi olahraga nasional ke tingkat internasional, bukan hanya mengawasi tingkat nasional,” tutur Dikdik
Selain Raffi Ahmad, Siapa saja sosok kandidat Menpora baru?
Meskipun sudah mengumumkan perombakan kabinet yang salah satunya mencopot Dito Ariotedjo dari posisi Menpora, Senin (8/9/2025), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan figur pengganti Dito belum termasuk yang dilantik. Alasannya, figur dimaksud tengah berada di luar kota sehingga tidak bisa mengikuti pelantikan kemarin.
Spekulasi pun beredar terkait pengganti Dito. Semula muncul nama politisi Partai Golkar yang kini menjabat anggota DPR, Puteri Komaruddin. Setelah pelantikan sejumlah menteri baru, kemarin, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengafirmasi telah mengusulkan nama Puteri sebagai Menpora. Dito berasal dari partai itu sehingga tidak keliru mereka mengusulkan penggantinya juga dari Golkar.
Namun, jika ditilik dari reshuffle kemarin, sudah dilantik kader Golkar, Muktharudin, sebagai Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia menggantikan Abdul Kadir Karding. Dengan demikian, terbuka kemungkinan pengganti Dito bukan dari Golkar.
Apalagi, informasi yang diperoleh Kompas, Puteri memilih untuk fokus di DPR. Ia menolak untuk menjabat sebagai menteri. Belakangan, mencuat dua nama kandidat pengganti Dito, yakni pesohor Raffi Ahmad yang kini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, serta mantan pebalap Moreno Soeprapto.
Raffi juga kerap terlihat mendampingi salah satu orang dekat Prabowo yang menjabat Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Gerindra dan Ketua Harian DPP Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.
Adapun Moreno Soeprapto kini menjabat anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra. Moreno disebut berpeluang kuat dipercaya oleh Presiden Prabowo untuk masuk dalam kabinet sebagai Menpora.
Sementara Dito Ariotedjo telah berpamitan setelah tak lagi menjabat Menpora. Ia mengaku mendapat kabar dirinya tak lagi menjabat Menpora sejak Senin pagi. ”Saya masih 35 tahun. Saya baru jadi menteri belum sampai tiga tahun. Jadi, pastinya banyak petualangan baru,” katanya.
Mengapa posisi Menpora kerap digoyang masalah dan isu tak sedap?
Posisi Menpora di Indonesia selama ini erat kaitannya dengan politik. Maka, tak jarang, posisi itu jarang langgeng dan kerap digoyang dengan berbagai alasan. Dito Ariotedjo, misalnya, adalah politisi Partai Golkar. Ia sebelumnya mengemban peran Menpora pada Kabinet Indonesia Maju 2019-2024.
Pada kabinet pemerintahan yang dipimpin Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Dito hanya melaksanakan tugas selama 1,5 tahun untuk menggantikan seniornya sesama politisi Golkar, Zainudin Amali, yang mundur setelah terpilih sebagai Wakil Ketua Umum PSSI.
Setelah itu, Dito kembali dipilih untuk menjadi Menpora pada kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintahan itu baru berjalan 11 bulan, Dito dicopot dari jabatannya. Artinya, Dito tidak pernah mengemban tugas sebagai Menpora dalam satu periode pemerintahan secara penuh.
Jika dilitik lebih jauh, Kemenpora memang merupakan salah satu kementerian yang selalu dirundung persoalan dan penunjukan menterinya sarat akan politik. Setelah dihapuskan pada era Kabinet Persatuan Nasional (1999-2001) dan Kabinet Gotong Royong (2001-2004), kementerian ini baru hadir kembali pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Kabinet Indonesia Bersatu (2004-2009).
Saat itu, politisi yang minim rekam jejak di bidang olahraga dan pemuda, Adhyaksa Dault, ditunjuk sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Pada Kabinet Indonesia Bersatu II, masa pemerintahan SBY-Boediono, kementerian ini mulai berganti nama menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga yang dijabat politisi Demokrat, Andi Alfian Mallarangeng.
Namun, Andi hanya menjabat pada 2009-2012. Dia mundur sebelum masa tugas berakhir menyusul penetapan dirinya sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus pembangunan sarana olahraga Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Penggantinya, Roy Suryo, politisi Partai Demokrat saat itu yang juga dikenal sebagai pakar telematika, pernah diminta mengembalikan barang milik negara.
Apakah pergantian Menpora mempengaruhi persiapan Indonesia untuk SEA Games?
Reshuffle atau pergantian kabinet, salah satunya di posisi Menpora, terjadi ketika cabang-cabang olahraga mempersiapkan diri menjelang ikut beberapa ajang internasional, termasuk SEA Games Thailand 2025. Meski demikian, pergantian Menpora dinilai tidak akan mengganggu persiapan tersebut.
Hal itu salah satunya diungkapkan Guru Besar Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan UPI Dikdik Zafar Sidik. Menurut Dikdik, dampak pergantian Menpora tidak akan signifikan mengingat cabang olahraga sudah melakukan persiapan.
”Dampak pergantian ini, menurut saya, tidak akan signifikan untuk cabang olahraga. Tinggal konsistensi kebijakan lama oleh induk organisasi bisa diterjemahkan tidak. Kalau bisa diterjemahkan, bisa jalan, tidak akan masalah,” ucap Dikdik.
”Tinggal bagaimana daya dukung yang akan diberikan pemerintah dalam hal ini terkait dengan tata kelola keolahragaan, terkait khususnya menghadapi ajang-ajang internasional itu seperti apa,” tuturnya.
Beberapa cabang diketahui sudah melakukan seleksi dan mengajukan nama-nama atlet untuk dikaji ulang Kemenpora. Dua cabang di antaranya adalah cabang prioritas, yaitu angkat besi dan panahan.
Angkat besi, misalnya, sudah melakukan seleksi pada akhir Agustus lalu dan langsung menyerahkan rekomendasi atlet ke Kemenpora. Begitu pula panahan yang sudah menggelar seleknas sejak akhir tahun lalu dan menggelar persiapan meliputi tur internasional mulai tahun ini.
”Kami mengajukan delapan nama untuk disiplin recurve dan enam nama untuk compound,” ujar Wakil Ketua Umum II Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Panahan Indonesia (PB Perpani) Abdul Razak.