Pembelian pemain Chelsea yang banyak dicibir ternyata mulai membuahkan hasil. Selain performa tim membaik, mereka juga mendapat untung dari penjualan pemain.
07 Agt 2025 15:00 WIB · Olahraga
Selama beberapa tahun terakhir, banyak yang mencibir strategi pembelian pemain Chelsea yang terkesan asal beli. Secara kebetulan pula, hal itu dibarengi dengan prestasi ”Si Biru” yang terus meredup.
Bahkan, akibat strategi yang terkesan acak itu, klub yang bermarkas di Stamford Bridge, London, tersebut terkena sanksi denda sebesar 27 juta pound sterling (Rp 588,9 miliar) dari UEFA karena melanggar aturan keuangan beberapa waktu lalu.
Akan tetapi, meski random, strategi tansfer itu justru mulai membuahkan hasil. Chelsea kini telah kembali ke Liga Champions, menjadi juara Piala Dunia Antarklub, dan mendapatkan keuntungan dari jual beli pemain. Mereka juga menjadi salah satu unggulan dalam perebutan gelar Liga Inggris 2025/2026.
Setelah perpindahan kepemilikan dari Roman Abramovich ke Todd Boehly dan Clearlake Capital, ”The Blues” telah menghabiskan dana lebih dari 1 miliar euro untuk pembelian pemain. Akibatnya, demi memenuhi aturan profit and sustainability rules (PSR), mereka sampai harus menjual aset hotel milik klub dan tim perempuan.
Pada awalnya, kebijakan transfer Boehly dan Clearlake adalah membeli para pemain bintang. Mereka membeli pemain yang sudah dianggap matang atau dianggap dalam masa puncak performa. Dan, jika pemain tersebut diincar oleh klub rival, Chelsea akan berupaya membajaknya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/03/3e40ce4a722e6187c3bbac447fe81a21-FBL_ENG_PR_CHELSEA_EVERTON_129285758.jpg)
Maka, didatangkanlah pemain seperti Kalidou Koulibaly, Mykhailo Mudryk, Pierre-Emerick Aubameyang, dan Raheem Sterling pada masa 2022-2023. Bahkan, mereka juga nyaris mendatangkan Cristiano Ronaldo.
Akan tetapi, meskipun menghabiskan hingga 630 juta euro dalam dua jendela transfer itu, Chelsea justru terpuruk ke papan tengah bawah Liga Inggris.
Bursa transfer berikutnya, yaitu musim panas 2023, Chelsea mengubah pendekatan pembelian pemain. Mereka mengincar pemain dengan profil usia yang lebih muda. Chelsea menghabiskan sekitar 400 juta euro.
Kali ini mereka lebih beruntung. Chelsea di antaranya bisa mendatangkan dua pemain muda yang kemudian menjadi tulang punggung skuad, Moises Caicedo dan Cole Palmer. Mereka mendapatkan Caicedo meskipun Liverpool telah lebih dulu menyepakati transfer dengan Brighton. Adapun Palmer didapat dari Manchester City.
Strategi itu berlanjut pada bursa transfer musim panas 2024. Mereka mendatangkan banyak pemain muda, tetapi memiliki banyak pengalaman bermain di sejumlah liga. Mereka di antaranya Joao Felix dan Kiernan Dewsbury-Hall. Kedua pembelian itu bisa dibilang gagal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/26/d3825307-9ad2-46d1-a933-c3f588dfc2f1_jpg.jpg)
Akan tetapi, dengan skuad inti yang mulai terbentuk melalui keberadaan pemain seperti Enzo Fernandez, Caicedo, dan Palmer, kegagalan pembelian satu atau dua pemain tidak terlalu berpengaruh. Seiring kedatangan pelatih baru, Enzo Maresca, penampilan Chelsea menanjak.
Mereka sempat bersaing di papan atas meskipun kemudian menurun dan tertatih-tatih hingga pekan terakhir untuk memastikan diri lolos ke Liga Champions. Maresca juga membawa Chelsea menjuarai Liga Konferensi Eropa, kasta ketiga kompetisi antarklub Eropa. Mereka melakukan itu dengan skuad yang memiliki usia rata-rata 24 tahun 36 hari, yang termuda dalam sejarah Liga Primer.
Puncaknya, Chelsea tampil luar biasa di Piala Dunia Antarklub. Reece James dan kawan-kawan berhasil menjadi juara, dengan menghancurkan kampiun Liga Champions, Paris Saint-Germain, di partai puncak.
Belanja pemain muda Chelsea berlanjut pada bursa transfer musim panas 2025. Mereka di antaranya mendatangkan Liam Delap (22 tahun), Joao Pedro (23), Jamie Gittens (20), Jorrel Hato (19), dan tengah berupaya membeli Xavi Simons (22). Saking banyaknya pembelian pemain oleh Chelsea, sejumlah pihak bahkan menuduh klub itu hanya membeli dengan tujuan agar klub rival tidak bisa mendapatkan sang pemain.
Chelsea juga dikritik karena menjadikan pemain seperti komoditas. Pemain muda seperti Cesare Casadei, misalnya, setelah dibeli langsung dilepas tanpa diberikan kesempatan di Stamford Bridge. Ini ibarat tengkulak yang membeli murah, untuk kemudian dijual dengan harga lebih tinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/04/c785040559d3343f50e5737a22b9bfaf-AFP_64PB7FC.jpg)
Strategi ini terasa cukup aneh mengingat status Chelsea sebagai salah satu raksasa Inggris. Banyak klub mau menampung para pemain Chelsea, meski sang pemain tak bersinar karena jarang dimainkan. Ini sangat membantu Chelsea dari sisi finansial sehingga mereka bisa terus berbelanja tanpa takut melanggar aturan PSR.
Arsenal, misalnya, adalah salah satu pelanggan setia Chelsea. Sejumlah pemain yang gagal bersinar di Stamford Bridge dibeli oleh ”The Gunners”. Kai Havertz, Jorginho, Raheem Sterling (pinjam), Kepa Arrizabalaga, dan terakhir Noni Madueke.
Perjudian Arsenal barangkali didasari oleh sejarah sejumlah pemain terdahulu. Pemain buangan yang gagal bersinar di Stamford Bridge belum tentu adalah pemain yang buruk.
Contoh kasus terbaik adalah Kevin De Bruyne dan Mohamed Salah. Keduanya adalah pemain muda yang tak mendapatkan kesempatan di Stamford Bridge sebelum kemudian hengkang ke luar Inggris. Setelah menunjukkan bakat di negara lain, keduanya kembali ke Liga Inggris bersama Manchester City dan Liverpool. Penggemar sepak bola pasti tahu apa yang kemudian terjadi dengan kedua pemain itu.
Dengan membeli Madueke seharga 52 juta pound sterling, Arsenal memberikan keuntungan lebih 20 juta pound sterling kepada Chelsea yang mendatangkannya dari PSV senilai 30,5 juta pound sterling. Arsenal juga membeli kiper buangan, Kepa, seharga 5 juta pound sterling.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/19/22fcb40f36fffd4acefa46b5a562cabe-AFP_67888KK.jpg)
Tak hanya Arsenal, klub lain juga berminat membeli pemain buangan Chelsea. Kiper Djordje Petrovic dibeli Bournemouth seharga 25 juta pound sterling. Ia sebelumnya didatangkan dari New England Revolution dengan harga hanya 14 juta pound sterling.
Akan tetapi, tidak semua pemain yang dijual memberi keuntungan bagi Chelsea. Felix, misalnya, yang dibeli seharga 48 juta pound sterling dijual rugi ke klub Saudi, Al-Nassr, senilai 26 juta pound sterling. Adapun Dewsbury-Hall yang dibeli senilai 30 juta pound sterling dijual ke Everton seharga 29 juta pound sterling.
Strategi transfer Chelsea ibarat menebar jaring pukat. Dari sekian banyak yang didapat, mereka berharap mendapatkan satu-dua pemain yang menjadi bintang seperti Caicedo dan Palmer, yang bisa mengangkat performa tim. Jika pun sang pemain gagal bersinar di Stamford Bridge, Chelsea berharap bisa mendapatkan keuntungan ketika mereka dijual. (AP/AFP)
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Antonius Tomy TrinugrohoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto