Arsenal Vs City, Nihil Ego Guardiola dan Penebusan Arteta

Hasil imbang mengakhiri duel strategi Arteta dengan Guardiola. Saat sang guru mengejutkan lewat strategi tak biasa, sang murid berjibaku dengan pemilihan pemain.

22 Sep 2025 04:36 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, MINGGU — Manajer Manchester City Pep Guardiola menurunkan ego serendah mungkin dengan rela menggunakan taktik ala tim medioker saat berhadapan dengan muridnya, Manajer Arsenal Mikel Arteta. Keputusan itu nyaris berbuah tiga poin, tetapi dibatalkan akibat penebusan dosa Arteta di pengujung laga.

Arsenal dan City berbagi poin usai hasil imbang 1-1 di Stadion Emirates, London, Inggris, Minggu (21/9/2025). Gol pemain pengganti Arsenal, Gabriel Martinelli, pada injury time, menit ke-90+3, sukses membatalkan kemenangan tim tamu. Sumbangan gol cepat penyerang City, Erling Haaland, pada menit ke-9 hanya berbuah satu poin.

Dari dua gol terpaut 80 menit lebih itu terdapat kisah menarik dari dua manajer, khususnya Guardiola. Kapan terakhir kali melihat tim asuhan Guardiola tampil superdefensif saat hanya unggul 1-0 dengan waktu tersisa 20 menit lebih? Sepertinya tidak pernah, apalagi sang manajer digadang-gadang sebagai pelopor sepak bola modern.

Strategi superdefensif itu bukan hanya memainkan pertahanan blok rendah di sisa waktu. City mengubah formasi dari 4-5-1 ke 5-4-1. Tiga bek tengah diturunkan sekaligus saat bek Nathan Ake masuk menggantikan gelandang Phil Foden. Di 15 menit tersisa, tim tamu bermain tanpa penyerang murni karena Haaland ditarik.

”Kami tidak ingin seperti ini. Namun ketika lawan bermain lebih baik, kami harus bertahan lebih dalam dan mengandalkan serangan balik. Itu bukan intensi kami. Saya lebih suka tidak melakukannya, tetapi saat berada di level ini kami harus bisa menyesuaikan diri,” kata Guardiola tentang menggunakan formasi lima bek.

Arsenal's manager Mikel Arteta watches Arsenal's William Saliba, left and Manchester City's Erling Haaland fight for the ball during the Premier League soccer match between Arsenal and Manchester City in London, Sunday, Sept. 21, 2025. (AP Photo/Kin Cheung)

Statistik pertandingan bisa memperjelas pendekatan Guardiola. City hanya menguasai bola 32,8 persen dan menyentuh bola delapan kali di kotak penalti lawan. Bek Arsenal, Riccardo Calafiori, saja menyentuh bola tujuh kali di kotak penalti City. Menurut Opta Analyst, dua aspek itu merupakan yang terendah selama era Guardiola di City.

Gol pembuka City juga datang dari serangan balik. Mereka menghukum Arsenal dalam serangan pertama setelah tidak bisa keluar dari tekanan selama delapan menit awal. Haaland, berkombinasi dengan gelandang Tijjani Reijnders, memanfaatkan celah garis pertahanan ekstra tinggi tim tuan rumah.

Mirisnya, pengorbanan ego Guardiola tidak cukup menghasilkan tiga poin. Struktur lima bek sejajar itu kecolongan di menit-menit akhir karena insting tajam Martinelli dan umpan terobosan gelandang Eberechi Eze. Martinelli lolos dari jebakan offside dan memberikan kemasukan pertama kiper Gianluigi Donnarumma dalam seragam City.

Guardiola memainkan ide pragmatis bukan tanpa alasan. Dia belajar banyak usai kekalahan 1-5 pada musim lalu. Apalagi, City datang ke Emirates dengan banyak pemain baru dan hanya punya jeda dua hari dari laga terakhir. ”Semua tim melakukan hal terbaik untuk mendapatkan hasil,” kata Arteta yang mewajarkan taktik sang guru.

Dosa Arteta

Arteta diselamatkan oleh Martinelli dan Eze. Keputusannya dalam pemilihan pemain starter kembali dipertanyakan. Dia menggunakan trio gelandang Declan Rice, Martin Zubimendi, dan Mikel Merino yang sudah terbukti gagal versus Liverpool. Tidak ada pemain kreatif di lini tengah ”Si Meriam”.

Arsenal sebenarnya terlihat baik-baik saja di awal laga. Trio gelandang itu berkali-kali memanipulasi percobaan tekanan agresif Haaland dan rekan-rekan. Sialnya, situasi berubah karena kecolongan gol cepat. Akibat unggul lebih dulu, City nyaman untuk bertahan lebih dalam dan hanya menunggu momen transisi.

Manchester City's head coach Pep Guardiola gives instructions during the Premier League soccer match between Arsenal and Manchester City in London, Sunday, Sept. 21, 2025. (AP Photo/Kin Cheung)

Ketidakhadiran sosok gelandang kreatif membuat lini tengah Arsenal minim ide. Saking frustrasi, mereka belum mampu menghasilkan tembakan setelah setengah jam laga. Serangan tim hanya bertumpu dari sayap kanan, terutama lewat aksi individu pemain sayap, Noni Madueke. Peluang pun lebih banyak berasal dari umpan silang.

Theo Walcott, mantan penyerang Arsenal, yang biasanya suportif turut mengkritik Arteta. ”Pertanyaan saya, mengapa harus menunggu menit ke-90 untuk menyerang? Mengapa tidak sejak awal laga? Saya merasa dia (Arteta) mengakui kesalahan itu dengan pergantian cepat pada paruh kedua,” ujarnya di BBC Sport.

Arteta langsung melakukan dua pergantian pemain sekaligus tepat setelah turun minum. Merino digantikan Eze, sementara Madueke ditukar dengan sayap andalan Bukayo Saka yang baru sembuh cedera. Serangan Arsenal lebih bertaji berkat peran Eze sebagai sosok kreator. Area tengah tuan rumah mulai mengancam.

Di menit ke-80, Arsenal masuk ke mode superofensif. Martinelli masuk menggantikan bek sayap Jurrien Timber. Arteta hanya menyisakan tiga bek di lapangan. Pada akhirnya, upaya persisten untuk mencari gol itu berbuah manis. Arteta menebus kesalahan dalam pemilihan starter dengan pergantian pemain tepat.

Arteta berkata, trio gelandang di awal laga merupakan pilihan terbaik. Itu akan berguna melawan City ala Guardiola, bukan versi hari ini. Terlepas dari itu, sang manajer tidak ingin membeda-bedakan pemain starter dan pengganti. Dengan banyak opsi di skuad saat ini, Arteta menilai peran semua pemain sama penting.

TOPSHOT - Arsenal's Brazilian midfielder #11 Gabriel Martinelli (2R) chips the ball into the City net for their late equalizer during the English Premier League football match between Arsenal and Manchester City at the Emirates Stadium in London on September 21, 2025. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

”Ada banyak faktor,” ujar Arteta soal cara penentuan starter. ”Pertama adalah tingkat performa dan kondisi emosional mereka. Setelah itu, apa yang kami yakini sebagai hal terbaik terkait lawan. Kami harus memprediksi lawan. Ada juga chemistry yang bisa membuat satu sama lain lebih baik. Kami perlu memahaminya,” tambahnya.

Lewat hasil imbang, Arteta sukses menjadi manajer pertama yang tidak terkalahkan dari Guardiola dalam lima pertandingan liga beruntun. Hal itu terasa seperti kesuksesan besar untuk sang murid. Namun, dengan satu poin, tim asuhan Arteta sudah tertinggal lima poin dari pemuncak klasemen Liverpool setelah lima laga. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan