Sejumlah pejabat Israel secara terbuka mengakui serangan ke Suriah. AS mendesak Turki berhenti menyerang Suriah.
13 Des 2024 15:04 WIB · Internasional
NEW YORK, JUMAT — Hampir sepekan sejak Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan, sejumlah negara asing terus menyerang Suriah. Israel dan Turki paling gencar.
”Sekretaris Jenderal Antonio Guterres gelisah atas ratusan serangan udara Israel ke Suriah. Mendesak peredaan ketegangan di semua palagan,” kata Juru Bicara Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa Stephane Dujarric, Kamis (12/12/2024) siang waktu New York, Amerika Serikat, atau Jumat dini hari WIB.
Sejak Sabtu pekan lalu, Israel melancarkan setidaknya 500 serangan udara ke berbagai penjuru Suriah. Israel berkilah serangan itu mencegah cadangan senjata Suriah dikuasai kelompok-kelompok milisi yang tidak dikehendaki Israel. Pangkalan udara, pangkalan laut, gudang senjata, sampai laboratorium Suriah diserang Israel.
Israel juga mengakui mencaplok wilayah penyangga antara Dataran Tinggi Golan dan Suriah. PBB menilai pencaplokan itu melanggar kesepakatan 1974. Kala itu, PBB menyepakati zona penyangga yang bebas dari militer Suriah ataupun Israel.
Tidak ada alasan untuk membenarkan pasukan darat, dengan dukungan serangan udara, Israel ke Suriah.
Sekutu Assad, Rusia, mengecam ratusan serangan udara Israel ke Suriah. ”Tindakan itu jelas tidak selaras dengan kebutuhan menjaga kestabilan di Suriah. Malah membuat keadaan memburuk,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova.
Dosen pada University of San Francisco, Stephen Zunes, mengatakan, Suriah amat membutuhkan dukungan dunia untuk menghentikan serangan Israel. Dunia harus bertindak karena kini Suriah tidak punya pemerintahan jelas. ”Pemerintahan transisi masih sibuk memulihkan layanan umum,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Motif Israel menyerang Suriah, kata Zunes, jelas untuk pencaplokan. ”Tidak ada alasan untuk membenarkan pasukan darat, dengan dukungan serangan udara, Israel ke Suriah. Mereka (Israel) mencuri kesempatan saat Suriah sedang berantakan,” katanya.
Ia menyoroti pernyataan sejumlah pihak di Israel untuk membangun sangraloka di Gunung Hermon. Seperti Dataran Tinggi Golan, Gunung Hermon merupakan wilayah Suriah. Bedanya, Golan sudah puluhan tahun dicaplok, sementara Hermon baru beberapa hari dikuasai Israel.
Dosen pada Durham University di Inggris, Rob Geist Pinfold, juga menyatakan hal senada. ”Apa pun alasannnya, keamanan atau apa pun, faktanya Israel mencaplok wilayah,” katanya.
Israel, kata Pinfold, mengulangi pola di Lebanon dan Palestina. Dengan alasan menciptakan zona penyangga untuk keamanannya, Israel mencaplok wilayah negara lain.
Israel kini menguasai area hingga 18 kilometer dari perbatasan Golan dengan wilayah lain di Suriah. Sejumlah pejabat Israel secara terbuka mengakui serangan ke Suriah.
Dosen pada Georgetown University di AS, Caroline Rose, menyebut bahwa kejatuhan Assad jadi masalah gara-gara ulah Israel. ”Malah memicu ketidakstabilan baru,” katanya.
Sekutu Israel, AS, sejauh ini belum berkomentar soal ulah Israel di Suriah. AS malah mendesak Turki meredakan serangan ke Suriah.
Melalui angkatan bersenjatanya ataupun milisi Suriah yang disokong Ankara, Turki terus menyerang Suriah. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mendatangi Ankara untuk membahas isu itu. Ia ditemui Presiden Turki Recep Erdogan.
Kepada Erdogan, Blinken mengakui dinamika Suriah terkait keamanan Turki. AS mencatat keresahan Turki pada Partai Pekerja Kurdi (PKK), organisasi orang Kurdi yang punya milisi. ”Di sisi lain, kita harus berupaya mencegah konflik tambahan di Suriah,” kata Blinken.
Selama perang saudara Suriah, AS menyokong sejumlah kelompok milisi Kurdi di Suriah. Pasukan Demokratik Suriah (SDF) merupakan milisi Kurdi yang paling disokong AS.
Kepada Erdogan, Blinken menekankan peran penting SDF dalam menghadapi kelompok teror di Suriah. Ia hanya merujuk pada Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/13/a29dcaa3-ede0-451e-8012-15b984071a9c_jpg.jpg)
Ia tidak merujuk pada Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pimpinan Ahmed al-Sharaa yang kini jadi pemimpin faktual utama Suriah.
Koalisi faksi HTS menggulingkan Assad pada akhir pekan lalu. Sampai sekarang, HTS masih masuk daftar teroris di PBB. AS dan para sekutunya juga memasukkan HTS dan Al-Sharaa alias Abu Mohammed al-Golani dalam daftar teroris.
HTS awalnya cabang Al-Qaeda di Suriah. Belakangan, faksi Al-Qaeda terpecah menjadi Jabhat al-Nusra dan sebagian lagi membentuk NIIS. Selain itu, Al-Golani juga mengumumkan HTS berpisah dari Al-Qaeda.
Sejumlah faksi di Suriah mulai merundingkan pembentukan pemerintahan baru. HTS, bersama Tentara Nasional Suriah (SNA), dilaporkan berunding dengan SDF.
HTS-SNA meminta SDF mengusir milisi Kurdi yang berusaha membentuk negara sendiri. SDF juga ditawari bergabung dengan angkatan bersenjata baru Suriah. Selain itu, HTS-SNA akan membicarakan pengelolaan bersama sumber daya alam.
Sementara SDF menuntut otonomi penuh dan hak mengibarkan bendera atas wilayah otonom. SDF juga meminta warga Kurdi Suriah diizinkan kembali dari pengungsian.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/13/94b5b42d-4f03-466b-9409-0ffbedf54731_jpg.jpg)
Sementara itu, Koalisi Nasional Revolusi Suriah menolak upaya pembentukan pemerintahan baru yang dimotori HTS-SNA. Kelompok oposisi Suriah di luar negeri itu meminta PBB memfasilitasi pembentukan pemerintahan baru Suriah.
Salah satu petinggi kelompok itu, Mohammad Salim Alkhateb, berkilah bahwa harus ada pengakuan internasional atas pemerintahan baru Suriah. Pemerintahan sementara bentukan HTS dinyatakan bekerja sampai Maret 2025.
Alkhateb juga menolak gagasan semua milisi oposisi dijadikan tentara resmi Suriah. ”Mereka sipil bersenjata. Kami tidak mau mereka jadi militer,” ujarnya kepada Associated Press.
(AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Iwan Santosa, Kris MadaEditor:
Bonifasius Josie Susilo H, Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji