Ada biaya tambahan 250 dollar AS untuk membuat visa ke AS. Penonton Piala Dunia 2026 bisa terimbas.
21 Jul 2025 17:08 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, SENIN — Biaya perjalanan ke Amerika Serikat akan semakin mahal. Pemerintahan Donald Trump mengutip tambahan 250 dollar AS dari setiap pemohon visa. Biaya itu semacam jaminan agar pemohon tidak macam-macam selama di AS.
Pengutipan uang 250 dollar AS itu sesuai dengan amanat undang-undang omnibus. Pengumuman itu diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS, Minggu (20/7/2025) siang waktu Washington DC atau Senin dini hari WIB.
Biaya tambahan dipraktikkan per Oktober 2025. Uang itu dibebankan kepada warga negara asing yang bukan dari negara-negara bebas visa AS. Indonesia otomatis termasuk dalam daftar negara yang dikenai tambahan 250 dollar AS. Biaya ini bisa naik karena tergantung pada inflasi.
Visa-visa yang dikutip ialah visa F-1 untuk mahasiswa, B1 dan B2 untuk wisatawan, H-1B untuk tenaga kerja profesional, O untuk para pakar di bidang khusus. Biaya itu juga dikenakan kepada pemohon visa L untuk warga asing pegawai perusahaan AS yang ditarik ke pusat.
Pengacara dari firma hukum Reddy Neumann Brown PC, Steven Brown, mengunggah penjelasan di laman resminya. Biaya tambahan ini dibebankan di atas biaya formulir visa 24 dollar AS dan biaya pendaftaran awal.
”Misalnya, biaya pendaftaran visa H-1B adalah 205 dollar AS. Adanya biaya tambahan ini, biaya yang harus dibayar keseluruhan adalah 455 dollar plus biaya formulir,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/05/3bec4576b2906b0ed85732d53528a0c2-wires_photo_31.jpg)
Penambahan biaya ini oleh Pemerintah AS dilakukan guna memastikan kepatuhan warga asing yang datang ke AS. Mereka tidak boleh mengambil pekerjaan, apalagi tinggal melampaui masa izin.
Janjinya, jika mereka mematuhi semua peraturan, uang 250 dollar AS itu bisa ditebus setelah visanya kedaluwarsa. Namun, setiap jenis visa memiliki masa kedaluwarsa berbeda-beda.
Visa bisnis, misalnya, baru kedaluwarsa setelah lima tahun. Menurut Kantor Anggaran Kongres AS, mereka memperkirakan jarang ada orang yang meminta tebusan uang jaminan itu. Walhasil, warga asing lebih aman menyimpulkan bahwa uang mereka tidak akan kembali.
Menurut data Pemerintah AS, hampir semua pengunjung non-imigran ke AS menaati aturan. Pada periode 2016-2022, hanya 2 persen pengunjung non-imigran yang tinggalnya melampaui izin.
Meskipun begitu, persoalan imigran gelap adalah hal yang serius bagi AS. Sebanyak 42 persen dari 11 juta imigran ilegal di negara itu masuk ke AS menggunakan visa, tetapi mereka diam-diam tetap tinggal walau visanya sudah kedaluwarsa.
Pebisnis pariwisata AS merutuki kutipan tersebut. ”Pengutipan biaya tambahan ini bodoh dan memberatkan industri pariwisata kita yang sudah terpuruk,” kata Ketua Asosiasi Perjalanan AS (USTA) Geoff Freeman, dikutip majalah Conde Nast Traveller.
Menurut dia, biaya tambahan ini tidak dipakai untuk meningkatkan mutu layanan wisata AS. Hal ini akan membuat wisatawan asing semakin enggan liburan dan belanja ke AS.
Awalnya, firma Tourism Economics pada 2024 memperkirakan industri pariwisata AS akan tumbuh 8,8 persen pada 2025. Akan tetapi, begitu Trump dilantik pada Januari 2025, ia mengeluarkan berbagai aturan yang memojokkan kelompok migran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/01/eca875cc-3095-4f41-b14c-5440b1993266.jpg)
Agen-agen pemerintah memburu imigran gelap dengan cara memperlakukan semua orang asing secara rasialis. Bahkan, banyak warga asing yang berada secara sah di AS ditangkapi dan dimasukkan ke rumah tahanan.
Penangkapan berdasarkan penampilan dan cara berbicaranya dianggap berbeda dengan warga AS. Akibatnya, sejumlah negara, termasuk Eropa, mengeluarkan peringatan kepada warganya agar hati-hati jika ingin bepergian ke AS.
Tourism Economics pun mengeluarkan laporan terbaru. Alih-alih berkembang, pariwisata AS dengan kondisi di bawah Trump ini justru akan turun 5,1 persen dari angka pada tahun 2024. Para pelaku di industri pariwisata pun diterjang gelombang kecemasan.
AS akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 dan Olimpiade Musim Panas 2028. Apabila biaya tambahan ini terus disesuaikan dengan inflasi, setiap tahun harganya semakin mahal.
Para pelaku pariwisata khawatir potensi wisatawan yang datang bisa berkurang drastis dari harapan. Oleh sebab itu, banyak biro perjalanan menyarakan lamaran visa harus diajukan sebelum Oktober 2025.
Sejatinya, bukan cuma AS yang mengutip biaya tambahan untuk visa. Inggris sudah lebih dulu menaikkan biaya visa mereka 7 persen untuk semua jenis.
Hanya, harga ini tidak segila yang diterapkan AS. Misalnya, untuk visa enam bulan di Inggris naik dari 115 pound sterling ke 127 pound sterling. Visa untuk dua tahun dari 432 pound sterling menjadi 475 pound sterling.
Pada 2024, visa Schengen ke Uni Eropa juga naik. Mirip dengan Inggris, kenaikannya tidak drastis. Sebagai gambaran, kenaikannya dari 80 euro ke 90 euro. Untuk visa Schengen bagi anak-anak berumur maksimal 12 tahun, harganya dari 40 euro menjadi 45 euro.
Kota-kota di Eropa yang kerap menjadi tujuan wisata, antara lain Venesia di Italia dan Barcelona di Spanyol, mengutip pajak tambahan untuk wisata. Prakti serupa akan diterapkan oleh Jepang per Oktober 2025.
Di Yunani, pajak tambahan dikutip dari para penumpang kapal pesiar. Sejak 21 Juli 2025, menurut laporan Euronews, Pulau Mykonos mengutip pajak 20 euro dan pulau-pulau lain 5 euro. Uang itu dipakai untuk menjaga kelestarian alam Yunani yang rusak akibat beban pariwisata berlebih. (AP/AFP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul