Aspek Psikologis Jadi Pertimbangan Pilih Pelatih LKG BRI Indonesia

Pelatih berperan penting dalam tim di Piala Gothia 2025. Maka, selain kemampuan teknis, aspek psikologis pun jadi pertimbangan memilih pelatih tim LKG BRI Indonesia.

28 Feb 2025 08:11 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah

JAKARTA, KOMPAS — Setelah dua tahapan seleksi pemain Liga Kompas U-14 Powered by BRI 2024-2025 rampung digelar, persiapan tim LKG BRI Indonesia untuk Piala Gothia 2025 berlanjut dengan penyaringan pelatih. Selain kemampuan teknis di lapangan, aspek psikologis juga untuk pertama kalinya jadi pertimbangan memilih pelatih terbaik guna menangani tim.

Sebanyak 16 pelatih dari setiap tim peserta Liga Kompas lebih dahulu disaring oleh pemandu bakat dan Tim 11. Penyaringan dilakukan dengan melihat kemampuan teknis di lapangan, terutama dalam memimpin tim selama 11 pekan Liga Kompas.

Selanjutnya, terpilih enam pelatih yang melakoni seleksi lanjutan berupa tes kemampuan psikologi di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta Pusat, Kamis (27/2/2025). Dalam seleksi yang melibatkan psikolog dari Ikatan Psikologi Olahraga (IPO), para pelatih mengerjakan beberapa tes guna mengukur beberapa aspek, mulai dari intelegensi hingga manajemen emosi.

”Selain di lapangan yang sudah dilihat oleh tim pemandu bakat, juga ada hal-hal yang intangible, yang secara psikologi itu bisa diangkat ke permukaan. Dengan tes psikologi, kita bicara tentang potensi sebenarnya dari pelatih-pelatih ini. Potensi dia ini akan muncul kalau kondisi seperti apa atau dalam situasi apa,” kata Sekretaris Jenderal IPO Taru Guritna.

Pelatih Persigawa memberikan arahan kepada pemainnya, Nicholas Satria Arkananta, saat melawan Salfas Soccer dalam laga pekan kedelapan Liga Kompas U-14 2024/2025 Powered by BRI di Stadion Kera Sakti, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (2/2/2025). Persigawa menang atas Salfas Soccer dengan skor 3-0. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 02-02-2022

Taru mengatakan, sedikitnya ada empat kualitas yang dicari dari seorang pelatih berdasarkan hasil tes-tes tersebut. Pertama, pelatih yang memiliki daya tangkap dan kemampuan analisis yang baik. Aspek ini penting karena berkaitan soal cara pelatih meramu strategi dan memecahkan masalah di dalam tim.

Lalu, pelatih yang punya kemampuan memimpin dan berkomunikasi. Sebab, pelatih tidak hanya membangun tim, tetapi juga memimpinnya. Tim yang dipimpin pun lebih menantang karena berisi para pemain belia.

Kualitas keempat yang dicari ialah pelatih yang mampu mengelola emosi, termasuk mengatasi tekanan saat situasi sulit. Apalagi, tekanan akan selalu datang dalam pertandingan sepak bola, apalagi dalam turnamen seperti Piala Gothia.

Pada sesi terakhir, setelah para pelatih sibuk masing-masing untuk mengerjakan tes di kertas selama berjam-jam, mereka diajak wawancara berkelompok. Para pelatih mendapatkan materi yang disebut kartu point of view.

Quote

Dari seluruh tes, kami akan melihat gambaran yang mendekati utuh, ’mengenal’ si pelatih ini seperti apa, juga bisa memberi masukan ke dia untuk hal-hal yang harus diperbaiki dan hal-hal yang jadi kekuatannya.

Suasana pun menjadi hidup karena para pelatih secara bergantian bercerita soal kartu yang mereka pilih dan relevansinya dengan diri mereka. Tak jarang, pelatih lain turut menanggapi.

Para pelatih Liga Kompas U-14 Powered by BRI berpose bersama psikolog dari Ikatan Psikolog Olahraga dan Direktur Liga Kompas U-14  Emilius Caesar Alexey, selepas tes psikologi di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta Pusat, Kamis (27/2/2025)

”Dari seluruh tes, kami akan melihat gambaran yang mendekati utuh, ’mengenal’ si pelatih ini seperti apa, juga bisa memberi masukan ke dia untuk hal-hal yang harus diperbaiki dan hal-hal yang jadi kekuatannya. Jadi, proses tes psikologi itu bukan sekadar untuk seleksi, tapi tujuannya juga untuk profiling, untuk kita bantu dia mengembangkan diri,” ucap Taru.

Pelatih Akademi Persib Bogor Ajat Sudrajat, yang mengikuti proses seleksi, mengatakan, tes psikologi menjadi hal baru baginya ketika sudah menjadi seorang juru taktik. Ajat malah tak menganggapnya sebagai bagian dari proses seleksi karena merasa mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman, terutama soal mengenal diri sendiri.

Hal serupa disampaikan oleh Pelatih One Way SS TB Wahyudiansyah. Terlepas bagaimana hasil seleksi nantinya, kata TB Wahyudiansyah, asesmen psikologi tersebut akan berguna baginya dalam menangani tim.

”Ini sangat berguna bagi pelatih karena kami bisa mengenal diri kami, memotivasi diri sendiri, sehingga akhirnya bisa lebih memotivasi tim. Artinya, sebelum mengenal para pemain, memotivasi mereka, pelatih mengenal dan memotivasi diri sendiri terlebih dahulu,” ucap TB Wahyudiansyah.

Dede Sulaeman (tengah), anggota tim 11 Liga Kompas Powered by BRI, memberikan instruksi sekaligus evaluasi pada seleksi pertama tim LKG BRI Indonesia untuk Piala Gothia 2025, Minggu (9/2/2025), di Lapangan Kera Sakti, Tangerang Selatan, Banten. Sebanyak 18 pemain akan mewakili skuad LKG BRI di Piala Gothia tahun ini.

Sejak musim 2023-2024, Liga Kompas memang menghadirkan terobosan baru dengan melibatkan psikolog olahraga untuk membantu para pemain mengeluarkan potensi terbaiknya. Psikolog juga terlibat dalam memberikan pemahaman kepada orangtua dan pelatih sebagai dua komponen penting dalam perkembangan pemain.

Direktur Liga Kompas U-14  Emilius Caesar Alexey mengatakan, mulai musim ini, psikolog juga terlibat dalam proses seleksi pelatih. Sebab, Liga Kompas U-14 menyadari bahwa berdasarkan pengalaman pada keikutsertaan di Piala Gothia edisi-edisi sebelumnya, faktor psikologis pelatih turut menentukan kualitas tim.

”Kondisi pelatih, termasuk kondisi psikologisnya, ternyata sangat krusial juga dalam tim ketika mengikuti Piala Gothia. Maka dari itu, kami turut melibatkan psikolog untuk mencari pelatih yang terbaik untuk membawa tim juara,” tutur Caesar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .