Sebanyak 11 wakil Indonesia lolos ke perempat final turnamen Thailand Masters 2025. Beberapa di antara mereka akan menjalani perempat final pertama level Super 300.
30 Jan 2025 22:42 WIB · Olahraga
BANGKOK, KAMIS — Indonesia memanfaatkan turnamen bulu tangkis Thailand Masters Super 300 untuk menurunkan semua atlet muda di pelatnas utama. Sebagian besar di antara mereka lolos ke perempat final.
Alwi Farhan, Putri Kusuma Wardani, dan Komang Ayu Cahya Dewi, mewakili sektor tunggal yang akan tampil pada perempat final di Stadion Nimibutr, Bangkok, Thailand, Jumat (31/1/2025). Pada ganda putri, tiket perempat final didapat Rachel Alessya Rose/Meilysa Trias Puspitasari yang baru bermain kembali setelah Trias absen dari turnamen selama delapan bulan karena cedera lutut kiri.
Dalam persaingan ganda campuran, Indonesia meloloskan empat perempat finalis, salah satunya, pasangan muda potensial, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu. Siti Fadia Silva Ramadhanti juga akan tampil pada perempat final ganda campuran bersama Dejan Ferdinansyah. Selain itu, Fadia pun lolos ke fase yang sama ganda putri bersama Lanny Tria Mayasari.
Adapun tiket perempat final ganda putra sudah selayaknya didapat Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana dan Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin yang menjadi dua unggulan teratas. Setelah batal bermain di Malaysia Terbuka Super 1000 dan India Terbuka Super 750, mereka bermain di Thailand yang levelnya lebih rendah.
Sebanyak 11 perempat finalis menjadi bagian dari 23 wakil Indonesia pada turnamen keempat dalam Tur Asia selama sebulan terakhir. Sebelum Thailand Masters, tiga turnamen lain dengan level lebih tinggi telah diselenggarakan sejak pekan kedua Januari, yaitu Malaysia Terbuka, India Terbuka, dan Indonesia Masters Super 500. Namun, Indonesia tak mendapat satu gelar pun dari total 15 gelar juara yang diperebutkan.
Berdasarkan jumlah wakil yang lolos ke perempat final, peluang Indonesia untuk membawa pulang gelar dari Thailand Masters cukup besar. Apalagi, banyak pemain berstatus sebagai unggulan karena peringkat mereka lebih tinggi dibandingkan sebagian besar peserta lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/30/9684b56e6bf17dadc38d03b2ff7ccafb-Komang5_R16_ThailandMasters2025_PBSI_20250130.jpg)
Putri (peringkat ke-15 dunia) dan Komang (ke-45), misalnya, menjadi unggulan ketiga dan kedelapan tunggal putri. Pada perempat final, mereka akan melawan pemain Thailand. Putri akan melawan Pornpicha Choekeewong, sedangkan Komang berhadapan dengan Pitchamon Opatniputh. Opatniputh membuat kejutan pada babak kedua dengan menyingkirkan seniornya, Ratchanok Intanon.
Pada ganda putri, Lanny/Fadia dan Rachel/Trias menjadi unggulan keenam dan ketujuh. Selain itu, tiga dari empat ganda campuran yang akan bertanding pada perempat final juga berstatus unggulan. Mereka adalah Jafar/Felisha (6), Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil (7), dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah (8).
Namun, ada yang lebih penting dibandingkan menghitung peluang jumlah gelar juara yang bisa dibawa skuad ”Merah Putih”, yaitu potensi yang diperlihatkan pemain-pemain muda. Lolosnya Alwi ke perempat final didapatkan setelah dia menyingkirkan unggulan kedua, Ng Ka Long Angus, 21-8, 16-21, 21-12, pada babak kedua, Kamis.
Puji Tuhan, bersyukur bisa melaju ke perempat final. Dari sisi permainan, kami tetap fokus dan mencoba konsisten untuk menghadapi laga-laga selanjutnya.
Ng, atlet berusia 30 tahun asal Hong Kong, adalah tunggal putra peringkat ke-20 dunia. Dia meraih gelar pertama pada 2013 dari ajang BWF International Series/Challenge. Sementara Alwi, juara dunia yunior 2023, memulai penampilan dalam level yang sama pada 2022 dan tampil dalam rangkaian BWF World Tour (Super 300 hingga 1000) sejak 2023.
Kemenangan pada babak kedua Thailand Masters, dikatakan Alwi, merupakan hasil pembelajarannya setelah dikalahkan Ng pada semifinal Makau Terbuka Super 2024. Ia juga belajar dari kekalahan pada babak kualifikasi Indonesia Masters, pekan lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/30/9ce45d3716046a0977dac37c74a1d71e-Alwi4_R16_ThailandMasters2025_PBSI_20250130.jpg)
Penampilannya di Indonesia Masters menjadi yang pertama dan dia harus bermain sejak fase kualifikasi. Alwi kalah dalam laga ketat tiga gim dari Jeon Hyeok-jin (Korea Selatan).
”Hari ini, saya bisa menjalani pertandingan dengan maksimal setelah belajar dari kekalahan sebelumnya. Saya bersyukur karena mendapat dukungan dari orangtua, pelatih, dan psikolog,” kata Alwi yang akan melawan unggulan kedelapan, Nhat Nguyen, pada babak delapan besar.
Selain Alwi, yang berusia 19 tahun, Indonesia memiliki Mohammad Zaki Ubaidillah yang lebih muda setahun dari Alwi. Zaki kalah dari unggulan keempat, Jia Heng Jason Teh, 21-23, 15-21, pada babak kedua. Namun, dia pun patut mendapat perhatian.
Zaki menjalani debut dalam turnamen Super 300 dengan status pemain kualifikasi. Semifinalis Kejuaraan Dunia Yunior 2024 itu mendapat pengalaman berharga dalam menjalani awal masa transisi dari persaingan yunior ke yang lebih tinggi, pengalaman seperti yang dijalani Alwi.
Rachel/Trias, yang masing-masing berusia 20 tahun, memulai kembali penampilan mereka dengan cukup baik setelah terakhir kali bermain bersama dalam Kejuaraan Piala Uber di China pada Mei 2024. Tahun 2024 menjadi tahun kedua bagi mereka dalam menjalani turnamen BWF World Tour secara penuh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/29/f1f7c7662c366f78de0df27196d4cca0-Zaki_R32_ThailandMasters2025_PBSI_20250129.jpg)
Finalis Kejuaraan Dunia Yunior 2022 itu diproyeksikan bisa menembus persaingan top dunia dengan berbagai kendala yang ada pada ganda putri pelatnas, seperti cedera berkepanjangan yang dialami Apriyani Rahayu dan keluarnya Ribka Sugiarto dari pelatnas. Rachel/Trias pun meraih gelar pertama dari BWF World Tour, yaitu di Orleans Masters Super 300.
Namun, mereka dipisahkan sementara karena cedera lutut kiri yang dialami Trias saat latihan. Cedera pada bagian ACL membuatnya harus beristirahat dari turnamen, sementara Rachel bermain bersama Lanny, lalu Kelly Larissa. Rachel/Trias akhirnya bermain bersama lagi pada 2025 dengan tampil di Indonesia Masters (kalah pada babak pertama), lalu di Thailand Masters.
Perjalanan mereka dan Lanny/Fadia ke perempat final lebih baik dibandingkan Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi yang menjadi ganda putri nomor satu Indonesia saat ini, yaitu dengan peringkat kedelapan dunia. Febriana/Amalia tersisih pada babak pertama dengan status unggulan pertama.
Pemain muda potensial lainnya yang akan bersaing pada perempat final di Thailand adalah Jafar/Felisha. Bagi pasangan yang berduet sejak Agustus 2024 itu, pertandingan melawan Pakkapon Teeraratsakul/Phataimas Muenwong menjadi perempat final pertama pada turnamen BWF World Tour.
Tiga gelar juara dari enam turnamen International Challenge dan Super 100, yaitu pada rentang Agustus-November 2024, membuat Jafar/Felisha menjadi harapan lahirnya kembali ganda campuran Indonesia yang bisa menembus persaingan elite dunia pada tahun–tahun mendatang. Mereka menjadi duet termuda di antara ganda campuran pelatnas utama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/30/3e63d435aa74454878971c9d37d86259-JafarFelisha4_R16_ThailandMasters2025_PBSI_20250130.jpg)
”Puji Tuhan, bersyukur bisa melaju ke perempat final. Dari sisi permainan, kami tetap fokus dan mencoba konsisten untuk menghadapi laga-laga selanjutnya. Target kami pasti mau yang terbaik, mau juara, tetapi kami akan jalani selangkah demi selangkah. Setelah lolos ke perempat final, semoga kami bisa melaju lebih jauh lagi,” tutur Felisha.
Sementara kekalahan pada babak-babak awal turnamen kembali dialami Chico Aura Dwi Wardoyo. Chico, sebagai unggulan ketiga, kalah dari S Sankar Muthusamy Subramanian dengan skor 21-9, 10-21, 17-21. Dengan demikian, perjalanan Chico lebih singkat dibandingkan ”adiknya”, Alwi.
Hasil tersebut didapat setelah tersisih pada babak pertama Indonesia Masters hingga membuat Chico tersingkir pada dua babak awal dalam 13 turnamen terakhir secara beruntun.
Dengan peringkat ke-32, Chico sebenarnya berstatus tunggal putra nomor tiga Indonesia di bawah Jonatan Christie dengan peringkat ketiga dan Anthony Sinisuka Ginting (ke-14). Namun, prestasi Chico jauh di bawah mereka. Padahal, Chico (26 tahun) hanya lebih muda setahun dari Jonatan dan dua tahun dari Anthony.
Pada 2023 hingga 2024, Chico hanya tiga kali melewati babak kedua dari 30 turnamen, yaitu saat menjadi finalis Indonesia Masters Super 500 dan menjuarai Taiwan Terbuka Super 300 pada 2023, serta mencapai semifinal Perancis Terbuka Super 750 2024.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/20/1006b7db-4a75-4ebb-8c84-dad392bb7260_jpg.jpg)
Ketika prestasi atlet tak berkembang, mereka biasanya diistirahatkan dari turnamen untuk memperbaiki performa dalam latihan. Setelah proses ini dilalui, atlet kembali ke turnamen dengan level lebih rendah dari yang biasa diikuti dengan target juara. Hal ini dilakukan untuk membangkitkan kepercayaan diri mereka.
Proses itu dilakukan Putri pada 2024 dengan absen dari turnamen sejak pertengahan Juni hingga awal September karena performanya stagnan. Atlet berusia 22 tahun itu memanfaatkan waktu tersebut untuk latihan lebih keras dibandingkan program yang pernah dia jalani. Setelah dinilai siap kembali ke turnamen, ajang yang diikuti diturunkan dengan fokus pada level Super 300, lalu dinaikkan sesuai perkembangannya.
Usai memperbaiki berbagai faktor pada dirinya, perlahan, penampilan Putri naik kembali. Dia tiga kali lolos ke final dari tujuh turnamen pada September hingga November 2024, capaian yang salah satunya menghasilkan gelar dari Korea Masters. Selain itu, Putri mencapai semifinal turnamen di atas Super 500 untuk pertama kalinya, yaitu di Denmark Terbuka Super 750. Pada 2025, sebelum tampil di Thailand Masters, dia mencapai perempat final India Terbuka dan Indonesia Masters.
Hal berbeda dilalui Chico. Meskipun berhak tampil pada turnamen Super 750 dan 1000 karena posisinya yang memungkinan berdasarkan ranking dunia, PBSI lebih sering mendaftarkannya pada turnamen level tinggi. Sebelum Thailand Masters, Chico hanya dua kali bermain pada ajang Super 300 dalam rentang 2023-2024, yaitu di Swiss dan Taiwan Terbuka, dua tahun lalu.
Rentang prestasi terlalu jauh pada sektor tunggal putra ini mendapat perhatian dari Jonatan. Setelah kalah pada final Indonesia Masters, dia berharap, atlet-atlet muda mendapat kesempatan lebih banyak dalam mengikuti turnamen.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan