Sudah 67.211 warga Palestina tewas akibat serangan Israel ke Gaza sejak 8 Oktober 2023. Gencatan senjata terwujud lagi dan tetap rapuh.
11 Okt 2025 16:59 WIB · Internasional
1. Bagaimana perkembangan gencatan senjata Hamas dan Israel?
2. Seperti apa perjanjian gencatan senjata kali ini?
3. Bagaimana dengan gencatan sebelumnya?
4. Seperti apa prospek Solusi Dua Negara?
Gencatan senjata antara Hamas dan Israel dimulai sejak Jumat (10/10/2025) waktu setempat, setelah disepakati di Mesir dengan Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turki sebagai penengah. Ini adalah fase pertama dari perjanjian tersebut.
Pasukan Israel hanya ditarik dari sebagian wilayah Gaza. Ini merupakan penanda waktu 72 jam bagi Hamas untuk memulangkan 48 tawanan.
Sebanyak 20 sandera masih hidup dan 28 orang sudah meninggal. Hamas tetap harus memulangkan jasad mereka. Paling lama, Senin (13/10/2025) tengah hari waktu setempat, semua sandera sudah diserahkan ke militer Israel yang akan membawa mereka ke pangkalan militer terdekat perbatasan Jalur Gaza-Israel. Di sana, kerabat para sandera menunggu.
Prakarsa gencatan senjata ini berasal dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan berisi 20 poin. Kesepakatannya, setelah Hamas memulangkan semua sandera, militer Israel secara bertahap membebaskan warga Palestina yang mereka tawan. Jumlahnya ada 2.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Israel juga harus membuka lima gerbang perbatasan mereka dengan Palestina, yaitu Kerem Shalom, Al-Muntar (Karni), Al-Awdah (Sufa), dan Beit Hanoun. Gerbang Rafah yang berbatasan dengan Mesir juga harus dibuka guna menyalurkan bantuan sosial. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan, ada 170.000 ton bantuan yang siap disebarluaskan begitu akses dibuka oleh militer Israel.
Setelah fase pertama selesai, Hamas dan Israel dijadwalkan untuk berunding kembali membahas fase kedua. Perjanjian gencatan senjata fase pertama ini belum membahas apabila Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sepenuhnya menghentikan serangan ke Gaza.
AS, Turki, Qatar, Mesir, dan negara-negara lain di Timur Tengah menyatakan siap menurunkan pasukan perdamaian. Akan tetapi, agar hal itu terjadi, harus menunggu mandat dari Dewan Keamanan PBB. Khusus tentara AS, menurut rencana, tidak menginjak bumi Palestina, tetapi berjaga di salah satu negara Timur Tengah.
Sebelumnya, ada gencatan senjata pada 15 Januari 2025 yang dimediasi di Doha, Qatar. Ketika itu dicapai, sudah 48.200 warga Palestina yang tewas.
Gencatan sejata itu berlangsung selama dua pekan, tetapi pada Januari 2025 pula Donald Trump dilantik menjadi presiden AS. Pidatonya mengenai niat mengambil alih Gaza membuat gencatan senjata terhalang.
Setelah Hamas memulangkan sejumlah sandera, mereka menuduh Israel tidak menepati janji. Israel tidak membuka akses agar bantuan sosial bisa masuk ke Gaza. Oleh sebab itu, Hamas menahan pemulangan sandera yang tersisa. Israel kembali menyerang Gaza dan gencatan senjata gagal.
Solusi Dua Negara, walaupun ideal sebagai penyudah konflik Israel dan Palestina, memiliki banyak kritik dan perdebatan terkait cara penerapannya. Pertama, perjanjian gencatan senjata ini dalam pembuatan proposalnya tidak melibatkan Palestina. AS dan negara-negara Timur Tengah datang dengan proposal yang sudah jadi kepada Hamas, baru berunding.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/10/a37b4a0f36db87763ee9d649fb146d06-20251010_H01_ADI_Perdamaian_Gaza_mumed.jpg)
Aspek kedua ialah pandangan Netanyahu. Sejak awal, ia mengatakan tidak mau mengakui negara Palestina merdeka. Padahal, dalam Solusi Dua Negara jelas dinyatakan bahwa hanya melalui kemerdekaan dan kedaulatan Palestina keamanan Israel bisa dijamin.
Aspek ketiga ialah mengenai pelucutan senjata Hamas. Masih belum dicapai kesepakatan bahwa Palestina untuk sementara dikelola oleh dewan yang, antara lain, terdiri dari Trump dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Pelibatan kelompok sipil Palestina didorong guna mempersiapkan pemerintahan baru.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul