Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:
1. Apa yang terjadi dengan pesawat Azerbaijan Airlines bernomor penerbangan AHY 8243?
2. Bagaimana perkembangan penyelidikan kecelakaan tersebut?
3. Apa saja insiden serupa yang terjadi selama ini?
4. Seperti apa penyelesaiannya?
Natal yang jatuh pada hari Rabu (25/12/2024) ternyata tidak bisa lepas dari kabar duka. Pesawat milik maskapai Azerbaijan Airlines jatuh di Aktau, Kazakhstan.
Apa yang terjadi dengan pesawat Azerbaijan Airlines bernomor penerbangan AHY 8243?
Pesawat tersebut berangkat dari Baku, ibu kota Azerbaijan, menuju Grozny di Chechnya, Rusia. Akan tetapi, tiba-tiba pesawat jenis Embraer E190AR ini menghilang selama dua menit. Tahu-tahu, pesawat itu dilacak berada di atas Laut Kaspia atau tepatnya masuk wilayah kota Aktau, Kazakhstan. Padahal, Aktau tidak masuk dalam rute penerbangan Baku-Grozny.
Pesawat kemudian meledak dan jatuh. Dari keseluruhan 67 penumpang dan awak pesawat, hanya 29 orang yang selamat. Mereka semua terluka dan sedang dirawat di rumah sakit.
Bagaimana perkembangan penyelidikan kecelakaan tersebut?
Awalnya, tim penyelidik menduga ada ledakan di tangki oksigen pesawat sehingga AHY 8243 harus berputar ke Aktau. Akan tetapi, perkembangan penyelidikan semakin mengerucut pada kecurigaan bahwa pesawat ini sebenarnya jatuh karena ditembak.
Kementerian Perhubungan Azerbaijan mengutarakan kecurigaan bahwa pesawat tersebut ditembak oleh roket dari pertahanan udara Rusia. Tampaknya, militer Rusia mengira pesawat Azerbaijan Airlines AHY 8243 adalah pesawat nirawak Ukraina.
Mereka mencurigai Rusia menembak pesawat dengan sistem pertahanan udara Pantsir-2. Selain itu, militer Rusia juga diduga mengacaukan sistem radar dan sinyal pesawat Azerbaijan Airlines sehingga membuat pesawat penumpang itu tidak terlacak dari radar bandara mana pun.
Apa saja insiden serupa yang terjadi selama ini?
Salah tembak pesawat merupakan momok penerbangan komersial, bahkan militer, selama konflik berlangsung. Sejarah dunia sejak penerbangan menjadi bagian dari peperangan telah menunjukkan tragedi yang berulang.
Baru-baru ini, pada Minggu (22/12/2024), salah tembak justru dilakukan oleh militer Amerika Serikat di Laut Merah. AS di perairan tersebut sedang melawan kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Houthi menyerang kapal-kapal niaga di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas kepada Palestina.
Satu pesawat tempur F-18 lepas landas dari kapal induk USS Harry S Truman. Tidak berapa lama kemudian, mereka ditembak jatuh oleh roket yang berasal dari kapal induk USS Gettysburg. Terjadi kekeliruan komunikasi sehingga USS Gettysburg mengira pesawat itu berasal dari pangkalan udara Houthi. Kedua pilot di dalam F-18 berhasil terjun payung untuk menyelamatkan diri.
Pada 8 Januari 2020, pesawat penumpang Ukraine International Airlines bernomor penerbangan PS 752 jatuh di dekat Bandara Internasional Teheran, Iran, tidak lama setelah lepas landas. Pesawat itu semestinya terbang dari Teheran menuju Kyiv, Ukraina. Seisi pesawat yang berjumlah 176 orang tewas.
Pada Juni 2020, Iran mengakui bahwa PS-752 jatuh ditembak oleh Garda Revolusi Iran. Pemerintah Iran mengatakan, Garda Revolusi khilaf karena belum menyetel ulang sistem radar pertahanan udara yang baru dipindahkan. Akibatnya, radar itu salah mengidentifikasi PS-752 yang terbang di jalur sah penerbangan komersial sebagai pesawat musuh.
Insiden besar lain ialah jatuhnya pesawat Malaysia Airlines bernomor penerbangan MH-17 pada 17 Juli 2014. Pesawat itu lepas landas dari Amsterdam, Belanda, menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika terbang di atas wilayah Ukraina, pesawat jatuh ditembak rudal Buk 9M38 yang dioperasikan oleh pasukan pendukung Rusia.
Ketika itu, di wilayah Donbas dan Luhansk di Ukraina bagian timur terjadi perang. Tentara nasional Ukraina melawan pasukan separatis yang didukung oleh Rusia. Dalihnya ialah pasukan separatis.
Seperti apa penyelesaiannya?
Kasus penembakan Malaysia Airlines MH-17 masih dalam proses persidangan di Belanda. Terlepas dari Rusia yang menyangkal memerintahkan militernya menembak jatuh pesawat, pengadilan menyatakan bahwa Rusia juga harus dimejahijaukan.
Alasannya, karena pasukan separatis di Donbas dan Luhansk disokong oleh Rusia. Mereka memperoleh persenjataan ataupun komando dari Moskwa.
Kasus Ukraine International Airlines PS-752 juga masih dalam proses persidangan. Keluarga korban yang berkewarganegaraan Kanada menggugat Pemerintah Iran melalui pengadilan di Ottawa. Pada Juli 2023, kasus tersebut naik ke Mahkamah Internasional (ICJ) dan belum selesai disidang.
Khusus soal Azerbaijan Airlines AHY 8243, penyelidikan masih berlangsung. Akan tetapi, Baku mengatakan, jika terbukti Rusia pelakunya, terlepas salah sasaran ataupun tidak, Moskwa harus bertanggung jawab.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:
1. Apa yang terjadi dengan pesawat Azerbaijan Airlines bernomor penerbangan AHY 8243?
2. Bagaimana perkembangan penyelidikan kecelakaan tersebut?
3. Apa saja insiden serupa yang terjadi selama ini?
4. Seperti apa penyelesaiannya?
Natal yang jatuh pada hari Rabu (25/12/2024) ternyata tidak bisa lepas dari kabar duka. Pesawat milik maskapai Azerbaijan Airlines jatuh di Aktau, Kazakhstan.
Apa yang terjadi dengan pesawat Azerbaijan Airlines bernomor penerbangan AHY 8243?
Pesawat tersebut berangkat dari Baku, ibu kota Azerbaijan, menuju Grozny di Chechnya, Rusia. Akan tetapi, tiba-tiba pesawat jenis Embraer E190AR ini menghilang selama dua menit. Tahu-tahu, pesawat itu dilacak berada di atas Laut Kaspia atau tepatnya masuk wilayah kota Aktau, Kazakhstan. Padahal, Aktau tidak masuk dalam rute penerbangan Baku-Grozny.
Pesawat kemudian meledak dan jatuh. Dari keseluruhan 67 penumpang dan awak pesawat, hanya 29 orang yang selamat. Mereka semua terluka dan sedang dirawat di rumah sakit.
Bagaimana perkembangan penyelidikan kecelakaan tersebut?
Awalnya, tim penyelidik menduga ada ledakan di tangki oksigen pesawat sehingga AHY 8243 harus berputar ke Aktau. Akan tetapi, perkembangan penyelidikan semakin mengerucut pada kecurigaan bahwa pesawat ini sebenarnya jatuh karena ditembak.
Kementerian Perhubungan Azerbaijan mengutarakan kecurigaan bahwa pesawat tersebut ditembak oleh roket dari pertahanan udara Rusia. Tampaknya, militer Rusia mengira pesawat Azerbaijan Airlines AHY 8243 adalah pesawat nirawak Ukraina.
Mereka mencurigai Rusia menembak pesawat dengan sistem pertahanan udara Pantsir-2. Selain itu, militer Rusia juga diduga mengacaukan sistem radar dan sinyal pesawat Azerbaijan Airlines sehingga membuat pesawat penumpang itu tidak terlacak dari radar bandara mana pun.
Apa saja insiden serupa yang terjadi selama ini?
Salah tembak pesawat merupakan momok penerbangan komersial, bahkan militer, selama konflik berlangsung. Sejarah dunia sejak penerbangan menjadi bagian dari peperangan telah menunjukkan tragedi yang berulang.
Baru-baru ini, pada Minggu (22/12/2024), salah tembak justru dilakukan oleh militer Amerika Serikat di Laut Merah. AS di perairan tersebut sedang melawan kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Houthi menyerang kapal-kapal niaga di Laut Merah sebagai bentuk solidaritas kepada Palestina.
Satu pesawat tempur F-18 lepas landas dari kapal induk USS Harry S Truman. Tidak berapa lama kemudian, mereka ditembak jatuh oleh roket yang berasal dari kapal induk USS Gettysburg. Terjadi kekeliruan komunikasi sehingga USS Gettysburg mengira pesawat itu berasal dari pangkalan udara Houthi. Kedua pilot di dalam F-18 berhasil terjun payung untuk menyelamatkan diri.
Pada 8 Januari 2020, pesawat penumpang Ukraine International Airlines bernomor penerbangan PS 752 jatuh di dekat Bandara Internasional Teheran, Iran, tidak lama setelah lepas landas. Pesawat itu semestinya terbang dari Teheran menuju Kyiv, Ukraina. Seisi pesawat yang berjumlah 176 orang tewas.
Pada Juni 2020, Iran mengakui bahwa PS-752 jatuh ditembak oleh Garda Revolusi Iran. Pemerintah Iran mengatakan, Garda Revolusi khilaf karena belum menyetel ulang sistem radar pertahanan udara yang baru dipindahkan. Akibatnya, radar itu salah mengidentifikasi PS-752 yang terbang di jalur sah penerbangan komersial sebagai pesawat musuh.
Insiden besar lain ialah jatuhnya pesawat Malaysia Airlines bernomor penerbangan MH-17 pada 17 Juli 2014. Pesawat itu lepas landas dari Amsterdam, Belanda, menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika terbang di atas wilayah Ukraina, pesawat jatuh ditembak rudal Buk 9M38 yang dioperasikan oleh pasukan pendukung Rusia.
Ketika itu, di wilayah Donbas dan Luhansk di Ukraina bagian timur terjadi perang. Tentara nasional Ukraina melawan pasukan separatis yang didukung oleh Rusia. Dalihnya ialah pasukan separatis.
Seperti apa penyelesaiannya?
Kasus penembakan Malaysia Airlines MH-17 masih dalam proses persidangan di Belanda. Terlepas dari Rusia yang menyangkal memerintahkan militernya menembak jatuh pesawat, pengadilan menyatakan bahwa Rusia juga harus dimejahijaukan.
Alasannya, karena pasukan separatis di Donbas dan Luhansk disokong oleh Rusia. Mereka memperoleh persenjataan ataupun komando dari Moskwa.
Kasus Ukraine International Airlines PS-752 juga masih dalam proses persidangan. Keluarga korban yang berkewarganegaraan Kanada menggugat Pemerintah Iran melalui pengadilan di Ottawa. Pada Juli 2023, kasus tersebut naik ke Mahkamah Internasional (ICJ) dan belum selesai disidang.
Khusus soal Azerbaijan Airlines AHY 8243, penyelidikan masih berlangsung. Akan tetapi, Baku mengatakan, jika terbukti Rusia pelakunya, terlepas salah sasaran ataupun tidak, Moskwa harus bertanggung jawab.