Lomba lari Borobudur Marathon turut menjadi panggung bagi kuliner kampung khas Magelang. Lewat ajang ini, para pegiat UMKM pun menyemai mimpi mengembangkan usahanya.
27 Nov 2024 07:00 WIB · Kuliner
Farida Sumaya (51) tersenyum menunjukkan poster bergambar produknya, Getuk Mbok’e, di rumahnya di Dusun Bletukan, Desa Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (9/11/2024). Di poster, tertulis lambang program Bank Jateng Pawone dan penjelasan soal makanan olahan singkong itu.
”(Poster) Ini dari kegiatan di Semarang (Jateng) minggu lalu. Saya bawa pulang sebagai oleh-oleh,” ujarnya tersenyum. Kegiatan yang ia maksud ialah The Big Tour Bank Jateng Semarang, rangkaian lomba lari Bank Jateng Borobudur Marathon 2024. Pelari dari sejumlah kota mengikuti kegiatan itu.
Borobudur Marathon merupakan lomba lari yang digelar atas kerja sama Pemerintah Provinsi Jateng, Bank Jateng, harian Kompas, dan Yayasan Borobudur Marathon. Mengambil tema ”Run On, Mark It”, lomba yang ditargetkan diikuti 10.500 pelari ini bakal digelar pada Minggu (1/12/2024) mendatang.
Dalam ajang itu, penyelenggara juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat, termasuk Farida, melalui program Bank Jateng Pawone. Ini kali pertama Farida ikut acara di luar Magelang dan berskala besar seperti Borobudur Marathon. Itu sebabnya, saat mendapat kesempatan mengenalkan produknya ke Semarang, ia begitu bangga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/09/54b78c99-5a1c-4156-bacb-6e61c19d09c1_jpg.jpg)
Poster bergambar produknya pun ia simpan di rumah. Dia juga masih ingat sambutan pengunjung di Semarang. ”Banyak yang penasaran dengan Getuk Mbok’e. Setelah dicoba, mereka bilang enak. Kartu nama saya diambil,” kata Ida, sapaannya, yang membawa 180 boks getuk dalam acara di Semarang.
Ida tidak menyangka bisa terpilih mengikuti program Bank Jateng Pawone. ”Ibaratnya, saya ini sedang merintis usaha. Jadi, kaget juga bisa terpilih. Dari dulu saya mau ikut program ini. Tapi, takut karena saya baru dan dari kampung. Eh, ternyata bisa masuk seleksi, terima kasih,” ungkapnya.
Ibu satu anak ini mulai menjual getuk pada 2021, ketika pandemi Covid-19 masih melanda. Getuk jadi penyelamatnya ketika usaha jahitnya sepi. Anaknya, Silvia Yanida (24), juga tak lagi bisa berjualan sosis saat hari bebas kendaraan waktu itu. Suaminya yang buruh bangunan pun menganggur.
Silvia lalu meminta sang ibu berjualan getuk seperti yang dibuat mbahnya atau mbok’e waktu dirinya kecil. Tak dinyana, percobaan pertama oleh Ida berhasil. Sekitar 70 buah getuk, yang dibuat dari singkong atau ketela, gula, parutan kelapa, dan garam, itu laku di warung kecil setempat.
”Sejak saat itu, saya jualan getuk dengan nama Getuk Mbok’e karena rasanya mirip buatan mbahnya Silvi,” ujar Ida. Setahun berjalan, usahanya meluas dengan sistem menitipkan ke warung-warung. Produksinya melonjak dari sebelumnya puluhan menjadi ratusan getuk per hari.
”Sekarang, kami titip ke 10 warung. Produksi bisa 1.000 getuk per hari. Itu disebar ke kios, pasar-pasar, arisan, pengajian, sampai Rindam (Resimen Induk Komando Militer IV/Diponegoro),” ungkapnya. Getuk itu pun telah dijual ke Magelang, Yogyakarta, hingga daerah lainnya.
Ida kini tidak lagi menjahit. Penjualan getuk Rp 1.500 per buah lebih baik dari menjahit. Suami dan anaknya pun ikut membantunya. Ia bahkan sempat punya satu karyawan. Ia juga sudah kerja sama dengan dua petani untuk memasok singkong hingga 1 kuintal sehari.
Ia optimistis, produknya bisa berkembang saat ikut Bank Jateng Pawone. ”Kami didampingi chef profesional. Program ini juga tambah ilmu dan teman. Misalnya, kami diajari pakai kemasan boks yang ekonomis dan ramah lingkungan. Semoga, getuk lebih dikenal,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/09/050b145b-7dfa-4fac-a175-18fe5cc58895_jpg.jpg)
Kebanggaan juga dirasakan Yohanes COS (61) dan istrinya, Anastasya Nunung (56), pemilik UMKM Gandem Marem dengan produk wedang uwuh serta wedang jahe. ”Saya sudah woro-woro ke teman supaya datang ke Borobudur Marathon. Ada produk saya,” kata Nunung tertawa.
Warga Desa Kalinegoro ini tidak menyangka bisa ikut program tersebut. ”Program ini bagus karena mau turun ke bawah. Jadi, enggak mesti kafe atau restoran besar yang lolos. Industri rumahan seperti kami pun bisa ikut,” kata Nunung yang ruang tamunya jadi etalase produk.
Nunung dan suaminya merintis usaha sejak 2018 karena tertarik dengan minuman berbahan rempah. Setidaknya butuh satu tahun untuk menemukan resep pas untuk wedang uwuh. Resepnya terdiri dari 10 bahan, dari daun pala, daun cengkeh, kayu manis, kapulaga, jahe, hingga kayu secang.
Saat pandemi Covid-19 merebak pada 2020, produknya laris manis. Saking banyaknya pesanan, mereka sampai kehabisan bahan. Apalagi, rempah yang digunakan harus berkualitas karena dipetik langsung dari pohon sehingga tidak bercampur tanah. ”Produksinya enggak kehitung,” katanya.
Tidak hanya di Magelang, produknya juga dijual ke Jawa Barat hingga Jawa Timur. Ratusan produk minuman segar ini rutin dipesan oleh sebuah rumah sakit di Jember, Jatim. ”Bahkan, pernah ada yang beli untuk dibawa ke Singapura, Italia, dan Amerika Serikat,” ujar Yohanes.
Namun, Yohanes mengakui, penjualan produknya tidak selaris waktu pandemi. Padahal, bagi bapak dua anak ini, Gandem Marem menjadi karyanya di hari tua. Itu sebabnya, ketika dinyatakan masuk program Bank Jateng Pawone, ia bersyukur. Mereka dapat ilmu baru soal manajamen penjualan.
”Dari program ini, saya kenal Mas QRIS (standar kode pembayaran nasional),” ujarnya diiringi tawa. Ia juga belajar tentang cara menentukan harga pokok penjualan. Harga sebotol wedang uwuh ukuran 250 mililiter Rp 10.000. Ada pula sesi pemotretan produk oleh profesional.
Bahkan, ketika rangkaian kegiatan Borobudur Marathon di Semarang, ia menerima pesanan 300 produk. Gandem Marem juga bakal dapat stan pameran saat acara nanti. Lebih dari itu, ajang tersebut juga menjadi wadah mengenalkan minuman tradisional di kancah nasional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/09/05906a0d-c2db-44c0-b8a1-d2b03352bf7a_jpg.jpg)
Ilmu baru juga dinikmati Nadira Diva Atmaja (27), pemilik UMKM Mbah Dippo dengan produk sop senerek. Saat mengikuti Bank Jateng Pawone, dia mendapat saran dari chef profesional agar mengganti nasi dengan kentang dalam sop senerek. Sebab, katanya, para pelari membutuhkan karbohidrat lebih sedikit.
Makanan khas Magelang ini berbahan kacang merah, wortel, kentang, daging sapi, tomat, bawang merah, dan sejumlah bumbu. Dipo, sapaan Diva, mulai membuat kuliner ini dua tahun terakhir. Namun, penjualannya masih berdasarkan pesanan dengan harga sekitar Rp 16.000 per porsi.
Dipo meracik sop senerek di rumahnya yang terletak di tengah kebun Dusun Ngroto, Desa Deyangan, Metoyudon. Jalur ke kediamannya hanya jalan setapak. Areanya pun tidak ada di Google Maps. Meski dari ”pelosok”, sop senerek buatannya bisa tampil di ajang nasional.
Program ini bagus karena mau turun ke bawah. Jadi, enggak mesti kafe atau restoran besar yang lolos. Industri rumahan seperti kami pun bisa ikut.
”Saya semakin pede (percaya diri) untuk buka usaha kuliner dan mengenalkan kuliner daerah,” ujar karyawan di salah satu restoran di Magelang ini. Ia bahkan sudah menyiapkan rumahnya yang bermodel limasan sebagai kafe. Ibunya yang pengusaha katering juga mendukungnya.
”Semoga mentoring (pendampingan) dari program ini jalan terus dan jalan menuju skala nasional lebih luas,” tutur Dipo yang pernah membuka usaha kuliner tahu bakso hingga susu murni tetapi belum berhasil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/09/1687f43f-8a96-4b26-b8ab-9e26a4612a00_jpg.jpg)
Dipo, Yohanes, dan Farida adalah sejumlah pelaku UMKM yang menitipkan harapannya pada ajang Borobudur Marathon. Pada program Bank Jateng Pawone angkatan keempat ini, ada 20 UMKM yang terlibat. Produknya dari wedan uwuh, getuk, lontong pecel, mi ayam, hingga dimsum jamur.
Mereka mendapatkan pendampingan langsung dari chef profesional dari Plataran Borobudur Resort & Spa serta Puri Asri Hotel & Resort Magelang. Pelaku UMKM berkesempatan belajar penjualan daring, pembuatan produk yang higienis, memperluas jaringan, hingga tur ke kota lain.
Yuli Yato Rossy, Executive Chef Plataran Borobudur, mengatakan, proses kurasi di program ini menyasar UMKM, bahkan yang masih merintis. ”Kami bersama Kompas dan pihak yang terlibat di program ini memang ingin mengangkat UMKM kecil ke kancah nasional,” ungkapnya.
Menurut Rossy, pemilihan UMKM tidak hanya berdasarkan rasa produknya, tetapi juga kualitas serta kebersihannya. Ia berharap, para pelaku UMKM itu bisa komitmen menjaga kualitas agar usahanya maju. ”Borobudur Marathon ini juga ajang pelaku kuliner Magelang berkarya,” katanya.
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan