Bantuan Pertama untuk Gaza, ”Bagai Setetes Air di Lautan”

Israel mengizinkan empat truk berisi bantuan memasuki Gaza setelah blokade 2 Maret 2025 lalu.

20 Mei 2025 09:31 WIB · Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Lima truk bantuan pertama memasuki Gaza pada Senin (19/5/2025) waktu setempat. Hari itu menjadi hari pertama bantuan masuk ke Gaza setelah hampir tiga bulan Israel memblokade bantuan makanan, obat-obatan, dan pasokan lainnya. Israel memblokade semua bantuan yang akan masuk ke Palestina sejak 2 Maret lalu bersamaan dengan berakhirnya fase pertama gencatan senjata.

Truk yang membawa makanan bayi dan bantuan lain yang sangat dibutuhkan memasuki wilayah yang dihuni lebih dari 2 juta warga Palestina. Menurut badan pertahanan Israel yang bertugas mengoordinasikan bantuan ke Gaza, COGAT, truk bantuan masuk melalui penyeberangan Kerem Shalom.

Kepala kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, menggambarkan truk-truk itu bagaikan ”setetes air di lautan dari apa yang sangat dibutuhkan”. Sebelumnya, setelah lebih dari dua bulan blokade total, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pakar keamanan pangan mengeluarkan peringatan keras tentang krisis kemanusiaan di Jalur Gaza dengan mengatakan ”dua juta orang kelaparan”. 

Truk berbaris di sisi Mesir dari penyeberangan perbatasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza setelah Israel memblokir masuknya truk bantuan ke Gaza, Minggu, 2 Maret 2025.

Fletcher, seperti dikutip Associated Press, mengatakan, empat truk PBB tambahan diizinkan memasuki Gaza. Terkait dengan situasi di lapangan yang kacau, PBB memperkirakan bantuan itu dapat dijarah atau dicuri. 

Tak lama setelah Israel mengumumkan truk pertama memasuki Gaza, Inggris, Perancis, dan Kanada mengeluarkan pernyataan bersama yang tegas yang menyebut bantuan itu ”sama sekali tidak memadai”. Mereka mengancam ”tindakan konkret” terhadap Israel, termasuk sanksi, atas aktivitasnya di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. Mereka juga meminta Israel menghentikan tindakan militer di Gaza. ”Kami menentang segala upaya untuk memperluas permukiman di Tepi Barat,” kata ketiga negara tersebut, yang menyebutnya ilegal.

Truk yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza terlihat di Penyeberangan Kerem Shalom di Israel selatan, Senin (19/5/2025). Sehari setelah Israel menyatakan akan kembali mengizinkan bantuan ke wilayah tersebut.
Truk yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza terlihat di Penyeberangan Kerem Shalom di Israel selatan, Senin (19/5/2025).
Truk yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza terlihat di Penyeberangan Kerem Shalom di Israel selatan, Senin (19/5/2025).
Warga Palestina berjuang untuk mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di Jabalia, Jalur Gaza utara, Senin (19/5/2025).
Seorang anak laki-laki diberi makan oleh ibunya dengan makanan dari dapur komunitas di kamp Muwasi untuk orang Palestina yang terlantar di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Minggu, (18/5/2025).
Warga Palestina mengumpulkan porsi makanan yang dimasak di sebuah distribusi amal di Jabalia di Jalur Gaza utara pada 19 Mei 2025.

Negara-negara tersebut mengatakan bahwa mereka selalu mendukung hak Israel untuk mempertahankan diri dari terorisme, tetapi menyebut eskalasi militer di Gaza tidak proporsional. Kanada telah memberlakukan serangkaian sanksi terhadap Israel selama dua tahun terakhir terkait dengan kekerasan pemukim di Tepi Barat.

Dalam surat terpisah pada Senin, menteri luar negeri Jerman, Italia, Jepang, dan 18 negara lainnya (tidak termasuk Amerika Serikat) menyerukan agar Israel membuka kembali sepenuhnya pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza oleh PBB dan organisasi non-pemerintah.

Warga Palestina bergerak melalui Jabalia saat mereka melarikan diri dari Jalur Gaza utara menuju Kota Gaza pada 19 Mei 2025, di tengah perintah evakuasi Israel dan serangan yang sedang berlangsung.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengutuk pernyataan bersama itu dan menyebutnya ”hadiah besar untuk serangan genosida terhadap Israel pada 7 Oktober”. Hingga akhir pekan lalu Israel masih meluncurkan operasi udara dan darat di seluruh Gaza. Militer Israel juga memerintahkan evakuasi di Khan Younis yang sebagian besar wilayahnya hancur karena perang selama 19 bulan.

Israel mengatakan, pihaknya akan terus menekan Hamas untuk membebaskan para sandera yang tersisa yang diculik dalam serangan 7 Oktober 2023. Sementara Hamas bersikukuh pihaknya hanya akan membebaskan mereka dengan imbalan gencatan senjata yang langgeng dan penarikan pasukan Israel.

Perang di Gaza dimulai ketika militan yang dipimpin Hamas menyerang Israel selatan, menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menculik 251 orang lainnya. Para militan Hamas masih menahan 58 tawanan. Sebanyak 23 tawanan Hamas diyakini masih hidup. Sebelumnya Hamas telah mengembalikan sebagian besar tawanan ke Israel melalui perjanjian gencatan senjata atau kesepakatan lainnya.

Serangan balasan Israel telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza. Serangan ini telah menewaskan lebih dari 53.000 warga Palestina yang sebagian besar wanita dan anak-anak. Jumlah itu tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan dalam penghitungannya yang dilakukan Kementerian Kesehatan Gaza.

Seorang pria Palestina membawa barang-barang saat mengungsi dari Jalur Gaza utara menuju kota Gaza, Senin (19/5/2025).
Asap mengepul  saat warga Palestina mengungsi dari Jalur Gaza utara.
Warga Palestina yang terlantar mengungsi dari Khan Younis, Gaza, di tengah serangan militer Israel yang sedang berlangsung di daerah tersebut, Senin (19/5/2025).
Warga Palestina antre makanan di sebuah distribusi amal di Jabalia di Jalur Gaza utara, Senin (19/5/2025)..
Gambar ini diambil dari sisi perbatasan Israel dengan Jalur Gaza menunjukkan asap mengepul  dari bangunan yang hancur akibat serangan Israel di Jalur Gaza utara, Senin (19/5/2025).
Sebuah tank Israel bermanuver di Jalur Gaza, seperti yang terlihat dari Israel selatan, Senin (19/5/2025).
Gambar yang diambil dari sisi perbatasan Israel dengan Jalur Gaza ini menunjukkan gumpalan asap di atas bangunan yang hancur setelah serangan Israel di Jalur Gaza utara, Senin (19/5/2025)..

Situasi di Gaza

Ribuan warga Gaza bergerak pelan di jalanan kota yang berdebu. Mereka membawa semua harta yang bisa diselamatkan untuk menyambung hidup ditempat lain. Gerobak, sepeda, dan sedikit kendaraan bermesin dipenuhi tumpukan barang. Hanya tersisa sedikit tempat untuk bayi dan lansia yang tidak bisa berjalan.

Selebihnya, berjalan pelan dan sesekali ikut mendorong sepeda atau gerobak yang sulit bergerak karena kondisi jalan yang hancur. Pemandangan ini terjadi sejak militer Israel mengeluarkan seruan evakuasi kepada warga Palestina di wilayah Gaza dan sekitarnya.

Warga Palestina yang terlantar berkumpul untuk mengumpulkan porsi makanan yang dimasak di sebuah distribusi amal di Jabalia di Jalur Gaza utara pada 19 Mei 2025. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan pada 19 Mei

Seruan itu muncul setelah militer mengumumkan telah memulai ”operasi darat yang ekstensif” dalam serangan yang diperluas terhadap militan Hamas. Netanyahu, dalam sebuah video yang diunggah di Telegram, mengatakan bahwa pertempuran itu intens dan kami membuat kemajuan. ”Kami akan menguasai semua wilayah di jalur itu,” tambah pemimpin Israel itu.

Perang telah mengungsikan sekitar 90 persen penduduknya, sebagian besar dari mereka telah mengungsi beberapa kali. Dan kali ini mereka kembali mengungsi….


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .