Bayi yang Mati di Gaza Beratnya Lebih Ringan Dibandingkan Saat Ia Lahir

Di Gaza, anak-anak mulai mati kelaparan.

27 Jul 2025 10:20 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Tragis. Seorang ibu memberikan ciuman terakhir kepada putrinya yang berusia 5 bulan sambil menangis tersedu-sedu. Bayi Zainab Abu Halib kini beratnya lebih ringan dibandingkan saat ia lahir. Ini adalah fakta kematian terakhir sekaligus paling memilukan setelah perang selama 21 bulan di Gaza.

Bayi itu sudah meninggal saat tiba di Rumah Sakit Nasser pada hari Jumat (25/7/2025). Seorang petugas di kamar mayat dengan hati-hati melepas kemeja bermotif Mickey Mouse-nya, menutupi matanya yang cekung dan terbuka. Ia mengangkat ujung celananya untuk memperlihatkan lututnya yang menonjol. 

Ibu jarinya lebih lebar daripada pergelangan kakinya. Bahkan, ia bisa menghitung tulang-tulang dadanya. Ibunya mengatakan berat badan gadis itu lebih dari 3 kilogram saat lahir. Saat meninggal, berat badannya kurang dari 2 kilogram.

Warga Palestina yang telantar di kamp pengungsi Nuseirat mengangkut paket makanan dan barang-barang lain yang berhasil mereka dapatkan dari titik distribusi bantuan GHF di koridor Netzarim di Jalur Gaza tengah, Sabtu (26/7/2025).
Rombongan pengungsi meninggalkan tempat pembagian bantuan di titik distribusi bantuan GHF di Jalur Gaza tengah pada 26 Juli 2025.
Warga Palestina membawa karung tepung yang diturunkan dari konvoi bantuan kemanusiaan yang mencapai Kota Gaza dari Jalur Gaza utara, Sabtu (26/7/2025).
Suasana saat ribuan warga Palestina meninggalkan tempat titik distribusi makanan di Kota Gaza, Sabtu (26/7/2025).
Seorang ibu memanggul karung tepung dari lokasi distribusi bantuan di Gaza, Selasa (22/7/2025).

Zainab adalah salah satu dari 85 anak yang meninggal akibat malanutrisi di Gaza selama perang, menurut data terbaru yang dirilis Kementerian Kesehatan wilayah Gaza pada hari Sabtu (26/7/2025). Kementerian tersebut menyatakan bahwa secara keseluruhan, 127 orang meninggal akibat malanutrisi, dengan kematian orang dewasa dihitung hanya dalam beberapa minggu terakhir.

Orangtua Zainab, seperti kebanyakan warga Palestina di Gaza, tinggal di tenda pengungsian. Ibunya, yang juga menderita malanutrisi, mengatakan, dirinya hanya menyusui anak perempuannya selama enam minggu sebelum mencoba memberinya susu formula. 

Warga Palestina berjuang untuk mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas, di Kota Gaza, Jalur Gaza utara, Sabtu, 26 Juli 2025.

Kepala Departeman Pediatri RS Nasser dr Ahmed al-Farah menyatakan bahwa rumah sakitnya banyak didatangi anak-anak yang menderita malanutrisi dalam beberapa minggu terakhir. Dengan kapasitas delapan tempat tidur, mereka kini telah menangani sekitar 60 kasus malanutrisi akut. Mereka telah menyediakan kasur tambahan di lantai.

Klinik malanutrisi lain, yang berafiliasi dengan rumah sakit tersebut, menerima rata-rata 40 kasus setiap minggu. ”Kecuali jika penyeberangan dibuka dan makanan serta susu formula bayi diizinkan masuk untuk segmen masyarakat Palestina yang rentan ini, kita akan menyaksikan jumlah kematian yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya memperingatkan.

Sebelumnya, para pakar keamanan pangan memperingatkan akan terjadinya kelaparan di wilayah berpenduduk lebih dari 2 juta orang tersebut.

Warga Palestina membawa karung tepung yang diturunkan dari konvoi bantuan kemanusiaan yang mencapai Kota Gaza dari Jalur Gaza utara, Sabtu (26/7/2025).
Warga Palestina membawa karung tepung melewati reruntuhan kota menuju kamp tempat tinggalnya, Selasa (22/7/2025).
Perjuangan warga Palestina mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas, di Kota Gaza, Jalur Gaza utara, Sabtu (26/72025).
Seorang ibu turut berdesakan untuk mendapatkan makanan di Kota Gaza, Jalur Gaza utara, Sabtu (26/7/2025).
Warga membawa paket bantuan yang mereka dapatkan ke rumah masing-masing, Sabtu (26/7/2025).

Mati demi mencari makanan

Serangan udara dan tembakan Israel menewaskan sedikitnya 53 orang di Gaza sejak Jumat hingga Sabtu. Menurut pejabat kesehatan Palestina dan layanan ambulans setempat, sebagian besar dari mereka ditembak mati saat mencari bantuan. Tembakan mematikan dari pihak Israel dilaporkan dua kali di dekat pelintasan Zikim dengan Israel di utara. 

Dalam insiden pertama, setidaknya belasan orang yang menunggu truk bantuan tewas. Keterangan tersebut disampaikan staf di rumah sakit Shifa, tempat jenazah-jenazah dibawa. Militer Israel mengatakan, mereka melepaskan tembakan peringatan untuk menjauhkan kerumunan sekaligus sebagai respons terhadap ancaman langsung.

Seorang tentara Israel berdiri di samping paket bantuan kemanusiaan yang menunggu pengambilan di sisi Palestina dari persimpangan Kerem Shalom di Jalur Gaza, Kamis (24/7/2025). selama tur media yang diselenggarakan oleh tentara Israel.
Tumpukan paket bantuan kemanusiaan menunggu untuk diambil di sisi Palestina dari persimpangan Kerem Shalom di Jalur Gaza, Kamis (24/7/2025), selama tur media yang diselenggarakan oleh tentara Israel.
Yazan Abu Ful, seorang anak kekurangan gizi berusia 2 tahun, berpose untuk foto di rumah keluarganya di kamp pengungsi Shati, di Kota Gaza, pada hari Rabu (23/7/2025).
Naima Abu Ful berpose untuk foto dengan anaknya yang kekurangan gizi berusia 2 tahun, Yazan, di rumah mereka di kamp pengungsi Shati di Kota Gaza, Rabu (23/7/2025).
Naima Abu Ful memasak untuk keluarganya di rumah mereka di kamp pengungsi Shati di Kota Gaza pada Rabu (23/7/2025).
Mohammed al-Mutawaq, seorang bayi berusia 18 bulan yang menunjukkan tanda-tanda kekurangan gizi, berbaring di kasur di dalam tenda di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, Kamis (24/7/2025).

Seorang saksi mata, Sherif Abu Aisha, mengatakan, orang-orang mulai berlarian ketika melihat cahaya yang mereka duga berasal dari truk bantuan, tetapi ketika mereka mendekat, mereka menyadari bahwa itu adalah tank-tank Israel. Saat itulah tentara mulai menembak, ujarnya kepada The Associated Press. Ia mengatakan, pamannya termasuk di antara mereka yang tewas.

”Pada Sabtu malam, pasukan Israel menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai 120 lainnya ketika mereka menembaki kerumunan yang mencoba mendapatkan makanan dari konvoi PBB yang masuk,” kata dr Mohamed Abu Selmiyah, Direktur Rumah Sakit Shifa, kepada AP. Video AP menunjukkan sekelompok pria Palestina yang kelelahan membawa sesosok mayat beserta karung-karung tepung.

Asap dan api terlihat setelah serangan udara Israel di Jalur Gaza utara, Kamis, 24 Juli 2025.

”Kalian mati demi mencari makanan untuk anak-anak kalian,” kata Fayez Abu Riyala, warga yang terlihat kursus tubuhnya.

Lebih dari 1.000 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel sejak Mei saat mencoba mendapatkan makanan, sebagian besar di dekat lokasi bantuan baru yang dijalankan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF). Di Gaza, anak-anak mulai mati kelaparan. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto