Bencana Juventus, Asa ”Scudetto” Atalanta Terjaga

Atalanta menuliskan kemenangan terbesar mereka di kandang Juventus. Mateo Retegui dekati sejarah sebagai penyerang terbaik ”Si Dewi”.

10 Mar 2025 07:59 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

TURIN, SENIN — Atalanta membawa pulang kemenangan terbesar mereka dari kandang Juventus berkat unggul 4-0, Senin (10/3/2025) dini hari WIB, di Stadion Allianz Arena. ”Si Dewi” menegaskan superioritas mereka atas Juve dalam tujuh tahun terakhir di Turin, sekaligus menjaga asa dalam persaingan scudetto.

Dalam pertarungan memperebutkan peringkat ketiga, Atalanta menunjukkan mereka segalanya lebih baik dari Juve. Setiap serangan—yang dominan melalui fast-break atau serangan balik cepat—nyaris berbuah tembakan, pertahanan kokoh dan disiplin, serta sikap dan performa mental superior.

Dominasi Atalanta sudah tercipta melalui eksekusi penalti penyerang, Mateo Retegui, ketika laga jelang berjalan setengah jam. Pelanggaran handball gelandang Juve, Weston McKennie, menjadi alasan wasit menunjuk titik putih untuk tim tamu.

Di babak kedua, Atalanta memberikan bencana yang amat menyakitkan untuk ”Si Nyonya Besar”. Gelandang sekaligus kapten Atalanta, Marten de Roon, memperbesar keunggulan Atalanta memanfaatkan kesalahan operan bek Juve, Lloyd Kelly, di menit ke-46.

Davide Zappacosta (menit ke-66) dan Ademola Lookman (77) menyempurnakan kemenangan terbesar Si Dewi di markas Juve. Hasil itu juga menegaskan rekor tak pernah kalah Atalanta dalam lawatan ke Allianz Arena dalam tujuh musim terakhir atau sejak musim 2018-2019.

Penyerang Atalanta Mateo Retegui mengeksekusi tendangan penalti yang menjadi gol pertama bagi timnya dalam pertandingan Liga Italia antara Juventus dan Atalanta di Stadion Allianz Arena, Turin, Italia, Senin (10/3/2025) dini hari WIB.
Quote

Ini adalah hasil yang tidak dibayangkan oleh banyak orang, tetapi kami melakukan penampilan yang sempurna.

Tiga poin dari Turin memastikan Atalanta tetap berada di peringkat ketiga. Mereka memperlebar jarak menjadi enam poin dari Juve yang ada di posisi keempat.

Selain itu, harapan Atalanta untuk meraih gelar liga perdana dalam sejarah juga tetap terjaga. Mereka hanya berselisih tiga poin dari Inter Milan yang masih nyaman di puncak klasemen.

Pelatih Atalanta Gian Piero Gasperini senang, tetapi ia pun tidak menyangka bisa membawa pulang kemenangan dengan skor mutlak dari kandang Juve. Menurut dia, pertandingan tidak berjalan mudah bagi timnya terlepas dari margin skor yang amat besar.

”Ini adalah hasil yang tidak dibayangkan oleh banyak orang, tetapi kami melakukan penampilan yang sempurna,” tutur Gasperini kepada DAZN.

Penyerang Juventus Dusan Vlahovic (tengah) menggiring bola dalam pertandingan Liga Italia antara Juventus dan Atalanta di Stadion Allianz Arena, Turin, Italia, Senin (10/3/2025) dini hari WIB.

Harus yakin

Terkait kans timnya mengejar scudetto yang bersaing dengan Inter dan Napoli, Gasperini menganggap hal itu adalah kehormatan bagi skuad Atalanta. Ia menuturkan kepada anak asuhannya untuk terus yakin dengan segala hal yang masih bisa terjadi di musim ini.

Apalagi, lanjut Gasperini, fokus Si Dewi hanya akan berada di Liga Italia. Kondisi itu membuat Atalanta memiliki waktu lebih banyak untuk memulihkan kondisi pemain antarlaga serta mempersiapkan sesi latihan lebih baik.

”Orang-orang butuh bermimpi, kami tidak boleh berhenti untuk bermimpi. Kami mungkin menyebut (scudetto) mustahil, tetapi jika kami percaya segalanya mungkin terjadi,” kata Gasperini.

Ia menambahkan, ”Atalanta tidak pernah mencapai situasi seperti ini sebelumnya dengan kami unggul atas Juventus. Kami juga tidak pernah menggapai momentum untuk bersaing mengejar posisi puncak, jadi kita tidak pernah tahu yang akan terjadi di sisa musim ini”.

Peluang Atalanta amat besar untuk bisa kembali merasakan puncak klasemen seperti pada Desember 2024 lalu. Merujuk performa dalam lima gim terakhir, Atalanta mengemas 11 poin yang lebih baik dari Inter (10 poin) dan Napoli (6). Kedua tim itu juga sempat menelan satu kekalahan dalam periode laga itu.

Bek Juventus' Andrea Cambiaso (kanan) dan bek Atalanta Berat Djimsiti (kiri) berebut bola dalam pertandingan Liga Italia antara Juventus dan Atalanta di Stadion Allianz Arena, Turin, Italia, Senin (10/3/2025) dini hari WIB.

Selain itu, Atalanta juga memiliki duo penyerang terbaik dalam sejarah mereka melalui performa Retegui dan Lookman. Keduanya telah menyumbang 35 gol bagi Si Dewi di musim ini. Jumlah gol itu sudah setara 55 persen dari gol Atalanta di liga.

Retegui yang telah mencetak 22 gol berpeluang besar mengukuhkan diri sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Italia 2024-2025. Ia akan menjadi peraih sepatu emas kedua dari Atalanta setelah Filippo Inzaghi pada edisi 1996-1997. Kala itu, Inzaghi mencetak 24 gol dalam satu musim. Prestasi itu membawa Inzaghi direkrut oleh Juventus di musim berikutnya.

Parade eror

Juve berusaha untuk mengejar tiga poin dengan melancarkan inisiatif menyerang sejak sepak mula. Tetapi, catatan 63 persen penguasaan bola tidak dibarengi dengan performa menyerang yang efektif.

Lini tengah Juve kesulitan menghasilkan operan progresif. Kondisi itu membuat penyerang tunggal, Randal Kolo Muani, harus mencari bola sendiri demi bisa mengancam pertahanan Atalanta.

Hasilnya, Juve hanya bisa ciptakan sembilan tembakan yang hanya berbuah dua kesempatan besar. Adapun Atalanta mampu menghasilkan 19 tembakan yang dinilai tujuh di antaranya termasuk peluang emas.

Performa Juve diperparah dengan parade eror yang dilakukan secara individu. Kelly melakukan kesalahan operan yang mengawali gol kedua Atalanta. Penyerang pengganti, Dusan Vlahovic, juga kehilangan bola di sisi tengah lapangan, sehingga membantu Si Dewi menciptakan gol keempat.

Penyerang Juventus Randal Kolo Muani (kiri) dan bek Atalanta Raoul Bellanova (kanan) berebut bola dalam pertandingan Liga Italia antara Juventus dan Atalanta di Stadion Allianz Arena, Turin, Italia, Senin (10/3/2025) dini hari WIB.

Tak hanya itu, dua bek sayap ini Juve, yakni Timothy Weah dan Andrea Cambiaso, bermain di bawah performa terbaik mereka. Weah yang bergerak di sisi kanan mengalami 12 kali kehilangan bola dan melakukan satu kesalahan berujung tembakan Atalanta.

Cambiaso di sisi kiri menjadi pemain yang paling sering kehilangan penguasaan bola. Ia mencatatkan 14 kali melepas penguasaan bola sehingga aliran bola dikuasai pemain Atalanta.

Pelatih Juve Thiago Motta mengakui timnya mengalami kemunduran psikologis setelah Atalanta mencetak gol pertama. Permainan Juve menjadi tidak seimbang, kata Motta, yang menyebabkan banyak ruang bagi pergerakan pemain-pemain sayap Atalanta. Tiga gol Atalanta di babak kedua berawal dari serangan di sisi kanan pertahanan Juve.

”Kekalahan ini membuat kami sedih, tetapi di saat bersamaan kami harus menghentikan pembicaraan tentang scudetto. Kami harus bersatu kembali demi meningkatkan performa untuk gim selanjutnya kontra Fiorentina,” ujar Motta dilansir Tuttosport.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari