Bencana Sumatera Ancam Pasokan Pangan

Pasokan beras di Sumatera akan ditambah dan bantuan pangan bagi keluarga miskin tetap dilanjutkan. Potensi produksi beras di Sumatera juga diperkirakan berkurang.

01 Des 2025 14:50 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS — Bencana di sejumlah daerah di tiga provinsi di Sumatera mengancam pasokan pangan. Penjarahan minimarket dan gudang Perum Bulog telah terjadi akibat keterlambatan bantuan. Ribuan hektar lahan pertanian juga tergenang dan rusak akibat banjir.

Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian (Kementan), dan Bulog pun turun tangan. Penambahan stok beras dilakukan dan bantuan pangan bagi keluarga berpenghasilan rendah tetap disalurkan. Bantuan benih tanaman pangan, ternak, dan obat-obatan untuk ternak disiapkan.

Pembobolan dan penjarahan minimarket terjadi di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut), seusai banjir bandang melanda wilayah itu. Penjarahan serupa juga terjadi di gudang penyimpanan beras dan minyak goreng milik Bulog di Dayah Timu Sigli, Pidie, Aceh, dan Sarudik Sibolga di Tapanuli Tengah, Sumut.

Sementara ribuan hektar sawah di sejumlah kabupaten kebanjiran. Per 29 November 2025, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), melaporkan, 341 hektar sawah dan 106 hektar lahan jagung kebanjiran. Potensi kerugiannya, belum termasuk irigasi yang rusak, sekitar Rp 13 miliar.

Laporan areal terdampak juga disampaikan oleh Pemkab Aceh Utara, Agam, dan Mandailing Natal. Sawah yang terdampak bencana di Aceh Utara, Agam, dan Mandailing Natal masing-masing-masing seluas 616 hektar, 31,8 hektar, dan 2.830,11 hektar.

Infografik Dampak Bencana Alam di Sumatera Utara dan Aceh

Menteri Pertanian dan juga Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman, Senin (1/12/2025), menyatakan telah menginstruksikan percepatan penyaluran cadangan pangan pemerintah (CPP), termasuk beras dan minyak goreng. Tim gabungan untuk menyalurkan bantuan dan mendata kebutuhan pangan riil juga telah diterjunkan di daerah-daerah terdampak bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Koordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri juga diperkuat. ”Saya minta posko distribusi bahan pangan beroperasi 24 jam dan jalur logistik dipastikan bebas hambatan,” kata Amran melalui siaran pers.

Menurut Amran, langkah-langkah itu dilakukan agar bantuan pangan cepat tersalurkan secara tepat jumlah dan sasaran. Upaya itu juga guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tengah situasi darurat.

Kementan juga memerintahkan pendataan sawah dan lahan pertanian yang terdampak. Kementan telah menyiapkan skema bantuan untuk sektor pertanian dan peternakan di tiga provinsi tersebut.

”Benih dan obat-obatan ternak sudah disiapkan. Saya sudah minta para direktur jenderal (di Kementan) fokus membantu petani dan peternak kita. Semua fokus bantu rakyat,” ujarnya.

Aktivitas petugas dalam pengiriman bantuan logistik untuk korban bencana banjir di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (29/11/2025). Pengiriman bantuan logistik untuk korban bencana banjir di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh tersebut sudah berlangsung dua hari dengan menggunakan empat pesawat angkut berat TNI AU. Armada tersebut terdiri dari satu Hercules C-130, dua Super Hercules C-130J dan Airbus A400M. 

KOMPAS/AGUS SUSANTO
29-11-2025

Gudang Bulog

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, dua gudang Bulog di Dayah Timu Sigli dan Sarudik Sibolga telah dijarah pascabencana. Beras dan minyak goreng yang disimpan di dua gudang itu dan satu gudang di Labuhan Deli, Medan, juga terimbas banjir.

Saat ini, Bulog tengah menghitung total volume komoditas yang terdampak bencana. Kendati begitu, jasa layanan publik Bulog tetap berjalan di tengah situasi darurat bencana.

”Kami tetap menyalurkan CPP dan cadangan pangan pemerintah daerah, tanggung jawab sosial dan lingkungan, serta bantuan pangan bagi keluarga berpenghasilan rendah,” kata Rizal.

Ia menjelaskan, per 30 November 2025, Bulog telah menyalurkan cadangan beras pemerintah daerah ke Aceh sebanyak 152.893 kilogram (kg), Sumut sebanyak 72.630 kg, dan Sumbar sebanyak 61.554 kg.

Bulog juga telah memberikan 1.500 kg beras, 300 liter minyak goreng, 160 kg gula, 20 dus mi instan, 20 dus biskuit, dan 1.200 porsi nasi kotak kepada korban bencana sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan Bulog.

Warga memasak di dapur umum di Desa Pagaran Lambung I, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025). Sudah hampir sepekan warga di desa itu terisolasi karena Jalan Tarutung-Sibolga yang masih terputus karena longsor dan banjir bandang.

Selain itu, Bulog akan melanjutkan penyaluran bantuan pangan bagi keluarga berpenghasilan rendah di tiga provinsi terdampak bencana hingga akhir Desember 2025. Bantuan itu berupa 34.303 ton beras dan 6.321 ton minyak goreng.

Aceh bakal mendapatkan 10.614 ton beras dan 1.954 ton minyak goreng. Sumut mendapat alokasi 16.894 ton beras dan 3.108 ton minyak goreng, sementara Sumbar mendapat 6.795 ton beras dan 1.250 ton minyak goreng.

Bulog, Rizal melanjutkan, juga menambah stok beras untuk memperkuat ketersediaan pasokan pangan guna pemerataan dan percepatan pemulihan distribusi di wilayah-wilayah terdampak bencana. Stok beras di Sibolga akan ditambah 1.562 ton dari Jakarta dan Medan, sementara untuk Nias 1.650 ton dari Jakarta dan Padang.

Pekerja sedang mengangkut beras ke gudang Bulog Sumatera Barat di Rawang, Padang Selatan, Padang, Sumbar, Kamis (26/3/2020). Bulog Sumbar menyetok 11.000 ton beras untuk kebutuhan penyaluran untuk tiga bulan ke depan, termasuk periode Lebaran.

Produksi beras terancam

Badan Pusat Statistik memperkirakan produksi beras nasional pada November 2025-Januari 2026 cukup besar. Namun, produksi beras tersebut berpotensi berkurang akibat bencana yang terjadi di sejumlah daerah, terutama di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Padi Amatan Oktober 2025, Badan Pusat Statistik memperkirakan produksi beras nasional pada November 2025-Januari 2026 sebanyak 3,93 juta ton. Produksi tersebut meningkat 0,63 juta ton atau 18,69 persen dibandingkan realisasi produksi beras pada November 2025-Januari 2026.

Quote

Badan Pusat Statistik memperkirakan produksi beras nasional pada November 2025-Januari 2026 sebanyak 3,93 juta ton.

Badan Pusat Statistik juga mencatat potensi panen padi di sejumlah daerah di Indonesia pada tiga bulan ke depan atau November 2025-Januari 2026. Sebanyak tiga wilayah potensi panen di antaranya berlokasi di Aceh, Sumut, dan Sumbar yang sejumlah wilayahnya tengah terdampak bencana hidrometeorologi.

Di Aceh, misalnya, potensi panen padi pada November 2025 dan Desember 2026 masing-masing seluas 26.020 hektar dan 18.670 hektar. Di Sumut, potensi panen padi pada November 2025-Januari 2026 masing-masing seluas 24.480 hektar, 22.850 hektar, dan 48.370 hektar.

Sejumlah lokasi potensi panen padi pada November 2025-Januari 2026 berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Padi Amatan Oktober 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Pudji Ismartini menuturkan, potensi gagal panen padi akibat dampak cuaca ekstrem berpeluang terjadi pada November-Desember 2025. Pada akhir November 2025, curah hujan ekstrem telah menyebabkan banjir di beberapa wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar.

”Tentu ini akan berdampak pada tanaman padi dan produksi beras di daerah-daerah tersebut. Saat ini, kami telah memperpanjang pengamatan lapangan KSA di tiga provinsi tersebut. Potensi gagal panen di tiga daerah terdampak bencana itu akan kami sampaikan pada Januari 2026,” tuturnya.

Badan Pusat Statistik mencatat, sepanjang 2025, potensi produksi beras di Aceh mencapai 1,01 juta ton atau meningkat 5,49 persen secara tahunan. Potensi produksi beras di Sumut juga dipekirakan naik 24,34 persen secara tahunan menjadi 1,57 juta ton. Adapun Sumbar produksi berasnya diperkirakan sebanyak 791.676 ton atau naik 0,8 persen secara tahunan.

Potensi produksi beras menurut provinsi pada Januari-Desember 2024 dan Januari-Desember 2025.

Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra