Dua babak Kejuaraan Asia Bulu Tangkis berlangsung, lebih banyak atlet Indonesia yang kalah. Hanya sisa lima wakil yang akan tampil di perempat final.
09 Apr 2026 20:36 WIB · Olahraga
HUMAS PP PBSI
NINGBO, KAMIS — Jeda sekitar tiga pekan dalam masa persiapan tak lantas membuat banyak atlet Indonesia mendapat hasil baik dalam Kejuaraan Asia Bulu Tangkis. Dari 16 wakil, hanya tersisa lima yang akan tampil dalam perempat final.
Di Ningbo Olympic Sports Centre Gymnasium, Ningbo, China, Kamis (9/4/2026), setengah dari sepuluh wakil Indonesia yang tampil pada babak kedua kalah. Kekalahan lima wakil pada hari ketiga kejuaraan menambah enam wakil yang tersingkir pada babak pertama dan kualifikasi.
Indonesia pun tinggal memiliki Amallia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti, Febi Setiangingrum/Rachel Alessya Rose, Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi, dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dari nomor ganda putri dan putra. Adapun Jonatan Christie menjadi satu-satunya pemain tunggal Indonesia yang akan tampil dalam perempat final, Jumat.
Rangkaian kekalahan skuad ”Merah Putih” pada babak kedua membuat nomor tunggal putri dan ganda campuran kehabisan wakil. Putri Kusuma Wardani, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah kalah dengan performa tak sesuai harapan. Kekalahan juga dialami Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani dan Alwi Farhan yang untuk pertama kalinya bertemu Kodai Naraoka. Alwi kalah 16-21, 17-21.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/3306f6a72f1fc095270477581e1192f8-WhatsApp_Image_2026_04_09_at_11.41.58.jpeg)
Jafar/Felisha, yang ditempatkan sebagai unggulan ketujuh, kalah dari pasangan Korea Selatan yang harus mengikuti babak kualifikasi lebih dulu untuk tampil di babak utama, Kim Jae-hyeon/Jang Ha-jeong (Korea Selatan). Jafar/Felisha kalah dengan skor 21-23, 22-20, 10-21.
Hasil tersebut memperlihatkan kelemahan Jafar/Felisha yang masih banyak membuat kesalahan, termasuk dalam posisi unggul. Kurang gregetnya Felisha di depan net dan banyaknya serangan Jafar yang tak terarah membuat mereka kehilangan gim pertama meski unggul 20-16. Mereka juga kesulitan menembus tangguhnya pertahanan lawan dan mengantisipasi ketika lawan mengubah pola permainan.
Felisha bercerita, dengan pertahanan lawan yang rapat, dia dan Jafar sebenarnya berencana lebih agresif dalam menyerang dan banyak bermain dengan pukulan no lob. Namun, lawan bisa mengantisipasi taktik tersebut hingga Jafar/Felisha sulit memancing Kim/Jang ke pola yang mereka inginkan.
”Di gim pertama, sudah unggul 20-16 jadi tersusul dan kalah itu sangat disayangkan. Sempat bisa keluar dari tekanan di gim kedua, tetapi pada gim ketiga banyak kesalahan yang tidak perlu. Jauh, sangat jauh dari harapan,” kata Felisha.
Jafar menambahkan, mereka kesulitan mengembangkan pola permainan karena pemain putri di tim lawan tampil baik di lapangan depan. Dalam permainan ganda, mereka yang menguasai lapangan depan akan lebih mudah mengontrol permainan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/c1fe477f5d0f2b1d1e01bffbbd4b848b-WhatsApp_Image_2026_04_09_at_13.03.30.jpeg)
Dengan kekalahan tersebut, performa dan hasil Jafar/Felisha pada 2026 masih berada pada garis yang tidak konsisten. Mereka tersingkir pada babak pertama Malaysia Terbuka di awal tahun, mencapai semifinal Indonesia Masters, lalu kalah pada babak kedua All England.
Performa Felisha di Eropa, All England dan Swiss Terbuka, tak maksimal karena cedera siku kanan yang dialami saat tampil di Indonesia Masters. Setelah itu, mereka memiliki jeda tiga pekan sebelum tampil di Kejuaraan Asia, tetapi tetap bermain di bawah harapan.
Pada laga lain, Amri/Nita tak juga bisa mengalahkan pasangan nomor satu dunia, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping. Amri/Nita kalah untuk keempat kali dari pemain China tersebut, kali ini dengan skor 10-21, 15-21.
Putri, yang bertemu lawan ”ringan” pada babak pertama, tak dapat mempertahankan keunggulan pada gim pembuka saat berhadapan dengan pemain senior China, Gao Fang Jie. Pada gim penentuan, atlet unggulan keenam tersebut tertinggal terlalu jauh sejak awal hingga selisih terjauh tujuh poin pada posisi 1-8. Meski kerja kerasnya bisa membuat kedudukan imbang menjadi 17-17, Putri kehilangan empat poin beruntun dengan mudah. Putri pun gagal memperbaiki performa yang disesalinya saat tampil dalam final Swiss Terbuka, pertengahan Maret.
Performa Putri dan kawan-kawan yang berbuah kekalahan terbayar oleh kemenangan dua ganda putri yang mengalahkan pasangan unggulan. Amallia/Fadia mengalahkan unggulan ketiga asal Korea Selatan, Baek Ha-na/Lee So-hee dengan skor 21-17, 21-16. Lalu, Febi/Rachel menyingkirkan unggulan keempat, Jia Yi Fan/Zhang Shuai (China), 16-21, 21-19, 21-9.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/00b187075fcbe1395af85dd7071a49c7-WhatsApp_Image_2026_04_09_at_15.00.53.jpeg)
Laga di Ningbo menjadi pertemuan kedua bagi kedua Amallia/Fadia dan Baek/Lee setelah semifinal Piala Sudirman 2025 di Xiamen, China. Dalam kejuaraan beregu campuran tersebut, Amallia/Fadia kalah 17-21, 16-21.
Saat itu, Amallia/Fadia belum berstatus sebagai pasangan tetap sehingga mereka pun diturunkan sebagai pasangan ”gado-gado”. Ini menjadi bagian dari strategi mengingat Korea Selatan memiliki pemain yang lebih kuat di ganda putri.
Amallia/Fadia bermain pada partai kelima saat skor kedua tim 2-2. Mereka bisa memberi perlawanan ketat meski akhirnya kalah 10-21, 21-18, 15-21 dan Indonesia tersingkir dengan kekalahan 2-3.
Setahun kemudian, pertandingan tersebut menjadi bekal bagi Amallia/Fadia untuk bertemu lagi Baek/Lee. Kali ini, Amallia/Fadia berstatus sebagai pasangan tetap yang tampil rutin dalam turnamen BWF World Tour sejak Indonesia Masters, Januari 2026. Dalam lima turnamen sebelum Kejuaraan Asia, hasil terbaik mereka adalah ketika menjuarai Thailand Masters yang berlevel Super 300.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/11f8e52dbbced58b371de76b546f2c2a-WhatsApp_Image_2026_04_09_at_19.21.59.jpeg)
”Target kami adalah maju satu langkah demi satu langkah karena kami belum bertemu banyak pemain di level top. Jadi, kami mau mengukur kemampuan. Kalau bisa, menyaingi para pemain itu secepatnya,” kata Fadia.
Pada perempat final, Amallia/Fadia akan bertemu unggulan keenam asal Jepang, Rin Iwanaga/Kie Nakanishi (Jepang). Febi/Rachel juga berpeluang bertemu pemain Jepang, Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto.
Dalam persaingan ganda putra, pasangan yang masing-masing berusia 19 tahun, Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi, memiliki kesempatan bertemu pasangan nomor satu dunia, Kim Won-ho/Seo Seung-jae (Korea Selatan). Peluang itu didapat setelah mereka mengalahkan Chaloempon Charoenkitamorn/Worrapol Thongsa-Nga (Thailand) 22-20, 15-21, 21-15.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/614e06c206d6fc1a17c469982f4b9b31-WhatsApp_Image_2026_04_09_at_16.19.14.jpeg)
”Sangat senang dan sangat bangga akhirnya ada kans untuk bertemu dengan ranking satu dunia besok. Saya akan menjaga pola istirahat dan pola pikir. Persiapan harus lebih dari biasanya karena tidak akan gampang melawan nomor satu dunia,” kata Devin.
Sementara itu, Fajar/Fikri akan bertemu pasangan Taiwan yang mengalahkan Sabar/Reza, Lee Fang Chih/Lee Fang Jen, setelah mengatasi perlawanan Chen Bo Yang/Liu Yi (China), 21-17, 25-23. Fajar/Fikri menang atas duet Lee pada pertemuan di babak pertama Malaysia Terbuka, Januari, dalam laga tiga gim.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra