Fajar/Rian dan Sabar/Reza melaju ke semifinal Indonesia Terbuka 2025 dengan memperlihatkan salah satu jiwa yang memang harus dimiliki atlet, yaitu pantang menyerah.
06 Jun 2025 21:51 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS — Setelah mendapat kekalahan demi kekalahan dari tiga wakil, atlet bulu tangkis Indonesia akhirnya mendapat tiket semifinal pada turnamen Kapal Api Indonesia Terbuka 2025 melalui perempat final pada sesi malam. Dua ganda putra Indonesia memberikan kegembiraan dalam waktu yang hampir bersamaan melalui pertandingan menegangkan.
Penantian tim dan penggemar bulu tangkis Indonesia untuk melihat wakil tuan rumah menang terwujud ketika Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menang di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (6/6/2025). Teriakan penonton di Istora pada Jumat malam itu berlanjut. Selang sekitar 10 menit kemudian, kemenangan juga didapat Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani.
Kemenangan mereka didapat setelah Indonesia kehilangan wakil pada nomor tunggal putri, ganda campuran, dan ganda putri. Putri Kusuma Wardani kalah dari Akane Yamaguchi (Jepang), 19-21, 20-22, meskipun telah memberikan perlawanan terbaik.
Ganda campuran Indonesia, Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil, baru bisa mengimbangi Thom Gicquel/Delphine Delrue (Perancis) pada gim kedua dan kalah dengan skor 11-21, 21-23.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/06/3a8b16de-c9d1-4153-b266-69570feac6ff_jpg.jpg)
Setelah itu, Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi baru bisa memberi harapan ketika memenangi gim pertama atas unggulan ketiga asal Korea Selatan, Lee So-hee/Baek Ha-na. Akan tetapi, mereka akhirnya kalah 18-21, 21-16, 7-21.
Penantian melihat wakil tuan rumah menang pada turnamen level Super 1000 ini akhirnya terbayarkan melalui Fajar/Rian dan Sabar/Reza. Mereka memperlihatkan salah satu jiwa yang memang harus dimiliki atlet, yaitu pantang menyerah.
Fajar/Rian menang atas Huang Di/Liu Yang (China) 21-19, 23-21. Sabar/Reza memperlihatkan perjuangan yang lebih luar biasa dengan mengalahkan ganda putra nomor satu dunia, Goh Sze Fei/Nur Izuddin (Malaysia), dengan skor 21-19, 9-21, 21-19.
Berbekal daya juang yang tinggi, Sabar/Reza mendapat tiket semifinal Indonesia Terbuka untuk kedua kalinya beruntun setelah tertinggal 17-19 pada gim penentuan. Sabar/Reza mengalahkan ganda putra nomor satu dunia, yakni Goh Sze Fei/Nur Izzuddin (Malaysia), lewat pertarungan ketat 21-19, 9-21, 21-19.
Kemenangan itu begitu berarti sehingga ketika pukulan Nur Izzuddin gagal menyeberangi net setelah adu drive yang berbuah poin kemenangan, Sabar langsung merebahkan diri di lapangan dan Reza bersujud syukur. Istora Gelora Bung Karno, Senayan, yang dipenuhi penonton pun bergemuruh, turut merayakan kemenangan tersebut.
Kemenangan dicapai melalui duel yang didominasi pertarungan di area depan net dengan tempo yang cepat. Mulai gim penentu, Sabar/Reza, yang sebenarnya unggul lebih dahulu pada poin-poin awal, sempat tersalip, lalu mengejar, dan kembali tersalip. Delapan kali keadaan imbang dan enam kali pergantian keunggulan menunjukkan bagaimana pertandingan gim penentu itu berlangsung lebih sengit. Sabar/Reza bahkan jatuh bangun untuk mengejar kok.
”Kami sempat unggul, tersusul, unggul lagi, tersusul lagi. Jadi, tadi kami mencoba fokus poin per poin. Koh Hendra (Setiawan, pelatih Sabar/Reza) juga selalu bilang, harus bisa kontrol ketika poin kritis. Yakin saja, jangan mikirin banyak hal, fokus ke gim, dan alhamdulillah berbuah manis,” ucap Sabar.
Mereka meraih tiket ke semifinal dengan kemenangan kedua dari total tiga pertemuan dengan Goh Sze Fei/Nur Izzuddin tersebut dalam kondisi tidak fit, terutama Reza yang mengalami cedera pinggang. Setiap kali interval, pinggang bagian belakang Reza yang di-tapping mendapat semprotan untuk mengurangi rasa sakit dari pelatih fisik.
Bahkan, sesaat sebelum pertarungan poin terakhir yang memastikan kemenangan mereka, Reza sudah memegangi pinggang sambil berkali-kali membungkukkan badannya dengan bertumpu pada raket. Dengan cederanya, Reza berusaha menghindari bermain di belakang dan melakukan smes. Namun, hal tersebut seringkali tak terhindarkan. Belum lagi, lawan kerap mengarahkan kok ke Reza.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/189b523bffb9f4ba741e4192b9c40a67-20250606TOK29.jpg)
Sebelum laga final, kata Sabar, Reza sebenarnya sudah menyampaikan bahwa rasa sakitnya semakin menyiksa. Bahkan Reza sudah meminta maaf jika akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri.
”Untuk berdiri, duduk, dan tidur saja, Reza merasa sakit. Tapi, alhamdulillah, dengan bantuan banyak-banyak dari medis, dari tim support kita juga, itu sangat membantu untuk recovery Reza,” tutur Sabar yang juga mengapresiasi penonton yang terus memberikan dukungan.
Cedera pinggang Reza itu sudah muncul sepekan sebelum Indonesia Terbuka. Namun, sebagai ganda putra peringkat 10 besar dunia, mereka harus mengikuti beberapa turnamen wajib, termasuk Indonesia Terbuka. Selain menghindari denda jika absen, Sabar mengatakan, mereka punya tekad untuk bermain, apa pun hasilnya.
”Reza bilang, coba saja. Misalnya sudah enggak kuat banget, baru retire. Jadinya, ya, saya sebagai partnernya mencoba yang terbaik, tapi saya tidak memaksakan apa pun. Namun, tekad untuk menang, menampilkan yang terbaik, pasti selalu ada,” ujar Sabar.
Sementara Fajar/Rian menang setelah menggagalkan tiga game point Huang/Liu pada gim kedua, yaitu pada skor 18-20, 19-20, dan 20-21. Sebaliknya, ganda putra Indonesia peringkat kelima dunia itu menang melalui match point pertama.
Angka terakhir Fajar/Rian dipastikan melalui challenge (tayangan ulang) yang diminta pemain China untuk melihat jejak smes mereka. Sesaat setelah layar di dalam Istora memperlihatkan kok jatuh di luar lapangan, Fajar/Rian mengangkat kedua tangan dan penonton berteriak hingga suara mereka memekakkan telinga.
Fajar bersyukur bisa memenangi pertandingan tersebut karena tidak bermain maksimal. Dia mengatakan, pergerakannya tidak sebaik babak kedua ketika melawan pasangan China lainnya, Chen Bo Yang/Liu Yi.
Namun, kemampuan atlet memang diuji ketika mereka justru tak bisa tampil sesuai level yang diharapkan, seperti yang dikatakan pelatih tenis profesional Brad Gilbert dalam bukunya yang berjudul Winning Ugly: Mental Walfare.
Pada prinsipnya, winning ugly adalah kemenangan yang ditentukan melalui perang mental ketika performa atlet buruk dari sisi teknis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/06/6d8ead12-c7a3-4970-bba6-412b0cfe8979_jpg.jpg)
Fajar/Rian harus meningkatkan level performa mereka karena akan berhadapan dengan Seo Seung-jae/Kim Won-ho, pasangan Korea Selatan dengan penampilan konsisten di level atas pada tahun ini. Mereka menjuarai dua turnamen Super 1000 lain pada 2025, yaitu Malaysia Terbuka dan All England.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto