Upaya pencarian korban tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah, menghadapi tantangan besar. Tim SAR harus bersiasat untuk mencegah risiko gerakan tanah di lokasi.
19 Nov 2025 20:47 WIB · Lingkungan
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Operasi pencarian korban tanah longsor di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, masih terus berlangsung. Tim SAR pun harus menghadapi tantangan potensi gerakan tanah saat melakukan pencarian korban. Bagaimana tantangan ini diatasi?
Pada Rabu (19/11/2025) menjelang pukul 14.00 WIB, tim SAR menemukan satu jenazah korban tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara. Korban diketahui bernama Tuwi (50) yang merupakan warga Dusun Situkung.
Dengan penemuan ini, jumlah korban meninggal akibat tanah longsor yang terjadi pada Minggu (16/11/2025) menjelang pukul 16.00 WIB itu bertambah menjadi tiga orang. Sebelumnya, korban bernama Lewih (40) ditemukan dan dievakuasi pada Senin pukul 06.33 WIB.
Namun, dia meninggal dalam perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Hj Anna Lasmanah, Banjarnegara. Korban lainnya, yakni Darti (29), ditemukan pada Senin pukul 07.48 WIB dalam kondisi telah tewas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/6cc9926f7b2c05195d41115c64b40c2a-20251119DRA026.JPG)
”Dengan temuan satu korban itu, maka warga yang masih dalam pencarian menjadi 25 orang dari sebelumnya 26 orang,” ujar Komandan Komando Distrik Militer 0704/Banjarnegara Letnan Kolonel (CZI) Teguh Prasetyanto dalam jumpa pers di Kecamatan Pandanarum, Rabu petang.
Teguh menambahkan, korban bernama Tuwi ditemukan di Sektor A bagian A2. Di Sektor A, sesuai asesmen tim SAR, diduga ada 16 korban tertimbun. Adapun di Sektor B diperkirakan ada 6 korban tertimbun. Sementara itu, di Sektor C, diyakini ada 4 korban tertimbun.
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di Sektor C dilakukan menggunakan 4 ekskavator mini. Di Sektor A, juga dikerahkan 2 ekskavator mini serta dilakukan pencarian secara manual. Penemuan jenazah korban di area A2 itu terjadi setelah adanya informasi dari keluarga korban dan asesmen tim SAR.
Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan Kementerian Pekerjaan Umum Adi Umar Dani mengatakan, pada Rabu malam ini, digerakkan 5 ekskavator mini mendekati Sektor A, B, dan C. Selain itu, ada 9 unit ekskavator lainnya yang telah siap dikerahkan menuju wilayah Pandanarum. ”Nantinya, kami kerahkan secara total 18 unit ekskavator,” ujar Adi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/fe3a9e1a7d868e423bfd46d306eb5ff7-20251119DRA054.JPG)
Kepala Kantor SAR Semarang Budiono mengatakan, operasi SAR secara terpadu baru bisa menemukan dan mengevakuasi korban dari timbunan tanah longsor pada hari keempat. Operasi itu terkendala kondisi tanah yang jenuh air sehingga membahayakan keselamatan seluruh anggota operasi.
Tanah longsor itu berasal dari runtuhan bukit di sisi utara yang dinamai Bukit Guntur oleh warga. Puncak atau mahkota bukit itu runtuh dan menimbulkan kerusakan seluas 10-11 hektar. Bentang tanah longsor dari mahkota sampai ujung lebih dari 1 kilometer.
Luasnya wilayah kerusakan membuat operasi SAR dibagi menjadi tiga sektor, yakni Sektor A, B, dan C. Sektor A bahkan dibagi lagi menjadi bagian A1 dan A2.
Dari tiga sektor itu, Sektor C terlebih dahulu dapat ditembus sehingga pengerahan alat berat bisa dilakukan. Pada Rabu siang, Sektor A dapat ditembus sehingga dua ekskavator dapat dioperasikan dan membantu penemuan korban. Di Sektor B, pengerahan ekskavator masih terkendala keberadaan embung dan di atasnya terdapat sumber air.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/83821efee780b1e8a4fbfffee117e0a6-20251119DRA047.JPG)
Guru Besar Geologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Dwikorita Karnawati, menyatakan, tim SAR harus mewaspadai peningkatan kerentanan tanah karena rekahan-rekahan yang dirembesi aliran air.
”Air dari embung dan mata air harus dibuat sodetan untuk menekan kerentanan tanah di lokasi bencana,” ujarnya di sela mendampingi dan memberi asesmen kepada tim SAR.
Untuk itu, tim SAR meminta tim Kementerian PU mengerahkan ekskavator ke Sektor B untuk mempercepat pembuatan sodetan dan pemasangan pipa. Pada Rabu, sudetan dibuat secara manual sehingga aliran air masih bisa merembes dan berisiko terjadi pergerakan tanah susulan.
Di Sektor B, tim SAR berusaha mengurangi debit dan volume air dengan lima pompa. Namun, embung belum juga kering. Padahal, Rabu petang sampai malam pukul 19.00 WIB, wilayah Pandanarum diguyur hujan deras.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/f0b7136b6d3f00d2d0397f890b3b448b-20251119DRA075.JPG)
Penggunaan lima pompa air juga dilakukan di Sektor A untuk mengurangi endapan material yang menimbun rumah-rumah. Setelah rumah terlihat, ekskavator bergerak mengangkati material bangunan sehingga tim dapat mencari dan mengevakuasi korban.
Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Johan Darmawan meminta saat operasi SAR pada hari kelima atau Kamis (20/11/2025), lokasi lebih steril dari lalu lalang warga dan sukarelawan yang kerjanya tidak optimal.
Pada Rabu, warga memang hilir mudik untuk mengambil harta benda, dokumen, dan kendaraan. ”Kalau sukarelawan yang terlihat enggak bisa apa-apa disuruh turun saja. Jangan sampai kegiatan operasi SAR menjadi wisata bencana,” ujar Johan.
Air dari embung dan mata air harus dibuat sodetan untuk menekan kerentanan tanah di lokasi bencana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/19/aea3416f3c230189fec9c57fccee5a10-20251119DRA062.JPG)
BNPB juga mengupayakan pemasangan kamera pengawas, perangkat sinyal telekomunikasi, dan pendukung untuk siaran operasi SAR melalui media sosial. Cara ini pernah dilakukan dalam penanganan bangunan runtuh Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, yang mengakibatkan kematian 63 jiwa santri pada 29 September 2025.
Dengan menyiarkan operasi SAR, akan ada pembatasan akses untuk jurnalis mendekat ke lokasi kecuali bagi jurnalis foto dan video yang telah mendapat persetujuan dari pos komando. Pos harus dapat memberikan informasi kemajuan operasi SAR di mana perkembangan terakhir diberikan dalam jumpa pers setiap hari sekitar pukul 18.00 WIB.
”Semata-mata ini untuk keselamatan semua yang terlibat dalam operasi SAR,” ujar Johan.
Penulis:
Ambrosius HartoEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase