Potret migran Venezuela yang terpaksa pulang dari Amerika.
24 Sep 2025 08:10 WIB · Internasional
Perahu motor dengan muatan penuh barang dan dijejali manusia nekat menerjang datangnya ombak di pesisir Pasifik Panama, Jumat (19/9/2025). Penumpangnya para migran asal Venezuela yang menyerah sebelum mencapai tujuan utama, Amerika Serikat. Mereka terpaksa kembali ke negaranya, melanjutkan hari, sambil menunggu kesempatan untuk mencoba lagi.
Di tempat lain, Abraham Castro memeluk erat anjingnya saat berada di kapal kargo yang melintasi Teluk Panama. Ia bersama istri dan dua anaknya nekat meninggalkan Venezuela, berlayar untuk mencapai Amerika Serikat. Ia gagal, tetapi beruntung, sebuah kapal kargo menemukan saat perahunya terombang-ambing di tengah lautan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/24/e744d058-64e8-4367-a766-4a48fc318a4c_jpg.jpg)
Di sisi lain, Mariela Gomez, seorang ibu berusia 36 tahun, menjadi bagian dari sejuta migran yang melintasi Benua Amerika dalam beberapa tahun terakhir hingga mencapai Amerika Serikat. Namun, kebijakan yang dipersempit di bawah Presiden AS Donald Trump membuatnya dan ribuan warga Venezuela lainnya kini mencoba kembali ke negara asalnya.
Lebih dari 14.000 migran, yang sebagian besar berasal dari Venezuela, Kolombia, Panama, dan Kosta Rika telah kembali ke negara mereka sejak tindakan keras imigrasi Trump dimulai. Gagal bertahan di Amerika membuat Gomez tidak mampu membayar biaya 280 dollar AS per orang untuk rute Karibia menuju Kolombia yang lebih aman.
Akibatnya, makin banyak migran sepertinya yang terpaksa menumpang kapal kargo dari ibu kota Panama menuju Kolombia yang dipenuhi hutan lebat. Rute baru ini harganya setengahnya, tetapi dua kali lebih berbahaya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/24/80b452bc-55c1-4f9b-bc6c-bb6a962c5b2b_jpg.jpg)
Dalam beberapa tahun terakhir, ribuan migran yang melarikan diri dari krisis di Venezuela melintasi hutan lebat Celah Darien yang berbahaya antara Kolombia dan Panama. Tak jarang mereka terpaksa menunggu berbulan-bulan di Meksiko untuk mendapatkan suaka di AS.
Namun, ketika Trump menjabat, banyak dari mereka telantar di Meksiko. Tak ada pilihan lain, mereka terpaksa berbalik arah, menyusuri Amerika Tengah dengan bus. Sebagian dari mereka terpaksa menumpang kapal kargo yang sarat muatan barang selama berhari-hari.
Migran yang lain nekat mengambil risiko menaiki kapal motor yang melaju kencang menerjang ombak di sepanjang pantai. Kapal-kapal tersebut sering kali dijejali 15-30 orang. Ratusan orang sejauh ini telah menempuh rute tersebut, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dirilis awal bulan ini.
”Orang-orang datang dengan bekal yang sangat sedikit, beberapa hanya berbekal pakaian yang mereka kenakan,” kata Nacor Rivera, seorang nakhoda perahu menggambarkan detail penumpangnya. Adakalanya ia terpaksa memberikan tumpangan gratis karena mereka tidak lagi mampu membayar.
Pada Juni lalu, salah satu kapal yang membawa 38 orang tersebut tenggelam di laut. Kecelakaan itu melukai seorang wanita hamil, anak-anak, dan seorang penyandang disabilitas kehilangan kursi rodanya. Menurut laporan PBB, mereka berhasil mendarat di wilayah hutan lebat di Kolombia, di mana tidak ada tempat berlindung dan sangat sedikit akses ke perawatan medis.
Para migran mendarat dengan kondisi dehidrasi serius, luka bakar, malanutrisi, dan masalah kesehatan mental. Mereka yang tidak punya uang makin telantar dalam kondisi yang tidak manusiawi.
Itulah yang dialami Jesus Aguilar, migran Venezuela yang terjebak di sebuah peedesaan Panama selama dua bulan. Seorang warga setempat menawarinya pekerjaan membersihkan pertanian mereka. Ia berhasil mengumpulkan uang secara perlahan untuk membayar biaya perjalanan perahu ke Kolombia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/24/c254cbe5-9b15-448d-a5e7-4196d2bc076e_jpg.jpg)
Duduk di atas tangki bensin selama 17 jam dijalani Gomez sambil menggendong putranya yang berusia 5 tahun. Keluarga itu meninggalkan negaranya pada tahun 2017 karena ekonomi yang memburuk dan meningkatnya represi pemerintah.
Selama bertahun-tahun, ia tinggal di Kolombia dan Peru. Karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup di negara-negara yang kesulitan mengelola banyaknya migran, Gomez mulai mencari penghidupan baru di AS.
Setelah melintasi Celah Darien dan berhasil mencapai perbatasan AS-Meksiko ke Texas pada bulan Oktober, ia dan keluarganya ditangkap oleh Patroli Perbatasan AS dan diserahkan kepada otoritas Meksiko. Tak lama kemudian, ia memutuskan pulang. Tanpa pekerjaan dan banyaknya kartel membuat Meksiko bukan pilihan sebagai tempat tinggal.
Sekarang ia mencoba kembali ke rumahnya sambil melihat peluang mencari penghidupan ke negara tujuan yang lain. ”Jika saya harus meninggalkan negara saya sekali lagi, mungkin pergi ke Chile,” ujarnya lirih. Namun, saat ini ia hanya perlu fokus untuk selamat sampai rumahnya. (AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan