Israel Perintahkan Evakuasi Rumah Sakit di Gaza

Setelah permukiman, kini fokus Israel beralih ke rumah sakit.

23 Sep 2025 07:17 WIB · Internasional

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Warga Palestina yang tadinya berada di kota Gaza berjumlah sekitar 1 juta orang kini jumlahnya tinggal separuhnya. Militer Israel mengklaim bahwa lebih dari 500.000 warga Palestina telah meninggalkan kota itu. 

Adapun Site Management Cluster, kelompok kemanusiaan yang dipercaya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, mencatat setidaknya 300.000 penduduk telah meninggalkan Gaza. Mereka bergerak ke arah selatan antara tanggal 14 Agustus dan 20 September 2025.

Mereka memantau jumlah orang yang bergerak pada siang hari melalui empat lokasi di Gaza. Ratusan ribu warga Palestina masih berlindung di kota Gaza saat pasukan bergerak masuk. Pasukan Israel tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangan mereka di kota Gaza, bahkan saat para pemimpin dunia berkumpul di New York, AS, untuk menghadiri Sidang Umum PBB.

Warga Palestina melarikan diri dari Kota Gaza dengan berjalan kaki dan kendaraan, membawa barang-barang mereka di sepanjang jalan pesisir menuju Gaza selatan, Kamis, (18/9/2025).

Operasi terbaru Israel, yang dimulai Selasa (16/9/2025), semakin memperparah konflik dan kemungkinan besar semakin mempersulit tercapainya gencatan senjata. Militer Israel mengaku ada indikasi bahwa operasi tersebut bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Perkembangan terbaru, militer Israel telah memerintahkan evakuasi rumah sakit utama di kota Gaza. Sementara rumah sakit lapangan Jordania di lingkungan barat daya kota Tal al-Hawa menerima perintah untuk mengungsi pada Senin (22/9/2025) pagi.

Dr Muneer al-Boush, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, mengatakan bahwa rumah sakit tersebut memiliki sedikitnya 300 pasien, serta staf medis dan anggota keluarga pasien. Perintah itu dikeluarkan saat warga melaporkan pasukan Israel sedang mendekati fasilitas tersebut. Puluhan keluarga terjebak di rumah mereka dan tempat berlindung di sekitar rumah sakit saat Israel menyerang Gaza.

Asap membubung setelah serangan militer Israel di kota Gaza, seperti yang terlihat dari Jalur Gaza tengah, Senin (22/9/2025).
Warga Palestina berjalan kaki dan menggunakan kendaraan, membawa barang-barang mereka di sepanjang jalan pesisir, dekat Wadi Gaza, Senin, (22/9/2025).
Asap mengepul setelah ledakan di Jalur Gaza, seperti yang terlihat dari Israel selatan, Minggu, (21/9/2025).
Warga Palestina melarikan diri dari Jalur Gaza utara, dengan berjalan kaki dan menggunakan kendaraan di sepanjang jalan pesisir, dekat Wadi Gaza, Sabtu, (20/9/2025).

Dua rumah sakit kota Gaza tidak lagi beroperasi karena meningkatnya serangan darat Israel dan kerusakan yang disebabkan oleh pengeboman Israel yang terus berlanjut, kata pejabat Kementerian Kesehatan Gaza.  Saat ini tank-tank bergerak maju lebih dalam ke wilayah tersebut.

Kementerian tersebut menyatakan Rumah Sakit Anak Al-Rantissi telah rusak parah akibat pengeboman Israel beberapa hari yang lalu. Pada saat yang sama, kementerian melaporkan adanya serangan Israel di sekitar rumah sakit mata di dekatnya. Serangan ini memaksa rumah sakit menghentikan layanan kepada pasien.

”Tidak ada fasilitas atau rumah sakit yang memiliki rute akses aman yang memungkinkan pasien dan korban luka menjangkau rumah sakit,” tambah kementerian tersebut. Belum ada komentar langsung dari militer Israel.

Warga Palestina berjuang untuk mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, Jumat, (19/9/2025).

Secara terpisah, angkatan bersenjata Jordania telah memutuskan rumah sakit lapangan mereka di lingkungan Tel Al-Hawa Kota Gaza akan dipindahkan ke Khan Younis demi keselamatan staf rumah sakit. Hal ini ditulis kantor berita negara Yordania Petra pada hari Senin.

Sebuah sumber militer Yordania, yang dikutip oleh Petra, mengatakan bahwa area di sekitar rumah sakit telah menjadi sasaran pengeboman terus-menerus. Serangan tersebut merusak beberapa peralatan medis dan menyebabkan penghentian beberapa layanan, kata sumber tersebut.

Menurut kantor berita Petra, rumah sakit lapangan tersebut telah menyediakan layanan di pinggiran kota Gaza selama lebih dari 16 tahun. Sebelumnya, militer telah memerintahkan semua warga Palestina di kota Gaza untuk mengungsi ke selatan, ke Jalur Gaza bagian tengah dan selatan.

Warga Palestina bergerak dengan barang-barang mereka ke selatan di sebuah jalan di daerah kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah Sabtu (20/9/2025). September 2025. Israel telah menyerbu Kota Gaza dengan serangan udara dan tembakan tank.

Pengakuan negara Palestina

Inggris, Kanada, dan Australia secara resmi mengakui negara Palestina pada hari minggu, bergabung dengan sekitar 150 negara yang sebelumnya telah mengakui. Perancis dan Portugal juga mengumumkan pengakuan di sidang Majelis Umum PBB.

Beberapa warga Palestina yang mengungsi dari kota Gaza mengatakan, melihat banyaknya pengakuan sebagai ”secercah harapan”. Mereka berharap dan mendesak negara lain untuk bergabung dalam gerakan ini. ”Kami adalah bangsa yang berhak memiliki negara,” ujar Fawzi Nour al-Deen, seorang pengungsi Palestina, Minggu malam. 

Para pengunjuk rasa memasuki stasiun pusat saat bentrok dengan polisi setelah pawai pemogokan untuk mendukung Palestina di Milan, Italia, Senin (22/9/2025).
Pengunjukrasa berbaris dengan bendera Palestina raksasa dalam unjukrasa solidaritas Palestina dan menyerukan penghentian pengiriman senjata ke Israel, di Roma pada (22/9/2025).
Pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan mendukung Palestina saat unjukrasa, di depan parlemen, di Athena, Yunani, Sabtu, (20/9/2025).
Orang-orang menghadiri konser untuk memperingati anak-anak Palestina yang telah meninggal selama perang di Gaza, saat Hari Anak Sedunia, di Berlin, Sabtu, (20/9/2025).
Pengunjuk rasa di Jerman memegang poster di sebuah konser untuk memperingati anak-anak Palestina yang telah meninggal selama perang di Gaza, pada Hari Anak Sedunia, Sabtu, (20/9/2025).

Sementara dukungan untuk Palestina juga datang dari penduduk di banyak negara. Puluhan orang berkumpul di Misi Palestina di Inggris pada hari Senin untuk menandai pengakuan Inggris terhadap negara Palestina. Massa bertepuk tangan dan bersorak-sorai saat bendera Palestina dikibarkan di depan gedung tersebut dalam sebuah upacara. Husam Zomlot, kepala misi Palestina di Inggris, berterima kasih kepada rakyat Inggris atas dukungan mereka.

Wali Kota Saint-Denis, di pinggiran utara Paris, mengibarkan bendera Palestina di balai kota pada Senin pagi sebagai bukti solidaritas terhadap masyarakat di Gaza. Kementerian Dalam Negeri Perancis mengatakan sedikitnya 21 kotamadya di seluruh negeri telah melakukan langkah serupa. Mereka menentang pemerintah untuk tidak mengibarkan bendera Palestina di balai kota.

Warga Palestina melarikan diri dari Kota Gaza dengan berjalan kaki dan kendaraan, membawa barang-barang mereka di sepanjang jalan pesisir menuju Gaza selatan, Kamis, (18/9/2025).

Di Italia, ribuan pekerja dan pelajar bergabung dalam pemogokan umum dan unjuk rasa sebagai bentuk solidaritas dengan warga Palestina di Gaza. Lebih dari 20.000 orang berkumpul di depan stasiun pusat Roma untuk memprotes krisis kemanusiaan di Gaza. Serikat pekerja dan organisasi mahasiswa mengkritik Pemerintah Italia dan Uni Eropa atas ketidakpedulian mereka.

”Kami adalah bangsa yang berhak memiliki negara.” (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan