LIGA CHAMPIONS EROPA

Bodo/Glimt Tersingkir, Kisah Cinderella Tak Terwujud Sempurna

Bagai kisah Cinderella, kereta kencana Bodo/Glimt kembali menjadi labu sebelum sampai ke pesta. ”Comeback” Sporting Lisbon cegah kisah itu terwujud sempurna.

18 Mar 2026 08:00 WIB · Olahraga

AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA

Oleh Rebiyyah Salasah

LISABON, RABU — Perjalanan bagai kisah Cinderella yang berakhir indah ternyata bukan milik Bodo/Glimt. Semua keajaiban yang Bodo/Glimt pertontonkan hilang bukan saat tengah malam, melainkan ketika mereka tak mampu menahan gempuran lawan.

Bodo/Glimt menjelma tim yang berbeda ketika bertandang ke markas Sporting Lisbon untuk melakoni partai pertemuan kedua babak 16 besar Liga Champions Eropa. Di hadapan para pendukung tuan rumah di Stadion Jose Alvalade, Lisabon, Portugal, Rabu (18/3/2026), tim asal kota kecil Norwegia yang dekat Lingkaran Arktik tersebut justru ”membeku”.

Bodo/Glimt seperti bukan tim yang menaruh satu kakinya di perempat final setelah kemenangan 3-0 di kandang pada laga pertama. Patrick Berg dan kawan-kawan hanya bisa menyaksikan Sporting mengukir kisah kebangkitan luar biasa dengan mencetak lima gol dan melenggang ke perempat final lewat kemenangan agregat 5-3.

”Kami telah menjalani perjalanan yang fantastis lalu memasuki pertandingan di mana menurut saya kami tidak bermain dalam pertandingan. Kami bermain dalam peluang,” kata Pelatih Bodo/Glimt Kjetil Knutsen.

”Kami memikirkan konsekuensi sejak tendangan pertama,” ujar Knutsen melanjutkan.

Bodoe/Glimt players clap at the end of the UEFA Champions League last 16 second leg football match between Sporting CP and Bodoe/Glimt at Jose Alvalade stadium in Lisbon on March 17, 2026. (Photo by FILIPE AMORIM / AFP)

Bodo/Glimt memang mengukir kisah yang menakjubkan di Liga Champions. Kisah debutan ini bahkan seperti dongeng Cinderella yang diawali dengan kesengsaraan lalu perlahan menuju kebahagiaan.

Di fase liga, tim ini kalah dalam enam pertandingan. Langkah menuju babak gugur pun terasa mustahil karena mereka harus mengalahkan Manchester City dan Atletico Madrid.

Bodo/Glimt, di luar dugaan, mampu mewujudkan kemenangan itu. Jika perempat final Liga Champions ibarat pesta dalam kisah Cinderella yang mempertemukannya dengan pangeran, Bodo/Glimt seolah mendapatkan bantuan dari peri baik hati untuk bisa ke pesta itu.

Kesengsaran pada enam laga sebelumnya disulap jadi kekuatan. Kemenangan 3-1 atas Manchester City dan hasil positif 2-1 melawan Atletico Madrid bahkan berlanjut di fase gugur. Mereka juga menyingkirkan Inter Milan pada playoff babak 16 besar dengan agregat 5-2.

TOPSHOT - Sporting Lisbon's Portuguese defender #25 Goncalo Inacio heads the ball and scores the opening goal during the UEFA Champions League last 16 second leg football match between Sporting CP and Bodoe/Glimt at Jose Alvalade stadium in Lisbon on March 17, 2026. (Photo by FILIPE AMORIM / AFP)

Kemenangan-kemenangan itu seperti kereta kencana yang disulap peri dari labu. Kereta itu kendaraan untuk mengantar Cinderella menuju ke pesta. Namun, overthinking Bodo/Glimt membuat kereta kembali menjadi labu sebelum sempat sampai ke pesta.

Padahal, mereka bukannya tanpa peluang. Kasper Hogh, yang mencetak gol di laga pertama, memiliki kans untuk membawa tim tamu unggul melawan arus permainan.

Tak sesuai identitas

Namun, bola tendangannya melenceng jauh dari gawang. Knutsen—yang kecewa—menyebut, tendangan dan penampilan mereka secara keseluruhan tak sesuai dengan identitas tim.

Sporting unggul karena menciptakan peluang lebih banyak. Bayangkan saja, tim asuhan Rui Borges ini melakukan 39 percobaan mencetak gol dengan 14 di antaranya tepat sasaran. Sementara tim tamu cuma mencatatkan 9 peluang dengan hanya 3 yang mengarah ke gawang.

TOPSHOT - Sporting Lisbon's Colombian forward #97 Luis Suarez and Bodoe/Glimt's Norwegian midfielder #19 Sondre Brunstad Fet fight for the ball during the UEFA Champions League last 16 second leg football match between Sporting CP and Bodoe/Glimt at Jose Alvalade stadium in Lisbon on March 17, 2026. (Photo by PATRICIA DE MELO MOREIRA / AFP)

Gol pertama Sporting lewat Goncalo Inacio pada menit ke-34 belum membuka mata Bodo/Glimt bahwa bahaya mengintai mereka. Tim yang menjadi klub Norwegia kedua yang mencapai perempat final Liga Champions itu baru tampil lebih tajam setelah jeda meskipun kemudian kebobolan dua gol beruntun lewat Pedro Goncalves dan penalti Luis Suarez.

Bodo/Glimt sempat bertahan untuk memaksa perpanjangan waktu. Namun, setelah hanya dua menit, Maximiliano Araujo melepaskan tembakan ke dalam gawang untuk gol keempat mereka.

Sporting dengan bijak mempertahankan kendali sepanjang sisa waktu tambahan. Morten Hjulman dan kawan-kawan menutup pertandingan di menit-menit terakhir ketika Rafalel Nel melepaskan tembakan keras ke sudut atas gawang.

”Kami memiliki intensitas dan energi yang tepat. Kami melakukan apa yang tidak kami lakukan di sana (Norwegia),” kata penyerang Sporting, Francisco Trincao.

Sporting CP players celebrate after Sporting's Maximiliano Araujo scored his side's fourth goal during a Champions League round of 16 second leg soccer match between Sporting CP and Bodo Glimt in Lisbon, Portugal, Tuesday, March 17, 2026. (AP Photo/Ana Brigida)

Sporting bermain dengan dukungan penuh penonton. Dari tribune, sorak-sorai penonton menyanyikan ”kami percaya padamu”.

”Semua orang percaya, para penggemar juga membuat kami merasakan energi itu. Selama pertandingan, seiring berjalannya waktu, kami menyadari bahwa kami mampu,” ujar Tricao lagi.

Dengan kemenangan 5-0 atas Bodo/Glimt, Sporting menjadi tim kelima dalam sejarah kompetisi yang berhasil membalikkan defisit tiga gol dari laga pertama. Deportivo La Coruna dari Spanyol pertama kali mencapai prestasi tersebut melawan AC Milan pada tahun 2004 dengan kemenangan 4-0 setelah tertinggal 1-4.

Sporting akan menghadapi Arsenal pada perempat final. Sementara Bodo/Glimt akan pulang ke kota kecil di Norwegia dengan kisah Cinderella. Meskipun tak terwujud sempurna, kisah itu tetap layak bergema. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan