BOSTON, SELASA — Carlos Queiroz yang sedang menjalani Piala Dunia kelimanya tahu betul bagaimana membuat tim-tim kecil bertarung melawan skuad bertabur bintang seperti Inggris. Bertahan ketat, disiplin, rela menderita tanpa menguasai bola dalam waktu lama, dan bersabar menunggu momen menyerang balik adalah solusi yang diambil Queiroz saat memimpin Ghana melawan Inggris.
Pola permainan antisepak bola yang dipelesetkan menjadi sufferball itu benar-benar membuat tim ”Tiga Singa” menderita dalam laga penyisihan Grup L Piala Dunia 2026, Rabu (24/6/2026). Laga itu berakhir imbang, 0-0.
Ghana yang bermain dengan pola 4-5-1 langsung menerapkan low-block sejak awal. Mereka hanya menyisakan satu penyerang di dekat garis tengah lapangan untuk menyerang balik. Mereka bertahan sangat ketat, sebanyak delapan pemain berada di dalam kotak penalti sehingga tidak ada ruang melepaskan tendangan bagi para pemain Inggris.
Bahkan, pada babak pertama, Harry Kane dan kawan-kawan tidak bisa melepaskan tendangan ke gawang. Kane yang menjadi mesin gok skuad Inggris dikawal ketat oleh dua hingga tiga pemain. Pada babak pertama, saat Kane memiliki peluang melepaskan tendangan, dia dihadang oleh tiga pemain sekaligus, Jonas Adjetey, Marvin Senaya, dan Thomas Partey.
Demikian pula Noni Madueke dikeroyok empat pemain Ghana saat ia melakukan serangan yang jarang berhasil masuk ke area penalti. Usaha Inggris melebarkan permainan melalui Anthony Gordon juga bisa diredam oleh bek sayap Senaya yang mengunci pergerakan dalam satu lawan satu.
Komitmen Gideon Mensah menekan agresif juga membuat Madueke dan Reece James sulit melepaskan umpan silang akurat. Inggris benar-benar dibuat frustrasi oleh sufferball Ghana. Mereka hanya bisa melepaskan tiga tendangan ke gawang dari 19 percobaan meskipun menguasai 78,9 persen bola.
”Tentu saja kecewa karena tidak memenangi pertandingan. Ini adalah pertandingan yang kami tahu kami akan memiliki banyak penguasaan bola. Kami melakukan itu dan mereka bertahan dengan baik dalam low compact block dan menyulitkan kami untuk bermain di tengah lapangan,” ujar Kane kepada BBC.
”Jadi, pertandingan berlangsung di luar tengah lapangan dan terjadi duel satu lawan satu. Di kedua akhir babak, pada babak pertama dan kedua, kami mendapat momentum dan peluang. Ini adalah pertandingan yang seharusnya bisa kami lewati dengan skor 1-0, 2-0, dan terus maju,” ucap Kane menyesalkan kegagalan timnya mencetak gol.
Kebuntuan Inggris menembus pertahanan Ghana salah satunya karena gagal melebarkan permainan. Pergerakan pemain masih terlalu lambat sehingga mudah dibaca. Dinamika permainan sedikit berubah saat Nico O’Reilly dan Bukayo Saka dimasukkan pada menit ke-65.
Sesaat setelah masuk, O’Reilly mendapat peluang melalui sundulan, tetapi bola membentur mistar gawang. Bola pantulan disambut oleh Kane, tetapi tendangannya melambung.
”Selalu sulit ketika Anda bermain melawan 11 pemain yang bertahan begitu rapat seperti mereka, tetapi Anda harus menemukan solusi. Dalam sepuluh menit terakhir kami kurang beruntung karena gagal mencetak gol,” ujar Declan Rice.
”Mereka sangat kompak, 5-4-1 tanpa bola dan ruang gerak yang sempit, tetapi di sisi lain kami bisa berbuat lebih banyak dengan bola. Anda harus memberikan pujian kepada Ghana,” ungkap Rice kemudian.
Masih di puncak
Meskipun gagal menembus pertahanan ketat Ghana, Inggris masih berada di puncak Grup L dengan koleksi empat poin dan selisih gol dua. Mereka akan menjalani laga terakhir melawan Panama untuk memastikan lolos sebagai juara grup.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel menilai, permainan seperti pada laga itu tidak membuat skuadnya kehilangan kepercayaan diri. Dia pun tidak akan beraksi berlebihan dengan merombak formasi pemain inti untuk memperbaiki dinamika serangan.
”Kami berada di fase grup yang sangat sulit. Kami tidak memerlukan peringatan. Semua orang waspada, berkomitmen penuh, tidak diragukan lagi,” kata Tuchel dikutip The Athletic.
”Saya dapat meyakinkan semua orang, tidak ada rasa percaya diri yang berlebihan dalam permainan kami, sama sekali tidak. Jika ada, mungkin di beberapa momen kami terlalu berhati-hati, tetapi kami tidak pernah terlalu percaya diri,” ucap Tuchel terkait potensi meremehkan lawan.
”Kami memiliki empat poin dari dua pertandingan dan masih ada satu pertandingan lagi yang harus dimainkan. Sangat penting agar euforia tidak terlalu tinggi dan kekecewaan tidak terlalu rendah. Ini bukan kekecewaan. Ini pertandingan sepak bola sulit yang bisa terjadi kapan saja,” kata pelatih asal Jerman itu.
Meskipun Tuchel optimistis dengan potensi skuadnya untuk bangkit, dari sisi permainan, mereka memang memerlukan sejumlah penyesuaian taktik. Keputusan melakukan pergantian pemain juga terlalu lama sehingga perubahan dinamika baru terjadi di paruh babak kedua.
Potensi penalti
Kebuntuan mencetak gol itu juga nyaris berujung petaka. Ghana menyerang balik dengan cepat di babak kedua dan Ezri Konsa melakukan kontak dengan Prince Adu di dalam kotak penalti. Penyerang Ghana itu pun terjatuh.
Namun, insiden itu tidak berbuah penalti bagi Ghana, juga tidak dilakukan peninjauan ulang melalui asisten wasit video (VAR). Oleh karena itu, Queiroz bercanda satir dengan mengatakan wasit VAR sedang mengambil kopi saat insiden terjadi.
”VAR sedang mengambil secangkir kopi, itu wajar, tetapi itu jelas penalti dan kartu merah,” ucap Queiroz yang kemudian mengatakan dirinya bercanda untuk menghindari sanksi.
Darren Cann, asisten wasit final Piala Dunia 2010, kepada BBC One mengatakan, keputusan tidak meninjau ulang insiden tersebut dengan VAR merupakan kesalahan. ”Sebagai penggemar Inggris, saya senang gol itu tidak diberikan. Namun, jujur saja, menurut saya ini seharusnya ditinjau ulang,” ujar Cann.
”Konsa sama sekali tidak menyentuh bola, dia menjatuhkan lawannya. Dia berada di udara, kehilangan kendali, dan melakukan kontak dengan penyerang. Bagi saya ini adalah tendangan penalti,” ucap Cann.
Strategi bola penderitaan Queiroz hampir berbuah tiga poin jika insiden Prince Adu dan Konsa itu berujung dengan wasit menunjuk titik putih. Namun, kali ini, Inggris beruntung bisa lolos dari bola penderitaan dengan meraih satu poin. Bagi Inggris, hasil imbang itu bak kekalahan dengan dua poin yang hilang.
Akan tetapi, bagi Ghana, satu poin itu bak kemenangan karena menguatkan posisinya di urutan kedua Grup L. Ghana akan bertemu dengan Kroasia pada laga terakhir Grup L dan kemungkinan besar akan kembali memaksa Kroasia menderita.
Dua laga terakhir Grup L akan berlangsung pada Minggu (28/6/2026) mulai pukul 04.00 WIB. Krosia dan Ghana bermain di Stadion Philadelphia, sedangkan Panama dan Inggris berlaga di Stadion New Jersey. (AP)
Permutasi Grup L:
- Inggris akan mengamankan tempat mereka di babak 32 besar dengan hasil imbang atau kemenangan di laga terakhir melawan Panama. Bahkan, dengan kekalahan, mereka sangat mungkin lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
- Ghana memerlukan setidaknya hasil imbang melawan Kroasia untuk mengamankan posisi dua teratas Grup L. Kemenangan menjamin mereka lolos, sementara kekalahan membuat mereka bergantung pada hasil grup lain untuk lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
- Kroasia memerlukan kemenangan melawan Ghana untuk menempati posisi kedua Grup L. Kekalahan dapat berujung eliminasi, tergantung pada selisih gol dan hasil di laga lain. Panama sudah tersingkir dari turnamen.
BOSTON, SELASA — Carlos Queiroz yang sedang menjalani Piala Dunia kelimanya tahu betul bagaimana membuat tim-tim kecil bertarung melawan skuad bertabur bintang seperti Inggris. Bertahan ketat, disiplin, rela menderita tanpa menguasai bola dalam waktu lama, dan bersabar menunggu momen menyerang balik adalah solusi yang diambil Queiroz saat memimpin Ghana melawan Inggris.
Pola permainan antisepak bola yang dipelesetkan menjadi sufferball itu benar-benar membuat tim ”Tiga Singa” menderita dalam laga penyisihan Grup L Piala Dunia 2026, Rabu (24/6/2026). Laga itu berakhir imbang, 0-0.
Ghana yang bermain dengan pola 4-5-1 langsung menerapkan low-block sejak awal. Mereka hanya menyisakan satu penyerang di dekat garis tengah lapangan untuk menyerang balik. Mereka bertahan sangat ketat, sebanyak delapan pemain berada di dalam kotak penalti sehingga tidak ada ruang melepaskan tendangan bagi para pemain Inggris.
Bahkan, pada babak pertama, Harry Kane dan kawan-kawan tidak bisa melepaskan tendangan ke gawang. Kane yang menjadi mesin gok skuad Inggris dikawal ketat oleh dua hingga tiga pemain. Pada babak pertama, saat Kane memiliki peluang melepaskan tendangan, dia dihadang oleh tiga pemain sekaligus, Jonas Adjetey, Marvin Senaya, dan Thomas Partey.
Demikian pula Noni Madueke dikeroyok empat pemain Ghana saat ia melakukan serangan yang jarang berhasil masuk ke area penalti. Usaha Inggris melebarkan permainan melalui Anthony Gordon juga bisa diredam oleh bek sayap Senaya yang mengunci pergerakan dalam satu lawan satu.
Komitmen Gideon Mensah menekan agresif juga membuat Madueke dan Reece James sulit melepaskan umpan silang akurat. Inggris benar-benar dibuat frustrasi oleh sufferball Ghana. Mereka hanya bisa melepaskan tiga tendangan ke gawang dari 19 percobaan meskipun menguasai 78,9 persen bola.
”Tentu saja kecewa karena tidak memenangi pertandingan. Ini adalah pertandingan yang kami tahu kami akan memiliki banyak penguasaan bola. Kami melakukan itu dan mereka bertahan dengan baik dalam low compact block dan menyulitkan kami untuk bermain di tengah lapangan,” ujar Kane kepada BBC.
”Jadi, pertandingan berlangsung di luar tengah lapangan dan terjadi duel satu lawan satu. Di kedua akhir babak, pada babak pertama dan kedua, kami mendapat momentum dan peluang. Ini adalah pertandingan yang seharusnya bisa kami lewati dengan skor 1-0, 2-0, dan terus maju,” ucap Kane menyesalkan kegagalan timnya mencetak gol.
Kebuntuan Inggris menembus pertahanan Ghana salah satunya karena gagal melebarkan permainan. Pergerakan pemain masih terlalu lambat sehingga mudah dibaca. Dinamika permainan sedikit berubah saat Nico O’Reilly dan Bukayo Saka dimasukkan pada menit ke-65.
Sesaat setelah masuk, O’Reilly mendapat peluang melalui sundulan, tetapi bola membentur mistar gawang. Bola pantulan disambut oleh Kane, tetapi tendangannya melambung.
”Selalu sulit ketika Anda bermain melawan 11 pemain yang bertahan begitu rapat seperti mereka, tetapi Anda harus menemukan solusi. Dalam sepuluh menit terakhir kami kurang beruntung karena gagal mencetak gol,” ujar Declan Rice.
”Mereka sangat kompak, 5-4-1 tanpa bola dan ruang gerak yang sempit, tetapi di sisi lain kami bisa berbuat lebih banyak dengan bola. Anda harus memberikan pujian kepada Ghana,” ungkap Rice kemudian.
Masih di puncak
Meskipun gagal menembus pertahanan ketat Ghana, Inggris masih berada di puncak Grup L dengan koleksi empat poin dan selisih gol dua. Mereka akan menjalani laga terakhir melawan Panama untuk memastikan lolos sebagai juara grup.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel menilai, permainan seperti pada laga itu tidak membuat skuadnya kehilangan kepercayaan diri. Dia pun tidak akan beraksi berlebihan dengan merombak formasi pemain inti untuk memperbaiki dinamika serangan.
”Kami berada di fase grup yang sangat sulit. Kami tidak memerlukan peringatan. Semua orang waspada, berkomitmen penuh, tidak diragukan lagi,” kata Tuchel dikutip The Athletic.
”Saya dapat meyakinkan semua orang, tidak ada rasa percaya diri yang berlebihan dalam permainan kami, sama sekali tidak. Jika ada, mungkin di beberapa momen kami terlalu berhati-hati, tetapi kami tidak pernah terlalu percaya diri,” ucap Tuchel terkait potensi meremehkan lawan.
”Kami memiliki empat poin dari dua pertandingan dan masih ada satu pertandingan lagi yang harus dimainkan. Sangat penting agar euforia tidak terlalu tinggi dan kekecewaan tidak terlalu rendah. Ini bukan kekecewaan. Ini pertandingan sepak bola sulit yang bisa terjadi kapan saja,” kata pelatih asal Jerman itu.
Meskipun Tuchel optimistis dengan potensi skuadnya untuk bangkit, dari sisi permainan, mereka memang memerlukan sejumlah penyesuaian taktik. Keputusan melakukan pergantian pemain juga terlalu lama sehingga perubahan dinamika baru terjadi di paruh babak kedua.
Potensi penalti
Kebuntuan mencetak gol itu juga nyaris berujung petaka. Ghana menyerang balik dengan cepat di babak kedua dan Ezri Konsa melakukan kontak dengan Prince Adu di dalam kotak penalti. Penyerang Ghana itu pun terjatuh.
Namun, insiden itu tidak berbuah penalti bagi Ghana, juga tidak dilakukan peninjauan ulang melalui asisten wasit video (VAR). Oleh karena itu, Queiroz bercanda satir dengan mengatakan wasit VAR sedang mengambil kopi saat insiden terjadi.
”VAR sedang mengambil secangkir kopi, itu wajar, tetapi itu jelas penalti dan kartu merah,” ucap Queiroz yang kemudian mengatakan dirinya bercanda untuk menghindari sanksi.
Darren Cann, asisten wasit final Piala Dunia 2010, kepada BBC One mengatakan, keputusan tidak meninjau ulang insiden tersebut dengan VAR merupakan kesalahan. ”Sebagai penggemar Inggris, saya senang gol itu tidak diberikan. Namun, jujur saja, menurut saya ini seharusnya ditinjau ulang,” ujar Cann.
”Konsa sama sekali tidak menyentuh bola, dia menjatuhkan lawannya. Dia berada di udara, kehilangan kendali, dan melakukan kontak dengan penyerang. Bagi saya ini adalah tendangan penalti,” ucap Cann.
Strategi bola penderitaan Queiroz hampir berbuah tiga poin jika insiden Prince Adu dan Konsa itu berujung dengan wasit menunjuk titik putih. Namun, kali ini, Inggris beruntung bisa lolos dari bola penderitaan dengan meraih satu poin. Bagi Inggris, hasil imbang itu bak kekalahan dengan dua poin yang hilang.
Akan tetapi, bagi Ghana, satu poin itu bak kemenangan karena menguatkan posisinya di urutan kedua Grup L. Ghana akan bertemu dengan Kroasia pada laga terakhir Grup L dan kemungkinan besar akan kembali memaksa Kroasia menderita.
Dua laga terakhir Grup L akan berlangsung pada Minggu (28/6/2026) mulai pukul 04.00 WIB. Krosia dan Ghana bermain di Stadion Philadelphia, sedangkan Panama dan Inggris berlaga di Stadion New Jersey. (AP)
Permutasi Grup L:
- Inggris akan mengamankan tempat mereka di babak 32 besar dengan hasil imbang atau kemenangan di laga terakhir melawan Panama. Bahkan, dengan kekalahan, mereka sangat mungkin lolos sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik.
- Ghana memerlukan setidaknya hasil imbang melawan Kroasia untuk mengamankan posisi dua teratas Grup L. Kemenangan menjamin mereka lolos, sementara kekalahan membuat mereka bergantung pada hasil grup lain untuk lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
- Kroasia memerlukan kemenangan melawan Ghana untuk menempati posisi kedua Grup L. Kekalahan dapat berujung eliminasi, tergantung pada selisih gol dan hasil di laga lain. Panama sudah tersingkir dari turnamen.