Trionda, bola Piala Dunia 2026, dianggap menyimpan kejanggalan. Bola ini mengingatkan pada Jabulani yang menjadi momok kiper di Piala Dunia 2010.
26 Jun 2026 21:10 WIB · Olahraga
Getty Images via AFP/Richard HEATHCOTE
Ada beberapa kesamaan antara Piala Dunia 2026 dan 2010. Keduanya dimulai dengan pertandingan pembuka yang sama, yaitu Afrika Selatan versus Meksiko. Keduanya juga sama-sama diikuti Spanyol yang baru saja menjuarai Piala Eropa pada dua tahun sebelumnya.
Namun, ada satu kesamaan lain yang mungkin ”mengganggu” seperti 16 tahun lalu, yaitu bola yang dipakai. Kali ini, Trionda namanya. Bola yang dihiasai warna merah, hijau, dan biru sebagai penghormatan untuk tiga negara tuan rumah ini memantik ingatan akan bola yang digunakan di Afrika Selatan, Jabulani.
Trionda, yang diproduksi Adidas, mulai jadi sorotan setelah tercipta sejumlah gol yang sama selama dua putaran awal babak penyisihan grup. Semuanya berkaitan dengan tembakan melambung yang melampaui tinggi bahu dan sering kali tidak mengarah tepat ke sudut atas gawang.
Penjaga gawang berusaha menepis tembakan ini. Beberapa di antara mereka bahkan sudah berhasil menyentuh Trionda, bola yang namanya bermakna tiga gelombang dalam bahasa Spanyol. Namun, bola kemudian terlepas, seolah-olah kiper salah memperkirakan arah datangnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/26/d507b1150cbd1125b74072dfe498a2d0-wires_photo_21.jpg)
Fenomena itu, salah satunya, terjadi pada kiper Inggris, Jordan Pickford, saat laga kontra Kroasia. Meskipun sempat bergerak ke arah tendangan Martin Baturina, Pickford akhirnya gagal menahan bola masuk ke gawang.
Kiper Aljazair, Luca Zidane, lebih apes lagi. Dalam dua laga, putra dari legenda Perancis, Zinedine Zidane, itu kebobolan lima gol yang dua di antaranya dari bintang Argentina, Lionel Messi, dan Jordania, Nizar Al Rashdan. Bola lolos dari genggamannya sebelum menggetarkan gawang.
Kiper Senegal, Edouard Mendy, dan kiper Irak, Ahmed Basil, juga kecolongan dengan cara yang sama. Wajar jika ada yang berpikir bahwa hal itu murni kesalahan kiper. Namun, mantan kiper timnas Inggris, Joe Hart, melihatnya sebagai kejanggalan karena gol serupa terlalu sering terjadi.
”Bola datang ke kiper jauh lebih cepat daripada yang dirasakan saat bola meninggalkan kaki,” kata Hart dikutip dari The Guardian.
”Zidane lebih dari mampu menangkap bola (dari Messi). Ketika kiper mampu membaca kecepatan bola Piala Dunia ini, kita akan melihat tembakan-tembakan ini ditangkap,” ucapnya lagi.
Kejanggalan Trionda mengingatkan pada Jabulani yang cukup dikenal karena banyak dikiritik, terutama oleh kiper. Iker Casillas, mantan kiper Spanyol, bahkan menyebutnya mengerikan. Sementara mantan kiper Italia, Gianluigi Buffon, menyebutnya sebagai bola yang sama sekali tidak memadai.
Hal itu tidak lepas dari kemampuan Jabulani yang tiba-tiba mengubah lintasan saat meluncur di udara. Desainnya yang sangat halus dengan hanya delapan panel diikat secara termal menciptakan bola Piala Dunia yang paling tidak terduga yang pernah ada.
Uji simulasi oleh para peneliti Austria pada 2010 memprediksi, kombinasi bola Jabulani dan ketinggian dapat memiliki pengaruh besar pada tembakan dan tendangan bebas langsung.
Menurut model mereka, bola yang diluncurkan dengan kecepatan, sudut, dan lintasan yang sama untuk tendangan bebas ke sudut atas gawang di Durban (permukaan laut), tidak akan masuk di enam dari sembilan stadion Afrika Selatan lainnya yang berada di lokasi lebih tinggi.
Adapun kecurigaan Hart tentang mekanika bola yang buruk Trionda didukung oleh penelitian ilmiah oleh akademisi Korea Selatan dan Jepang yang dilakukan sebelum Piala Dunia. Hasil penelitian itu tertuang dalam makalah setebal 18 halaman berjudul ”Krisis Hambatan dan Respons Aliran Bola Pertandingan Piala Dunia FIFA Trionda yang Bergantung pada Orientasi”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/8786439e80a7762c7e0ed8e19fb33758-FBL_WC_2026_BALL_134194619.jpg)
Para peneliti mengambil bola tersebut dan menembakkannya melalui terowongan angin untuk mengukur efek gaya aerodinamis padanya. Mereka melakukannya dari enam sudut dan menemukan hasil yang konsisten.
Terlepas dari mana bola itu ditendang, jika bola mencapai kecepatan tertentu, bola akan terbang lebih cepat. Hal ini, menurut para peneliti dari Universitas Wanita Seoul dan Universitas Tsukuba tersebut, disebabkan oleh efek yang disebut krisis hambatan.
Fenomena ini terjadi ketika sebuah obyek yang meluncur di udara mencapai titik di mana aliran udara di sekitarnya bergeser dari keadaan halus (dikenal sebagai aliran laminar) ke keadaan turbulen. Ketika aliran udara bergejolak, hal itu mengganggu hambatan di belakang obyek yang bergerak sehingga memungkinkan obyek tersebut bergerak lebih cepat.
Para peneliti mencatat, susunan jahitan dan alur di bagian hulu pada desain Trionda memungkinkan terjadinya krisis hambatan pada kecepatan yang lebih rendah. Para peneliti juga menemukan faktor-faktor lebih rumit lainnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/11/10/8fc1393b-25ed-4141-b3a3-3cdb2fb6232d_jpg.jpg)
Mereka mengamati bahwa meskipun ada efek krisis hambatan, tingkat krisis akan bergeser bergantung pada apakah bola ditendang pada jahitan atau pada panel (menendang pada jahitan tampaknya menciptakan hambatan yang lebih rendah). Krisis hambatan juga bervariasi menurut ketinggian. Semakin tinggi lapangan, kian kecil kemungkinan terjadinya krisis hambatan itu.
Pendapat senada disampaikan Andy Harland, profesor Universitas Loughborough di Inggris, yang telah menguji bola-bola turnamen utama Adidas sejak Piala Dunia 2002. Pada kecepatan yang berbeda, kata Harland kepada The Athletic, bola akan memiliki hambatan yang sangat berbeda.
Prinsip-prinsip ini, secara matematis, dapat memberikan penjelasan untuk tendangan yang melengkung ke bawah. Setelah ditendang, bola melambat pada awalnya. Kemudian, bola bergerak dengan cepat setelah transisi dari keadaan aliran yang halus ke keadaan aliran yang kasar, yaitu di mana hambatan meningkat.
”Itu tidak selalu melengkung ke bawah. Itu hanya melambat dan gravitasi memiliki efek yang lebih nyata,” ujar Harland.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/27/5904fd0e46893b36f4fbec751665150f-20260627_H02_ADI_Bola_Trionda_mumed.jpg)
Kendati begitu, Harland mengatakan bahwa Trionda seharusnya tidak menimbulkan kekhawatiran. Apalagi, performanya tidak ekstrem. ”Bukan yang tercepat, bukan yang paling lambat. Ini adalah bola yang berevolusi dari semua pembelajaran dalam berbagai aspek,” katanya.
Adapun FIFA tidak menyembunyikan kemungkinan hal-hal terkait aerodinamika dalam Trionda ketika diluncurkan tahun lalu. Di antara beberapa inovasi performa kunci, katanya, adalah peralihan ke bola empat panel untuk pertama kalinya dalam sejarah turnamen. Adidas Al Rihla yang digunakan di Qatar empat tahun lalu memiliki 20 panel.
Panel-panel ini terhubung membentuk segitiga di pusat bola, hal yang menjadi simbol persatuan bersejarah dari tiga negara penyelenggara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, FIFA menegaskan, terdapat tambahan jahitan yang sengaja dibuat dalam dan garis timbul yang ditempatkan secara strategis ke dalam bola.
”Ini menciptakan permukaan yang menghasilkan stabilitas optimal saat meluncur dengan memastikan hambatan yang cukup dan merata saat bola bergerak di udara. Selain itu, ikon timbul yang hanya terlihat dari dekat meningkatkan cengkeraman saat menendang atau menggiring bola dalam kondisi basah atau lembap,” kata FIFA.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul