Bojan Hodak dan Bernardo Tavares membuktikan Liga Indonesia masih milik pelatih berfilosofi pragmatis. Keduanya bakal dikepung juru latih ofensif pada musim 2025-2026.
05 Agt 2025 13:06 WIB · Olahraga
Tiga edisi terakhir kompetisi tertinggi Indonesia alias Liga 1 dikuasai tim yang diasuh pelatih berfilosofi pragmatis. PSM Makassar bersama Bernardo Tavares, lalu Bojan Hodak membawa Persib Bandung juara tanpa embel-embel tim bergaya menyerang yang ditandai superioritas penguasaan bola setiap laga.
PSM mengukuhkan diri sebagai juara Indonesia edisi 2022-2023 dengan rerata penguasaan bola hanya 43 persen per gim. Tim ”Juku Eja” dengan persentase penguasaan bola terendah bisa menjadi kampiun sekaligus mengukuhkan poin terbanyak dalam era Liga 1. Mereka koleksi 75 poin dalam 34 laga.
Adapun Persib bertransformasi menjadi tim dengan tujuan mengontrol permainan bersama Luis Milla menjadi utamakan menang di bawah kendali Hodak. Masing-masing koleksi 46 persen penguasaan bola per laga pada 2023-2024 serta 49 persen penguasaan bola per laga di edisi 2024-2025 cukup bagi Persib menjadi juara back-to-back alias beruntun.
Tavares dan Hodak masih akan terlihat di sisi lapangan bersama timnya masing-masing pada BRI Liga Super 2025-2026. Kedua pelatih itu bahkan menjadi pelatih dengan masa bakti terlama untuk sebuah klub pada kompetisi kasta tertinggi Indonesia edisi kali ini.
Tercatat, Tavares yang berasal dari Portugal telah menangani PSM sekitar 3 tahun 3 bulan. Hodak bersama Persib juga sudah memasuki tahun kedua.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/08/23/16fbff61-3dec-424f-ae61-dcbde0b22fb5_jpg.jpg)
Kesetiaan bersama klub yang telah dipersembahkan trofi juara menunjukkan dua juru taktik itu memiliki nilai lebih. Keduanya punya senjata sendiri untuk mengakali permainan lawan yang lebih dominan memegang bola.
PSM, misalnya, ketika menjadi juara dikenal dengan skema serangan balik efektif yang mengandalkan pemain-pemain sayap. Yakob dan Yance Sayuri, lalu Kenzo Nambu, adalah deretan pemain penting PSM pada tiga musim lalu.
Tavares juga membangun skuad dengan mengutamakan pertahanan kokoh. Kehadiran bek tengah Yuran Fernandes dan kiper Reza Arya adalah kunci Juku Eja berjaya. Meskipun gagal menjadi juara dua musim terakhir, PSM tetap masuk ke dalam tiga besar tim dengan catatan kemasukan paling sedikit.
Dengan melihat komposisi skuad musim 2025-2026, 17 tim lainnya di Liga Super bakal kesulitan mengimbangi Dewa.
Sementara Persib juga gemar menghukum lawan dengan pola fast break karena dihuni pemain-pemain yang bisa memberikan perbedaan, misalnya Beckham Putra, Ciro Alves, dan David da Silva. Memasuki musim 2025-2026, Alves dan Da Silva hijrah dari Bandung untuk melanjutkan petualangan bersama Malut United.
Serupa dengan Tavares, Hodak juga membangun ”Maung Bandung” menjadi tim dengan lini belakang kompak dan sulit ditembus lawan. Musim lalu, Persib hanya kemasukan 33 gol atau hanya kalah dari Dewa United (32 kemasukan). Angka itu membaik dibandingkan 40 kali kebobolan pada musim 2023-2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/06/99cee2db55f4133df4492da40a41c805-bojan_port_preskon_nando_20bb3bd5f6.jpg)
Jika melihat kekuatan skuad berdasarkan nilai pasar besutan Transfermarkt, Persib dan PSM layak disebut kandidat juara. Persib duduk di posisi kedua dengan nilai akumulasi skuad termahal dengan Rp 3,09 miliar. PSM ada di peringkat ketiga dengan nilai skuad termahal berkat Rp 2,48 miliar.
Hanya Dewa yang berada di atas dua juara terkini itu. Nilai skuad ”Banten Warriors” mencapai Rp 3,63 miliar. Tak ayal, Dewa adalah tim termahal yang memulai musim Liga Indonesia sejak Transfermarkt memiliki catatan nilai pasar skuad.
Lalu, bisakah Dewa menjadi juara baru dalam kompetisi Indonesia?
Dengan melihat komposisi skuad musim 2025-2026, sebanyak 17 tim lainnya di Liga Super bakal kesulitan mengimbangi Dewa. Namun, skuad mahal dan pelatih hebat pada diri Jan Olde Riekerink belum jadi jaminan Dewa bisa mengangkat trofi pada Mei 2026. Mereka butuh konsistensi dan keberuntungan.
Pada musim lalu, Dewa menutup musim di peringkat kedua yang berselisih delapan poin dengan Persib. Meski demikian, Egy Maulana Vikri dan kawan-kawan telah menunjukkan performa layak juara.
Mereka adalah tim dengan penguasaan bola tertinggi di Liga 1 2024-2025. Rata-rata Dewa mencatatkan 59 persen penguasaan bola per laga. Angka itu meningkat dari rerata 53 persen penguasaan bola per laga pada 2023-2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/17/fca0b9d80c6f4b7e631c66326117c16e-persib_1.jpg)
Dewa juga mengoleksi gol terbanyak (65 gol) dan kemasukan paling minim (32). Kiper Dewa, Sonny Stevens, adalah kiper dengan laga nirbobol tertinggi (15 laga).
Musim 2025-2026 berpeluang menjadi titik balik bagi Dewa. Jika bisa menjadi kampiun, Dewa berpeluang membuka lembaran dominasi mereka di kompetisi Indonesia.
Selain masih bersama Riekerink sebagai juru latih, kedalaman skuad Dewa sudah meningkat pesat musim ini. Dewa sempat goyang di awal musim ketika Alex Martins cedera, lalu Egy juga harus menepi pada paruh akhir musim ketika perburuan juara tengah sengit.
Kini, Dewa memiliki Privat Mbarga, Rafael Struick, dan Stefano Lilipaly untuk menghadirkan banyak alternatif sumber gol Banten Warriors. Di lini belakang, mereka juga mendapat tambahan signifikan berkat kehadiran Nick Kuipers yang menjadi kunci Persib juara beruntun.
Dengan permainan menyerang ala Riekerink, Dewa menjadi kandidat terkuat untuk memutus tradisi tim pragmatis yang juara di Liga Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/13/61dfa07e-4805-44b0-bcf8-25e824bba1f2_jpeg.jpg)
Tiga pelatih lainnya yang berpotensi menghadirkan anomali dari tim-tim juara bermain pragmatis adalah Edu Perez (Persebaya Surabaya), Johnny Jansen (Bali United), dan Mauricio Souza (Persija Jakarta).
Perez berasal dari Spanyol dan menjadikan Milla, eks pelatih timnas Indonesia dan Persib, sebagai mentor kentalnya. Meskipun belum pernah tercatat memiliki pengalaman mentereng sebagai pelatih, pengalaman sebagai pembantu Milla menghadirkan asa bagi ”Bajul Ijo” asuhan Perez untuk tampil lebih menghibur dan menyerang dibandingkan era Paul Munster pada musim lalu.
Jansen yang musim lalu menangani PEC Zwolle di Liga Belanda dikenal juga sebagai pelatih yang suka memegang kontrol permainan. Bersama Zwolle di Liga Belanda 2024-2025, Jansen membawa timnya mencatatkan rerata 51 persen penguasaan bola per laga.
Pola kegemarannya 4-3-3 menjadi gambaran permainan Bali yang bakal lebih menyerang di bawah kendali Jansen. Bekal untuk bermain ofensif dimiliki Bali melalui pemain-pemain sayap cepat, seperti Thijmen Goppel, Irfan Jaya, Rahmat Arjuna, kemudian penyerang berkualitas, yaitu Boris Kopitovic dan Jens Raven.
Adapun Souza akhirnya kembali ke Indonesia setelah membawa Madura United menembus Championship Series 2023-2024. Selama musim reguler, Souza yang berasal dari Brasil membawa Madura sebagai tim dengan rerata penguasaan tertinggi dengan koleksi 57 persen penguasaan bola per laga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/16/9753ce98-1f6a-47d3-b109-98128dc706fa_jpg.jpg)
Tentu, dengan nama besar dan ambisi masif Persija, Souza berada di klub yang tepat untuk menyajikan hasil positif selaras dengan performa ofensif tim asuhannya. Permainan menyerang Persija serupa era Thomas Doll berpeluang besar bakal kembali disaksikan The Jakmania, suporter setia Persija.
Namun, apa pun gaya permainan yang diterapkan masing-masing pelatih untuk timnya di BRI Liga Super 2025-2026, pada akhirnya klub juara adalah yang mampu konsisten dan memiliki mental juara. Persib dan PSM sudah tunjukkan itu. Kini, saatnya tim lain membuktikan diri.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto