Mesir dan Etiopia tidak mendukung Afrika Selatan dalam agenda reformasi Dewan Keamanan PBB.
30 Apr 2025 14:00 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Pertemuan para menteri luar negeri BRICS 2025 berakhir pada Selasa (29/4/2025). Tidak ada pernyataan bersama yang keluar karena beberapa anggota memiliki perbedaan pendapat dalam persoalan geopolitik.
BRICS adalah organisasi kerja sama ekonomi untuk negara-negara selatan di luar Bank Dunia dan Dana Moneter Intetmasional (IMF). Anggotanya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Indonesia, Iran, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Etiopia.
Pertemuan di Rio de Janeiro, Brasil, ini gagal membuat pernyataan bersama karena sikap Etiopia dan Mesir. Salah satu semangat BRICS adalah keinginan membenahi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Lima anggota tetap DK PBB, yakni Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia, dan China, dinilai tidak lagi mewakili dinamika global. Brasil, India, dan Afsel mengajukan diri sebagai calon anggota tetap DK PBB versi yang dimutakhirkan agar setiap benua memiliki perwakilan. Akan tetapi, Mesir dan Etiopia tidak mendukung pencalonan Afsel.
”Ini urusan tiap-tiap negara soal reformasi DK PBB. Harus dicek langsung ke mereka,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rolliansyah ”Roy” Soemirat ketika dihubungi di Rio de Janeiro, Rabu (30/4/2025). Ia mendampingi Menteri Luar Negeri Sugiono.
Menurut Roy, setidaknya di akhir pertemuan dikeluarkan pernyataan ketua (chair statement), dalam hal ini Brasil. Isinya sebanyak 62 butir berupa rangkuman jalannya pembahasan berbagai isu yang menjadi perhatian bersama.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/30/1f381576-c5e1-4dda-8619-0428a4d0226b_jpg.jpg)
Dilansir surat kabar Brasil, Folha de Sao Paolo, Presiden Brasil Inacio Lula da Silva bersurat kepada Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi. Brasilia meminta Kairo untuk tidak menentang pencalonan Afsel. Akan tetapi, Kairo tidak mau mengubah pendirian.
Ini membuat ketegangan antara Brasil dan para anggota lain. Brasil kurang menyetujui rencana BRICS untuk menambah keanggotaan di luar lima negara asli, yakni Brasil, Rusia, India, China, dan Afsel. Menurut mereka, hal itu membuat negara-negara asli berkurang pengaruhnya.
Mereka kalah suara karena BRICS menambah lima anggota baru. Ini terbukti karena Mesir dan Etiopia yang baru bergabung pada 2021 dan 2024 sudah membuat agenda utama BRICS tersendat.
Peneliti isu internasional di Badan Riset dan Inovasi Nasional, Emilia Yustiningrum, menjelaskan, BRICS sebagai organisasi masih mencari warna dan pola. Setiap anggotanya merupakan anggota berbagai organisasi multilateral lain. Kekhasan BRICS belum terlihat.
Di dalam BRICS, para anggotanya boleh melakukan diplomasi bilateral antaranggota ataupun dengan negara lain yang sering kali di luar isu ekonomi. ”Bahkan, isu ekonomi yang dibahas secara bilateral pun tidak semuanya sejalan dengan agenda BRICS,” ujarnya.
Hal-hal ini yang membuat agenda BRICS tidak berjalan dengan lancar. Ini yang membedakan warnanya dengan Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan organisasi kerja sama 20 perekonomian terbesar dunia (G20).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/30/06e9a167-b9ee-45b0-b646-1d1f6e9fd34b_jpg.jpg)
Emilia menjelaskan, di ASEAN, terlepas dari berbagai perbedaan pendapat para anggota, ada komitmen menjaga keamanan, kedamaian, dan kestabilan Asia Tenggara. Ini yang membuat pada akhirnya ASEAN tetap bisa mengedepankan nilai-nilai universal mereka.
Demikian pula dengan G20, segala pertemuan bilateral antaranggotanya masih sejalan dengan agenda besar organisasi tersebut. Salah satu contoh ialah Konferensi Tingkat Tinggi G20 2022 di Indonesia. Di tengah perbedaan pendapat soal perang Rusia-Ukraina, organisasi bisa mencari jalan tengah dan mencapai komunike.
”Di BRICS ini yang belum tampak. Apa mekanisme organisasi ini untuk mencari jalan tengah atau nilai-nilai universal yang menuntut komitmen semua anggota?” kata Emilia.
Ia juga mengamati belum terlihatnya pola kontribusi Indonesia di organisasi itu. Kontribusi bisa dilihat dari dua aspek, yaitu pola politik luar negeri Indonesia untuk perekonomian internasional. Kedua ialah mengenai posisi Indonesia di dalam BRICS atau seberapa signifikan posisi yang diberikan BRICS kepada Indonesia.
Menurut tajuk rencana Bloomberg, sejak BRICS belum ekspansi dan terdiri dari lima anggota asli, organisasi ini tidak memiliki warna yang jelas. Selama 20 tahun, mereka berusaha mencari pola yang cocok, tetapi tidak kunjung ketemu.
”Dua hal yang mereka sepakati adalah menyeimbangkan suara negara-negara berkembang dari dominasi negara maju, terutama Barat. Satu lagi ialah soal reformasi DK PBB,” tulis Bloomberg.
Selain 10 negara anggota BRICS, pertemuan di Brasil ini turut dihadiri 10 negara tamu. Di dalam pernyataan ketua dikatakan, semua yang hadir mengecam aksi proteksionisme yang mengacaukan perdagangan global.
Nama AS ataupun Presiden AS Donald Trump tidak disebut secara spesifik. Trump menjatuhkan tarif impor ke semua kawan dan lawan AS sehingga mengganggu rantai pasok dunia.
”Peningkatan tarif resiprokal ini mencemaskan. Semua pihak harus menjaga dan mendorong perdagangan bebas melalui skema multilateral,” demikian bunyi chair statement 2025 BRICS dan dibacakan oleh Menlu Brasil Mauro Vieira.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/30/050fd9d9-23ac-487c-bd61-0fb988ae5782_jpg.jpg)
Menurut Vieira, para anggota BRICS terus berusaha merumuskan pernyataan bersama. Masih ada waktu sampai Konferensi Tingkat Tinggi BRICS yang akan dihadiri para pemimpin negara anggota pada Juli 2025. KTT juga diselenggarakan di Rio de Janeiro.
Menlu China Wang Yi mengajak semua anggota BRICS bersatu melawan penjatuhan tarif secara unilateral. ”Berdiam diri hanya membuat perundungan menjadi-jadi,” katanya, dikutip NHK. (AFP/Reuters)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto