Jonatan Christie menjuarai turnamen Denmark Terbuka. Capaian ini menjadi gelar kedua beruntun Jonatan setelah meraih gelar Korea Terbuka.
20 Okt 2025 07:38 WIB · Olahraga
ODENSE, MINGGU — Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, berada dalam performa terbaik dalam sebulan terakhir dengan perolehan gelar juara Korea dan Denmark Terbuka. Dia ingin mempertahankan rasa percaya diri melalui momen positif ini setelah mengalami masa sulit pada 2025.
Jonatan menjadi tunggal putra pertama Indonesia yang menjuarai Denmark Terbuka dalam rentang 16 tahun setelah Simon Santoso (2009). Gelar itu didapat setelah mengalahkan pemain nomor satu dunia, Shi Yu Qi, dalam final di JYSKE Bank Arena, Odense, Minggu (19/10/2025). Jonatan menang dengan skor 13-21, 21-15, 21-15.
Indonesia juga memiliki peluang mendapat gelar dari Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang berhadapan dengan Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, tetapi mereka kalah dalam persaingan intens, 18-21, 21-15, 19-21. Capaian ini menjadi gelar pertama pasangan Jepang itu dalam dua tahun terakhir.
Gelar juara dalam dua turnamen beruntun, Denmark dan Korea Terbuka, menjadi catatan bahwa Jonatan berada pada performa terbaik. Apalagi, lawan yang dihadapi adalah pemain-pemain top dunia, seperti Anders Antonsen (di final Korea Terbuka), Kodai Naraoka, Li Shi Feng, Alex Lanier, hingga Shi di Denmark. Jonatan pun sangat bersyukur atas hasil tersebut.
Namun, ada hal lain yang membuatnya lebih bersyukur dan lega dengan perjalanan di Korea dan Denmark Terbuka. Dia mencapai fase ini setelah berjuang dengan sabar menjalani momen sulit berupa cedera.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/efc5d09633de8b2d6482f1d2dea9a0cd-Denmark_Badminton_Open_1_.jpeg)
Jonatan mengalami cedera panggul bagian kanan yang dirasakan sejak All England pada Maret lalu. Hal itu membuatnya kesulitan dalam bergerak dengan cepat dan mengantisipasi permainan cepat lawan. Ditambah dengan statusnya sebagai pemain independen sejak awal Juni, Jonatan harus mencari solusi sendiri untuk mengatasi cederanya.
Baru pada Kejuaraan Dunia di Perancis, 25-31 Agustus, kondisinya jauh lebih baik meski dia hanya bisa bertahan hingga perempat final karena kalah dari Kunlavut Vitidsarn. Pada Tur Asia, September, performa yang buruk ketika tampil di China Masters membuat Jonatan tersingkir pada babak kedua.
Dia membayar kegagalan itu dengan menjuarai Korea Terbuka, lalu Denmark Terbuka pada level dan persaingan yang lebih tinggi.
”Saya ingin mempertahankan rasa percaya diri ini. Sebelum memasuki lapangan, saya bicara dengan diri sendiri, mencoba berpikir positif. Afirmasi positif ini sangat membantu saya,” tutur Jonatan dalam laman resmi BWF.
Dalam dunia psikologi, afirmasi positif adalah pernyataan positif yang diucapkan berulang pada diri sendiri. Cara ini bisa mengubah pikiran negatif menjadi positif dan membangun rasa percaya diri dan kekuatan mental. Faktor psikologis ini menjadi sisi yang turut berperan membangun performa atlet dalam pertandingan selain kemampuan teknis dan fisik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/3736a91008f9467ffa0cbf34411be33d-Denmark_Badminton.jpeg)
Jonatan mengatakan, tak mudah untuk mengembalikan rasa percaya diri. Namun, dia perlahan mendapatkan hal itu kembali dalam beberapa bulan terakhir hingga performa di lapangan pun kian baik.
”Semoga saya bisa mempertahankan momentum ini dalam turnamen-turnamen mendatang,” kata atlet yang akan meneruskan perjalanannya ke Perancis Terbuka, 21-26 Oktober dan Hylo Terbuka di Jerman pada pekan berikutnya.
Sementara di luar faktor hasil, Fajar/Fikri menyatakan tak puas dengan performa mereka karena melakukan banyak kesalahan. Unforced error banyak dilakukan pada gim pertama, yaitu saat lawan memaksa dengan permainan cepat hingga jarang terjadi reli.
Saya ingin mempertahankan rasa percaya diri ini. Sebelum memasuki lapangan, saya bicara dengan diri sendiri, mencoba berpikir positif.
Kesalahan juga dilakukan pada momen kritis gim terakhir. Poin terakhir Hoki/Kobayashi didapat karena kesalahan Fikri saat mengembalikan servis. Padahal, posisi 19-19 didapat dengan susah payah setelah Fajar/Fikri tertinggal 16-19.
”Kami tidak puas dengan permainan kami, tetapi tetap bersyukur dengan hasil ini yang akan kami jadikan pelajaran untuk ke depan. Kami harus memperbaiki fokus, terutama saat bermain dengan pola cepat,” kata Fajar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/14aa816dcdc154b48f4ae8c771904da2-Denmark_Badminton_1_.jpeg)
Berdasarkan hasil, apa yang dicapai Fajar/Fikri dalam kerja sama yang masih singkat terbilang baik. Final Denmark Terbuka merupakan final ketiga dari lima turnamen sejak debut di Jepang Terbuka pada Juli. Sebelum tampil di Denmark, mereka menjuarai turnamen dengan level lebih tinggi, yaitu China Terbuka Super 1000 dan mencapai final Korea Terbuka Super 500.
Hasil-hasil tersebut lebih baik dibandingkan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana yang sebenarnya diharapkan memasuki persaingan elite dunia karena telah berpasangan lebih lama, yaitu sejak Agustus 2024.
Apalagi, Leo/Bagas memperlihatkan potensi mereka dengan menjuarai Korea Terbuka 2024, pada masa awal berpasangan, dan mencapai final All England 2025. Akan tetapi, performa mereka setelah itu justru menurun.
Pada tunggal putri, An Se-young membalas kekalahan dari Wang Zhi Yi yang terjadi pada Denmark Terbuka 2024. Tunggal putri Korea Selatan nomor satu dunia itu menang 21-5, 24-22 setelah tertinggal 10-18 pada gim kedua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/ac3c28dbbab446c6d318447edc4f22c4-Denmark_Badminton_2_.jpeg)
Gelar ini menjadi yang kedelapan dari sembilan final, dari total 12 kejuaraan, pada 2025. An hanya tertinggal tiga gelar juara untuk menyamai Kento Momota sebagai pebulu tangkis yang memiliki gelar terbanyak dalam setahun. Mantan tunggal putra asal Jepang itu meraih 11 gelar pada 2019.
”Dia menang 11 kali? Sangat sulit, tetapi saya akan mencoba sebaik mungkin,” kata An ketika ditantang untuk menyamai rekor Momota.
Pada level yunior, perjalanan Mohammad Zaki Ubaidillah dalam Kejuaraan Dunia berakhir tanpa gelar juara. Setelah kalah dalam semifinal pada ajang yang sama di Nanchang, China, pada 2024, Zaki bisa mencapai final di Guwahati, India, pada tahun ini, tetapi gagal membawa pulang gelar juara. Tunggal putra nomor satu dunia yunior itu kalah dari Liu Yang Ming Yu (China) dengan skor 10-15, 11-15.
Sepanjang pertandingan, Zaki kesulitan menghadapi kecepatan permainan Liu yang menjadi unggulan ketiga. Liu adalah pemain peringkat kesembilan tunggal putra yunior yang dilatih Chen Long, peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro dan dua kali juara dunia. Chen juga pernah menjadi juara dunia yunior, yaitu pada 2007.
Selain kesulitan menghadapi kecepatan Liu, Zaki juga sering terkecoh dalam menebak arah pukulan lawan. Berulang kali dia mati langkah ketika lawan melakukan pukulan net pada pukulan kedua hingga keempat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/a11d590e8162ffb2e17d197c0ad18664-WhatsApp_Image_2025_10_19_at_22.48.47.jpeg)
Zaki semakin kesulitan mengimbangi perolehan skor Liu karena melakukan banyak unforced error, termasuk ketika seharusnya bisa mendapat poin dengan mudah. Dalam posisi menekan lawan pada gim kedua, misalnya, Zaki melakukan smes ketika kok melayang di dekat net, tetapi kok jatuh di luar garis belakang.
Setelah unggul pada awal gim pertama, Zaki selalu tertinggal hingga akhirnya kalah. ”Tadi mainnya kurang maksimal dari segi fokus, mungkin tadi saya terlalu berambisi untuk juara. Selain itu, lawan bisa menguasai pukulan bola atas dan dari awal sudah mengontrol kecepatan. Saya tidak siap dengan hal itu,” tutur Zaki.
Kekalahan Zaki membuat Indonesia hanya berada pada posisi keempat perolehan medali dengan dua perak dan dua perunggu. Selain tunggal putra, perak lainnya didapat dari kategori beregu campuran setelah Indonesia kalah dari China.
Adapun dua perunggu didapat Richie Duta Ricardo dan Alexius Ongkytama Subagio/Aquino Evano Keneddy Tangka yang kalah di semifinal.
Indonesia tertinggal dari tiga negara, yaitu China yang mendapat empat emas, serta Korea Selatan dan Thailand yang masing-masing mendapatkan satu emas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/20/7155035219f60bb2949b0e1abb8222be-WhatsApp_Image_2025_10_19_at_22.48.41.jpeg)
Kekalahan Zaki di final juga membuatnya tak bisa menyamai seniornya, Alwi Farhan, sebagai juara dunia yunior 2023 ketika kejuaraan diselenggarakan di Spokane, Washington, Amerika Serikat. Pada tahun itu pula, Alwi turut mengantarkan Indonesia ke final beregu campuran, tetapi kalah dari China.
Pada tahun berikutnya, Alwi mendapat kesempatan tampil dalam enam turnamen BWF World Tour level Super 300, 500, dan 750 dan semakin intens bersaing dengan atlet top dunia pada 2025. Atlet berusia 20 tahun itu mendapat gelar pertama turnamen BWF World Tour di Makau Terbuka Super 300, pada Agustus, dan mencapai semifinal Korea Terbuka Super 500, September.
Zaki pun sudah mendapat kesempatan bertanding di BWF World Tour pada tahun ini, yaitu dalam lima turnamen dengan hasil terbaik perempat final Taiwan Terbuka Super 300. Tantangan akan lebih besar ketika dia mendapat peluang lebih banyak karena akan beranjak dari level yunior.
”Banyak yang harus saya perbaiki di level senior, dari fisik hingga mental. Main di senior juga butuh pikiran dan tekad yang kuat. Harapannya, semoga bisa lebih melejit kariernya di level senior nanti,” kata juara Asia Yunior tersebut.
Hasil final tanpa gelar juara bagi Indonesia juga terjadi pada turnamen Malaysia Super 100. Dua wakil yang tampil pada laga perebutan gelar juara, tetapi kalah, adalah ganda campuran Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana dan Siti Sarah Azzahra/Az Zahra Ditya Ramadhani (ganda campuran).
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto